Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 50 Sia-sia


__ADS_3

Bagas pulang ke rumah langsung menemui Bapak tirinya di rumah. Ternyata di rumah hanya ada Ibunya.


"Bu, Bapak di mana?."


"Waalaikumsalam, ngapain kamu nanya - nanyain Bapak segala hah!. Datang bukannya ngucapin salam malah nyelonong masuk gitu aja." jawab Mukhlis yang tiba-tiba keluar dari kamar, seketika Bagas menoleh.


"Eh, maaf Pak. Bagas lupa Assalamualaikum."


Mukhlis duduk di samping istrinya dan menatap tajam Bagas yang berdiri mematung "Mau apa kamu? ada perlu apa?. Oh Bapak tahu, kamu pasti mau ngomong soal penurunan jabatan kamu jadi OB kan? Bapak sudah tahu dari David dan Bapak sudah menyetujui keputusan itu." ujar Mukhlis.


"A-Apa? Bapak sudah tahu dan Bapak setuju? kenapa bapak main setuju-setuju aja sih? ya ga gak bisa gitu dong, Pak. Aku malu kalau harus jadi OB perusahaan itu Pak." ujar Bagas dengan wajah memelas lalu kemudian beralih menatap Ibunya, "Bu, tolong bujuk Bapak supaya bapak mau membatalkan penurunan jabatan Bagas dan berbicara pada David." sahutnya.


"Pak, Bapak sudah lah Pak, Bapak jangan kayak gitu ke anak sendiri. Lebih baik Bapak hubungi si David dan batalkan penurunan jabatan Bagas jadi OB di perusahaan itu. Enak aja anak tampan ku hanya di jadikan OB! kasihan dia Pak. Bapak jangan kayak gitulah." ucap Lastri membela anaknya.


"Diam kamu Lastri! kamu tidak berhak untuk mengatur keputusan saya di rumah ini. Apa kamu nggak sadar kelakuan anakmu itu gara-gara kamu juga Lastri! kamu terlalu memanjakan anak ini, ya beginilah jadinya anak kesayangan kamu ini. Udah tua bikin malu aja terus kerjanya! Harusnya kamu ngaca Lastri, kalau kamu masih membela anak ini, lebih baik kamu dan anak kesayangan mu ini pergi dari sini, bapak sudah muak dengan kelakuan kalian berdua di rumah ini," emosi Mukhlis dengan nada tinggi membuat nyali Lastri ciut.


"Sst Bagas, sudah turuti keputusan bapak kamu itu! jalani saja pekerjaan mu sebagai OB, Ibu nggak mau kalau Ibu jadi miskin lagi, apalagi jika bapak benar-benar mengusir Ibu, mau makan apa nanti Ibu di luaran sana dengan gaji kamu sebagai OB, nggak! nggak, sudah turuti saja yah!." bisik Lastri pada anaknya.

__ADS_1


"Tapi Bu...."


"Sudah kamu turuti saja, emang kamu mau menggembel lagi di luaran sana? meski kamu jadi OB tapi kehidupan kamu di sini masih sangat layak. Dan Ibu juga masih bisa bersenang-senang dengan uang dari bapak mu ini." sanggah Lastri memotong ucapan Bagas sembari mencubit lengan nya.


"Awww, sakit Bu..."


"Kalian ngapain pake bisik-bisik segala hah? jadi gimana kalian pergi dari rumah ini atau terima keputusan Bapak sebagai kepala keluarga di rumah ini, Cepat jawab!." ucap Mukhlis dengan nada tinggi penuh emosi.


"Aw, I-iya Pak. Bagas mau jadi OB kok. Bagas nggak akan komplen lagi." sahut Bagas sembari menahan sakit akibat cubitan pamungkas dari Lastri yang menandakan bahwa Lastri memaksa Bagas untuk menurut dan menjawab pertanyaan Mukhlis.


Degh!.


'Apa? masuk jam 6 pagi dan pulang jam 6 sore? kerja macam apa itu? Apa jam kerja OB memang seperti itu? sial! sial! sial!.' Batin Bagas menggerutu.


"Apa kamu Bagas? kamu masih mengeluh? kalau kamu nggak suka ngomong? dan angkat kaki dari rumah ini!." titah Mukhlis dengan nada tinggi sembari melihatku.


"Eng-enggak kok Pak, aku nggak ngeluh. Siap pak, besok Bagas nggak akan telat kok. Bapak tenang aja!." sahut Bagas menginyakan permintaan Mukhlis dengan terpaksa.

__ADS_1


"Bagus! sudah clear yah sekarang. Awas aja kalau kamu mengeluh. Sekarang sudah kamu pulang sana ke rumah mu!. Bapak malas melihat wajah mu di sini, bikin darah tinggi kumat aja." ancam Mukhlis sembari menunjuk ke arah wajah Bagas dan mengusirnya.


Bagas pun menganguk dan melengos pergi ke rumah yang berada di sebelah rumah Mukhlis tanpa pamit atau menyapa Lastri, karena Bagas terlanjur kecewa dengan hasil keputusan dari Bapak tirinya dan juga marah kepada Ibunya karena memaksa untuk menyetujui keputusan Mukhlis. Walaupun apa yang di katakan Lastri ada benarnya.


Bagas masuk kedalam rumah nya dengan penuh amarah. Ia tidak segan-segan menggebrak meja ruang tamu nya yang tak memiliki kesalahan apapun. Ia meluapkan kekesalan dan kemarahannya dengan melempar benda-benda apapun yang ada di sana.


"Dasar s*tan!." teriaknya.


Karena tidak tahu mesti bagaimana, Bagas mengambil beberapa obat tidur dan menidurkan diri di dalam kamar, berharap ketika bangun ia akan lebih tenang.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2