
Melihat kedatangan Farhan, Adel langsung beralih memohon pada Farhan, Farhan pun merasa kebingungan kenapa ibunya berperilaku seperti itu.
"Apa? kenapa Bun? kenapa bunda jadi sujud-sujud seperti itu pada Farhan?" tanya Farhan keheranan.
"Maafkan bunda Farhan karena telah menelantarkan Farhan yang sudah tidak peduli lagi pada Farhan, bunda menyesal telah semena-mena padamu. Kamu mau memaafkan bunda kan Nak?" tanya Adel yang terus memeluk kaki Farhan sambil menangis.
"Sini Han, kamu ini kalau misalkan sekarat aja minta maaf sama anak, kemarin saat kamu happy-happy kemana kamu? atau jangan-jangan kamu datang ke sini minta maaf karena minta kami mengurus kamu ya? secara kami kan keluarga kamu di sana kan nggak ada yang mau ngurus kamu kan?" Zainal meledek kesengsaraan Adel.
Terlihat dari wajah Zainal yang menyimpan kebencian yang sangat mendalam pada mantan istri nya tersebut, karena Zainal merasa sangat di bodohi oleh Adel selama ini.
"Bukan seperti itu, Mas. Aku datang ke sini benar-benar ingin meminta maaf karena jika nanti aku meninggal beban dosaku tidak akan terlalu banyak," kilah Adel, padahal salah satu tujuan Adel ke sini memang minta di urus oleh Zainal dan juga Farhan.
Adel sudah buntu harus pergi kemana, keuangannya semakin menipis, bahkan terakhir uang nya di bawa kabur oleh sang manajer. Adel sangat sengsara sekarang ini. Sedangkan sakit nya itu harus di obati dan pastinya menelan biaya yang tidak sedikit.
"Ya sudah sekarang kita sudah memaafkan kamu, jadi kamu bisa pergi dari sini. Sana pergi tunggu apalagi!" hardik Zainal dengan kasar, tidak ada lagi kelembutan dari Zainal kepada Adel seperti dulu.
"Bun, Farhan bertanya pada Bunda sekarang Bunda sakit apa? Kenapa baru sekarang bunda mendatangi Farhan?" tanya Farhan dengan mata nanar.
Mendengar kalimat lontaran dari Farhan, Adel pun langsung menangis tersedu-sedu, dia berpikir bahwa memang dirinya sangat salah telah menelantarkan anak satu-satunya itu.
"Pokoknya ada satu penyakit yang memang akan merenggut nyawa bunda secepatnya, huhu," Adel menangis seperti itu agar di kasihani dan mendapatkan belas kasihan dari Farhan. Melihat drama seperti ini Sinta dan Ipah pun tidak ikut campur dalam masalah keluarga ini.
Meskipun masalah ini ada hubungan nya dengan Ayah Sinta, namun tetap saja Sinta tidak ingin terlalu ikut campur karena menurut Sinta ini sudah bukan lagi urusannya.
"Bunda kamu itu punya penyakit yang menjijikan, jadi daripada kamu di sini hanya membuat kami jijik sebaiknya kamu pergi saja! Aku dan Farhan sudah memaafkan kamu, begitu pula dengan Sinta dan Mbak Ipah, benar kan?" tanya Zainal kepada Sinta dan Sarifah.
"Be-betul, kami sudah memaafkan kamu kok," jawab Sarifah dengan sedikit gugup karena tiba-tiba di tanya seperti itu oleh Zainal.
"Tuh, sekarang permintaan maaf sudah lengkap di terima dari orang-orang yang kamu sakiti. Sekarang kamu bisa pergi dengan tenang kan? Bahkan jika kamu mati nanti sore pun kamu sudah tidak punya beban lagi. Jadi sekarang aku minta kamu angkat kaki dari sini. Ayo semuanya kita masuk ke dalam rumah. Malu juga kita jadi tontonan para tetangga." dengan terpaksa Farhan pun ikut masuk ke dalam rumah.
"Mas, Mas!" melihat orang-orang masuk ke dalam rumah Adel pun berteriak-teriak ingin ikut, rasa malu sudah tidak Adel pikirkan lagi.
"Huhu Mas, aku harus pergi ke mana lagi sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa." dengan tubuh kurusnya Adel pun berjalan terseok meninggalkan rumah Zainal.
Tetangga silih berganti menggunjing Adel, namun ada salah satu ibu-ibu yang di segani di sini sedikit tersentuh melihat Adel seperti ini.
"Bu, Ibu bagaimana kalau kita iuran untuk ngasih kepada si Adel? Bagaimanapun dia tetap manusia dan butuh kita bantu." ujarnya mengkomando warga untuk iuran membantu Adel.
Sempat beberapa ada perdebatan di antara ibu-ibu yang lain, namun dengan sedikit ceramah akhirnya para warga pun mau iuran seikhlasnya.
"Adel tunggu dulu, kalau kamu mau duit kamu diam dulu di sini," ujar salah satu warga kepada Adel.
Mendengar kata duit, Adel pun mengangguk setuju. Selama menunggu di pos kamling tidak ada seorang warga pun mau duduk berdekatan dengan Adel. Warga semuanya seperti memandang jijik kepadanya.
Setelah hampir 45 menit menunggu akhirnya warga pun datang dan memberikan uang sebanyak Rp. 600.000 dengan senang hati Adel pun menerima semua uang itu.
__ADS_1
"Makasih bapak-bapak, ibu-ibu meskipun saya di sini berperilaku tidak baik namun kalian sudah sangat baik pada saya. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum," setelah menerima uang itu, Adel pun berjalan kembali meninggalkan daerah rumah mantan suaminya.
"Huh, udah sakit parah aja ingat Assalamualaikum, dulu pas masih jadi istrinya Zainal boro-boro bilang kayak gitu. Kalau pulang ataupun masuk pasti melengos gitu aja." ucap seorang warga yang sepertinya masih keki terhadap Adel.
Mendengar kalimat yang menyakitkan seperti itu, Adel pun memejamkan matanya, dia langsung berkaca diri. Apakah memang dia separah itu saat menjadi istrinya Zainal?
Waktu Adel merasa di atas angin karena memiliki suami yang punya penghasilan besar di tambah keinginan apapun yang mau tidak mau di turuti Zainal, jadi Adel merasa sombong dan menganggap rendah orang lain.
.
.
.
Sekarang Adel duduk termenung di halte bus, ia bingung harus pergi kemana. Adel sudah tidak memiliki tempat tinggal, karena sudah di usir oleh pemilik kos an karena telat membayar.
"Aku harus pergi kemana?" Adel menangis kebingungan harus berteduh dimana.
"Apa aku pulang ke rumah ibu saja ya? masa bodoh dengan keluargaku yang tidak akan menerimaku lagi, aku akan tetap tinggal di sana karena bagaimanapun hampir seluruh isi perabot di rumah itu adalah milikku, ya! Aku harus pergi ke sana," dengan berbekal uang pemberian dari para warga dan juga sedikit uang yang tersisa di dompetnya, Adel memutuskan untuk pergi ke rumah ibu dan bapaknya di kampung.
Setelah menaiki bus, Adel pun duduk. Untung saja masih ada sisa satu kursi lagi yang tersedia, jadi dia tidak usah berdiri.
"Ihh bau! kok bau ya? hueek," ketika orang-orang yang ada di dalam bus mengeluh mencium bau sesuatu, sontak Adel langsung celingukan kesana ke mari ke arah penumpang yang ada di dalam bus, Adel juga bingung sebenarnya ini bau apa?
"Mbak, semenjak kamu masuk ke bus ini kok jadi bau? Mana bau nya busuk banget lagi, anyir juga," Adel kaget ketika salah satu ibu-ibu menegurnya.
Adel tidak terima di tuduh bau oleh ibu-ibu itu.
"Iya mbak, tadi sebelum kamu masuk ke sini nggak bau, sana-sana! kamu mending duduk di pojok belakang saja!" timpal penumpang yang lain.
"Bukan aku, aku tidak bau!" Adel berteriak marah kepada mereka yang menuduhnya bau.
"Kalau misalnya kamu nggak mau pindah lebih baik kamu turun saja dari sini, Pak kernet dan Pak supir mending perempuan ini duduk di belakang atau kita semua yang turun tanpa sudi untuk membayar?" perempuan provokator itu berteriak kepada kernet dan juga sopir.
Karena mendengar huru hara dalam busnya, sang kernet bus menghampiri mereka.
"Puih bau apa ini, busuk dan anyir gini?" ujar kernet ketika sampai di dekat Adel.
"Ya makannya kita ribut-ribut juga karena perempuan ini bau. Coba kamu kasih tahu nih perempuan, kalau misalkan dia tidak mau menggeser ke belakang maka kita yang akan turun tanpa membayar!" perempuan itu terus-terusan mendesak kernet bus dan karena Adel tidak merasa bau jadi Adel pun menolak untuk pindah.
"Pindah Mbak, mending pindah atau saya turunkan disini?" kernet bus itu berbicara dengan kasar pada Adel.
"Gak, untuk apa saya pindah atau turun di sini? saya nggak merasa kalau saya bau kok, ibu-ibu itu saja provokator tidak suka pada saya. Kamu ini kalah cantik atau kenapa bu?" Adel berteriak ngeledek ibu-ibu bertumbuh gempal itu.
"Sini!" dengan kasar kernet itu menarik tangan Adel dengan kencang. Karena Adel sedang sakit dan ia seorang perempuan, Adel pun tertarik.
__ADS_1
"Jangan kasar kamu! cuman kernet bus doang sombong banget!" Adel tak terima di perlakukan seperti ini oleh mereka.
"Sudah, diam saja, kalau kamu berani membuat keributan lagi maka aku tak akan segan untuk melemparmu keluar dari bus ini sekalipun bus sedang melaju." Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu kernet bus kembali ke tempat semula.
Semua orang yang ada di dalam bus ini menatap Adel dengan tajam, mereka seolah jijik kepadanya.
"Apa liat-liat?" hardik Adel, mereka pikir Adel takut pada mereka.
Setelah beberapa menit akhirnya kondisi di dalam bus pun stabil. Orang-orang sudah tidak menggunjing nya lagi. Meskipun beberapa orang di dekat Adel menutup hidungnya.
"Aku doakan kalian mati karena kehabisan nafas!" gumam Adel kesal.
Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam karena di jalan cukup macet akhirnya Adel sampai di terminal tempat tinggalnya. Begitu sampai terminal Adel bergegas masuk ke kamar mandi umum karena merasa **** * nya panas dan perih.
"Astaga, kenapa jadi begini? hoeeek!" Adel muntah-muntah ketika melihat CD nya banyak sekali keluar lend*r yang sangat bau, lend*r itu bercampur nanah dan sedikit bercak darah.
"Huhu, kenapa jadi begini? perasaan tadi pas huru hara di rumah mantan mertua tidak ada yang mengeluhkan bau deh, apa keluarnya pas tadi aku naik bus ya? Ya Tuhan aku harus bagaimana ini?" di dalam toilet Adel sangat frustasi dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
Brak
Brak
"Woy, lama amat lo di kamar mandi, lo pikir ini toilet milik nenek moyang lo apa? keluar?" tangis Adel terhenti ketika ada seorang pria menggebrak kamar mandi dengan sangat kencang.
"I-iya iya sebentar," Adel pun segera mengganti CD nya. Untung saja di kosan, ia membawa beberapa baju dan seluruh pakaian dalam nya.
"Woy lama amat! gue mules nih gak kuat. Cepet keluar! Apa mau gue dobrak hah?" laki-laki itu terus-terusan menggedor pintu dengan sangat brutal.
"Iya sekarang keluar," Adel menggantung kan CD bekas nya di paku kamar mandi itu.
"Rasain, biar lu sekalian pingsan begitu masuk kamar mandi," gumam Adel seraya tersenyum sinis.
Krieet
"Minggir-minggir sono minggat lu! lama amat sih! buang berlian apa lo sampai lama kayak gitu? Brak!" hardik nya sembari menutup pintu toilet umum dengan sangat kencang.
Adel pun melengos tidak menjawab ucapannya, sekarang Adel tinggal menggunakan ojek ke rumah ibunya.
Namun di tengah perjalanan motor yang membawa Adel di senggol oleh kendaraan lain dari arah belakang. Dan kecelakaan pun tak terelakan lagi.
"MAMPUS KAU!" teriak seseorang tersenyum puas saat melihat wanita yang mengerjai nya tadi terkapar di tengah jalan.
.
.
__ADS_1
.
The End