
Beberapa menit kemudian...
"Bu, Bayu berangkat ya!."
"Bu, Sinta juga berangkat ya. Assalamualaikum!."
Tiba waktunya kedua anak nya pergi ke sekolah mereka masing-masing. Bagas yang sedang duduk di teras depan rumah heran melihat anak nya pergi begitu saja tanpa berpamitan kepadanya.
"Loh kalian kenapa main pergi-pergi aja, gak akan pamit dulu sama Ayah?." tanya Bagas.
Mereka berdua pun melengos tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya, apalagi menjawab pertanyaannya.
"Bener-bener yah kalian berdua, awas nanti nggak akan Ayah kasih uang jajan loh!." ucap Bagas dengan nada mengancam.
Tring...
Tiba-tiba ponsel Bagas berdering, dan Bagas melihat Sinta menoleh dan memberikanku kode untuk membuka handphone nya.
Pesan dari Sinta.
[Emang Ayah suka ngasih uang jajan ya? bukan ya kita berdua udah hampir 3 minggu gak Ayah kasih uang? makannya kita sampai harus capek-capek jualan kaya begini juga, Fikir Yah! coba fikir! coba intropeksi diri Ayah! dasar si tukang selingkuh! gak tau malu!.]
"Aaarggh dasar anak-anak 4nj*ng!." gerutu Bagas.
Bagas masuk ke dalam rumah menghampiri Sarifah yang sedang membereskan sisa sarapan mereka di meja.
"Pah Ipah, sini kamu! maksud anak kamu inu apa coba!." tanya Bagas penuh emosi.
__ADS_1
"Yah kamu tanya sendiri sama diri kamu, Mas. Kalau kamu ingin anak-anakmu memperlakukan baik padamu, apa perlakuan kamu ke mereka sudah baik? coba kamu fikir kan baik-baik! Dah ah aku mau pergi jamur baju, bye!." pungkas Sarifah.
"Tunggu dulu Ipah, tapi yang masalahku dengan Adel itu jangan sampai kamu ceritakan kepada bapakku yah, Pah. Meski itu cuma fitnah tapi aku nggak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada keluarga Bapakku dan juga keluarga adikku Zainal. Aku mohon!."
"Terus kamu nggak peduli dengan keluarga kamu sendiri. Gitu Mas?." tanya Sarifah.
"Ya bukannya begitu Ipah. Tapi kan masalah ini cuma masalah salah paham saja. Aku sudah menjelaskannya padamu, aku nggak mau jika sampai mereka tahu. Nanti juga mau tak mau aku akan menjelaskannya juga pada mereka." Timpal Bagas mengikuti Sarifah yang hendak menjemur pakaian di halaman belakang.
"Ada masalah apa sih Gas?."
"Ba-Bapak?." ucap Bagas gugup.
Bagas menghampiri Bapak nya dan menyalaminya "Bapak sudah pulang?." tanya Bagas.
"Sudah, sejak kemarin sore."
Mukhlis memiliki perkebunan teh di kalimantan yang cukup sukses. Setiap 1 bulan sekali atau 2 kali dalam sebulan, Wisnu pergi untuk memantau perkebunan teh miliknya di luar pulau jawa itu.
"Coba tanyakan langsung saja ke anak bapak ini Pak, karena tadi anak Bapak melarangku untuk memberitahu masalah ini pada bapak. aneh banget kan, ya? nampak terlihat Mas Bagas ini kayak yang lagi menutup-nutupi sesuatu dari Bapak dan kita semua." ujar Sarifah pada Bapak mertua nya.
"Ada apa Gas? apa yang sebenarnya yang kamu tutup-tutupi dariku dan kita semua?." tanya Mukhlis.
"A-anu Pak. Mohon maaf ini sebetulnya cuman salah paham aja kok. Lagian ini cuman masalah kecil di keluargaku ini saja, aku tak ingin melibatkan bapak di dalam permasalahan internal ini," sahut Bagas.
"Lihatkan Pak, Bang Bagas ini ngomongnya berbelit-belit gitu. Padahal dia tinggal bilang aja langsung ke inti masalah yang saat ini tengah dia perdebatkan denganku. Tapi kayak yang susah gitu ya kan. Apa perlu aku menjelaskannya, Bang?."
"Apa yang dikatakan oleh Sarifah itu benar, Gas. Jadi sebenarnya kalian lagi mempermasalahkan apa sih? Nah lebih baik coba kamu jelaskan saja sama Bapak sekarang Pah!." pinta Mukhlis pada menantunya.
__ADS_1
"Jadi gini Pak..."
"Tunggu Pak, biar Bagas aja yang jelaskan, masalah ini bukan masalah besar kok Pak. Lagian udah clear juga. Maka dari itu Bapak mending lupakan saja masalah ini. Lupakan saja yang apa sangka." Bagas tak membiarkan Sarifah berbicara.
"Stop Bagas biar Saripah aja yang jelasin, kamu diam! biarkan Sarifah ngomong dulu." Timpal Mukhlis sedikit emosi.
"Jadi gini Pak, biar aku jelaskan. Bang Bagas katanya terkena fitnah di kantornya kemarin, soal tersebar nya foto mesra perselingkuhan antara Bang Bagas dan Adel tapi katanya sih itu hanya editan katanya. Dan akhirnya bosnya pun percaya dan tidak mempermasalahkan lagi akan hal itu. Dan aku pun berusaha percaya karena memang cukup masuk akal juga, tapi yang jadi masalahnya itu kenapa gelagat dan gerak-gerik dari Bang Bagas ini begitu mencurigakan seperti ini, pak? Bapak lihat sendiri kan, dia bakalan semakin panik jikalau Bapak mengetahui masalah ini. Padahal dia sendiri yang bilang bahwa ini adalah masalah kecil dan sudah clear. Lantas kenapa Bapak nggak boleh tahu. Bang Bagas nampak mencurigakan bukan?." ucap Sarifah menjelaskan panjang lebar.
Dibalas dengan anggukan Mukhlis, sementara Bagas sudah berkeringat dingin.
"Iya mencurigakan benar kamu, Gas. Kamu kalau sudah clear, ya sudah kamu nggak perlu panik gitu dong. Apa jangan-jangan sebenarnya itu bukan fitnah tapi memang nyata?." ujar Mukhlis menatap tajam putranya.
"Itu fitnah kok pak memang fitnah. Mana mungkin aku bertindak seperti itu apalagi dengan Adel yang merupakan adik iparku sendiri."
"Lantas masalahmu apa? Kenapa kamu sampai panik gitu sudah kuliah ya sudah Kenapa kamu permasalahkan lagi dengan Ipah bahkan melarangnya untuk membiarkan Bapak tahu masalah yang dinyatakan sudah clear ini santai saja kecuali kalau sampai terbukti memang itu adalah kenyataan, baru bapak nggak akan tinggal diam, Bapak akan mengusir kamu dari rumah ini bahkan Bapak tidak akan segan-segan untuk mencoret mu di data ahli waris bapak." pungkas Mukhlis macam putranya.
"Ya mungkin karena memang itu bukan fitnah kali pak tapi justru memang nyata hahaha." ucap Sarifah meledek.
'Jadi ini alasan Mas Bagas tak ingin nikah sampai ia takut jatuh miskin karena tidak akan bisa mendapatkan warisan apa-apa Setelah semua kebohongan dirinya itu terbongkar batin Sarifah
"Apa sih kamu Pah? udah mending diam aja, kamu nggak usah ngomong." ucap Bagas mengancam istrinya
"Lihat Pak, Bang Bagas sampai marah gitu nyuruh-nyuruh aku buat gak boleh ngomong segala aneh kan belum lagi dia tadi marah-marah karena Bayu dan Sinta yang bersikap Acuh padanya. Padahal dia sendiri yang selalu mengacuhkan anak-anaknya hingga anak-anaknya pun balik mengacuhkannya juga.
"Iya Ipah benar juga, kalau kamu sampai. Kamu itu gimana sih dasar aneh eh ngomong-ngomong kamu hari ini Emangnya nggak pergi kerja kok jam segini masih nyantai aja ?." tanya Mukhlis.
.
__ADS_1
.
.bersambung....