Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 61 Keributan


__ADS_3

Pov Author


"Ya mana bisa gitu dong. Rumah ini kan rumah ibuku. Apa yang akan orang lain katakan lagi tentang keluargaku jika kami mempersilahkan kamu tinggal di sini. Kalau kamu berniat ingin dekat dengan Farhan. Apa susahnya kamu menyewa hotel atau kontrakan saja sekalian, biar nggak ngerepotin keluarga ku termasuk aku!." balas Bagas.


"Tapi kan Bang. Aku nggak punya uang kalau harus menyewa hotel atau kontrakan. Kalau gitu Adel minta uang nya dong Bang untuk menyewa kontrakan saja!." sahut Adel.


"Ya makannya kerja dong. Jangan bisa nya cuman minta dan minta aja kerjaamu itu! pokoknya jauh-jauh sana dari ku dan juga keluargaku. Pergi sana Adel!." usir Bagas pada Adel.


"Kok kamu gitu sih Bang? Ta udah kalau gitu aku tinggal di rumah kamu aja di sebelah yah, boleh kan? lagian kamu di sana juga cuman sendirian. Ya nggak papa dong kalau aku ikut tinggal di sana juga. Biar kamu ada temennya sekalian aku juga bisa deket sama Farhan Anakku." ucap Adel merayu Bagas.


"Jangan ngaco kamu Adel! Gak, enggak bisa! sekarang aku cuma seorang OB mana bisa aku menanggung semua kebutuhan yang nggak masuk akal kamu itu. Apalagi kalau melihat penampilanmu sekarang yang nggak beda jauh sama si Ipah, bikin males aja. Kamu hanya jadi pembawa sial aku aja Del, aku nggak mau hidupku yang udah sial makin sial lagi jika kamu ada di dekatku," timpal Bagas emosi.


"Ya Tapi kan..."


"Gak ada tapi-tapian. Sekali enggak tetap enggak bisa. Kamu pikir Bapakku dan si Zainal bakal diem gitu aja kalau mereka sampai tahu jika saat ini kamu balik lagi ke sini? sudah cukup! pulang sekarang juga sana! pergi!."usir Bagas.


Sinta mendengar suara ribut-ribut dari luar.


"Apaan sih itu? berisik banget kayak nggak tahu waktu aja kalau mau ribut," ketus Bayu tak suka yang juga mendengar keributan dari luar.


"Udahlah biarin aja, yang penting mereka tidak nyinggung-nyinggung kita. Jadi lebih baik kita di sini saja nggak usah ikut campur urusan mereka." balas Sarifah menenangkan anak-anaknya untuk tak ikut campur.


Mereka kembali mengobrol ke sana ke mari. Sinta bersyukur selama mereka tinggal di rumah kakeknya, kebutuhan hidup mereka tercukupi baik itu dari kakek atau Zainal. Meskipun sangat terlihat jelas jika Lastri tak suka dan sering menyindir kamu sebagai benalu di rumah ini.

__ADS_1


"Kamu tanggung jawab Bang!." teriak Adel hingga sampai ke telinga Sinta. Benar perkiraan Sinta, jika yang ribut itu suara Tante Adel, Nenek dan Ayahnya yang sedang bersitegang di luar.


Mendengar keributan di luar justru membuat Sinta semakin penasaran dan ingin melihat ke luar, pasti sudah banyak orang di sana, pikirnya.


"Bu, aku mau lihat ke sana ah. Penasaran apa yang terjadi di sana. Kalau Ibu mau ikut ayo, tapi kalau misalkan Ibu enggak mau ikut, tolong jangan halangi aku untuk keluar!." ucap Sinta saking penasaran.


"Bayu juga ikut, Bayu pengen tahu juga." akhirnya tanpa persetujuan dari Ibunya, mereka pun keluar dan tanpa di duga ternyata Sarifah dan Farhan juga ikut keluar mengikuti langkah Sinta dan Bayu.


Sinta berjalan paling depan, terlihat di sana banyak sekali kumpulan orang yang sedang menyaksikan keributan mereka bertiga.


'Apa mereka tidak punya malu dan tidak sadar jika kelakuan mereka itu mempermalukan diri sendiri?' Batin Sinta.


Kemudian Sinta dan rombongan di belakangnya pun berjalan ke halaman mendekati mereka yang sedang bersitegang.


"Karena kita sudah berselingkuh dan kamu juga sudah meniduriku, minimal kamu itu tanggung jawab lah Bang. Nikahi aku! sekarang aku sudah bercerai dengan Mas Zainal dan kamu juga sudah duda. Jadi apa salahnya jika kita bersama?." teriak Adel seperti orang kesurupan dan tidak tahu malu.


"Huuuuu huù! dasar pelakor nggak tau malu. Makanya jadi orang jangan sok kecakepan. Giliran kayak ginu nggak ada orang yang mau mungut lu hahhaaa," para tetangga pun sangat barbar, mereka berteriak menggunjing Adel.


"DIAM KALIAN! ini urusan ku dengan keluarga ini, kalian sebagai penonton nggak usah ikut campur masalah orang lain. Kalian seenaknya sekarang menggunjing diriku kaya kalian udah paling suci aja dan tidak punya dosa!." Teriak Adel terus-terusan ke arah para tetangga.


"Cukup! aku tidak ingin lagi bersamamu, karena aku akan segera rujuk dengan Sarifah kembali. Aku tidak ingin kembali bersamamu. Dasar perempuan mu-rahan!."


Sinta tersentak kaget ketika Ayahnya bilang mau rujuk dengan Ibunya. Seketika dada nya berdebar kencang karena takut Ibunya setuju dengan apa yang Ayahnya bicarakan sekarang.

__ADS_1


"Tidak! aku tidak sudi jika Ibuku harus kembali lagi dengan Ayah, lagian juga Ibuku tidak mau rujuk dengan Ayah," tiba-tiba Batu bersuara, mungkin dia juga sama kaget nya dengan Sinta.


Bagas menoleh kepada anaknya "Kenapa kamu seperti Bayu? apa kamu terlalu banyak di dokrin oleh ibumu? Apa kamu ingin menjadi anak broken gome karena orang tua nya tidak utuh? kamu itu harusnya mikir, jadi anak jangan mendukung orang tuanya berpisah," sahut Bagas tak terima.


"Hahahaha, apa kamu sudah gila Bang? kamu mau kembali lagi sama perempuan kusam dan juga bau bawang kayak Mbak Ipah? Aku lebih cantik dan lebih oke di banding Mbak Ipah, apa sekarang matamu sudah rabun hah?." Dengan lancangnya Adel menghina Sarifah di depan banyak orang membuat emosi Sinta naik ke ubun-ubun.


"Hei Tante! harusnya Tante itu mikir, Tante dulu memang cantik tapi cantik pake duit orang. Coba kalau Tante nggak perawatan, mungkin wajah Tante akan lebih jelek dari ibuku. Kita lihat seberapa lama Tante tanpa uang dari Ayahku dan juga dari Om Zainal? palingan dalam beberapa bulan ke depan juga wajah Tante akan jadi jelek. Coba aja ngaca sekarang! penampilan Tante kayak gimana sekarang? baru seminggu tanpa uang Om Zainal ataupun Ayahku saja sudah kelihatan beda di bandingkan penampilan Tante yang dulu!." hina Sinta habis-habisan pada Tante nya.


"Kamu..."


"Cukup, apa kalian tidak malu ribut-ribut kayak gini di luar dan jadi tontonan banyak orang? kalian yang merasa keluarga di rumah ini, Cepat masuk! kita bahas semua ini di dalam," sebelum Adel menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Mukhlis keluar dari dalam rumah dan berteriak menyuruh mereka semua untuk masuk.


Lalu mereka semua pun masuk ke rumah tanpa ada yang berani membantah ucapan Mukhlis. Karena Mukhlis termasuk orang yang di segani oleh anak-anaknya dan juga menantunya.


"Huuuu nggak asyik, padahal lagi nonton drama indosiar secara langsung. Udahlah pak di sini saja!." terdengar suara tetangga kasak-kusuk karena tak suka permasalahan ini di bawa ke dalam rumah.


"Farhan panggil Ayahmu sekarang juga! bapak ingin permasalahan ini selesai sekarang juga! karena lusa bapak harus ke luar kota. Bapak tidak ingin meninggalkan rumah ini dalam keadaan yang belum selesai kayak gini!." ujar Mukhlis, lalu Farhan pun keluar untuk memanggil Zainal.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2