
"Apa cerai? Apa bapak nggak malu sudah tua menceraikan istri? Bapak harusnya mikir dong, Zainal anak bapak bisa sampai segede ini karena diurus oleh siapa? semua ada pada campur tangan ibu!." Akhirnya Bagas berkomentar yang sebelum nya daritadi hanya diam. Ia begitu terkejut ketika mendengar bahwa Bapak tirinya akan menceraikan Ibunya. Jika semua itu terjadi bagaimana ibunya bisa hidup sedangkan semua kebutuhan mewah Ibu bergantung pada bapak tiri nya itu.
"Hahahaa memangnya selama ibu mengurusku ibu sudah menjadi ibu tiri yang baik? Ibu ingat nggak kalau ibu sedari dulu berat sebelah padaku. Ibu selalu lebih memprioritaskan Mas Bagas di banding aku, bahkan uang jajan saja selalu ibu potong dan Ibu berikan pada anak kesayangan Ibh!." sahut Zainal dengan wajah marah dan membongkar semua kebusukan Lastri ketika merawat putra tirinya saat masih kecil.
"Ya Allah Zainal, tega-teganya kamu memfitnah ibu kayak gitu? meskipun Ibu adalah ibu tirimu tetap saja aku menyanyangimu Bagas. Jangan asal sembarangan fitnah kayak gitu dong Zainal!." balas Lastri mulai mengeluarkan air mata buayanya.
"Apa yang kamu bicarakan itu benar Zainal? kenapa kamu tidak bicara masalah ini sejak dulu?." timpal Mukhlis pada anaknya sama sekali tidak menganggap ucapan Lastri.
"Untuk apa Pak? Dari dulu bapak selalu sibuk dengan Ibu. Bapak terlihat sangat bucin, kadang omongan Zainal pun tidak pernah Bapak dengar." jawab Zainal dengan nada penuh kecewa.
"Kamu jangan jadi kompor dan memprovokasi dan menyudutkan ibu ku gitu dong Zainal! jika kamu tanpa Ibuku mungkin kamu tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Harusnya kamu berterima kasih bukannya malah menyudutkan sekaligus membuat Ibu dan bapak semakin panas dan ujung-ujungnya bercerai!." ucap Bagas muak melihat Ibunya tengah tersudutkan oleh perkataan anak tirinya, Bagas terlihat pasang badan untuk membela Ibunya.
"Maafkan Bapak Zainal, bapak bersalah, secara tidak langsung bapak sudah menelantarkan mu dan mempercayakan mu kepada perempuan berhati iblis itu!." jawab Mukhlis menatap tajam sembari menunjuk ke arah Lastri. Lagi-lagi Mukhlis menghiraukan pembelaan dari Bagas.
"Pak, nggak biasanya bapak marah seperti ini sampai menunjuk-nunjuk wajah Ibu. Bapak jangan gampang percaya dengan omongan Zainal dong!. Gimana kalau misalkan emang dasarnya Zainal tidak suka pada Ibu dan menginginkan perceraian kita. Karena sejatinya anak tiri dan ibu tiri itu jarang akur dan posisinya Zainal yang tidak menyukai Ibu." Lastri terus saja membujuk Bapak agar tidak percaya omongan Zainal.
Mukhlis menghela nafas kasar. "Sudahlah, sekarang kita bahas dulu permasalahan Adel dan juga Zainal, gimana? kamu Adel? bukannya kamu merasa cantik, kenapa kamu malah mengejar-ngejar Zainal dan juga Bagas?." Tahya Mukhlis mengalihkan pembicaraan yang sudah kemana-mana dan melupakan pokok permasalahan yang pertama.
Adel terkejut dengan pertanyaan Mukhlis yang tiba-tiba, kemudian berusaha untuk tenang, "Pak, jika boleh jujur pada Bapak, aku mencintai Zainal dan juga Bang Bagas secara bersamaan. Jadi daripada aku tidak bersama keduanya izinkan aku untuk memilih ingin hidup dengan Bang Bagas atau dengan Mas Zainal." jawabnya tidak tahu malu.
Semua yang mendengar ucapan Adel tercengang, bahkan Zainal hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Adel, mantan istrinya itu. Selama ini dia benar-benar tidak mengenal wanita yang pernah mendampingi nya selama bertahun-tahun menjalani biduk rumah tangga, ternyata tabiat watak istri nya sebenarnya membuat Zainal terkejut dan syok, bisa-bisanya dia terjebak bersama wanita yang tidak tahu malu, dan sok kecantikan ini.
__ADS_1
"Hahaha, kamu itu harusnya berpikir dan berkaca Adel. Kamu sekarang di mataku hanya seonggok sampah yang tidak berguna dan tidak layak untuk di pungut, jadi kamu jangan pernah berharap untuk bisa kembali lagi padaku. Jika kamu ingin mengulang kembali kisah asmara mu dengan Mas Bagas ya silahkan! karena aku sangat tahu, bahwa Mas Bagas memang menyukai sampai dan barang bekas murahan sepertimu!." jawab Zainal dengan sadis dan membuat Bagas kesal karena membawa-bawa namanya.
"Kamu jangan sembarangan bicara padaku yah Zainal! Bagaimanapun aku ini Kakakmu meskipun kita bukan saudara kandung!." sahut Bagas tak terima dengan ucapan Zainal barusan.
Zainal masih bisa bersikap tenang walaupun Bagas sudah memperlihatkan emosi yang meledak-ledak, "Memangnya ada yang salah dengan ucapan ku, Mas? Buktinya Mas Bagas mau jadi selingkuhan nya Adel kan? Yang namanya orang tukang selingkuh itu bisa di sebut sampah yang tidak berguna berarti secara tidak langsung Mas Bagas adalah tong sampah yang hanya bisa menampung sampah yang tidak berguna!." timpal Zainal.
"Adel! sebaiknya kamu pergi saja dari sini dan jangan pernah menginjakkan kakimu di daerah sini lagi!. Kamu dengar kan baik Bagas dan juga Zainal sama-sama tidak menerimamu lagi. Jadi sekarang silahkan kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Pergi sana kamu!." Mukhlis seperti orang yang sudah kehilangan kesabaran, wajah Bapak memerah seraya mengacungkan jarinya untuk menyuruh Adel pergi dari rumah ini.
"Ya sudah kalau gitu, jika memang aku di usir dari rumah ini aku ingin membawa anakku pergi dari sini dan aku akan mengurus Farhan hidup bersamaku. Dan aku juga tidak akan mengizinkan keluarga di sini menemui Farhan lagi!." ucap Adel mengeluarkan kalimat ultimatum untuk membawa Farhan.
"Coba kamu tanyakan pada Farhan. Apa dia mau tinggal dan pergi bersama ibu yang sikapnya sangat buruk seperti mu?." tanya Mukhlis pada Adel.
Bagas terkejut dengan apa yang Farhan ucapkan pada Adel.
"Farhan, kamu jangan jadi anak durhaka ya! bagaimanapun kamu tetap anak Bunda. Kamu lahir dari rahim Bunda!." teriak Adel tak terima, hatinya sakit mendengar ia di tolak oleh anaknya sendiri.
Farhan pun terlihat diam. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab ucapan Ibunya sendiri.
"Kamu sudah jelaskan apa yang anakmu inginkan? Dia sama sekali tidak mau ikut bersamamu. Sekarang kamu pergi dari rumah ini!." ujar Zainal.
"Tapi Mas, untuk saat ini aku benar-benar tidak punya uang sama sekali. Dan kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku. Mereka membuangku ketika aku tidak memiliki uang. Tolong aku Mas tolong!." ucap Adel memelas pada Zainal.
__ADS_1
"Uang? kamu mau uang?." ucap Zainal seraya membuka dompetnya lalu melempar beberapa lembar uang merah.
"Jadi tujuanmu ke sini itu hanya untuk meminta uang kan? Ambil tuh yang dan kamu pergi dari sini sekarang!." Hardik Zainal lagi.
"Mas, ini nggak cukup. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu tambahi uang yang kamu berikan ini, Mas!." pinta Adel masih dengan tidak tahu malu. Sudah jelas tujuan Adel datang hanya untuk mendapatkan uang.
Lalu Zainal pun mengutak-ngatik handphone nya. Entah berapa nominal yang Zainal berikan pada Adel sehingga membuat Adel setuju untuk pergi.
"Tuh udah aku transfer. Sekarang cepat kamu pergi dari sini, pergi!." ucap Zainal.
Adel tersenyum senang saat melihat layar handphone yang berisi bukti transfer uang Zainal padanya. Kemudian dia beralih menatap putranya, Farhan.
"Farhan, kamu akan menyesal telah memperlakukan ibu kandungmu seperti ini. Dasar anak tidak berguna, anak durhaka kamu Farhan! kamu tidak akan pernah bisa menginjakkan kakimu di surga bahkan bau surganya pun kamu tidak akan pernah bisa menciumnya, jika kelakuanmy seperti ini pada Ibu! lihat saja kamu!." Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan seperti itu, Adel langsung pergi seraya menggeret tasnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1