Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 70 Melayat


__ADS_3

Di perjalanan pulang dari kampung halaman, Adel hanya bisa termenung.


"Udah lah Del nggak usah kamu pikirin kata-kata orang tua lo. Mereka nanti juga bakal ngemis-ngemis lo nanti." ujar assisten sekaligus manajer Adel berusaha menghibur agar Adel tidak bersedih.


***


Kesibukan Sinta saat ini adalah bekerja sambil kuliah dan ia menikmati hal itu. Sinta bersyukur ia sekarang sudah ada di titik ini, semua berkat usaha dan kerja keras nya. Bayu pun sekarang sudah masuk SMK jurusan otomotif.


Alhamdulillah saat ini mereka tidak perlu bersusah payah mencari uang dengan berjualan kue dan gorengan. Gaji Sinta sebagai Sekretaris Bu Sasmita lumayan besar. Dan Ibu nya selalu mengingatkan untuk selalu bersyukur dan menyisihkan sebagian rezeki nya untuk bersedekah agar lebih manfaat.


"Ah selesai juga," ucap Sinta senang, ia melirik jam dinding menunjukkan jam 16.00, masih ada waktu sekitar 1 jam lagi untuk pulang. Sinta pun memutuskan untuk bersantai sejenak.


Tok...tok...tok...


"Sinta, kita ke rumah Pak Edo melayat yah!."


"Me-la-yat?. Maksud kamu Pak Edo meninggal?." ucap Sinta pada rekan kerja di bagian admin hrd tempat nya bekerja.


"Iya, kita pergi bareng teman kantor yang lain." Ajak Meisya.

__ADS_1


"Tapi kan jam kantor belum selesai. Kalau di tegur Bu Sasmita atau Pak David bagaimana?." tanya Sinta ragu.


"Aku sudah dapat ACC kok tenang saja. Pekerjaan mu sudah selesai kan? Ayo cepetan!." titah Meisya.


Akhirnya Sinta dan beberapa teman kantor pergi melayat Edo di kediaman nya. Selama di perjalanan perasaan Sinta campur aduk tak karuan. Terakhir Sinta bertemu Edo ketika penangkapan Ayah nya di rumah nya, setelah itu tidak bertemu lagi karena Edo di kabarkan Sakit.


Akhirnya mereka pun tiba di kediaman Edo, di sana Sinta pun bertemu dengan Om Zainal yang sepertinya sedang sama-sama melayat.


Terdengar kasak kusuk tak enak dari tetangga saat mereka mendekat ke rumah Edo. Dan mereka pun mencium bau tak sedap keluar dari rumah.


"Aneh, padahal baru meninggal itungan jam tapi udah bau bangkai kayak gini!." ujar seorang perempuan kepada temannya. Sinta menguping pembicaraan mereka dari belakang.


"Wajar, tukang zina dan tukang beli perempuan matinya pasti kaya gitu, sekarang kita tunggu saja azab nya si Bagas, dia kan sebelas dua belas sama si Edo, pasti matinya nggak akan beda jauh kondisi nya. Apalagi sekarang dia di penjara, tambah sengsara saja hidupnya."


"Apa?." ucap perempuan yang membicarakan Bagas tadi.


Melihat lirikan teman nya, perempuan itu menoleh ke belakang dan sudah ada di belakang.


"Tolong yah Ibu-ibu jika di hadapan jenazah tidak boleh mengumbar aib itu, dosa." ucap Sinta menegur kedua perempuan itu.

__ADS_1


"Iya-iya." ucap kedua perempuan itu seraya pergi meninggalkan rumah duka.


Sinta hanya bisa menghela nafas panjang.


Orang-orang di kampung sini memang sudah mengetahui bagaimana tabiat dan kelakuan Ayah nya beserta sahabat karib nya Edo. Tapi apakah mereka tidak bisa menahan diri sebentar saja untuk tidak membicarakan hal-hal jelek yang di lakukan Almarhum semasa hidupnya.


"Om," Sinta menghampiri Zainal yang sedang bantu-bantu.


"Kamu di sini juga Sin?." Sapa ramah Zainal pada ponakan nya.


"Iya Om, aku bersama teman kantor langsung ke sini sepulang kerja."


Zainal menganguk.


"Apakah Om tahu bagaimana nasib Ayah di penjara sekarang?." tanya Sinta tiba-tiba.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2