Membalas Sakit Hati Ibu

Membalas Sakit Hati Ibu
Part 53 Nafkah 10 Juta?


__ADS_3

"Eh Pak David, ah enggak Pak ini si Bagas barusan bilang Pak David baik, karena bapak masih mau memperkerjakan si Bagas ini meski kesalahan dia sebenarnya sudah fatal dan tak termaafkan, apalagi dia sudah mempermalukan nama baik perusahaan juga, ya kan Gas?." sanggah Edo memberi alasan saat mendengar celetuk David dari belakang Bagas.


Bagas menoleh dan terkejut, "I-iya betul apa yang di katakan oleh Pak Edo. Oh yah kalau begitu saya permisi dulu ya Pak. Saya mau kembali bekerja, barusan ada karyawan yang pesan minta di buatkan kopi katanya, permisi Pak!." ucap Bagas sekaligus hendak pergi.


"Oh Iyah silahkan! semangat yah Mas Bagas!." sahut David, entah kenapa terdengar seperti ledekan oleh telinga Bagas.


Bagas pura-pura tersenyum dan melanjutkan pekerjaan nya kembali.


'Hampir saja, untung barusan si Edo ke buru membungkam mulut ku dan memberi alasan bagus kepada si br*ngs*k David ini, kalau si David mendengarnya saat aku menjelek-jelekan nya bisa-bisa Si David tersinggung dan memecatku dari perusahaan ini. Jika sampai di pecat, Ibuku juga terancam di usir oleh Bapak tiriku, hampir! hampir!.' gumam Bagas dalam hati sembari mengelus dada dan berjalan menuju ruangan Pantry.


Bagas masih tak menyangka dalam kondisi Edo yang marah dengannya, karena membuat rumah nya berantakan, gara-gara insiden grebek kemarin. Bahkan pintu rumah di biarkan terbuka begitu saja, tidak hanya itu Edo juga menjadi bulan-bulanan tetangga karena menjadikan rumah nya tempat perzinahan antara Bagas dan Adel. Tapi Edo masih mau melindungi nya dengan cara seperti itu, secara tidak langsung Edo masih menganggap Bagas sebagai temannya.


"Ini kopi nya Bu!." Bagas memberikan pesanan kopi tersebut kepada salah satu karyawan wanita yang tadi memintanya.


Byur.Halo saya kan barusan memang memasukkan gulanya dikit kok


"Aduh-Duh panas bu! kenapa kopinya kok malah Ibu tuangkan ke sepatu saya? Apa-apaan ini maksudnya bu?." sergah Bagas menahan perih karena air panas dari kopi.


"Kamu yang apa-apaan! kopi macam apa ini Bagas? ini kopi atau kolak, hah! kan sudah saya bilang gula nya sedikit aja, kamu gimana sih kalau kerja gak becus banget!." teriak karyawati itu membentak Bagas.


"Loh saya kan barusan masukin gula nya dikit kok bu, kurang lebih cuman 1 sendok makan aja padahal, emang kemanisan ya bu?." balas Bagas polos.


"Hah 1 sendok makan kamu bilang, ini sih bukannya 1 sendok makan, tapi 1 sendok semen kamu tahu! Bener-bener gak waras yah kamu, kamu pikir kamu saya bodoh apa? tidak mungkin jika 1 sendok makan bisa semanis ini! saya ajukan kinerjamu yang buruk pada Pak David! awas saja kamu!." ujar karyawati itu mengancam.


"E-eh tunggu bu jangan, biar saya buatkan lagu aja ya kopi ya. Tolong jangan laporkan hal ini ke Pak David saya mohon!." ucap Bagas sedikit memelas sembari menarik tangan karyawati itu supaya tidak melaporkan hal kecil ini kepada David di ruangannya.

__ADS_1


Sebenarnya Bagas lupa kalau karyawati itu memesan kopi dengan sedikit gula, jadi ia memasukkan gula nya dengan takaran yang biasa Bagas gunakan kala membuat kopi di rumah. Namun ternyata karyawati itu mengetahui kebohongan nya itu dan begitu mempermasalahkannya hingga berani mengancam Bagas.


"Gak ada gak ada! aku akan tetap melaporkannya pada Pak David titik!." sahut karyawati itu.


"Tu-tunggy Bu, tolong jangan laporkan Pak Bagas ke pak David yah Bu. Kali ini biar saya saja yang membuatkan kopinya lagi untuk ibu, saya akan membuatkan kopi favorit ibu seperti biasanya. Tolong harap maklum jika hari ini Pak Bagas salah membuatnya karena dia masih baru Bu dan masih belum bisa beradaptasi dengan pekerjaan ini Bu. Tolong ya bu kali ini maafkan Pak Bagas! ibu kan baik hati," ucap Agus, si OB senior baik hati yang tiba-tiba datang dan berusaha menangani masalah Bagas dan karyawati itu.


"Baiklah. Mas Agus yang minta kali ini aku akan memaafkanmu ya Bagas, awas aja jika sekali lagi kamu melakukan hal ini lagi, aku nggak akan segan lagu untuk melaporkannya kepada Pak David!." ketus Karyawati itu mengancam sembari menunjuk jarinya ke arah Bagas dan kembali duduk di kursinya.


Agus sontak menarik Bagas dan sedikit menasehati nya di ruangan Pantry.


"Sudah Pak Bagas nggak usah di ambil hati ucapan dari Ibu itu, abaikan saja Pak! Sabar, yasudah bapak lebih baik istirahat dulu gih, ngopi atau ngerokok dulu ngademin pikiran. Pekerjaan di sini biar saya dan anak-anak OB lain yang menghandle nya." ucap Agus.


"Oh memang boleh Mas? kebetulan banget emang dari tadi aku belum sempat sarapan dan ngopi Mas. Ya udah aku istirahat dulu ya Mas." balas Bagas.


"Silakan Pak, Bapak santai saja dulu." pungkas Agus.


Kring... kring ...kring....


"IsIh siapa lagi sih ganggu orang lagi ngopi santai pakai acara nelpon segala," gerutu Bagas.


Begitu Bagas lihat ternyata itu adalah panggilan telepon dari Adel. Sebenarnya Bagas malas untuk meladeni dan menerima panggilan telepon darinya saat ini. Namun jika Bagas tak segera menerima panggilan darinya bisa di pastikan Adel akan terus meneror nya dengan panggilan bertubi-tubi.


"Hhmmm apa?." tanya Bagas singkat.


"Lama banget sih angkat teleponnya kamu Bang, emangnya kamu lagi aoa sih Bang? pasti baru bangun tidur kan ya? kebiasaan emang, masa jam segini baru bangun tidur, emang dasar pemalas! Oh yah jadi sekarang aku gimana Bang? siapa yang akan membiayai hidupku mulai sekarang? aku nggak mau tau yah Bang, selama aku hidup di kampung halamanku ini, kamu wajib mengirimiku uang untuk hidup ku di sini! karena bisa di pastikan Mas Zainal akan mustahil menafkahiku setelah kejadian kemarin-kemarin. Jadi mulai hari ini kamu wajib memgirimiku uang ya, minimal 10 juta perbulan, minimal loh itu ya Mas!10 juta ini belum termasuk biaya perawatan ku dan...."

__ADS_1


Tap.


"Aargh dasar wanita si*l*n bisa-bisanya dalam kondisi kaya gini malah nyerocos minta duit segala, dia gak tahu apa kalau aku di sini susah ya kayak gimana? dasar wanita j*l*ng!." sanggah Bagas penuh emosi setelah mematikan panggilan telepon dari Adel.


Kring,


Kring,


"Kan sudah kuduga dia pasti terus meneleponku!." gerutu Bagas.


[Bang angkat! kamu apa-apaan sih, aku belum selesai ngomong malah main mati-matiin segala!.]


[Bang!.]


[Bang Bagas!.]


[Angkat Bang!.]


Sontak Adel pun mengirimkan pesan Whatsapp bertubi-tubi kepada Bagas setelah Bagas abaikan panggilan darinya yang tak henti menelepon.


[Urus saja hidupmu sendiri, kita putus!.] pungkas Bagas sembari langsung memblokir kontak Adel di handphone nya karena tak ingin ambil pusing lagi dengan segala macam tuntutan nya yang nggak masuk akal dan egois.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2