Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 45 Mengantar Adel


__ADS_3

"Ipah, Sinta, Bayu! ayo ikut kakek ke rumah dan kamu juga Adel, kamu malam ini tidur di rumahku, kamu besok harus bersiap-siap. Karena besok Zainal akan mengantarmu pulang ke rumah kedua orang tuamu," ucap Mukhlis tegas selalu meninggalkan mereka semua.


Mendengar itu Adel hanya bisa pasrah menuruti perintah bapak mertuanya.


***


Untuk sementara Sinta, Bayu dan Ibu mereka tinggal di rumah Mukhlis. Sinta sedikit sungkan untuk tinggal di rumah itu karena mengingat dulu di rumah itu, rumah di mana, Ibunya selalu diperlakukan layaknya pembantu oleh Nenek sihir itu.


"Kalian bertiga tidur bareng di kamar pembantu di sana! dan kamu Adel, kamu busa tidur di kamar tamy yang biasa kamu tiduri kalau kamu menginap di sini." ucap Lastri.


"BU! CUKUP BU! Ibu ini gimana sih kok gak adil. Masa Ipah dan kedua cucuku yang sudah tumbuh besar itu harus tidur bersama-sama, mana di kamar pembantu lagi, tidak Bu!. Ipah kamu tidur di kamar tamu yang biasa Adel tiduri ya! dan Bayu kamu tidur di kamar bekas Ayahmu dulu ketika masih bujangan, sementara kamu Adel kamu tidur di kamar bekas kamar Zainal dulu, besok setelah Adel pergi dari rumah ini, Sinta bisa menempati kamar bekas Zainal. Jadi kalian bertiga bisa tidur di kamar masing-masing," titah Mukhlis.


"Pak Bapak! sudahlah pak kenapa sih pake acara memanjakan mereka segala?." sahut Lastri itu tidak suka dengan pembagian kamar oleh Mukhlis.


"Ya udah Ibu pisah ranjang sama bapak kalau gitu, Ibu tidur di kamar pembantu yah? Ibu mau?." timpal Mukhlis.


Sinta dan Bayu sontak tersenyum menahan tawa melihat neneknya di buat malu oleh Mukhlis.


"Ya jangan gitu lah Pak, Iya-iya Ibu nurut gimana bapak aja!." ucap Lastri yang akhirnya menuruti perintah suaminya.


Mereka pun akhirnya tidur di kamar masing-masing karena hari pun sudah mulai larut malam.


***


Keesokan hari nya, sesuai janji nya semalam Zainal akan mengantar kan Adel pulang ke rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum, Pak?." Sapa Zainal yang datang ke rumah orang tua nya untuk menjemput Adel.


Mukhlis datang menghampiri anaknya "Waalaikumsalam, sudah datang Nal?."

__ADS_1


Zainal menganguk,


"Del, Adel! Adel! nih Zainal udah dateng, cepet kamu siap-siap sana pulang ke rumah kedua orang tua mu!." usir Mukhlis.


Adel pun keluar kamar dengan wajah cemberut karena di usir dari rumah besar Mukhlis.


"Sinta kamu hari ini sekolahnya libur kan? mau ikut bareng Om nggak ke Tasikmalaya?. Sekalian jadi saksi untuk kedua orang tua Adel di kampung sana." ucap Zainal pada Sinta.


"Boleh Om boleh, bentar aku siap-siap dulu 5 menit ya Om!." ujar Sinta kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


"Oke siap! Del, barang-barang milikmu udah aku bawa semua di dalam mobil ya?." ujar Zainal.


"Hhhmm iya," jawab Adel singkat.


Tak lama Sinta pun keluar kamar, ia sudah berganti pakaian rapih. Tak lupa ia pamit kepada Ibunya yang sedang berada di dapur. Dan juga Kakeknya yang mengantar kepergian mereka hingga sampai ke mobil Zainal yang terparkir di halaman rumah.


Tak terasa setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, mereka pun tiba di kampung halaman Adel.


"Om ini rumah nya?." tanya Sinta heran melihat bangunan tua yang jauh dari kata modern, bahkan selama di perjalanan menuju ke sini tidak ada jalan aspal, lebih banyak batu bebatuan, dan licin karena seperti nya semalam baru saja di guyur hujan. Oleh karena itu, Zainal menyetir mobil tadi ekstra pelan karena jalanannya yang licin.


"Iya betul ini rumah orang tua Tante mu Sin," balas Zainal sembari menurunkan barang-barang milik Adel.


"Kok pelosok banget ya Om? kampung banget gitu, jalannya aja masih merah gini, malahan masih kota an kampung halaman ibuku yang jalannya sudah di aspal Hot mix. Padahal dulu Tante Adel sering menghina Ibuku tau Om, katanya Ibuku anak kampung, babu kampung atau apalah, eh ternyata malah kampungan dia ya!." ucap Sinta sembari melirik ke arah Adel yang hanya menunduk diam tak berkomentar apa-apa atas ledekan Sinta.


"Ya begitulah Sinta, bahkan rumah ini dulunya hanya bilik bambu reyot, karena kasihan Om lah yang membangunkan rumah ini menjadi rumah besar 2 lantai seperti sekarang ini!," sahut Zainal.


Tidak ingin terus mendengar obrolan Sinta dan Zainal, Adel melangkah masuk ke teras rumah.


"Ibu, aku pulang!." Sapa Adel.

__ADS_1


Terdengar derap langkah dari dalam rumah, "Kalian sudah datang! aku sudah dengar dari besanku, heh Adel si bocah b*d*h sini kamu! Kamu itu kenapa sih? dasar t*l*l kan sudah ku bilang sebelumnya, kalau kamu mau selingkuh itu harus main cantik, kamu itu t*l*l atau beg* sih? gitu aja harus di ajarin." teriak Astuti.


Sontak membuat Zainal dan Sinta terkejut mendengar ucapan nya.


"Siapa yang dateng, Bu?." tanya Herman, Bapak dari Adel.


"Ini nih, si bocah t*l*l pak! bego banget kan dia! bisa-bisanya dia sampe teledor itu, kan udah Ibu bilang sebelumnya, kalau dia emang butuh kasih sayang pria lain karena dia tidak mendapat dari suaminya, ya silahkan saja cari pria lain, tapi jangan sampai dia ketahuan, sekarang kalau udah kaya gini kamu mau apa Adel? bikin malu saja!." sahut Astuti, mertua Zainak penuh emosi.


Belum reda keterkejutan Zainal dan Sinta, Astuti masih terus nyerocos atas kesalahan anaknya, tanpa menghiraukan kehadiran Sinta dan juga Zainal.


'Mana ada orang tua yang justru membenarkan perselingkuhan, bahkan menyuruh anaknya untuk bermain cantik agar tidak ketahuan.' Batin Sinta.


Adel hanya bisa menunduk mendengar kemarahan Ibunya.


"Ssst Bu! jangan main nyerocos sembarangan, gak enak dong sama Nak Zainal. Adel sini kamu! Bapak mau ngomong sama kamu! Nak Zainal maaf yah kamu diem dulu di luar ya! bapak mau ngomong sama anak bapak ini!." ucap Herman.


"Baik Pak!." sahut Zainal.


Adel pun akhirnya mengikuti perintah bapaknya, dia masuk ke dalam rumah meninggalkan Sinta dan juga Zainal, karena penasaran Sinta pun berkata pada Astuti.


"Nek, maaf toilet nya sebelah mana ya? aku izin ke toilet boleh? kebelet gak kuat dari tadi, selama perjalanan aku tahan-tahan." ujar Sinta.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2