Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 46 Rencana Jahat Orang tua Adel


__ADS_3

"Oh boleh-boleh, mari saya antar saja, sekalian saya juga mau ke dalam untuk membuatkan kopi dan suguhan makanan untuk kalian." timpal Astuti.


Sinta mengikuti Astuti ke dalam,


"Toilet nya sebelah sana Nak!." ujar Astuti menunjuk ke arah tempat dimana toilet nya berada.


"Baik, Nek. Terima kasih." jawab Sinta sembari tersenyum ramah.


Setelah itu Astuti meninggalkan Sinta dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan suguhan makanan untuk para tamu nya.


Plak.


"Emang dasar anak set*n kamu Adel! makannya kalau Ibu kamu ngomong itu di dengerin, sekarang kamu mau apa datang ke sini hah? mau ngebebanin kita lagi di sini? Nggak ada, nggak ada! bapak nggak mau!." teriak Herman Bapak nya Adel begitu jelas terdengar saat Sinta tengah menguping di samping toilet.


"Ampun Pak, ampun Pak!, ini bukan salah Adek, Adel nggak salah. Ini semua salah Bang Bagas Pak, salah dia! gara-gara Bang Bagas semua jadi kacau begini. Ampuni Adel Pak, ampun!." balas Adel membela diri.


Plak.


"Diam kamu! kamu nggak usah membela diri, nggak usah pake acara nyalah-nyalahin orang segala. Sekarang bapak tanya sama kamu, maksud dan tujuan kamu datang ke sini apa hah? Jangan bilang kamu mau membebani kita lagi di sini, iya?." tanya Herman.


"Huhuu, A-ampun Pak jangan tampar Adel lagi pak. Ampun!. Iya Adel tahu kalau Adem salah. Adel ke sini karena Adel nggak tahu lagi mau kemana, setelah mereka mengusir Adel, bahkan Mas Zainal sampai menceraikan Adel Pak, Dia sekarang kemari untuk memulangkan Adel ke sini. Tolong terima Adel lagi di rumah ini Pak, tolong! kalau Adel gak balik ke sini, Adel mau kemana?, huhuhu."


Plak,


"Apa kamu bilang? jangan mimpi kamu ya Adel, harusnya kamu itu mikir anak s*tan! kalau kamu di usir dan di ceraikan sama si Zainal, ya kamu tinggal cari sana lelaki lain yang lebih kaya dan bisa mengurus kamu, bukannya malah balik ke sini. Dari pada sekarang kamu balik pagi ke sini dan jadi beban kami lagi, siapa yang akan membayar cicilan mobil baru adikmu nanti? seminggu yang lalu kan bapak baru beli mobil."


"Belum lagi beberapa hari yang lalu bapak sudah janji pada teman bapak kalau awal bulan ini bapak akan membeli tanah yang dia tawarkan pad bapak. Sekarang kalau situasi kayak gini, di tambah kamu nggak punya apa-apa lagi. Siapa yang akan menanggung itu semua Adel? mikir kamu mikir!." celetuk Herman panjang lebar.


'Gila Bapak dan Ibu kandung Tante Adel sama-sama nggak waras ternyata, malahan bapaknya lebih parah lagi.' Batin Sinta.

__ADS_1


"Adel nggak tahu Pak, Adel bingung! maafkan Adel Pak, maaf!." ucap Adel dengan mata berkaca-kaca memohon hingga Adel bersimpuh di kaki Herman namun tidak di hiraukan.


"Maaf-maaf daripada kamu sekarang meminta maaf ke bapak kamu itu, lebih baik kamu kembali ke kota sana. Jual diri atau apa gitu, supaya kamu bisa mengirimkan kami uang lagi! kalau kamu nggak bisa mengirimkan kami uang lagi! aku gak akan pernah mengakui kamu lagi sebagai anakku!." celetuk Astuti dari dapur saat ia sedang membuat kopi.


"Nah betul itu Bu, kamu kan cantik lalu badan kamu juga kan masih bagus, kamu bisa kali di kota menjual diri atau jadi selingkuhan pejabat-pejabat tua di sana. Kamu mau kan membuat kami berdua bahagia di sini, Adel?." timpal Herman lagi.


"Tapi Pak, meski wajah Adel masih cantik, badan masih bagus dan sexy tapi umur Adel kan udah gak muda lagu buat jual diri apalagi menjadi selingkuhan penjahat." sahut Adel.


"Hhhmm iya juga sih pak, omongan si Adel ini masuk akal. Ya udah gini aja Ibu punya ide, lebih baik nanti kamu ke depan dan berikan kopi yang akan Ibu bubuhu pelet ini ke si Zainal bocah tengik itu! supaya dia menurut padamu dan membatalkan perceraian dengan mu itu, gimana?." ujar Astuti memberi ide dan itu membuat Sinta yang berada di kamar mandi terkejut.


'Apa mereka mau merencanakan hal buruk pada Om Zainal? aku gak bisa membiarkannya! Awas saja! mereka pikir aku gak bisa denger apa ya? dasar keluarga aneh' gumam Sinta dalam hati.


Sinta pun keluar dari toilet dan menghampiri Zainal dengan langkah yang amat pelan, supaya orang yang ada di dalam ruangan itu tidak menyadari kalau dirinya sejak tadi menguping pembicaraan mereka.


Sinta keluar rumah dan mendapati Zainal yang sedang duduk di kursi teras.


"Loh nanti dulu Sinta, Om mesti ijin pamit pulang dulu pada orang tua Adel dulu sebentar. Om nggak enak kalau main pergi-pergi aja tanpa berpamitan terlebih dahulu." sahut Zainal polos.


"Udahlah Om gak usah pake acara pamit-pamitan segala, tadi aku denger di toilet kalau mereka berencana akan berbuat buruk pada Om, sudah ayo kita pulang Om! ayo!." titah Sinta sedikit memaksa.


"Apa? kamu serius Sinta?." tanya Zainal.


"Iya, Om aku serius, nanti aku ceritakan di dalam mobil saja. Cepat sebelum mereka semua datang ke sini!." pungkas Sinta.


Akhirnya Zainak menuruti perkataan Sinta, dan mereka beranjak pergi dari kediaman keluarga aneh itu.


Brum,


Brum,

__ADS_1


"Eh kalian mau pada kemana oy! Tunggu jangan main asal pergi gitu aja! Zainak ke sini dulu kamu! Zainal!." teriak Astuti dengan nampan berisi kopi di tangannya.


"Mas tunggu dulu, Mas!." timpal Adel ikut memanggil.


"Udah nggak usah di denger Om, ayo tangan gas, cepat! ayo cepat Om! cepat!." titah Sinta.


Begitu Om Zainal menarik persenelingnya dan hendak melajukan mobil miliknya. Tiba-tiba dari arah samping Herman muncul.


"Berhenti! mau kemana kalian?." teriaknya.


Brak.


"Udah Om biarin aja, kabur, kabur aja! paling cuman akting Om, dia gak beneran terluka kok, cepat Om!." teriak Sinta.


"Waduh tapi Sin..." sahut Zainal.


"Sudah Om dengerin aku aja, gak usah banyak nanya dulu, cepat Om! cepat gaspol!."


Sontak Zainal pun kembali mengoper persenelingnya, melaju mundur menghindari Bapak mertua nya yang sedang terlentang di depan mobil, kemudian Zainal kembali mengoper persenelingnya dan menginjak gas mobilnya melaju kencang pergi menjauh dari rumah kediaman mertua nya tanpa menghiraukan Bapak mertuanya yang tadi berusaha mencegahnya pergi.


"Fyuh! hampir saja Om! untung barusan kita cepat pergi kalau kita telat sedikit saja, Sinta nggak tau lagi apa yang akan terjadi pada Om Zainal!." sahut Sinta sembari menghela nafas lega.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2