Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 71 Rencana sepulang kerja


__ADS_3

"Ta-tapi Mas, tadi aku refleks berperilaku seperti itu karena aku rindu pada Farhan, sudah lama aku tidak bertemu dengan nya. Wajar saja aku bersikap seperti itu," jawab Adel dengan berusaha membela dirinya sendiri, namun Adel tidak berani menaikkan nada bicara nya karena Adel merasa apa yang di ucapkan mantan suami nya memang benar adanya.


"Sudahlah tidak usah membela diri lagi, aku datang ke sini hanya untuk memperingatkanmu saja. Jika memang kamu rindu pada Farhan kirim pesan padanya dan ajak bertemu Farhan secara diam-diam, itupun jika Farhan mau!." sahut Zainal lalu melengos pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Adel.


Dengan perasaan yang masih hancur, Adel mendengar suara handphone nya terus-terusan berbunyi seperti banyak notifikasi yang masuk. Lalu dengan lemas Adel pun membuka ponselnya dan melihat di instagram banyak orang yang mentag nama Adel.


[Seorang anak influencer menolak mengkui ibunya depan umum, karena anak itu malu memiliki ibu yang suka pamer body seksi di instagram.] ternyata vidio yang tadi di ambil oleh salah satu pengunjung pun sedang viral di dunia maya.


Adel semakin merasa bersalah pada Farhan karena di situ wajah Farhan sangat terpampang jelas.


Kring.


Kring.


"Halo?." Adel pun secara profesional mengangkat telepon dari orang yang akan memakai jasa Adel besok. Adel berusaha untuk menjadi wanita yang tegas dengan tidak mengeluarkan suara habis menangis.


"Sayangku, bolehkah pertemuan kita di maju kan jadi malam ini? karena besok ternyata aku ada pekerjaan mendadak di kuat kota," mendengar permintaan klien nya, Adel pun terdiam sejenak. Apa dia bisa melakukan hubungan int*m dengan orang asing? Apalagi sekarang perasaan hati Adel sedang tidak karu-karuan.


"Baiklah saya akan pergi ke hotel sekarang." Akhirnya Adel pun menyetujui permintaan dari client nya itu.


Setelah bersiap-siap mengenakan pakaian seksi dan juga berdandan cantik, Adel langsung memesan taksi online dan pergi ke hotel yang sudah di pesankan klien nya bernama Darmawan.


"Kamar 505 dimana yah Mbak?." tanya Adel pada resepsionis begitu ia sampai di loby hotel.


"Oh ada di lantai 5, nanti setelah turun dari lift kakak tinggal belok saja ke sebelah kiri, tak jauh dari sana kok kamar 505." Setelah mendapatkan jawaban dari resepsionis Adel pun langsung menuju ke kamar tersebut.


.


.

__ADS_1


.


Tok... tok...tok...


Adel mengetuk pintu dan keluarlah seorang bapak-bapak yang memiliki perawatan kurus kering, bahkan kesan pertama saat melihat bapak-bapak tersebut, Adel merasa orang itu sedang tidak sehat, wajahnya sangat pucat di tambah lingkar mata pria itu sangat hitam. Adel bisa menyimpulkan bahwa pria yang ada di hadapan nya ini seorang pecandu narkoba dan juga obat-obatan.


"Sayang ku, silahkan masuk, ternyata kamu sangat cantik Adel di banding dengan fotonya." Adel pun hanya tersenyum menanggapi ucapan pria bernama Darmawan itu.


Sebenarnya Darmawan ini tidak terlalu tua untuk Adel, mungkin jarak umur Darmawan dengan Adel hanya berselisih sekitar 11 tahun saja.


Bugh.


Saat Adel baru saja duduk di ranjang tiba-tiba Darmawan memukul Adel dengan sangat kencang.


"Aw, bapak apa-apaan kok mukul saya," Adel langsung protes.


"Saya suka permainan kasar dan saya tidak suka ketika sedang berhubungan memakai pengaman. Saya akan membayarmu tiga kali lipat jika kamu mau berhubungan dengan saya tanpa menggunakan pengaman, bagaimana?."


Keesokan hari nya.


"Sinta bangun!. Ayo cepat mandi ibu sudah beli nasi uduk."


"Iya bu!."


Sinta terbangun dengan suara teriakan ibunya yang menggema, dengan kepala yang masih berat. Sinta pun beranjak dari kasur dan bergegas untuk mandi.


"Bu, nanti sore sepertinya aku akan pulang telat. Karena semalam Ibu Sasmita memberitahuku bahwa aku harus mengerjakan suatu hal yang harus cepat selesai." ucap Sinta yang tidak ingin ibu tahu tentang niatku yang ingin menyelidiki tentang keberadaan ayah nya selama ini.


Sebelumnya Sinta sempat berpapasan dengan Edo saat di kantor. Entah kenapa Edo saat itu memberitahu Sinta tentang keberadaan Bagas selama ini. Ternyata Ayahnya bersembunyi di kediaman Edo.

__ADS_1


Selama ini polisi juga sudah mencari Bagas ke rumah Edo namun nihil tidak ada tanda Bagas berada di sana. Edo memberitahu Sinta jika rumah nya memiliki tempat rahasia yang tidak ada seorang pun yang tahu.


Saat itu Bagas memohon dan meminta Edo untuk menolong nya agar tidak di tangkap polisi. Bagas sempat menodongkan pisau ke arah Edo jika dia tidak mau menolongnya, dengan terpaksa mau tidak mau Edo menyembunyikan Bagas di kamar rahasia nya.


Entah mungkin karena Ayahnya yang merepotkan atau karena takut di tangkap polisi karena sudah menyembunyikan buronan. Dan menurut Sinta alasan keduanya masuk akal. Akhirnya Edo mengakui semuanya pada Sinta.


"Lembur di kantor? Bukannya biasanya kalau kamu lembur itu bisa di bawa ke rumah yah? Kenapa nggak lembur di rumah saja? Toh kalau kamu lembur di rumah ka ibu bisa buatkan cemilan." jawab Sarifah.


"Tidak bisa bu, yang harus aku kerjakan ini belum aku kuasai. Aku juga lembur sama karyawan senior ku, dia akan mengajariku di kantor. Jadi nggak etis kalau misalkan aku lembur di rumah bawa teman." Sinta terus-teruan mencari-cari alasan agar nanti pas jam pulang kerja ia aman dari pertanyaan-pertanyaan ibu.


"Huftt ya sudah baiklah, usahakan pulang nya jangan terlalu malam ya Nak!." timpal Sarifah.


"Siap Bu, paling malam mungkin jam 20.00 aku sudah di rumah kalau misalkan ibu merasa jenuh di rumah. Ibu keliling saja komplek atau kenalan sama tetangga. Kan tetangga-tetangga di sini juga teman-teman kerjanya Sinta." sahut Sinta.


"Beres kalau masalah itu. Ibu juga bisa sambil bikin-bikin kue buat di bagiin tetangga, hitung-hitung membuat tanda perkenalan."


Ya saat ini Sinta tidak tinggal di kontrakan kecil kemarin, kini mereka tinggal di kompleks subsidi kantor perusahaan tempat Sinta bekerja. Sedangkan toko kue milik Sarifah masih berada di dekat kontrakan rumah sebelumnya, dan dikelola oleh karyawan kepercayaan Sarifah. Sesekali Sarifah akan turun langsung memantau perkembangan toko, jadi tidak tiap hari Sarifah pergi ke toko.


Setelah selesai makan nasi uduk dan bersiap-siap sedikit, Sinta pamit berangkat pada Ibunya. Karena jarak kantor dan perumahan ini lebih dekat di banding dengan kontrakan kemarin, Sinta lebih semangat untuk berjalan kaki.


Sepulang kerja rencananya, Sinta akan di bantu oleh Zainal dan beberapa teman Zainal dari kepolisian. Berbekal informasi dari Sinta mereka akan meringkus Bagas di sana. Sedangkan Edo tidak akan memperlihatkan dirinya saat polisi meringkus teman nya, alasan nya supaya tidak di katakan orang yang menkhianati temannya, walaupun kenyataan nya memang ia.


Ya, Sinta menghargai keputusan nya itu. Yang penting informasi dari Edo benar jika Ayah nya berada di sana.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2