Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 62 Di ceraikan


__ADS_3

"Farhan panggil Ayahmu sekarang juga! bapak ingin permasalahan ini selesai sekarang juga! karena lusa bapak harus ke luar kota. Bapak tidak ingin meninggalkan rumah ini dalam keadaan yang belum selesai kayak gini!." ujar Mukhlis, lalu Farhan pun keluar untuk memanggil Zainal.


Semua terdiam tidak ada yang berani bersuara sedikitpun jika Mukhlis sudah bertindak. Mukhlis benar-benar marah dengan apa yang terjadi hari ini.


"Untuk apa kamu ke sini Adel? bukannya urusan kamu dan juga keluargaku ini sudah selesai? Jika kamu ingin bertemu dengan Farhan, aku bisa menyuruh orang untuk membawanya padamu baik-baik tanpa perlu membuat malu keluargaku lagi seperti ini!." ucap Mukhlis menatap wajah Adel dengan nyalang.


Adel ketakutan dan merasa tak nyaman berada di sini, sangat berbeda dengan Adel terkesan yang berani saat berada di luar tadi.


"Jawab! Bukan nya tadi kamu paling lantang di luar sana? sekarang kamu melempeng seperti kerupuk di siram air!." sentak Mukhlis seraya menggebrak meja, semua orang takut dan kaget dengan kemarahan Mukhlis.


"Sa-saya memang mau bertemu dengan Farhan pak. Sekalian saya juga ingin meminta pertanggungjawaban dari Bang Bagas." jawab Adel masih ketakutan dan hanya bisa menunduk tanpa berani menatap balik Mukhlis yang menatap nya tajam.


Mendengar jawaban Adel, Mukhlis menghela nafas panjang berusaha untuk mengontrol emosi, wajahnya sudah memerah. Baru pertama kali Sinta melihat kakeknya semarah ini.


"Kamu bilang minta pertanggungjawaban Bagas, pertanggungjawaban apa maksudnya? apa kamu hamil anak dia? Iya? kalau iya? kenapa kamu tidak secara baik-baik dan diam-diam saja hah! kenapa harus bikin malu keluargaku lagi! waktu itu kalian selingkuh secara diam-diam kan? lantas mengapa sekarang malah minta pertanggungjawaban harus secara terang-terangan dan teriak-teriak segala kaya gini? Bikin malu saja!." ucap Mukhlis tak habis pikir dengan jalan pikiran Adel.


Ucapan Mukhlis membuat wajah Adel memerah, entah memerah karena malu atau entah memerah karena marah tak terima dengan ucapan Mukhlis.


"Pak! Bisa tidak kalau bapak nggak usah bawa-bawa kejadian yang lalu! tolong anggap saja semua itu khilaf pak. Kenapa harus terus di bahas? lagian aku sekarang sama sekali nggak hamil kok pak. Bapak jangan asal ngomong yah pak, hamil, hamil! enak aja!." ucap Adel mulai berani meninggikan suara nya di hadapan Mukhlis.

__ADS_1


"Hahaha, perempuan sepertimu memang benar-benar tidak tahu malu ya. Sangat sayang anakku Zainal yang baik harus memiliki istri mu. Tidak tahu malu." hardik Mukhlis, semua nya yang berada di sana tidak ada yang berani menyanggah perdebatan antara mereka berdua.


Krieeet.


Zainal dan Farhan telah tiba, wajah Zainal jelas sangat tidak bersahabat saat melihat ada Adel.


"Ada apa? kenapa semua di suruh berkumpul di sini?." tanya Zainal seraya melihat ke sekitar.


"Gini Nal. Bapak ingin permasalahan antara kalian bertiga itu selesai!. Adel meminta pertanggujawaban Bagas dan dia juga sepertinya ada niatan lain ke sini selain meminta pertanggungjawaban dari Bagas," tuduh Mukhlis pada Adel.


"Apa maksud bapak? tujuan saya kemarin memang ingin meminta pertanggungjawaban dan ingin bertemu dengan Farhan. Apa ada yang salah ketika seorang Ibu ingin bertemu dengan anaknya?." sangkal Adel tak terima.


"Cukup! Jangan meninggikan suara Bunda pada Kakek lagi. Bunda yang sopan kalau Bunda ngomong sama Kakek! Farhan mau tanya sama Bunda. Apa Bunda yakin kalau Bunda ke sini hanya ingin bertemu denganku? bukannya tadi siang Bunda mengirim pesan padaku untuk meminta uang pada Ayah ya? atau jangan-jangan tujuan Bunda ke sini ingin mendokrinku agar mau menjadi ATM berjalan Bunda? Iya?." semua orang yang berada di sana kaget dengan pengakuan dari Farhan, sementara Adel pucat pasi tidak menyangka anaknya akan mengatakan hal itu di depan semua orang.


"Oh yah? Aku tadi kan tanya pada Bunda, Bunda nyuruh aku meminta uang pada Ayah itu kepada ayah kandung atau kepada ayah angkatku sih Bun? coba sekarang Bunda jawab!." Teriak Farhan dengan mata yang mulai basah.


"Ma-maksud kamu apa sih Han?." tanya Adel gugup.


Mukhlis terkejut dengan apa yang di ucapkan Farhan lalu ia menoleh ke arah Zainal dan di jawab anggukan oleh Zainal.

__ADS_1


Semua orang tahu kebenaran itu kecuali Mukhlis, tapi Mukhlis hanya diam dan menyimak terlebih dahulu.


"Jangan pura-pura nggak tau Bun. Kita semua di sini sudah pada tahu kebenarannya kok. Kalau aku bukan anak dari Ayah Zainal kan? aku anaknya Om Bagas kan? aku benar-benar tak menyangka bahwa selama ini Bunda yang tidak waras, dan aku juga tidak sudi memiliki Ayah seperti Om Bagas, tukang selingkuh. Ayahku selamanya hanya Ayah Zainal, bukan orang lain." pungkas Farhan.


"Farhan! Kamu semakin di biarkan semakin lancang ya? Di dokrin sama siapa kamu sampai berani-berani nya berbicara kasar seperti itu pada orang tua? Harus kamu tahu yah Farhan! Sejak kamu dalam kandungan, Ayahmu Bagas itu sangat peduli padamu, dia tak lupa selalu membelikan susu ataupun vitamin untukmu yang masih di dalam perut ibumu. Harusnya kamu tidak boleh berbicara seperti itu pada Ayah kandungmu!." ujar Lastri keceplosan membuat semua orang menatapnya tajam karena tanpa sengaja Lastri mengakui semuanya.


"Maksud kamu? jadi selama ini Bagas selingkuh dengan Adel kamu tahu? Dan kamu juga tahu kalau Farhan adalah anak kandung Bagas sedari dulu Lastri?." tanya Kakek memastikan kembali.


"Ti-tidak aku hanya salah bicara saja!." kilah Lastri dengan wajah ketakutan membuang pandangan nya ke arah lain sedangkan Mukhlis menatap istri nya tajam.


"Semua ini memang benar-benar kejutan hahahaha. Ternyata dari awal aku sudah salah memilih istri. Kamu puas karena sudah membodohi ku selama bertahun-tahun lama nya? Apa karena Zainal bukan anak kandung mu jadi kamu mendukung Bagas yang notabennya adalah anak kandung kamu sendiri iya hah? benar-benar perempuan tak waras kamu!." sentak Mukhlis. Sinta benar-benar menikmati pertunjukan ini, ia menyaksikan secara langsung orang-orang yang telah menyakiti Ibunya di hakimi oleh Kakeknya.


"Pak, dengar dulu penjelasan dariku..."


"Sudahlah! sepertinya aku juga harus menceraikan kamu Lastri! aku sudah tidak peduli lagi menyandang status duda di usia tuaku seperti ini," sanggah Mukhlis memotong ucapan istrinya....


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2