Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 39 Air mata Buaya


__ADS_3

"Makanannya sudah datang dari tadi kamu. Di dalam kamar mandi kamu sangat lama loh sampai-sampai aku dan Farhan kelaparan menunggu kamu keluar dari kamar mandi!." sanggah Zainal dengan wajah tak suka.


"Maafkan aku, Mas. Ya udah yuk kita ke meja makan aku siapkan nasi untukmu dan juga Farhan, ya. Jangan marah gitu dong, Sayang nanti gantengnya ilang yuk!." Adel menggandeng lengan Zainal untuk berjalan ke arah meja makan.


Hatinya rasanya udah begitu keringat dingin bercucuran, Adel takut Zainal curiga padanya.


"Memangnya apa sih yang kamu bicarakan dengan ibu-ibu arisan? kok bisa-bisanya sampai selama itu? kenapa pula kamu harus sembunyi-sembunyi mengangkat telepon? Padahal di depanku dan juga di depan Farhan tidak masalah, kami juga tidak akan pernah mengganggumu saat sedang menelpon." ucap Zainal seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya, sepertinya Zainal sedikit curiga kepada Adel.


"Ya Allah, Mas kok masih curiga gitu sih. Apa Mas baru prasangka kalo aku itu selingkuh dengan laki-laki lain? jangan berpikir picik seperti itu dong Mas. Aku itu sangat sayang padamu dan juga Farhan. Tak mungkin rasanya aku menghianati kalian berdua," Adel pun akhirnya mengeluarkan jurus akting, berpura-pura bersedih dengan memasang wajah paling menderita.


"Sudahlah nanti kita bahas di kamar saja. Kasihan Farhan makan nya jadi terganggu." ujar Zainal.


'Haduh aku kira drama yang aku mainkan akan menutup kecurigaan Mas Zainal. Namun nyatanya Mas Zainal masih ingin berbicara padaku tapi tidak di depan Farhan.' Batin Adel menggurutu karena akting nya tidak berhasil.


Mereka pun melanjutkan acara makan mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Adel pun melihat Zainal terlihat seperti menahan kesal. Adel memikirkan bagaimana cara bisa bertemu dengan Bagas dalam keadaan Zainal yang sedang marah seperti ini.


"Farhan, kamu makannya sudah selesai? segera minum obat dan tidur agar lukamu cepat sembuh!." titah Zainal sembari mengambil obat milik Farhan.


Lalu Farhan pun meminum obat tersebut dan pamit untuk masuk ke kamar. Zainal membantu Farhan untuk masuk ke dalam kamar karena Farhan belum bisa berjalan dengan sempurna.


"Ayo ikut, Mas! ke kamar ada yang ingin Mas bicarakan!." ajak Zainal pada Adel dengan perasaan takut Adel pun berjalan mengikuti Zainal masuk ke dalam kamar.


Setelah sampai kamar Zainal pun menutup pintu kamar dengan sangat kencang hingga Adel terlonjar kaget.


"Astagfirullah Mas. Kenapa banting-banting pintu kayak gitu? kalau kamu marah, marahin saja aku. Nggak usah rusak barang atau perabotan." ucap Adel dengan masih mengeluarkan raut wajah sedih.


Terlihat dada Zainal naik turun seperti menahan kesal yang sangat dalam pada Adel. Adel sama sekali tidak berani menatap wajah Zainal ketika marah, karena wajahnya sangat menakutkan.


"Sekarang jujur pada, Mas. Apa kamu punya selingkuhan? Kenapa mengangkat telepon harus sembunyi-sembunyi di kamar mandi? apa yang telah kamu lakukan di belakangku, Adel?." tanya Zainal masih sedikit menahan emosi.


Jantung Adel berpacu dengan cepat, Adel bingung harus mengeluarkan alasan apalagi.

__ADS_1


"Sudah kubilang Aku tidak ingin ghibahku terganggu atau diledek olehmu. Aku ingin mengobrol dengan teman arisanku dengan tenang tanpa gangguan siapapun, jujur saja aku takut diceramahi olehmu karena aku beserta arisanku selalu membicarakan Mbak Ipah." Adel berbohong membawa-bawa nama kakak iparnya.


"Mbak Ipah? kenapa kamu harus bicarakan Mbak Ipah dengan grup arisanmu? Apa kamu tahu dosa ghibah kamu itu ditanggung olehku. Kamu bukannya meringankan dosaku malah menambah dosaku saja." Jawab Zainal kesal.


"Iya maaf, Mas. Nggak lagi-lagi aku bergairah membicarakan Mbak Ipah. Tolong mas jangan marah kayak gitu dong, aku sedih banget kalau Mas marah." jawab Adel sambil berusaha memeluk tubuh Zainal.


Adel menelungkupkan kepala nya di dada bidang milik Zainal, Adel berusaha untuk berakting mengeluarkan air mata dan akhirnya berhasil.


Hiks,


Hiks,


"Sudahlah jangan nangis kayak gini, maafkan mas sudah menuduhmu macam-macam."


"Maaf ya, Mas paling tidak tega melihatmu menangis seperti ini." Adel tersenyum senang dalam hati karena berhasil mengelabui Zainal dengan air mata palsunya.


"Aku sangat sedih Mas laki-laki yang aku sayangi bisa-bisanya menuduhku macam-macam. Ingat Mas aku sangat mencintaimu tidak mungkin aku berani dan tega menduakanmu." Adel juga tak lupa mengeluarkan jurus gombal untuk membuat Zaenal mabuk kepayang dan melupakan tuduhan-tuduhan panjangnya pada Adel.


Emang rasanya sudah sangat lama Adel tidak melayani suaminya bahkan sudah cukup lupa dengan permainannya dengan suaminya karena lebih sering bermain dengan Bagas.


"Maaf Mas. Aku sedang datang bulan, lusa baru selesai." kilah Adel padahal Adel sedang tidak datang bulan. Adel hanya ingin bermain sangat panas dengan Bagas. Jika Adel meladeni keinginan Zainal saat ini, bisa-bisa energinya terkuras, itu pikir Adel.


"Baiklah kalau gitu, Mas pamit ke ruang tengah rumah ya. Mas ingin menonton berita olahraga." Adel pun menganguk mengiyakan ucapan Zainal.


Setelah kepergian Zainal, Adel pun bernafa lega. Adel senang karena bisa mengelabui Zainal yang bodoh itu dengan air mata buaya nya. Dan Adel merasa beruntung karena merasa jadi perempuan yang sangat beruntung dicintai oleh kedua pria.


***


Adel terbangun pukul 17.30 sore, dia ketiduran hampir menjelang maghrib.


Adel ingat ia memiliki janji dengan Bagas. Dia langsung segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap bertemu dengan kekasih gelapnya.

__ADS_1


Setelah mandi kilat, Adel pun mengenakan pakaian biasa saja namun terkesan rapih, bahkan mungkin pakaian yang di kenakan Adel sekarang berupa daster, supaya saat nanti bermain dengan Bagas lebih mudah membuka nya, pikir Adel.


"Sayang, mau kemana maghrib begini?." tanya Zainal pada istrinya.


"Aku mau ke warung belanja, kebetulan gula dan juga garam habis. Jadi aku harus segera belanja ke warung agar nanti kalau butuh tidak usah belanja lagi," balas Adel memberikan alasan.


"Tumben banget, biasanya kamu paling anti untuk belanja ke warung." sanggah Zainal masih penuh dengan kecurigaan.


"Apa? Bukannya Mas baru saja tadi minta maaf padaku karena telah curiga? Mas mau ikut ke warung? Ya sudah ayo mas ikuti saja aku kemana pun aku pergi biar kamu puas!." Adel balik marah kepada Zainal karena telah mencurigainya.


"Astaga Sayang, Mas hanya bilang kamu tumben-tumbenan belanja ke warung. Ya sudah kalau misalkan memang kamu mau ke warung ya tinggal pergi saja, kenapa harus jawab nya sewot sih Sayang!." timpal Zainal meredam emosi Adel.


Karena Adel kepalang emosi kepada Zainal, Adel pun langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan lagi kepada suaminya.


'Hah, jika tidak ingat Mas Zainal baik padaku dan juga royal kepadaku mungkin aku sudah pergi meninggalkannya sedari dulu.' ucap Adel dalam hati, entah sampai kapan Adel bermain-main terus di belakang Zainal seperti ini.


Saat Adel keluar pagar rumah, adzan maghrib pun berkumandang, saat tengah berjalan Adel berpapasan dengan Bayu yang telah menggunakan sarung beserta peci, seperti nya Bayu akan menuju mesjid untuk sholat berjamaah.


"Heh jadi anak itu jangan sok alim. Dasar anak STMJ, sholat terus maksiatnya jalan, dih!." Entah mengapa Adel, setiap bertemu dengan Sinta ataupun Bayu, mulutnya selalu ingin mengumpat mereka, padahal Sinta dan Bayu tidak pernah mengusik Adel terlebih dahulu.


Bayu terus saja berjalan tidak mengindahkan cibiran Adel, Adel pun memutar bola mata malas dan kembali berjalan dengan semangat menuju rumah Edo


Dari kejauhan Adel melihat rumah Edo terang, Adel yakin di rumah itu sudah ada Bagas sampai terlebih dahulu, karena jika rumah kosong biasanya lampunya akan padam.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2