
"Kak Sinta! aku mencium gelagat aneh dari Ayah, dari tadi siang aku perhatiin Ayah dia seperti orang kegirangan senyum-senyum sendiri, dan barusan aku juga lihat Tante Adel juga memperlihatkan gelagat anehnya. Aku barusan bertemu tante Adel saat aku akan pergi ke mesjid." dengan nafas memburu tiba-tiba saja Bayu balik lagi pulang ke rumah, padahal Bayu sudah berpamitan pada Sinta dan juga Ibu untuk sholat berjamaah di mesjid.
"Maksud kamu Ayah dan Tante Adel ketemuan gitu?. Kamu sempet lihat nggak Tante Adel kemana perginya?." tanya Sinta penasaran.
"Aku melihat Tante Adel pergi ke arah gang 5 , kalau gitu Bayu sholat dulu ya, kakak nggak sholat? kita cari info tentang Ayah nanti saja saat kita sudah sholat yah kak." ucap Bayu pada Sinta.
"Kakak sedang berhalangan untuk sholat, kamu saja sholat gih! permasalahan Ayah dan Tante Adel biar kakak saja yang handle sekarang juga," jawab Sinta.
Sinta berdiam diri sejenak untuk memikirkan langkah apa yang akan Sinta ambil dan yang Sinta tahu teman Ayah yang berada di gang 5 itu adalah Edo. 'Apa mungkin Tante Adel dan juga Ayah berbuat mesum di rumahnya Om Edo?.' pikir Sinta.
"Aku harus segera memastikan nya," dengan langkah cepat Sinta pun langsung pergi melesat ke gang 5 di mana rumah Edo berada. Untung saja Sarifah sedang ada di kamarnya jadi Sinta tidak ditanya oleh Ibunya, ke mana akan Sinta pergi magrib-magrib begini.
Dan saat Sinta sampai di rumah Edo, Sinta melihat ada sandal perempuan dan Sinta yakin sandal itu adalah milik Adel. Sepertinya ayahnya dan tante Adel lupa menyembunyikan sandal milik Adel di dalam rumah.
"Benar-benar kurang ajar kelakuan mereka sudah sangat bejat tidak bisa termaafkan. Aku harus memberi pelajaran kepada dua orang bejat itu, kali ini aku emosiku sudah tidak bisa tertahan!."Dengan seribu langkah Sinta langsung pergi ke rumah Zainal, Sinta harus memberitahu Om nya terlebih dahulu bahwa istrinya sedang bermain serong dengan Ayahnya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Om! Om Zainal!." Dengan cepat Sinta menggedor-gedor pintu rumah Zainal.
Krieet
"Astaghfirulloh Sinta kenapa sih kamu gedor-gedor rumah Om maghrib-maghrib kayak gini, apa kamu nggak sholat?." jawab Zainal dengan raut wajah tak suka.
"Maafin Sinta Om, tapi ini sangat urgent sekali. Ayo ikut Sinta ke rumah Om Edo," ucap Sinta sambil menarik tangan Zainal, bahkan Zainal masih menggunakan sarung dan juga peci, sepertinya Zainal kali ini sedang sholat di dalam rumah karena mungkin Farhan tidak ada yang menjaga.
Zainal melepas cekalan tangan Sinta, "Tunggu dulu! kenapa Om harus mengikuti perkataan mu untuk ke rumah Edo? Memangnga ada apa di rumah Edo?." tanya Zainal penasaran.
__ADS_1
Sinta pun menetralkan dulu pernapasannya agar tidak terlalu ngos-ngosan. Zainal ini orangnya bermain logika dan sangat-sangat realistis, Sinta harus memberikan alasan yang jelas dan juga tepat agar Zainal mau ikut ke rumah Edo.
"Jadi gini Om, aku curiga kepada Ayah dan juga Tante Adel, mereka itu memiliki hubungan gelap Om, tadi Bayu laporan padaku bahwa ia melihat Tante Adel berjalan ke arah gang 5, begitu pun Ayah, sepertinya Tante Adel dan Ayah janjian dan aku barusan sudah cek ke rumah Om Edo. Di sana ada sendal Tante Adel." Sinta pun memberikan penjelasan secara singkat kepada Zainal.
"Kamj tidak main-main kan Sinta? Jika kamu berbohong dan kamu main-main ini sangatlah tidak lucu!." sanggah Zainal dengan mimik wajah serius.
"Mana mungkin aku berbohong Om. Ya Allah aku tidak mungkin berbohong dengan membawa-bawa nama orang tuaku sendiri. Sebaiknya Om jangan banyak bertanya terlebih dahulu. Sekarang ikut aku ke rumah Om Edo, supaya bisa menyaksikan sendiri apa yang sedang Ayahku perbuat dengan istri Om." lagi-lagi Sinta menarik tangan Zaenal dengan kasar.
Untungnya Zainal kali ini mau menurut dengan Sinta untuk mengikutinya, saat perjalanan ke rumah Om Edo Sinta sesekali menatap wajah Zainal yang terlihat menahan amarah, juga berdoa supaya apa yang Sinta tuduhkan kepada istrinya itu salah.
***
[21+]
Tok.
Tok.
Tok.
Ceklek.
"Ayo Sayang cepat masuk, aku benar-benar sangat merindukanmu dan ingin cepat bermain denganmu, bukankah kamu ingin bermain cepat?." ucap Bagas sambil menarik mesra tangan Adel masuk ke dalam kamar Edo.
Adel pun tidur terlentang siap untuk di jamah oleh kakak ipar tirinya, namun keningnya berkerut kebingungan saat melihat Bagas sedang mencari-cari sesuatu di dalam lemari Edo.
"Kamu lagi nyari apa sih Sayang? Jangan buang-buang waktu dengan melakukan hal yang nggak penting deh! kita kan berniat bermain cepat, jadi ayo cepat kita lakukan sekarang!." Protes Adel pada Bagas agar segera mempercepat permainan mereka.
"Aku sedang mencari pelindung, masa kita bermain nggak pake pelindung? Apalagi kamu tidak memakai KB karena kamu takut wajah atau tubuhmu rusak karena efek KB." jawab Bagas sembari terus mencari-cari pelindung di lemari Edo.
"Ah sialan, biasanya Si Edo punya stok pelindung di lemari nya sangat banyak, kok sekarang malah ngga ada di sini sih!." ujar Bagas menggerutu kesal.
__ADS_1
Karena Adel takut di cari suaminya, Adel langsung menarik tangan Bagas untuk tidur di atas nya.
"Udah nggak usah pakai pelindung-pelindung lah Bang, main kaya kemarin aja gak pake pelindung, toh jika aku hamil pun pasti ada Mas Zainal yang akan bertanggung jawab. Kita bermain cepat saja namun syahdu. Ayo bang jangan buang-buang waktu!." ujar Adel pada Bagas agar cepat memulai permainan.
Dengan beringas Bagas meluncuti seluruh pakaian Adel dan pakaian nya, baru saja memulai permainan dan pemanasan, Adel sudah merasa tidak kuat lagi dan ingin cepat bertempur.
"Kamu siap sayang?."
"Siap, ayo segera lakukan Bang!."
***
"Coba Om lihat itu benar sandalnya tante Adel kan ? kita jangan ribut-ribut dulu Om aku tidak ingin ibu dan kakak syok dengan kejadian ini." ujar Sinta pada Zainal.
"Om tidak janji untuk tidak berbuat kekacauan. Benar apa yang kamu katakan kalau itu adalah sandal milik Adel. Om sendiri yang memberikan sandal itu untuk Tante mu jadi Om ingat betul model sendalnya." sahut Zainal dengan suara sendu.
Dengan langkah perlahan mereka pun masuk ke dalam halaman rumah Edo. Dari luar terdengar suara *******-******* yang tidak pantas untuk Sinta dengar.
"Astaghfirullah tolong kuatkan hamba ya Allah, semoga saja istriku beserta kakakku tidak melakukan hal-hal aneh di dalam sana," sebelum mendobrak pintu Sinta melihat Zainal berdoa secara perlahan.
Tak lupa Sinta menyiapkan kamera handphone untuk merekam semuanya yang akan terjadi nantinya, agar ayah dan juga tante Adel tidak bisa mengelak apapun lagi karena Sinta memiliki bukti yang kuat.
Dengan konyolnya saat Sinta dan Zaenal membuka pintu utama rumah milik Edo. Pintu utama tidak dikunci sama sekali.
'Apa Ayah dan juga Tante Adel terlalu kebelet sampai lupa mengunci pintu?.' Batin Sinta.
Brak
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...