
Kring,
Kring,
"Duh handphone Om bunyi Sin, bentar Om angkat telepon dulu ya!." Sahut Zainal.
"Oke, angkat aja Om, takutnya penting." timpal Sinta.
"Waalaikumsalam, Bro David. Ada apa Mas Bro? tumben banget nelpon."
"Oh masalah itu, saya sudah tau semuanya kok Bro, santai saja. Lagian saya sudah bertindak buat ceraikan istri saya itu kok."
"Oh Bagas, nggak perlu Bro! udah biarin aja dia menerima sanksi sosialnya dulu aja, keenakan kalau langsung di penjara."
"Haha ya udah atur-atur aja Bro! kan anda Bosnya. Saya sih terserah anda aja baiknya gimana."
"Kalau itu sih tenang Bro, Bapak saya juga udah tahu semuanya kok, dia bakal mendukung penuh keputusan anda, anda tenang aja bro nggak usah khawatir masalah itu!."
"Ya itu terserah anda lag Bro, mau anda pecat ya penat aja terserah. Nggak perlu pake acara nanya ke saya segala, kan anda Bosnya gimana sih hahaha! itu kan perusahaan anda. Eh tapi saya punya saran bro, gimana kalau dia turunan jabatannya jadi OB gimana? daripada dia di pecat akhirnya terhindar dari sangsi sosial di kantor. Ya gimana rasanya berada di bawah dan di injak-injakan sama yang di atas, tapi ya saya balikin lagi ke anda baiknya gimana. Sekali lagi apapun keputusan anda saya akan dukung secara maksimal bro! Bapak saya juga akan dukung kok!."
"Oke siap Bro! Anda atur-atur saja baiknya gimana, Oke siap thank you Bro. Waalaikumsalam."
Zainal mengakhiri telepon nya. Sinta yang penasaran langsung bertanya.
"Siapa Om? kok pake bawa-bawa nama Ayahku segala?."
"Oh itu, tadi Bos Ayah kamu menelpon Om. Dia nanya Ayah kamu mau di gimanain, mau di pecat aja atau gimana, lucu banget ya kan? perasaan dia itu Bos nya, ngapain coba pake acara nanya segala ke Om mau di gimanain Ayah kamu itu hahahaha. Konyol kan!." jawab Zainal seraya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Sinta pun tak kuasa untuk tak ikut tertawa.
"Hahahaa iya lucu banget yah Om. Terus-terus Om bilang tadi nyaranin buat nurunin jabatan Ayah jadi OB kan? Bagus Om aku setuju! Eh btw kenapa Bos nya Ayahku kok kelihatan nya kaya deket gitu sama Om, emang Om pernah bertemu dengannya?." ucap Sinta.
"Bos ayahmu itu satu SMA sama Om, bahkan dua sempet satu kampus juga pas ngejar MBA di universitas terbaik di seluruh dunia yang ada di luar negeri kala itu. Om hanya terpisah ketika dulu dia mengejar S1nya saja dengannya, karena kami berdua beda kampus dan jurusan kala mengejar S1, makannya Om bisa di bilang deket dengan Bos Ayahmu, David di banding Ayah kamu hingga sekarang." pungkas Zainal.
"Widih keren banget Om, jadi dulu Om kuliah di luar negeri ya, S2 nya?." sahut Sinta kagum.
"Gak hanya S2 kok, S1 juga Om kuliah di luar negeri tahu heheh." balas Zainal dengan sedikit malu-malu.
"Oh yah? Wuih berarti Om pintar juga yah, kalau bisa kuliah di luar negeri gitu. Sedangkan aku tahu kalau Ayah kan gelar S1 hanya di Indonesia, itupun lulus nya agak lama kalau denger dari Om Doni karena Ayahku bloon dan lemot katanya, dia bisa sampai kerja di perusahaan denger-denger karena pengaruh Kakek yang begitu berpengaruh di perusahaan Pak Davjid itu." ujar Sinta.
"Ah enggak juga, biasa aja. Om nggak pintar-pintar amat tapi kalau di banding sama Ayah kamu sih emang pintaran Om Hahaha! Loh kamu emangnya deket sama Mas Doni?." tanya Zainal.
Sinta tersenyum, "Ga begitu deket sih Om, aku denger aja Om Doni yang ngeluh mulu kalau di kantor Ayah. Dia capek katanya kalau terus-terusan ngerjain kerjaan Ayah. Jadi selama itu kerjaan Ayah di kerjain sama Om Doni tau. Ayahku sama sekali nggak bisa ngerjain apa-apa karena dia lemot, dan sangat tidak kompeten pasti saja selalu ngantelin anak-anak buahnya terutama Om Donu. Kalau anak buah nya nggak mau dia dengan mudah untuk mengancam akan memecatnya."
"Oh ya? jadi seperti itu, Oke Om punya ide. Gimana kalau Mas Doni itu Om minta di naikin jabatan nya aja ke David? Om akan jelaskan semua ucapan kamu ke dia, sebagai bahan pertimbangan David mengisi jabatan Ayau sementara di perusahaan itu. Om juga akan menghubungi Mas Doni supaya dia mau menjadi pion Om di perusahaan itu selalu David gak ada, menurut kamu gimana?." tanya Zainal membuat hati Sinta lega karena janji nya pada Doni akan segera ia tepat.
Zainal tersenyum, "Oke silahkan kamu bilang saja kalau aku mendukung nya dan Kakek mendukungnya, supaya dua menjadi semakin tertarik untuk menjadi pion Om," sahut Zainal.
Akhirnya Sinta pun memberitahu kabar baik ini ke Doni, sontak Donu begitu teramat senang mendengar kabar baik dari Sinta. Sekarang dia semakin bersemangat untuk membantu Sinta untuk membalas dendam kepada Ayahnya yang masih belum usai sampai di sini.
[Siap Bos kecilku! besok aku akan mulai menjalankan rencana yang telah kamu dan Pak Zainal rencanakan dengan sempurna di jabatan yang telah kamu berikan ini kepadaku.]
***
Keesokan harinya,
__ADS_1
"Anj*t udah jam 5 subuh lagi aja, bener-bener gula efek samping obat tidur yang telah aku minum semalam!." ucap Bagas kaget ketika membuka mata dan pandangannya langsung tertuju ke arah jam yang tertempel di dinding kamarnya.
Bagas pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan memulai pekerjaan pertamanya sebagai Office boy.
Saat Bagas selesai bersiap-siap dan tengah mengenakan sepatu tiba-tiba...
Brak
Brak
"Gas! Bagas kamu sudah bangun belum Nak? cepat kamu bangun, nanti kamu telat loh! udah jam berapa ini Bagas? Gas! Bagas!." sahut Ibunya di depan rumah menggedor-gedor pintu rumahnya.
Bagas menggerutu kesal dan berjalan ke arah pintu, "Apaan sih Bu? Pagi-pagi udah berisik banget! aku sudah bangun dan malah sudah siap-siap berangkat kok, tenang aja kali Bu! hari itu aku nggak akan telat, Ibu nggak usah bawel gitu, berisik tau bu!." Gerutu Bagas sembari membuka pintu dan hendak memanaskan motor terlebih dahulu.
"Oalah baguslah, Ibu kira kamu masih tidur Gas, Ibu khawatir jika kamu sampai telat, bisa-bisa kamu di usir dari rumah ini. Ibu nggak mau kalau sampai kamu di usir Bapak. Ibu teramat takut dengan ancaman bapak kamu itu, habisnya baru kali ini Ibu melihat dia marah dan berkata seserius itu!." ucap Lastri dengan wajah ketakutan dan khawatir anak nya akan di usir oleh suaminya atau mungkin dirinya juga akan ikut terusir dan jatuh miskin kembali. Lastri menepis pikiran itu jauh, itu tidak akan pernah terjadi.
Brum.
Brum.
"Iyah udah Ibu nggak usah khawatir, ya usah Bagas pergi dulu ya bu!." pungkas Bagas pamit.
Bagas pun melakukan motor nya dengan sangat cepat karena tak ingin terlambat san membuat Ibunya khawatir, Bagas untuk menerima keadaan dan menjalani rutinitas nya sebagai OB tanpa mengeluh.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....