
"Ada bu, jelas ada dong. Saksinya Allah Bu, Allah kan maha melihat!." pungkas Sinta.
Bagas menghela nafas panjang merasa sedikit lega setelah Sinta menjawab dengan jawaban seperti itu.
"Loh kamu kenapa, Bang? kok muka kamu tegang gitu? bikin curiga aja." tanya Sarifah.
"Ya gimana gak tegang bu, kan dari tadi Ibu mencerca Ayah dengan pertanyaan terus menerus gitu sambil megang pisau, mungkin Ayah takut salah ngomong kali bu, hahahah." sahut Sinta sembari tertawa.
"Halah mana mungkin Ayah kamu yang galak ini takut sama hal beginian, Sin. Mungkin dia takut kejadian yang sebenarnya terungkap kali ya? Mungkin loh yah hahaha," ujar Sarifah.
"Kamu ngomong apaan sih Ipah? nah kan alasan aku nggak ngomong ke kamu itu ya salah satu nya, aku malas berdebat karena kamu bukannya memberiku dukungan justru malah mikir nya pasti bakal kemana-mana kayak gini." pungkas Bagas.
"Aku bukannya mikir kemana-mana, Bang. Aku cuman curiga sama kamu. Apalagi Sinta juga bilang kemarin pagi saat dia ke rumah sakit hendak mengantarkan makanan. Dia melihat mu tengah berboncengan dengan Adel, mana kalian nampak mesra banget lagi boncengannya!. Kemarin kamu mengelak soal foto mesra mu dengan Adel yang di duga editan, dan aku percaya. Tapi Sinta bilang kamu bersama Adel di rumah sakit boncengan mesra. Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama dia? Ngapain coba kamu di rumah sakit kemarin pagi?. Ngapain Bang?." Omel Sarifah pada suaminya.
Degh,
'Kampr*t jadi si Sinta sudah ngomong sama Ibu nya, dasar bocah t*l*l pake ngomong segala.' sahut Bagas dalam hati.
__ADS_1
"Oh itu. A-apa mesra? Jangan berlebihan deh, waktu itu Adel cuman nebeng aja ke minimarket rumah sakit. Kebetulan kita nggak sengaja bertemu pas di minimarket, Adel beli pembalut di sana. Ya udah aku anter aja sekalian ke rumah sakit." Ucap Bagas beralasan. Dalam hati Bagas bersorak karena otaknya bisa berfungsi dalam situasi saat ini, dia yakin istri nya yang bodoh ini akan percaya dengan alasannya itu.
"Apa iya Yah?." tanya Sinta membuat Bagas kembali emosi dan menatap tajam putrinya itu.
"Ya iyalah, lagian kamu waktu itu Ayah mau jelasin malah main pergi gitu aja. Jadi salah paham gini kan, makannya kalau orang tua ngomong itu di dengerin Sinta!. Jangan pergi gitu aja, dasar gak sopan." Sahut Bagas lagi.
"Apa benar itu Sinta? Waktu itu kamu main pergi - pergi gitu aja?" Tanya Sarifah.
"Iya...." jawab Sinta.
"Nah ka, iya katanya. Iya wajar saja kalau dia sampe salah paham kayak gitu." ujar Bagas memotong perkataan Sinta. Bagas tidak ingin membiarkan Sinta berbicara lagi tentang perselingkuhan nya dengan Adel.
"Oke siap bu!." pungkasnya menuruti permintaan Sarifah.
"Sama sekalian kalau udah beres, panggilin Bayu. Tolong bantuin Ibu juga biar cepet. Soalnya ini masih banyak kerjaan, takut nanti nggak keburu." titah Sarifah pada Sinta.
"Sudah biar aku saja yang manggil Bayu, Bay-Bayu sini Nak, cepat kemari. Tolong bantuin Ibu mu!." teriak Bagas.
__ADS_1
"Apa sih Yah, samperin aja bisa kali nggak usah teriak-teriak. Berisik tau!. Kaya manusia di Gowa aja." seru Bayu sembari menuruni tangga.
"Maksud kamu apa ngatain Ayah mu sendiri kayak gitu? kurang ajar, capek-capek Ayah kerja buat bisa nyekolahkan kamu, tapi mulut kamu kayak yang di sekolahin aja." ucap Bagas mulai sedikit emosi karena mulut Bayu yang tidak sopan.
"Sudah-sudah pagi-pagi dah ribut aja. Bayu cepat kemari bantu Ibu Nak!." titah Sarifah.
"Baik Bu." jawab Bayu menghampiri Ibunya dengan tersenyum.
"Kurang ajar anak-anak ku, sudah sangat kelewatan sekali. Aku merasa aku sama sekali tidak di hargai sebagai kepala keluarga rumah ini, dasar jal*ng, janc*t.' Gerutu Bagas dalam hati.
Karena badmood, Bagas keluar dan duduk di teras sembari merokok sejenak memenangkan pikiran.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...