Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 75 Mulai Menuai Karma


__ADS_3

"Apakah Om tahu bagaimana nasib Ayah di penjara sekarang?." tanya Sinta tiba-tiba.


"Om tidak tahu pasti, tapi katanya petugas sipir, Ayahmu kini sakit-sakitan." ujar Zainal lalu duduk mengusap pelipis nya yang basah karena keringat.


"Hah sakit? sakit apa Om?." tanya Sinta.


Zainal mengedikkan bahu nya pertanda jika ia pun tak tahu.


***


Keesokan hari nya, seperti biasa Sinta pergi ke kantor. Setibanya di kantor, banyak rekan kerja nya yang sedang bergosip. Topik utama nya adalah tentang meninggal Edo yang menurut mereka sangat mengerikan.


Sinta tidak memperdulikan obrolan mereka, dia hanya ingin fokus bekerja saja. Namun ia pun juga kepikiran, bagaimana pun sebelum nya ia sempat bertemu dengan Edo. Sungguh berita mengejutkan ketika tahu sahabat Ayahnya meninggal sendirian di rumah nya seorang diri dalam keadaan seperti itu.


"Hah kok malah ngelamun! Udahlah mikir apa sih? masih pagi juga?" tiba-tiba saja Bu Meisya mengagetkan Sinta, ia menepuk bahu Sinta cukup kencang.


"Iya, Bu Mey."


Kring.


Kring.


Saat sedang fokus bekerja Sinta mendengar suara telepon berdering, Sinta langsung menerima nya karena saat di lihat di layar ternyata yang menelpon Sinta adalah bagian security lobby.


"Hallo, iya Pak ada apa?"


"Begini Bu, di lobby ada perempuan tua marah-marah mencari Bu Sinta. Katanya di adalah nenek nya Ibu, bisa turun ke bawah dulu sebentar? Soalnya nenek-nenek ini sudah membuat kegaduhan di kantor ini," Sinta pun menghela nafas panjang, sudah lama ia tidak melihat nenek nya. Terakhir ketemu saat Kakek mengusir nenek dari rumah.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan segera turun," dengan perasaan yang malas. Sinta pun terpaksa turun ke lobby untuk menenangkan nenek nya dan menanyakan apa niat Lastri mencarinya di kantor.


Ketika pintu di buka, Sinta melihat Neneknya sedang memarahi kedua security dan juga resepsionis lobby. Suara nya menggelegar terdengar kemana-mana.


"Kenapa Nek? Apa harus teriak-teriak seperti ini untuk berbicara dengan orang lain?" ucap Sinta tanpa ekspresi, jika bukan di kantor atau dia bukan orang tua, mungkin saja sudah sejak tadi Sinta memaki habis-habisan.


"Sinta cucuku. Tolong kamu bilangin sama bos kamu untuk memecat ketiga orang ini karena mereka berani menghadang dan memarahi nenekmu. Apa mereka nggak tahu nenek itu adalah nenek kesanyangan kamu yang notabene kamu adalah sekretaris pribadi Bu Sasmita?" Sinta mengerutkan keningnya.


"Tunggu! sejak kapan nenek menjadi nenek kesanyanganku? Sudahlah Nek, sebaiknya nenek pergi dari sini saja. Karena aku sekarang sedang sibuk bekerja." jawab Sinta membungkam Lastri.


"Sinta apa kamu tidak kangen sama Nenek? bagaimana pun aku ini nenek kamu. Sejak Kakek mu mengusir nenek dari rumah. Nenek terlunta-lunta bahkan Nenek kabur dari kejaran rentenir itu. Nenek memberanikan diri menemui di sini walaupun resiko nya Nenek bakal di tangkap lagi oleh mereka. Tolongin Nenek, Sinta! beri Nenek uang untuk hidup. Ayahmu sekarang di penjara jadi tidak ada yang memberi nenek uang." pinta Lastri mengiba.


Sinta menelisik dengan seksama kondisi Lastri dari atas sampai bawah. Sebelum nya ia tidak begitu memperhatikan karena rasa kesal terhadap Lastri masih ada. Tapi setelah mendengar cerita Lastri, ada rasa kasihan terhadap Nenek nya ini. Sekarang Lastri menjadi sebatang kara, anaknya sekarang ada di penjara. Jadi dia tidak punya siapa pun yang bisa menemani nya di masa tua nya.


"Baiklah, baiklah ini uangnya." Sinta pun mengeluarkan uang dari dompet nya sebanyak 1 juta.


"Cuma segini? Apa kamu nggak mikir Nenek itu hidup sendiri. Duit segini mana cukup Sinta! yang benar saja dong kalau ngasih!" ternyata kepahitan hidup Lastri tidak membuat Lastri berubah, bukannya bersyukur Nenek nya malah marah-marah karena hanya di berikan uang 1 juta.


"Tega kamu Sinta tega kamu sama Nenek. Jika Nenek tidak ada maka tidak akan ada kamu. Sanyangilah Nenek mu selagi Nenek masih ada." jawabnya drama.


Sinta semakin pusing dengan drama yang di mainkan olehnya. Sinta langsung berjalan meninggalkan nya menuju ke arah lift kembali ke ruanganku.


"Bu, Bu Sinta!" baru juga melangkah, Sinta mendengar orang-orang di sekitar nya memanggil namanya. Dan saat ia berbalik ternyata Sinta melihat Nenek nya yang sudah pingsan.


Sinta memutar bola mata nya malas, karena Sinta yakin Nenek nya itu sedang memainkan perannya agar mendapat simpati dari nya.


"Nek, Nenek bangun Nak! Jangan akting kayak gini, basi tahu Nek." ujar Sinta seraya menepuk pipi Neneknya.

__ADS_1


"Bu Sinta sepertinya ibu ini beneran pingsan deh. Sebaiknya di bawa saja ke rumah sakit terdekat." karena Sinta tidak ingin membuat citra nya jelek di hadapan teman-teman kantor, dengan terpaksa Sinta membawa Nenek nya ke rumah sakit di bantu oleh securty kantor. Tak lupa ia juga meminta izin kepada Bu Sasmita terlebih dahulu.


'Selalu saja menyusahkan,' gumam Sinta setelah mobil kantor datang. Sinta pun langsung bertolak ke rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Sinta sama sekali tidak ingin mencoba membangunkan Lastri, karena Sinta benar-benar lelah dengan drama yang selalu ia buat.


Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya Sinta tiba di rumah sakit. Lastri langsung di larikan ke UGD, Dokter pun langsung sigap dan memeriksa keadaannya. Untung saja sekarang tidak terlalu ramai dan jarak rumah sakit ke kantor tak terlalu jauh jadi nenek cepat di tangani. Jadi waktu Sinta tidak terlalu banyak terbuang.


"Loh itu bukannya Tante Adel?" Sinta melihat Adek keluar dari ruangan dokter spesialis penyakit dalam, karena Sinta cukup kepo dengan kehidupan Tante nya itu, ia pun langsung menghampirinya.


"Halo Tante Adel? Apa kabar?" ucap Sinta seraya menelisik wajah dan tubuhnya.


Merasa di perhatikan Adel pun seperti salah tingkah.


"Minggir kamu minggir! Aku mau pergi," ucapnya, namun dengan jahilnya. Sinta pun meregangkan tangannya agar Adel tidak bisa lewat.


"Mau kemana? Apa tidak berniat untuk menjawab pertanyaanku terlebih dahulu sebelum pergi? Kenapa Tante Adel keluar dari ruangan dokter spesialis penyakit dalam?" Sinta terus-terusan memojokkan Adel agar mau bicara.


Namun saat di perhatikan bibirnya, Sinta jadi ingat tentang Alm, Edo. Bibir Adel sama seperti memiliki luka sariawan yang sangat parah, tubuhnya begitu kurus beruam dan di tambah wajah nya yang sangat pucat.


"Ternyata Tante punya penyakit yang sepertinya menggerogoti tubuh Tante sangat ekstrem yah? Uh sakit apa tuh Tante?" ucap Sinta lagi, Sinta mencoba memancing emosi Adel.


"Iya, dan penyakit itu tidak akan lama lagi akan di derita juga oleh Ayahmu! Dari pada kamu mengurusi hidupku sebaiknya kamu mempersiapkan diri untuk mengurus ayahmu yang akan bernasib sama sepertiku! Tapi eng- Ayah mu kan di penjara yah? Pasti Ayahmu juga sangat menderita nya sepertiku?"


Deg.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2