
Selepas kepergian Adel, tatapan Mukhlis beralih pada Lastri.
"Kamu tidak lupakan, untuk pergi dari sini?." ucap Mukhlis menatap tajam Lastri.
"Bapak benar-benar mengusir Ibu?." tanya Lastri.
"Dengan semua hal yang kamu sembunyikan selama ini dan perlakuan mu pada anakku Zainal, jangan harap aku memaafkan mu. Lebih baik kamu dan anakmu Bagas pergi jauh dari sini." Emosi Mukhlis, membuat Lastri dan Bagas pucat pasi.
Lastri berlari menghampiri suaminya dan bersujud di kaki Mukhlis. "Tolong maafkan Ibu, Pak. Ibu khilaf, Ibu minta maaf. Bapak tolong maafkan Ibu!."
"Pak, tolong maafkan Ibu. Apa Bapak tidak mencintai Ibu lagi? Selama ini Ibu selalu mengabdi pada Bapak. Apa Bapak tidak keterlaluan pada Ibu," ucap Bagas membela Ibunya.seketika
"DIAM KAMU BAGAS! Kamu dan Ibu mu sama saja, tukang selingkuh!." ucapan Mukhlis membuat semua orang terkejut.
"Ma-Maksud Bapak apa?, tega-teganya Bapak menuduh Ibu begitu. Mana buktinya?." Elak Lastri tidak terima dengan tuduhan suaminya.
"Kamu mau bukti, baiklah." ucap Mukhlis lalu merogoh saku nya dan mengotak-ngatik layar telepon dan mencari vidio di galeri handphone nya. Setelah ketemu Mukhlis menunjukkan vidio itu tepat di depan wajah Lastri.
Di Vidio itu menampilkan vidio Lastri yang sedang bergandengan tangan mesra dengan seorang laki-laki yang jauh lebih muda darinya. Kemudian berganti dengan vidio lainnya, yang menampilkan vidio Lastri yang berada di sebuah Cafe, tangan Lastri saling menggenggam seorang laki-laki yang jauh lebih muda dari laki-laki sebelum nya di vidio itu, itu artinya Lastri berkencan dengan laki-laki yang berbeda.
Wajah Lastri pucat pasi, begitupun Bagas. Ia juga tahu kalau Ibu nya memang sering berkencan dengan para berondong-berondong muda, bahkan Ibunya tidak segan merogoh kocek lebih besar untuk membiayai para berondongnya.
"Itu bohong, Pak. Vidio itu rekayasa. Bapak jangan percaya. Ibu mana mungkin melakukan itu." jawab Lastri membela diri dan menyakinkan Mukhlis untuk percaya kepada nya.
"Sudahlah kamu tidak usah mengelak, di sini sudah jelas terbukti. Dan vidio ini asli bukan rekayasa. Sebaiknya beres-bereskan barang-barang kalian dan pergi dari sini." Tidak ada yang berani bersuara ketika Mukhlis sudah memberi keputusannya. Namun Lastri tidak menyerah ia terus membujuk Mukhlis untuk tidak mengusir nya.
"Pak, Ibu minta maaf, tolong bapak maafkan Ibu. Sekarang sudah malam, apa bapak tega membiarkan Ibu terlunta-lunta di jalanan malam -malam?."
"Baiklah besok pagi-pagi sekali kalian pergi dari sini! kamu bisa tempati kamar pembantu." ucap Mukhlis lalu berjalan menuju kamar nya.
Tidak lama kemudian Mukhlis keluar dari kamar dan memberikan barang-barang Lastri lalu melempar 2 koper milik Lastri ke arah nya.
__ADS_1
Dengan berurai air matanya, Lastri bersimpuh di kaki Mukhlis. "Pak tolong jangan usir kami, Pak. Ibu minta maaf, jangan usir kami, Pak. Kalau Bapak mengusir kami, kami mau tinggal dimana?."
Keputusan Mukhlis sudah bulat, dan tidak peduli dengan tangisan Lastri. Sementara Bagas tangannya terkepal kuat menahan emosi.
Mukhlis berlalu masuk kembali ke dalam kamar. Lalu mengucinya.
Sementara Sarifah, Sinta dan Bayu, bingung dengan situasi mereka saat ini memilih untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sedangkan Zainal dan Farhan sudah pulang ke rumah nya. Mereka juga tidak peduli dengan tangisan Lastri.
***
"Udah bu, Ibu nggak usah nangis lagi, percuma keputusan Bapak sudah nggak bisa di ganggu gugat." sahut Bagas menenangkan Ibu nya.
"Terus gimana nasib kita, Gas? Mana bisa Ibu ngandelin gaji kamu yang hanya seorang OB. Ini gara-gara kami sih!." gerutu Lastri seraya mengusap air mata di pipinya kemudian bangkit berdiri.
"Kok Ibu nyalahin Bagas sih?." balasnya tak terima.
"Ya terus Ibu harus nyalahin siapa, Gas? Gara-gara hubungan kamu dan juga Adel semua jadi runyam dan merembet kemana-mana jadinya. Coba kalau kalian bisa main cantik mungkin Ibu nggak akan pusing kayak gini jadinya!."
"Ya kamu sekarang punya uang nggak? kalau punya sini kasihkan ke Ibu!." pinta Lastri.
"Ya ada sih Bu, ya uang ini mau aku hemat-hematin untuk hidup ku sekarang hingga ke depannya. Kita juga mesti cari kontrakan buat besok bu." ucap Bagas.
Ting.
Bunyi ponsel Lastri menandakan ada pesan masuk.
[Tante, kok Tante malah mengabaikan panggilan telepon dari ku mulu sih, Tan. Aku minta duit dong buat touring temen-temen komunitas ku. Transferin sekarang yah jangan lupa!.] begitulah isi pesan whatsapp yang tiba-tiba masuk dan di baca oleh Lastri.
"Pesan dari siapa, Bu?." tanya Bagas. "Pasti dari berondong Ibu kan?."
Lastri mengangguk,
__ADS_1
"Udah lah Bu, Ibu itu udah ketahuan juga sama Bapak. Jangan nambahin masalah lagi dengan meladeni mereka. Mereka itu kerja nya cuman morotin uang Ibu aja."
"Tapi kasihan Gas. Dia butuh duit buat bayar touring komunitasnya."
"Bu, Ibu itu udah susah, udah nggak punya uang juga. Nggak usah ladenin mereka. Bagas nggak mau yah, Ibu minta uang ke Bagas buat bayarin mereka. Nggak sudi pokoknya. Lagian ngapain sih Ibu pake pacarin laki-laki yang usia nya bahkan di bawah Bagas. Kalau selingkuh itu kenapa nggak nyari yang seumuran aja atau yang nggak jauh dari Ibu?."
"Ngpain-ngapain ya terserah Ibu lah, lagian Ibu gengsi banget dong sama temen-temen arisan Ibu kalau Ibu ikut arisan nggak menggandeng berondong-berondong seperti mereka. Kamu nggak usah nasehatin Ibu kayak gitu, banyak omong kamu jadi anak!." sanggah Lastri kesal dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Bisa saja Lastri meminta Sarifah yang tidur di kamar tamu untuk bertukar kamar dengannya. Tapi ia tidak ingin mencari keributan lagi dengan suaminya. Ia berharap keesokan hari, suaminya bisa berubah pikiran dan tidak jadi mengusir nya dari rumah ini.
***
Keesokan hari nya, Lastri yang baru saja keluar dari kamar terkejut melihat suaminya yang sedang mengobrol dengan dua orang laki-laki berbadan besar.
'Astaga jangan-jangan itu depkolektor!.' dengan langkah perlahan Lastri berbalik arah.
"Lastri! mau kemana kamu? selesaikan masalah hutang piutang mu ini!" teriak Mukhlis melihat istrinya yang ingin kembali masuk ke dalam kamar.
"Hu-hutang apa Pak?." tanya ku gugup.
"Kemari!." titah Mukhlis.
Dengan langkah pelan Lastri berjalan menuju tempat suaminya. Ketakutan melimuti hati Lastri saat melihat dua pria bertubuh besar tengah melotot ke arahnya.
"Kamu bayar tuh hutang mu! Aku heran kenapa kamu bisa berhutang begitu banyak. Padahal setiap bulannya aku selalu memberimu uang cukup banyak. Benar-benar kamu nggak tahu di untung, Lastri!." teriak Mukhlis kembali emosi kepada Lastri yang selalu berbuat onar.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...