Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 43 Di Sidang


__ADS_3

Bagas tidak menjawab umpatanbBayu, ia malah mengaduh kesakitan memegangi hidungnya, saat Sinta perhatikan ternyata hidung Ayahnya mengeluarkan darah cukup banyak efek dari tendangan seru Bayu.


"Sudah nak Bayu cukup! sekarang kita selesaikan masalah ini di rumah kalian saja, malu ini bisa menjadi aib yang sangat besar untuk keluarga kalian." saran Pak Ustadz.


Dan akhirnya semuanya berpindah ke rumah Sinta, Sinta tak peduli dengan rumah Edo yang belum di kunci, Sinta bahkan punya feeling kalau Edo tahu perselingkuhan Ayahnya dan juga Tante nya.


Saat hampir sampai rumah Sinta melihat neneknya keluar rumah, entah akan kemana perginya nenek gayungnya.


"Loh kok Adel sama Bagas babak belur kayak gini? Apa yang telah kalian lakukan pada anak dan menantuku? Kenapa mereka sampai babak belur seperti ini!." ujar Lastri menyalahkan orang-orang yang ada di sini, padahal tersangkanya adalah anak dan menantu kesayangan nya sendiri.


"Harus nenek tahu! Tante Adel dan Ayah sudah kepergok berzina oleh ku dan juga Om Zainal, nenek tahu kan kalau mereka memiliki hubungan khusus?."


Lastri terlihat tercengang kala Sinta menebak nya dengan kalimat kalau Nenek tahu perselingkuhan antara Bagas dan juga Adel.


"Jangan sembarangan kamu kalau bicara sama orang tua Sinta! mana mungkin nenek mendukung perselingkuhan?." jawab Lastri dengan nada tak suka, Sinta pun hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Neneknya.


"Sudahlah Ayo kita masuk semuanya ke dalam rumah, nenek jangan terlalu diharapkan mungkin otaknya sudah pikun," ujar Sinta menyuruh orang-orang untuk masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Bagas beserta Adel duduk bersebelahan, bahkan Sinta melihat Adel dan juga Ayahnya berpegangan tangan seperti saling menguatkan.


"Penzina zaman sekarang benar-benar tidak tahu malu, ya! masa di depan banyak orang pun mereka masih bisa-bisanga saling berpegangan tangan, kenapa nggak sambil pelukan sekalian seperti teletubies," ujar salah satu Ibu-ibu tetangga rumah mereka.


Mendengar ledekan dari Ibu-ibu, tangan Bagas dan juga Adel terlepas gandengan ya.


"Sekarang langkah apa yang akan Bu Sarifah dan juga Pak Zainal? Kita kembalikan saja kepada pihak keluarga, langkah apa selanjutnya yang akan kalian ambil," tanya Pak Ustadz kepada Zainal dan juga Sarifah.

__ADS_1


Baik Zainal maupun Ibu belum mengeluarkan sedikitpun pendapatnya, Sinta berharap Ibunya ingin bercerai saja dengan Ayahnya, lebih baik Ibunya menjanda daripada harus punya suami tapi di sakiti terus menerus oleh suaminya.


"Tolong segera jawab ya Pak Zainal dan Bu Sarifah, agar masalah ini cepat selesai!." lagi menanyakan keputusan yang akan diambil oleh Zainal dan Sarifah


"Saya sudah jelas akan memulangkan Adel ke rumah orang tuanya besok, saya sudah tidak bisa negosiasi lagi dan saya sudah fix akan menceraikan Adel." jawab Zainal dengan mantap.


"Astagfirullah Mas, jangan gini dong Mas. Aku mohon berikan aku kesempatan kedua, aku benar-benar khilaf telah melakukan hal bejat ini dengan kakak tirimu. Aku mohon ampuni aku mas." Tanpa tak tahu malu Adel pun bersujud di bawah kaki Zainal.


Namun terlihat dari mimik wajah Zainal sepertinya beliau tidak mau memaafkan Adel.


"Sebelumnya aku pernah bilang kan kepadamu, bahwa kesalahan yang paling tidak bisa termaafkan adalah perselingkuhan. Karena kamu telah melakukan perselingkuhan dan perzinahan, maka aku tidak akan menjilat lidahku sendiri untuk batal menalakmu!." ujar Zainal semakin tegas.


"Zainal kamu harus memaafkan Adel setiap manusia itu memiliki khilaf kamu harus memaafkan Adel ketika dia berbuat salah bukan malah meninggalkannya seperti ini. Kamu benar-benar suami yang sangat tega kepada istri sendiri." tiba-tiba saja Lastri mengeluarkan komentarnya.


"Ibu tidak perlu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku sekarang. Aku balikan pada ibu, jika seandainya Bapak berselingkuh sampai berzina dengan perempuan lain. Apakah ibu akan memaafkan Bapak begitu saja?." Zainal menyanggah ucapan ibu tirinya.


"Aku juga awalnya berpikir Adel juga jatuh cinta mati padaku, dia selalu mengeluarkan kalimat-kalimat gombalan padaku yang mwmbuatku melayang karena kalimat gombalan itu, ternyata itu semua hanya untuk menutupi perselingkuhannya!." ujar Zainal dengan nada berbicara dengan lantang kepada Lastri.


Menurut cerita Sarifah, Zainal dan juga Bagas selalu di beda-dibedakan oleh Lastri. Mukhlis sering berpergian keluar kota jadi dari mereka tinggal bertiga bersama Lastri di rumah. Karena Bagas adalah anak kandung Lastri, maka dari itu kasih sayang semua tercurah untuk Bagas.


"Benar-Benar keras kepala kamu Zainal, kamu mirip sekali dengan Ibumu yang kepala batu itu!."


Brak.


"Jaga ucapanmu ya Bu, Ibu boleh menghinaku apa saja, tapi jangan sesekali menghina Ibuku seperti itu, Aku tidak akan segan melukai orang yang menghina ibuku tanpa terkecuali kamu! istri bapakku sekarang," Zainal menggerakkan meja dengan sangat kencang. Anak mana yang terima jika Ibunya dihina kepala batu.

__ADS_1


Lastri pun langsung terlonjak kaget dan terdiam melihat Zainal marah, karena Sinta juga baru melihat Zainal semarah ini pada Ibu tirinya.


"Cukup kita masih ada masalah lain yang sangat besar. Tolong hentikan perdebatan di luar permasalahan yang sedang terjadi sekarang. Sekarang saya pada Bu Sarifah, apa langkah yang akan Ibu Sarifah ambil?." tanya Pak Ustadz menghentikan perdebatan antara Zainal dan Lastri, beralih kembali kepada Sarifah.


"Saya juga akan mengajukan gugatan cerai untuk suami saya, karena saya sudah tidak tahan jika harus meneruskan rumah tanga ini," Hati Sinta seketika bersorak ketika Ibunya mengatakan ingin bercerai dengan Ayahnya. Kalimat inilah yang Sinta tunggu-tunggu sedari dulu.


"Lancang sekali kamu berani-beraninya menggugat cerai anakku! memang kamu itu secantik dan seberguna apa sih sampai ingin menceraikan anakku? kamu itu hanyalah seonggok manusia tidak berguna jika tanpa di nikahi oleh Bagas anakku. Penampilan kaya babu aja sok-sokan ingin menggugat anakku yang tampan." lagi-lagi Lastri mengeluarkan komentar pedas nya untuk Sarifah bahkan di depan banyak orang. Orang-orang yang berada di sana hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Lastri dan dalam hati mengucapkan istighfar.


"Ne...!"


"Apa Ibu tahu bahwa sudah beberapa bulan ini anak tampan ibu ini tidak memberikan nafkah untukku? Ibu juga tahu kan bahwa aku dan anak-anak berusaha untuk mencari uang sendiri dengan berjualan kue dan gorengan dan baru-baru ini aku juga bekerja sebagai tukang cuci gosok, Jadi apa yang harus aku takutkan jika bercerai dengan anak Ibu? toh aku dan anak-anak juga bisa hidup sendiri tanpa anak tampan ibu ini," sanggah Sarifah dengan kalimat tegas membuat nyali Lastri sedikit ciut melihat menantu bodohnya selama ini sudah melawannya.


Semua tetangga di sini mencibir tentang kenyataan yang Sarifah lontarkan.


"Loh bukannya pak Bagas ini punya gaji dan jabatan tinggi di suatu perusahaan ya? kok bisa tega-teganya sih sama anak dan istri nggak ngasih nafkah, kayaknya selamanya bakal jadi muda aja sok-sok an tidak butuh anak dan istri." Komentar Ibu Vivi pedas untuk Bagas.


"Aduh Bu Vivi, uang si Bagas itu pasti banyak masuk ke kantong si pelakor Adel, makanya sampai lupa anak dan istri, betul begitu Pak Bagas yang terhormat?." lagi-lagi Bagas di hujat oleh Ibu-ibu yang ada di sini, memang Sinta akui kelakuan Ayahnya itu pantas untuk di hujat.


"Jangan kamu hilangkan nafkah yang aku berikan untukmu, Ipah. Tadi siang aku memberikanmu uang untuk kamu memasak, apa itu tidak bisa di sebut nafkah?." sanggah Bagas membela diri.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2