Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 65 Di Seret Depkolektor


__ADS_3

"Kamu bayar tuh hutang mu! Aku heran kenapa kamu bisa berhutang begitu banyak. Padahal setiap bulannya aku selalu memberimu uang cukup banyak. Benar-benar kamu nggak tahu di untung, Lastri!." teriak Mukhlis kembali emosi kepada Lastri yang selalu berbuat onar.


"Pak, tolong maafkan Ibu! Ibu benar-benar khilaf. Maafkan Ibu yang terlalu boros." ucap Lastri mengiba kepada Mukhlis, berharap Mukhkis mau memaafkan nya dan membantu nya untuk melunasi semua hutang-hutang nya.


"Aku sudah cukup muak ya dengan segala keonaran yang sudah kamu buat. Apa kamu tahu? suami kami di sini itu di kenal cukup terpandang, lah kamu bisa-bisannya seorang istri dari suami terpandang di kampung ini malah melempar kotoran ke wajah suaminya sendiri. Aku nggak sudi yah buat bayarin hutang-hutang mu itu. Bayar saja hutang mu sendiri!" teriak Mukhlis menatap tajam Lastri kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah dua manusia bertubuh besar di sampingnya. "Dan untuk kalian berdua. Bilang ke bos kalian bahwa Bu Lastri siap menebus hutangnya pada bos kalian meski ia harus menjadi pembantu di rumah bos kalian itu!."


Degh.


"Hah, pembantu? yang bener dong Pak. Masa Bapak ngebiarin aku menjadi pembantu di rumah lintah darat seperti itu. Apa Bapak nggak malu jika pria yang paling terpandang di kampung sini memiliki istri seorang pembantu di rumah orang lain? Masa Bapak nggak malu sih, bapak harus nya malu dong!." ucap Lastri tak terima mendengar ucapan suaminya.


"Malu kamu bilang, malu? sudah kepalang malu wajahku sekarang, gak anak, gak Ibu sama-sama bikin malu saja kerjaannya! harusnya kamu itu mikir Lastri! yang bikin malu siapa di sini? kamu sendirikan? kalau kamu memang ingin tidak ingin menjadi pembantu, yah bayar dong! kamu harus bertanggung jawab. Memang untuk apa kamu pinjem ke rentenir segala? untuk apa?." Sentak Mukhlis.


"Yah untuk kebutuhan hidupku lah Pak. Untuk apa lagi?. Makannya Bapak bantu aku untuk membayar hutang-hutangku yah, supaya nama baik Bapak tidak semakin buruk."


"Mana sudi aku bayar hutang-hutangmu! aku tahu kamu pasti punya hutang karena sibuk bayarin berondong-berondong kamu kan!." teriak Mukhlis membuat kehebohan di sekitar orang-orang yang sedang menonton. Lastri tidak menyadari sudah banyak orang di sekitar mereka.


"Aduh nggak nyangka ternyata Bu Lastri main nya sama berondong yah?."


"Dasar Nenek gatal, nggak sadar umur."


"Pasti berondongnya usia nya bahkan di bawah anaknya si Bagas."


"Aku nggak nyangka Bu Lastri ternyata sering di garuk sama berondong yah Bu."


Banyak hujatan yang menghujat Lastri. Orang-orang di sekitar rumah Mukhlis seperti menonton serial Indo di pagi hari. Bahkan ada yang sengaja mengabadikan pertunjukan dalam bentuk vidio dan memposting ke medsos supaya viral.


"Diam kalian, berhenti mencampuri urusan ku. Lebih baik kalian pergi dari sini!." teriak Lastri yang tidak tahan mendengar hujatan mengenai dirinya.

__ADS_1


"Kalian juga ngapain sih mesti ke sini segala! untuk apa coba kalian pake acara nagih ke sini segala. Kan sudah aku bilang berulang kali, jangan pernah ke rumah ya jangan pernah ke rumah, dasar bodoh!." teriak Lastri kepada orang bertubuh besar itu.


"Makannya kalau punya utang itu di bayar woy! kita berdua pasti tidak akan pernah nagih ke sini kalau lu lancar. Sekarang bayar hutang lu!." sentak salah satu depkolektor itu dengan nada tinggi.


"Ya elah emang telat berapa lama sih, baru juga dua hari udah pake acara nagih-nagih segala. Bener-bener nggak ada otak!." sergah Lastri dengan nada kesal, namun mata nya menatap ke segala arah tanda jika ia sedang ketakutan.


"Hahaha, dua hari lu bilang? 2 bulan woy, lu nunggak 2 bulan. Jangan belaga begok! Lu kan pernah kalah sama Bu Elsa, ternyata berondong yang kalian rebutkan itu lebih memilih Bu Elsa di banding kan elu! hahaaa dasar nenek peot kok masih PD main sama berondong!."


Mukhlis menghela nafas kasar, "Lebih baik kalian pergi dari sini dan bawa perempuan ini juga bersama kalian. Aku yakin dia tidak akan mampu untuk membayar hutang-hutangnya. Jadikan saja dia pembantu Bos kalian, aku yakin akan lebih berguna. Aku sudah tidak peduli lagi dengan dia!." ucap Mukhlis masuk ke dalam rumah lalu mengeluarkan barang-barang Lastri keluar, tak lupa Mukhlis mengunci pintu.


"Pak, Bapak tega sekali sama Ibu." teriak Lastri seraya menggedor-gedor pintu.


"Ikut kami!." Lastri di seret oleh dua orang bertubuh besar itu meninggalkan rumah Mukhlis.


Orang-orang yang menonton menyoraki Lastri.


"Pak, Pak tolong Ibu pak!. Bagas, Bagas tolong Ibu Nak!." teriak Lastri meminta tolong.


Diam-diam ada seseorang di pinggir rumah tengah tersenyum menyaksikan kejadian di usirnya Lastri dari rumah. Dia tak lain adalah Sinta, dia baru saja menyelesaikan menjemur pakaian. Ternyata di suguhi oleh tontonan yang membuat hatinya tersenyum senang. Artinya dendam sakit hati ibunya, satu persatu terbalaskan.


***


Siang hari nya.


"Pak, Pak, Pak!." teriak Bagas masuk ke dalam rumah.


Mukhlis yang sedang tiduran sambil menonton televisi terlonjak kaget mendengar teriakan Bagas.

__ADS_1


"Apaan sih? kamu kenapa teriak-teriak? Dan kamu kenapa masih di sini?." tanya Mukhlis seraya menoleh ke belakang dan mendapati Bagas yang tengah berteriak.


"Maaf Pak, Bagas kesiangan." ujar Bagas sembari menggaruk belakang kepala nya.


"Kamu tuh yah kerja jadi OB aja belagu, kerja seenaknya sendiri. Kalau kamu di pecat bagaimana?."


"Yah Bapak minta kerjaan lagi saja untuk Bagas." ucap Bagas enteng


"Enak saja, kamu itu umur sudah kepala 4 tapi nggak bisa sedikit saja berpikir dewasa. Kamu beda jauh sama anakmu Bayu, dia masih kecil tapi sudah berpikir dewasa!."


"Sudahlah Pak, Bagas ke sini tidak sedang membahas Bayu. Bagas mau nanya ke bapak, Bapak lihat Ibu tidak?." tanya Bagas berjalan lebih dekat ke arah Mukhlis.


Sedang Mukhlis masih tetap menatap lurus ke layar televisi menghiraukan pertanyaan Bagas. Tontonan di televisi lebih menarik Mukhlis di banding rengekan putra tirinya yang mencari Ibunya.


"Pak!." panggil Bagas kesal karena Bapak tirinya itu hanya diam saja. Kemudian Bagas meraih remote televisi dan mematikan nya.


"Apaan sih kamu? Apa nggak bisa sehari saja tidak membuat aku pusing karena ulahmu itu?." jengkel Mukhlis.


"Makannya Bagas tanya itu di jawab Pak!. Ibu kemana?." tanya Bagas lagi.


Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Mukhlis menjawab pertanyaan Bagas. "Ibu mu di seret depkolektor dan di jadikan pembantu, gara-gara nggak bisa bayar hutang-hutangnya tadi pagi." jelas Mukhlis yang membuat Bagas syok.


"Apa? Ibu di seret dan Bapak diam saja?." teriak Bagas emosi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2