
Lalu Sarifah tersenyum remeh pada Bagas.
"Kaku memberikanku uang karena kamu ingin aku masakan sayur sop kan? Uang yang kamu berikan itu untuk perut kamu sendiri Mas, mana ada anak-anakku beserta aku ikut memakan, jika kamu tidak ada keinginan, sepertinya tidak sudi kamu memberikan ku nafkah," Sarifah terus-terusan melawan suaminya, Sinta senang melihat Ibunya karena Ibu tidak terlihat lemah di mata Ayahnya.
Bagas pun membuang muka, mungkin ia sangat malu.
"Sudahlah Bagas, lebih baik kamu ceraikan saja si Ipah buruk rupa ini, toh ini rumah mu kan, biarkan saja si Ipah dan anak-anak kurang ajar itu pergi dari rumah ini. Biar mereka tahu rasa bagaimana rasanya hidup di lur." ujar Lastri yang lagi-lagi ikut ninbrung dalam pembicaraan ini.
"Ipah, bawa kemari barang-barangmu sekarang di rumah ini dan tinggal lah di rumah bapak, bapak tidak akan membiarkan kalian luntang lantang di jalan. Jadi sekarang kemasi barang-barang kalian!." tiba-tiba saja Mukhlis sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu membela menantu tidak tahu diri ini? biarkan saja mereka pergi dari sini," Lastri tidak terima dengan keputusan yang Mukhlis berikan.
"Mereka ini cucu kandung kamu loh, kok kamu tega-teganya membiarkan mereka luntang lantung di jalan? Apa kamu seorang nenek yang tidak punya perasaan? keputusanku sudah tidak bisa di ganggu gugat, aku sudah tahu semuanya, dan aku sudah tahu apa yang telah terjadi," ujar Mukhlis terus-terus membela Sarifah dan juga anak-anaknya.
"Aku tidak sudi menganggap mereka cucu karena mereka lahir daru seorang perempuan yang tidak aku inginkan," ujar Lastri.
"Baiklah daripada masalah ini semakin rumit, maka kita sudah tahu keputusan dari masing-masing pihak, bahwa Bu Sarifah dan juga Bapak Zainal akan menggugat cerai pasangan nya masing-masing. Karena masalah ini sudah ada ucapan talak dari mulut Pak Zainal, maka malam ini Bu Adel tidak boleh satu rumah dengan Bapak Zainal. Saya sarankan Bu Adel tinggal terlebih dahulu di rumah mertua sampai besok pagi di antarkan oleh Bapak Zainal pulang ke rumah orang tua Bu Adel," ucap Ustadz yang seperti nya sudah mulai lelah dengan drama keluarga.
"Aku lebih kasihan kepada Farhan jika harus melihat Aku Dan Kamu setiap hari bertengkar, semakin dewasa dia pasti akan semakin mengerti kenapa Ayah dan Ibunya bercerai." ujar Zainal kemudian lekas beranjak dari Sofa. "Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu. Dan untuk kamu Adel, benar apa kata Pak Ustadz, sebaiknya malam ini kami menginap di rumah bapakku. Besok pagi aku akan menjemput mu dan aku akan mengemasi barang-barang milikmu " Setelah berucap seperti itu Zainal pun pergi keluar dari rumah.
__ADS_1
"Bang! Sudah kubilang jangan menghubungiku dan meminta jatah saat ada Mas Zainal di rumah. Ini semua gara-gara kamu, seandainya kamu tidak memaksakan mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."Lagi-lagi Adel memaki Bagas, padahal di sini masih banyak orang tapi urat malu Adel sudah putus sehingga dia tidak malu berbicara seperti itu di depan banyak orang.
"Dasar pelakor tidak tahu malu!."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...