
"A-apa benar itu Lastri? Jadi kamu selama ini tahu dan lagi-lagi malah menutupi aib anakmu lagi hah. Jawab Lastri! jawab!." teriak Mukhlis membentak istrinya.
"E-enggak kok pak, itu semua nggak bener. Sudah yah sekarang aku boleh pergi kan pak? aku kan barusan sudah menjawabnya kalau aku tidak tahu apa-apa. Aku tadi cuman iseng aja asal ngomong doang kok pak!." balas Lastri berusaha tetap menutupi.
Sinta sudah memprediksi kalau neneknya memang mengetahui perselingkuhan Ayahnya dengan Adel selama ini. Tapi Sinta juga tidak menduga kalau Lastri tahu perihal Farhan yang merupakan anak dari Bagas.
Ting.
Handphone Zainal tiba-tiba berbunyi dan Zainal pun terlihat segera membuka pesan yang masuk.
"A-apa?." sahut Zainal kaget.
"Kenapa Zainal?." tanya Mukhlis.
"Coba lihat ini pak! ternyata ibu bohong lagi. Ini ada bukti yang menjelaskan dengan sangat jelas kalau Farhan bukanlah anak kandungku, melakukan anak kandung dari Mas Bagas dan Adel," ucap Zainal sembari menunjukkan vidio yang baru saja ada seseorang yang mengirim nya pesan.
Plak.
"Kurang ajar kamu Lastri! berani-berani nya kamu membohongi lagi kita semua hah!. Bukti sudah ada, jadi kamu bisa mengelak. Berani nya kamu dan juga Bagas membodohi anak saya lagi, Lastri! Bener-bener nggak bisa di biarkan." sergah Mukhlis penuh emosi.
Degh,
"Apa? dari mana kamu mendapatkan vidio itu Zainal? siapa yang mengirimkan vidio itu?." tanya Lastri heran.
"Apa pentingnya bagi kamu Lastri! sekarang kamu tidak bisa berkilah lagi. Aku tak butuh penjelasan dari mu. Kamu mau pergi kan? silahkan kami pergi dan nggak usah kembali lagi!." pungkas Mukhlis seraya mengusir Lastri.
"Enggak Pak! enggak! aku nggak jadi pergi kok. Sekarang aku mau masuk kamar kok. Aku nggak jadi pergi. Jangan usir aku gitu pak, bapak gak boleh tega gitu sama aku." ucap Lastri yang panik dan takut akan ancaman Mukhlis.
"Loh tadi bukannya kamu mau pergi? kalau kamu mau pergi ya sudah pergi saja sana! gak akan ada yang mencegah kamu lagi di sini!." ujar Mukhlis.
"Jangan gitu dong Pak. Masa bapak jahat banget sama aku, sudah kita masuk ke dalam kamar lagi aja yuk pak!." Ucap Lastri gak tau malu itu mengajak Mukhlus sekaligus membujuknya supaya tak jadi mengusirnya.
__ADS_1
Mukhlis pergi berlalu begitu saja tanpa menghiraukan panggilan istrinya, Lastri mengikuti nya dari belakang. Sepertinya ia masih berusaha membujuk suaminya agar tidak di usir dari rumah.
Sepeninggal Mukhlis dan Lastri, di ruang tamu suasana sangat hening. Zainal berusaha meredakan amarah yang masih bergumul di hati, sementara Farhan terlihat begitu murung.
"Han, kamu nggak papa kan?." tanya Sinta memberanikan diri menegur Farhan.
Farhan hanya diam saja dan menunduk.
Zainal menghampiri Farhan dan duduk di sampingnya, mengusap lembut punggungnya seraya berkata, "Sudah Han, kamu nggak usah khawatir. Meski Ayah sekarang sudah tahu kebenarannya tentang diri kamu, kamu tenang saja Han! Ayah akan tetap mengurus sekaligus merawat kamu dengan baik kok. Ayah tidak mungkin tega membuangmy apalagi rela membiarkan kamu di urus oleh Ibu kamu yang kurang ajar itu! Sudah kamu tidak perlu memikirkan macam-macam ya Han! karena Ayah selamanya akan tetap menjadi Ayah kamu dan akan selalu menganggap kamu anak kandung Ayah," ucap Zainal lembut berusaha menenangkan Farhan
Mendengar itu kepala Farhan mendongak menatap wajah teduh Ayahnya.
"Tapi Yah! Farhan bukan anak kandung Ayah, mana mungkin Ayah masih bisa menganggap Farhan seperti itu, Ayah pasti akan membuangku juga kan? Iya kan Yah? huhuhu," sergah Farhan seraya menitikkan air mata. Seperti nya sejak tadi Farhan menahan tangisnya itu.
"Tidak Nak, tidak. Mana mungkin Ayah akan melakukan hal seperti itu. Farhan harus percaya sama Ayah. Ayah janji tidak akan pernah meninggalkan Farhan apapun yang terjadi," ujar Zainal seraya memeluk Farhan.
"Iya Nak Farhan, Nak Farhan nggak perlu mikir macam-macam segala. Ayah Farhan masih tetap Ayah Zainal kok dan selamanya akan tetap menjadi Ayah Zainal. Sudah jangan bersedih lagi yah Nak, duh Tante jadi ikutan sedih gini kalau ngeliat Farhan kaya gini huhuhu," timpal Sarifah ikut terbawa suasana.
"Ah kamu Han! sudah-sudah nggak usah cengeng gitu kenapa Han, kaya yang bukan lelaki aja! ambil hal positifnya aja mendingan Han. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya kok. Gak malu apa masa preman anak kelas 7 di sekolah malah di rumahnya cengeng kayak gini hahaha!." celetuk Bayu meledek Farhan enteng.
"Ssst Bayu bisa diem gak kamu, lihat situasi dong Bay! kalau ngomong jangan asal jeplak aja!." Gerutu Sarifah pada anaknya.
"Tau nih dasar kamu Bayu kebiasaan banget kalau jadu cowok mulutnya kok lemes banget gitu. Asal bunyi aja!." timpal Sinta ikut menggerutu.
"Loh emang iya kan? memangnya aku salah ngomong yah? segala sesuatu itu memang ada hikmahnya kan kak? banyak positifnya yang bisa Farhan dan Om Zainal ambil dari kejadian ini," sergah Bayu.
"Hal positif apa maksudnya kak Bay? memang apa hikmah yang bisa aku ambil?." tanya Farhan ingin tahu dan mendengarkan perkataan Bayu seraya menyeka air matanya.
"Hadeuh gitu aja mesti di jelasin dasar bocil! banyak hal positif yang nisa kita ambil selain kalian sudah mengetahui kebenarannya, misalnya kalian jadi lebih bisa membangun hubungan kalian lebih baik lagi kan sekarang, bukan hanya hubungan Om Zainal dan Farhan tapi hubungan Farhan dengan kami juga. Sudah nggak ada alasan lagi yang membuat Farhan malu atau canggung jika di dekat dengan ku dan juga Kak Sinta dan masih banyak lagi. Oh yah, Om Zainal dam Ibu mending cepat-cepat segera mengurus perceraian kalian sebelum hal-halbyanh tidak diinginkan terjadi di kemudian hari terutama Om Zainal. Om nggak akan mau kan kalau sampai hak asuh Farhan menjadi milik Tante Adel?. Enggak kan Om?." ucap Bayu menjelaskan.
"Iyah juga sih, apa yang Bayu katakan ada benarnya. Kamu tidak usah berkecil hati lagi Han, kaki tenang saja, Ayah akan tetap memperjuangkan kamu dan merawat kamu dengan baik kok. Eh kalau masalah perceraian sudah Om urusan kok Bay. Om sudah meminta pengacara kepercayaan Om mengurus semuanya. Bahkan Om juga sudah meminta dia mengurus perceraian Ibu mau juga. Jadi kita tinggal tunggu beres aja." pungkas Zainal.
__ADS_1
Farhan tersenyum mendengar penuturan Ayahnya itu.
"Nggak usah lah Nal, pasti biaya nya tidak sedikit." sergah Sarifah menolak bantuan Zainal.
"Nggak papa Mbak, Zainal ikhlas kok membantu Mbak. Emangnya Mbak mau berlama-lama menunda perceraian Mbak dengan Mas Bagas? Jika Mbak nggak keberatan, Zainal mau belikan rumah untuk mbak sekeluarga tinggali."
"Rumah?. Kamu nggak perlu repot membelikanku rumah Zainal. Sebetulnya ada niatan untuk mengontrak dan meninggalkan rumah ini supaya aku bisa jauh-jauh dari Bang Bagas." ucap Ibu dan diam-diam setuju dengan pernyataan Ibunya.
"Mengontrak mba? udah nggak usah mengontrak nanti malah jadi beban Mbak karena harus membayar kontrakan tiap bulan. Sudah biar Zainal belikan rumah titik, Zainal nggak mau dengar kalimat penolakan. Ini demi kebaikan mbak dan masa depan anak-anak juga mbak!."
Sarifah hanya bisa menghela nafas, sepertinya Zainal bersikukuh untuk menanggung biaya hidup bahkan sampai akan membelikan mereka rumah. Sarifah merasa tidak enak.
Tring, tring, tring.
Deringan ponsel Farhan mengalihkan obrolan mereka. Di rogoh ponsel nya dari dalam saku. Farhan mengenyitkan alis membaca pesan yang masuk.
"Siapa Han?." tanya Zainal.
"Bukan siapa-siapa Yah, hanya teman sekolah saja yang mengabari tentang tugas yang di berikan sekolah.
"Oh." Kemudian mereka kembali mengobrol, namun tatapan Farhan masih menatap layar ponsel.
[Farhan, Sayang. Bisakah kamu bunda minta tolong padamu! kamu minta uang pada Ayah, bilang saja kamu butuh uang untuk tugas yang memakan cukup banyak uang. Setelah itu kamu bisa mentrasfer ke rekening Bunda yah Nak!.]
Farhan megepalkan tangan kuat membaca pesan itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...