
Pov Adel.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 4 jam karena macet aku pun sampai di kota Bandung dan menuju ke daerah rumah mertuaku.
Keadaanku sekarang sangat mengenaskan wajah kucel ditambah Aku membawa tas cukup besar seperti orang baru diusir dari rumah.
Aku harus mendapatkan simpati dari Mas Zainal, agar dia mau kembali padaku. Jika memang aku tidak mendapatkan simpati dari Mas Zainal minimal aku bisa memperalat Farhan. gumamku dalam hati.
Saat aku menuju ke rumah Mas Zainal dari kejauhan aku melihat ibu-ibu yang sedang mengobrol di salah satu warung. Aku malas melewati mereka, karena aku yakin mereka pasti akan menyinyir padaku, tapi aku harus terus melangkah maju. Jangan kalah pada ibu-ibu rempong demi kehidupan dan uang aku harus sedikit memutuskan urat maluku.
Lalu dengan wajah tanpa dosa aku pun berjalan melewati para ibu-ibu nyinyir terdengar dari mereka membicarakanku namun aku tetap memandang ke depan tanpa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Hai kamu punya mata nggak sih? orang di sini ada kita. Kok malah nyelonong jalan aja. Terus mau ngapain lagi kamu ke sini? mau tinggal di tempat kita lagi ? Kamu tuh sudah putus urat malu? kamu bisa-bisanya datang lagi ke sini pakai acara bawa tas gede segala." mungkin mereka kesal, karena aku tidak melirik mereka sama sekali jadi salah satu ibu-ibu itu meneriaki ku dengan lantang.
Aku hanya memberikan respon melihat ke arahnya saja tanpa berniat membalas ucapan nyinyirnya.
"Kamu budek ngapain lagi Kamu ke sini ibu-ibu kita geret saja dia dari kita bisa-bisa para suami kita yang nanti digoda oleh dia orang godain kakak ipar aja dia berani apalagi godain suami tetangga memang benar-benar murahan ya jadi perempuan aku tak tahan dengan ucapan mereka dengan Langkah tegap aku menghampiri mereka yang sedang menggunjing ku habis-habisan
"Apa kamu bilang aku menggoda suami kalian? apa kalian pikir suami kalian itu tampan? aku juga kalau goda suami orang, ya pilih-pilih kali. Ngapain juga aku godain laki-laki yang sudah jelek! Terus kere pula? seperti suami kalian, lebih baik aku jomblo saja daripada harus jadi selingkuhan suami kalian. Ih amit-amit." aku balik menghina suami-suami mereka supaya mereka itu sadar bahwa suaminya itu tidak seperempat yang mereka bayangkan
"Lancang ya mulut kamu." Hardik bu Nina daripada aku ribut dengan mereka lebih baik aku cepat pergi dari sini karena jika aku terus melawan mereka bisa-bisa aku kalah jumlah lagian emak-emak ngapain sih malah nongkrong malam-malam begini nggak ada kerjaan lain aja di rumah.
Setelah berjalan beberapa meter akhirnya aku pun sampai di rumah mantan suamiku, ada sedikit keraguan untuk masuk ke dalam rumah. Aku takut diusir oleh Mas Zainal Karena Mas Zainal yang aku kenal sekarang bukanlah Mas Zainal yang dulu sangat bucin padaku.
__ADS_1
Perlahan aku membuka pagar lalu membuka pintu utama untungnya aku masih memiliki duplikat kunci rumah ini ternyata Mas Zainal belum mengganti kuncinya.
Setelah berhasil masuk ke dalam rumah aku langsung beranjak berjalan ke kamar anakku Farhan. Sudah beberapa minggu tidak bertemu dengannya ada rasa rindu yang sangat besar pada anakku satu-satunya itu.
"Kenapa nggak ada Farhan? ke mana ya? apakah Farhan di rumah neneknya? Ah sudahlah aku cari ke rumah neneknya saja," gumamku dalam hati sembari melangkah keluar dari kamar Farhan.
"Han, biasakan kalau masuk rumah itu ucapkan salam dulu! beberapa hari ini kan kamu sudah menghilangkan kebiasaan seperti itu. Kok sekarang malah kambuh lagi sih?." teriak Mas Zainal di dalam kamar, mungkin ia menyangka kalau yang masuk ke dalam rumah adalah Farhan Anakku.
Degh.
"Jawab jangan yah? Ah jangan deh. Kalau aku jawab bisa-bisa justru Mas Zainal pasti akan mengusir ku lagi. Aku tidak ingin perjalanan ku jauh-jauh dari kampung malah sua-sia malah berakhir di usir Mas Zainal, gumamku dalam hati sembari tetap diam dan berjalan perlahan hendak keluar mencari Farhan yang saat ini mungkin sedang ada di rumah neneknya.
"Han! Kok Ayah ngomong malah nggak di jawab sih!." tanya Mas Zainal berteriak.
"Ah gawat! gimana ini? ngumpet dulu ngumpet! Adel cepat ngumpet!." ujarku dalam hari sembari panik akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di balik sofa yang berada di ruang tengah.
"Loh kok nggak ada siapa-siapa sih? terus tadi siapa? jelas-jelas aku mendengar kalau ada orang masuk ke dalam rumah, bahkan aku mendengar suara pintu kamar Farhan yang terbuka. Apa itu hanya imajinasiku saja atau perasaanku saja ya? aneh?." ucap Mas Zainal yang kebingungan.
Begitu Mas Zainal kembali lagi masuk ke dalam kamarnya, dan sepertinya situasi telah aman aku pun bergegas ke luar rumah dan menjauh dari rumah ini dengan hati-hati seraya berusaha tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Syukurlah akhirnya sekarang aku sudah aman!." ucapku penuh rasa syukur
Sekarang aku berjalan menuju rumah mantan Ibu mertua. Aku yakin ibu mertuaku masih menyanyangiku dan juga pro padaku, meski aku tidak tahu beberapa hari yang lalu Ibu mertuaku memblokir kontakku dan terkesan menjauh dariku.
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah mertua. Aku berteriak memanggil Ibu.
"Bu, Ibu! permisi!." teriakku seraya masuk ke dalam rumah Ibu. Aku masih menganggap bahwa aku masih bebas keluar masuk ke rumah ini.
"Siapa?." sahutnya kencang.
"Loh kamu kok?, ada urusan apa kamu datang kemari? pergi sana! aku bilang pergi!." teriak Ibu mertuaku. Sontak aku kaget dengan respon yang di tunjukkan oleh Ibu mertuaku itu.
"Ibu ini Adel bu. Kok Ibu malah jadi kayak gini? sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini sih Bu?." tanyaku tak merasa bersalah.
Hei kamu itu ternyata perempuan bawa Sial kamu lebih pembawa sih dibandingkan si Syarifa h huru-hara bayanganku malah jadi karena keteledoranmu!." aku tersentak kaget ketika mendengar Bang Bagas menjadi OB. Mana mungkin jabatan Bang Bagas kok sampai tiba-tiba turun drastis.
"Jangan bohong bu..."
"Adel, mau apa kamu ke sini?." tiba-tiba saja muncul Bang Bagas masuk je dalam rumah dan memotong pembicaraan ku.
"Bang! tolong aku. Aku ingin menginap di sini beberapa hari saja, bisa ya Bang? Aku ingin dekat dengan anakku Farhan!." Ucapku memohon.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....