Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Bab 77


__ADS_3

Hari-hari kehidupan Sinta bersama keluarga nya semakin baik. Bahkan sekarang Bayu sudah lulus SMA dan berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Sinta sangat mendukung cita-cita adik satu-satunya itu. Ia akan bekerja keras supaya Bayu bisa kuliah dan apa yang di cita-cita kan nya tercapai.


Toko kue milik Ibunya pun semakin maju, sudah banyak karyawan yang bekerja di sana.


Sarifah memutuskan untuk tidak menikah, ia ingin tetap selalu membersamai anak-anak nya.


Dua hari sebelum nya, pihak lapas mengabarkan jika Bagas meninggal di penjara karena sakit yang di derita nya. Sinta menduga jika sakit nya Ayah sama dengan sakit yang di derita oleh sahabat nya Edo.


Baik Sarifah, Sinta dan Bayu telah memaafkan kesalahan Bagas. Mereka tidak ingin menyimpan dendam, karena dendam akan membuat hati kita kotor dan membuat kita selalu di liputi rasa tidak tenang. Sarifah selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk memaafkan Ayahnya terlepas dengan bagaimana kesalahan Ayah mereka dulu.


"Bu, kata Om Zainal Kakek sakit." ujar Sinta menghampiri Sarifah yang sedang bersantai di rumah nya. Hari ini hari wekeend jadi mereka selalu menghabiskan waktu bersama keluarga di hari itu.


"Innalillahi, sakit apa Nak, kakekmu?" tanya Sarifah cemas dan di liputi kekhawatiran kepada mantan mertuanya yang selalu baik kepadanya dan anak-anaknya itu.


Bayu yang duduk di bawah sofa pun ikut menoleh mendengar berita yang di bawakan oleh kakaknya.


Sinta menggelengkan kepala nya, pertanda ia juga tidak tahu.


"Ya sudah kalau gitu kita siap-siap pergi ke rumah kakek mu sekarang yah, Bayu kamu mandi sana! kebiasaan kalau libur susah di suruh mandi." ucap Sinta seraya meledek adiknya.


"Yeay kayak Kakak sudah mandi saja." balas Bayu seraya bangkit.


"Kakak memang sudah mandi." matanya menatap Bayu sengit.


"Kalau sudah mandi di mata Kakak itu ada apa?" tunjuk Bayu pada mata kakaknya. Sinta mengikuti arahan Bayu, mencolek matanya namun tidak menemukan apapun.


"Hahahah" tiba-tiba Bayu tertawa keras seraya lari terbirit-birit kabur dari amukan Kakak nya.


"Awas yah kamu Bayu!" teriak Sinta menyadari jika ia sudah di kerjai oleh adiknya itu. Kemudian Sinta melempar bantal sofa ke arah Bayu namun tidak kena.


"KALIAN KENAPA JADI BERANTEM?" teriak Sarifah dari dalam kamar. "CEPAT SIAP-SIAP, Kita mau ke rumah Kakek!"


"Siap Nyonya!" jawab mereka serempak tidak ingin membuat sang Nyonya besar marah. Sinta masuk ke dalam kamar nya untuk bersiap-siap juga.


...----------------...


Mereka tiba di pelataran rumah Mukhlis, setelah menempuh beberapa menit perjalanan. Karena hari ini hari minggu, sudah pasti semua penghuni rumah ada di rumah. Baik itu Zainal ataupun Farhan.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Tok.


"Assalamualaikum," salam Sinta.


"Waalaikumsalam," jawab Zainal, orang yang membukakan pintu untuk mereka.


"Sinta apa kabar?" sapa ramah Zainal pada keponakan kesanyangannya itu.


"Baik Om," jawab Sinta tersenyum.


"Oh yah kamu sama siapa?" tanya Zainal seraya melihat kebelakang punggung Sinta.


"Sama Ibu dan Bayu, Om."


"Oh, ya sudah sini masuk. Kakek mu pasti senang melihat kalian datang." ucap Zainal seraya memberi jalan supaya Sinta bisa masuk.


"Masuk Mbak." sapa Zainal pada Sarifah.


"Bagaimana kabar kamu Zainal? semakin sukses saja." tanya Sarifah tersenyum.


"Cie udah punya gebetan baru yah Om!" ledek Bayu seperti biasa.


Zainal tersenyum. "Kamu ini anak kecil tau apa hmmm." balas Zainal.


"Om aku ini bukan anak kecil lagi. Nih tinggi aku sekarang udah mau ngalahin Om sekarang." ucap Bayu sembari memperagakan mengukur tinggi badan nya dengan Bayu.


"Iya deh yang udah besar sekarang. Kamu mau kuliah dimana?" tanya Zainal.


"Hhmm masih bingung Om, masih milih-milih." jawab Bayu.


"Gimana kalau ke luar negeri seperti Om?" tawar Zainal.


"Jangan Om, nanti yang ada malah nyasar di sana!" ledek Sinta, sepertinya Sinta membalas meledek Bayu karena pagi tadi ia di ledek juga oleh Bayu.


"Eh kalian ke sini malah berantem, kasihan kakek kalian sedang sakit." Tegur Sarifah.


"Tidak apa-apa Mbak, sudah lama rumah ini tidak ramai seperti saat kalian masih di sini. Sekarang kalau kalian mau menemui kakek, beliau ada di kamar."

__ADS_1


Sarifah, Sinta dan Bayu masuk ke dalam kamar Mukhlis. Lelaki yang masa muda nya sangat gagah, berwibawa dan sangat di hormati banyak orang itu terbaring lemah di ranjang miliknya dengan selang infus menancap di tangan kirinya.


"Sinta, Kakek kangen!" Sinta berjalan menghampiri Mukhlis seraya memeluknya dengan lembut, tubuh Mukhlis merespon saat Sinta peluk.


"Ba-bayu, Ipah." ucap nya.


"Iyah Pak, Bapak apa kabar? sudah makan?" tanya Sarifah dengan penuh perhatian.


"Su...."


"Hei, untuk apa kamu ke sini lagi wanita ja-l*ng! Dasar tidak punya malu, sudah bikin malu di sini malah berani-berani nya lagi datang kemari," saat sedang asyik mengajak ngobrol Mukhlis. Mereka mendengar suara teriakan ibu-ibu yang sedang menghemat seseorang.


"Tunggu sebentar ya Kek, aku mau lihat ada apa di depan," Sinta berjalan ke arah pintu utama dan ternyata Ibunya pun mengikuti nya dari belakang.


Sinta melihat Om nya sedang berdecak pinggang di depan pintu utama dan Sinta juga mendengar suara perempuan yang sedang menangis tersedu.


"Mbak, aku datang ke sini hanya ingin meminta maaf dan bertemu Farhan, tolong izinkan aku bertemu dengan Farhan ya, Mas!" Adel, perempuan yang menangis itu sedang bersimpuh di kaki Zainal.


"Pergi! aku tidak sudi mempertemukan anakku dengan perempuan macam kau. Lagian juga Farhan pasti sudah malu karena memiliki Ibu tukang foto majalah dewasa," suara teriakan Zainal tak kalah besar dengan tangisan Adel.


"Om, sebaiknya Tante Adel di bawa masuk saja ke dalam rumah, daripada kita ribut-ribut di sini malah menjadi tontonan para warga yang kepo." saat mendengar suara Sinta, Adel langsung berpindah dan sekarang justru bersimpuh di kaki Sinta.


Mendapat perlakuan seperti ini membuat Sinta gelagapan dan merasa tak nyaman.


"Sinta, Mbak Ipah. Maafkan kelakuan ku yang telah merusak rumah tangga mu Mbak. Sekarang aku sudah menuai karma ku dan hidup tak akan lama lagi." ujar Adel seraya menangis histeris memeluk kaki Sinta.


"Aarghhh kebanyakan drama! pergi dari sini!" dengan kejam Zainal menyingkirkan Adel dari kaki Sinta dengan cara menjambak rambutnya sangat kuat hingga Adel terpelanting ke belakang.


"Om, apa yang om lakukan? Apa om tidak merasa kasihan pada mantan istri?" hardik Sinta karena sudah melampaui batas.


Sinta tidak tega melihat Adel yang kini tubuhnya semakin kurus kering, bahkan rambutnya seperti menipis, wajah Adel sangat berubah sekarang.


"Ibu? Untuk apa Ibu datang ke sini?"


Tiba-tiba dari arah jalan Farhan datang.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2