
Plak.
"Kamu ya! dasar kurang ajar kamu Zainal!. Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu padaku!." sahut Lastri emosi.
"Cukup Lastri! Apa-apaan kami ini, kenapa kamu berani-beraninya menampar anak ku yang sama sekali tidak bersalah ini, yang perlu kamu tampar dan didik dengan benar itu anakmu Bagas, bukan anakku Zainal! Apa yang Zainal katakan itu juga benar, apa hak kaku menamparnya hah!." ucap Mukhlis yang tiba-tiba datang dan membungkan mulut Lastri itu.
Seketika Lastri itu pun terdiam dan tak berani menjawab ucapan suaminya, dia memilih untuk meninggalkan mereka dan berlalu masuk ke dalam kamarnya seraya mendelik ke arah Zainal dan Sarifah.
"Huh dasar orang tua aneh!." gerutu Zainal.
"Sudah Nal sudah, kamu yang sabar yah, gak usah di masukin ke dalam hati ucapan Ibu kamu itu," ucap Mukhkis menenangkan anaknya.
"Habisnya Zainal kesal Pak, Bapak ngapain sih kok bisa-bisanya menikahi orang kayak Ibu itu dan masih saja mempertahankan orang sepertinya. Lama-lama muak aku pak sama tingkah laku Ibu, bapak liat dan sebger sendiri kan dia ngomong apa tadi? Emang bapak mau diam aja ngeliat kelakuan Ibu kayak gitu?." gerutu Zainal.
Mukhlis pun hanya terdiam, memilih untuk tak membalas hal itu dengan Zainal dan berlalu meninggalkan orang-orang dan ikut masuk ke dalam kamar nya. Hal ini membuat Sinta penasaran juga, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Kakek dan Neneknya. Ia ingin tahu apa alasan Kakeknya mempertahankan Nenek sihir nya kayak gitu. Sinta benar-benar penasaran.
Ting
Tong
"Permisi pesanan atas nama Pak Zainal!."
"Ah itu dia oj*k online nya sudah datang, bentar Om ke depan yah, Bay bantuin Om ambil ke depan yuk!." Titah Zainal pada Bayu.
Bayu pun menuruti ucapan Zainal dan berjalan mengambil sesuatu yang telah di pesan oleh Zainal.
"Widih kak liat nih, Pizza nya gede dan banyak banget. Makan besar nih kita hari ini!," sahut Bayu kegirangan.
__ADS_1
"Kamu pesan makanan Nal?." tanya Sarifah.
"Iyah mbak, gapapa mbak." jawab Zainal sambil menata makanan di atas meja.
"Waduh ini banyak sekali, kamu nggak salah Nal? siapa yang mau habiskan coba Pizza sebanyak ini, belum lagi minumannya banyak banget. Ini kamu beli 1, 2, 8, 8 Nal? Buat siapa aja minuman sebanyak ini?." tanya Sarifah keheranan melihat Zainal dan Bayu membawa 3 kotak Pizza ukuran besar dan 8 gelas minuman boba.
"Hahaha gak papa Mbak, ini buat semua yang mau aja. Bentar Zainal ke rumah dulu yag Mbak manggil Farhan biar ke sini makan bareng sama kita semua!." ucap Zainal seraya berlalu pergi menjemput Farhan yang ada di rumah.
"Wih Boba nya enak banget loh kak, beda banget sama boba yang biasa aku beli di depan sekolah!." sahut Bayu yang langsung minum boba tanpa menunggu Zainal yang sedang menjemput Farhan.
"Bayu! tunggu Om Zainal dulu dong, jangan main minum-minum aja!." timpal Sarifah menegur anaknya.
"Tau dasar gak sabaran banget! lagian ya pasti enak lah itu kan boba mahal, bukan boba gocengan. Ada-ada aja kamu ini hahaha!!." sahut Sinta meledek adiknya.
"Ya ga papa dong Bu. Lagian ini kan Om Zainal beli nya pun banyak. Kalau habis tinggal ambil lagi aja," ucap Bayu dengan enteng.
"Sudah nggak papa Mbak, kenapa harus malu coba?." sergah Zainal yang sudah kembali datang bersama Farhan.
"Eh..." Sarifah kaget melihat kedatangan Zainal yang ternyata sudah kembali bersama Farhan dengan cepat bahkan belum 5 menit Zainal sudah kembali
Sinta tertawa seketika melihat ekspresi ibu yang kaget sekaligus malu dengan wajah memerah, ternyata sudah dari tadi Farhan sudah ada di halaman depan rumah Mukhlis. Ia memperhatikan kebersamaan mereka dari balik jendela makanya Zainal bisa membawanya begitu cepat karena memang sedari tadi Farhan ada di sana dan mengintip mereka. Sinta sebenarnya sudah curiga kalau itu Farhan lagi karena Sinta sekilas bisa mendengar gerakan-gerakan di luar rumah dan gumaman-gumaman suara seseorang di luar rumah di antara lain tak bukan adalah Farhan.
Entah mengapa Farhan ini terkadang selalu memperhatikan dan mengintip kebersamaan Sinta, Bayu dan juga Ibunya tanpa Bayu dan Sarifah sadari.
Sinta juga sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada Bayu ataupun ibunya. Sinta tak pernah dengan sengaja menyapa Farhan ketika dia mengintip. Takutnya Farhan malu jika sampai Sinta utarakan kebiasaan-kebiasaannya itu padanya.
Padahal yang Sinta tahu, Farhan orangnya cuek dan tidak terlalu ingin ikut campur urusan dan masalah yang terjadi di keluarga besarnya namun entah mengapa Farhan terkadang selalu memperhatikan keluarga kecilnya dari kejauhan.
__ADS_1
"Anu, Farhan boleh ikutan gabung dengan kalian gak?." Sapa Farhan dengan sedikit malu-malu.
"Boleh dong Han, kenapa nggak. Lagian ini semua juga kan makanan dan minuman dari ayah kamu! sini duduk di sebelahku Han, kita makan dan minum bareng!." timpal Bayu.
"Oke makasih Kak Bayu! Oh yah bentar Farhan mau cuci tangan dulu yah kebelakang, tanganku kotor soalnya," sahut Farhan.
Bayu pun mengangguk dan Farhan pun akhirnya berlalu untuk mencuci tangan.
Sinta sengaja membuntuti Farhan dan menghampirinya.
"Eehhemm! kamu tadi ngintip kita lagi ya Han? heheh." ujar Sinta tanpa basa basi berdiri di samping Farhan.
Farhan terkejut, "Eh-eh Kak Sinta. Eng-enggak kok kak! siapa juga yang mengintip kalian? Farhan dari tadi di rumah kok, nggak ngintip-ngintip kalian di jendela samping rumah kakek ini, enggak. Jangan sok tahu deh Kak!." timpal Farhan sedikit gugup.
Sinta tersenyum, menyadari jika Farhan salah bicara.
"Hah ngintip di jendela samping rumah kakek kamu bilang? emang tadi aku nanya sedetail itu yah? perasaan tadi aku cuman bilang Tadi kamu ngintip kita lagi yah Han?. Gitu aja kok. Tuh kan jadi bener nih ternyata kamu lagi ngintipin kita lagi seperti sebelum-sebelumnya yah kan?." pungkas Sinta.
Kali ini Sinta sengaja menanyakan langsung dengan Farhan perihal masalah ini karena Sinta begitu penasaran dengan alasannya. Makanya Sinta menanyakan hal itu pada Farhan sambil melihat kondisi sekitar supaya dia tidak malu mengutarakan semuanya. Jika hanya ada mereka berdua di area dapur persis di depan wastafel cuci piring ini.
Farhan pun seketika semakin kaget dengan ucapan Sinta hingga dia terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Sinta barusan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...