
Farhan pun seketika semakin kaget dengan ucapan Sinta hingga dia terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Sinta barusan.
"Sudah nggak papa kok Han, kamu nggak usah kegt gitu, aku sudah tahu semuanya kok, tapi kamu tenang aja, tak ada seorang pun yang mengetahui kebiasaan kamu itu selain aku. Kamu nggak perlu khawatir, aku tetap akan menjaga rahasia mu ini dari siapapun kok!." Bisik Sinta pada telinga Farhan pelan.
"Apa? Kak Sinta tahu semuanya? Kok Kak Sinta bisa tahu sih? apa selama ini kakak tahu kebiasaanku? kenapa bisa? sejak kapan?." tanya Farhan penasaran.
"Iya kakak tahu semuanya, ada bisikan-bisikan ghaib dari hantu penunggu sekitar sini yang senantiasa memberitahubkakak," jawab Sinra dengan berusaha menampakkan wajah serius padahal saat ini Sinta tengah menahan tawa karena alasan Sinta yang diberikan tadi hanya alasan konyol saja.
"Hah hantu? dimana kak? dimana gantinya? serius hantu di sini? dimana kak?." ujar Farhan panik dan seketika bersembunyi di balik tubuh Sinta karena takut.
Seketika tawa Sinta pecah melihat ekspresi ketakutan Farhan.
"Hahahaaa bercanda Han! Gak usah lebay gitu. Masa gitu aja kamu percaya! hahaha." ucap Sinta seraya tertawa dengan tingkah konyol Farhan.
"Ya Allah Kak, nggak lucu banget bercandanya tahu, aku kira tadi kakak serius. Lantas kakak selama inj tahu darimana jika aku selaku mengintip keluarga kakak yang begitu asyik dan membuatku iri setiap harinya jika melihat canda tawa dan kebersamaan kalian selama ini meski tanpa Om Bagas di sisi kalian. Aku begitu iri dengan kakak yang memiliki saudara sekaligus adik yang bisa di ajak bercanda gurau, berantem, meributkan hal-hal yang tidak perlu, aku juga iri sama Tante Ipah yang senantiasa baik dan selalu ada di samping kakak dan Kak Bayu, aku iri kak!." pungkas Farhan menjelaskan dengan sedikit berkaca-kaca.
Sekarang Sinta tahu alasan di balik Farhan yang selalu mengintip mereka. Setelah mendengar alasan Farhan, hati Sinta sedikit terenyuh.
"Iya kakak tahu kok Han, kamu nggak perlu iri lagi ya, bagaimanapun juga kamu itu kan sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, maka dari itu mulai sekarang sudahi kebiasaan seperti itu ya! Mulai sekarang kamu menyatu dan berbaur dengan keluargaku, hilangkan kebiasaanmu yang seolah acuh dan tak peduli. Aku tahu kamu malu dan gengsi. Tak hanya itu kamu juga takut ibumu marah jika melihat kamu dekat bersama kamu kan? tapi sekarang Ibu mu sudah tidak di sini lagi, sekarang hanya ada Ayah mu yang baik dan ada kami yang selalu ada untuk kamu jika kamu membutuhkan. Kamu nggak akan sendiri lagi, kamu bisa anggap aku dan Bayu sebagai saudara kandung mulai sekarang!." ujar Sinta seraya memeluk Farhan.
Tanpa sadar Sinta mengatakan semua hal itu, memberi semangat pada Farhan bahwa tidak sendirian lagi. Mau bagaimana pun juga secara garis keturunan sebenarnya Farhan ini juga merupakan adik Sinta, dia memiliki nasabah yang sama dengannya meski memang berbeda Ibu.
"Kakak serius? emang boleh ya kak kayak gitu? Emang aku boleh yah menganggap Kak Sinta dan Kak Bayu sebagai kakak kandungku? boleh kak?." tanya Farhan.
"Ya tentu boleh dong Han, maka dari itu mulai sekarang kamu dengarkan omongan kakak tadi ya Han? Oh iya jika kamu sudah beres cuci tangan nya. Ayo kisa ke sana lagi, sebelum itu cuci muka dulu, hapus air matamu itu, malu! hahahaa."titah Sinta sembari tertawa meledek Farhan.
"Hah air mata? mana ada air mata? emang aku nangis gitu? perasaan aku nggak nangis kok padahal," timpal Farhan mengusap dan mengucek-ngucek matanya yang masih berkaca-kaca.
__ADS_1
"Udah ngucek-nguceknya? sekarang coba pegang! basah kan? ya berarti kamu barusan nangis hahahah cie cengeng cie!." ledek Sinta.
"Hah iya ini basah kak, aku tadi emang beneran nangis yah ternyata? duh jadi malu! Ya udah bentar aku cuci muka dulu ya kak!." Timpal Farhan enteng.
"Hahaha kocak kamu Han!." padahal Farhan memang tak menangis, tadi dia hanya berkaca-kaca saja. Masalah matanya yang basah karena Farhan habis cuci tangan barusan lalu mengucek-ngucek matanya, tentu jadi basah.
"Loh kakak kok ngerasainn aku sih? Udah ah aku mau ke sana aja, males ngomong sama kakak di ketawain mulu!." sahutnya sembari melengos dan sedikit ngambek dengan Sinta.
"Cie ngambek cie! lama-lama kamu kayak si Bayu ya Han, ngambekkan orangnya! hahah," celetuk Sinta membuntuti Farhan dan terus meledeknya.
"Berisik!." timpal Farhan.
Sinta hanya tersenyum menanggapi perkataan Farhan yang sedikit bernada tinggi itu, perkataan itu menandakan bahwa telah di mulai awal baik dari kehidupan nya selanjutnya bersama dengan keluarga Sinta.
***
"Ini nih tadi Farhan pake acara men--" jawab Sinta yang belum selesai berbicara.
"Mencret Kak Bayu, sakit perut tadi aku. Niat nya mau cuci tangan, eh mendadak pake acara sakit perut segala." Sanggah Farhan menjelaskan sembari mencubit dan memotong pembicaraan Sinta.
"Ssst, Han. Nggak usah di omongin kali Han. Kita kan lagi makan, nggak sopan tau!." tegur Zainal pada Farhan.
"Hehe Maaf Yah, kan tadi Kak Bayu nanya. Yah aku coba jelasin dong yah." jawab Farhan.
"Sudah-sudah nggak usah di bahas lagi! skip aja. Sekarang kita makan makanan ini. Ayo Bay, Sinta, Mbak Ipah. Kamu juga Han makan!." ucap Zainal.
Mereka pun akhirnya menyantap makanan dan minuman yang telah di beli Zainal dengan gembira sembari mengobrol dan bercanda tawa bersama. Sinta baru kali ini melihat Farhan tertawa lepas dan menampakkan raut wajah bahagia yang belum pernah sekalipun dia tunjukkan sedari dulu.
__ADS_1
Di tengah keasyikan mereka tiba-tiba...
"Bagus! lancang sekali kalian makan makanan enak tanpa menawari saya terlebih dahulu!." gerutu Lastri yang tiba-tiba datang menghampiri dan merusak suasana.
"Gak usah ribut dan merusak suasana Bu, kalau Ibu mau makan tinggal ambil aja, gitu aja kok repot. Aku kan sengaja beli makanan dan minuman banyak biar bisa makan rame-rame." Timpal Zainal.
Tanpa basa basi Lastri pun mengambil satu kotak Pizza dan 2 gelas minuman boba dan hendak membawa nya ke dalam kamar.
Mereka yang ada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lastri.
Suasana mendadak jadi canggung, Bak kepala keluarga yang baik, Zainal berusaha mencairkan suasana. "Ngapain kok pada diem dan berhenti makan, nggak usah kalian hiraukan nenek kalian, emang kayak gitu orang nya. Abaikan saja!." titah Zainal.
Mereka kembali menyantap makanan, namun di tengah mereka makanan tiba-tiba Farhan bertanya.
"Kak Sinta, Farhan boleh nanya nggak?."
"Yah boleh dong Han, mau nanya apa?." tanya Sinta sembari minum es boba nya.
"Kak Sinta tau nggak siapa yang mendonorkan darah untuk Farhan di rumah sakit sebelum Ayah datang, Farhan mau mengucapkan banyak terima kasih kepada nya kak?." tanya Farhan ingin tahu.
Deg.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....