
Reiner terbangun dari tidurnya karena suara ponselnya yang terus berdering.
Nicko. Kenapa sekarang dia suka sekali menggangguku di pagi hari?
gumam Reiner kesal kepada asistennya itu.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu Anda. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Informan kita sudah berhasil menemukan keberadaan Tuan Ethan dan Tuan Justin di luar negri. Apakah Tuan ingin supaya informan kita segera menemui mereka berdua?"
"Kerja yang bagus, Nicko. Tapi jangan suruh mereka melakukan apa-apa. Biarkan informan kita tetap berada disana untuk memantau Ethan dan Justin. Aku sendiri yang akan menemui mereka berdua."
"Baik, Tuan Reiner. Tapi, Tuan Ethan dan Tuan Justin berada di dua kota yang berbeda. Jaraknya cukup jauh. Apakah Anda mau berangkat hari ini juga?"
"Tidak, aku akan berangkat besok siang. Tolong atur perjalananku kesana."
"Baik, Tuan, saya akan segera menyiapkannya."
"Nicko, apa kamu sudah menarik bodyguard kita dari rumah keluarga Audrey?"
"Sudah, Tuan, saya sudah melakukannya sesuai perintah Anda dua hari yang lalu."
"Bagus, Nicko. Jangan lupa siapkan perjalananku dengan baik."
Reiner menutup panggilannya dengan perasaan bimbang. Di satu sisi, ia sangat senang karena berhasil menemukan teman-teman Dave. Di sisi lain, ia ragu apakah dirinya akan mampu menerima kenyataan jika Audrey terbukti bersalah atas kematian Dave. Akhir-akhir ini, dendam di hatinya mulai dikalahkan oleh perasaannya kepada Audrey. Sekeras apapun Reiner berusaha tetap membenci Audrey, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang selalu ingin berada di dekat istrinya itu.
Apa aku sudah jatuh cinta pada Audrey?
Bukankah cintaku sudah mati bersama kepergian Sofia?
Bagaimana jika dia memang penyebab kematian Dave?
Apa yang harus aku lakukan padanya nanti?
tanya Reiner pada dirinya sendiri.
Reiner menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kacau. Bagaimanapun, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui kebenaran di balik kematian Dave. Namun terkadang ia merasa lelah. Saat ini, ia hanya ingin membiarkan dirinya beristirahat sejenak selama satu hari. Reiner akan menikmati kebersamaannya dengan Audrey walaupun mungkin itu tidak akan berlangsung lama.
Reiner keluar dari kamarnya dan melihat Audrey sudah sibuk menyiapkan sarapan. Wajah gadis itu tampak lebih berseri daripada biasanya. Mungkin karena hari ini, ia akan bertemu dengan keluarga yang sangat dirindukannya. Dengan memakai dress berwarna peach lembut dan rambut panjangnya yang dihiasi pita putih, Audrey terlihat sangat cantik dan mempesona. Senyuman menghiasi wajah cantiknya ketika mengeluarkan sebuah cake ulang tahun dari dalam lemari pendingin. Reiner melihat Audrey begitu telaten memasukkan cakenya ke dalam kotak, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk dibawanya ke rumah. Seandainya pria lain melihat Audrey, mereka pasti akan setuju kalau gadis itu adalah sosok istri yang diidamkan para laki-laki.
Dia membuat cake sendiri untuk Opanya. Apa mungkin wajah yang cantik dan lembut itu sampai tega menyakiti adikku?
pikir Reiner meragukan logikanya.
"Tuan, Anda sudah bangun? Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda. Silahkan duduk, Tuan," sapa Audrey melihat kehadiran Reiner yang sedang memperhatikannya.
Tanpa menjawab, Reiner duduk di meja makan dan mengambil nasi goreng yang dibuat Audrey.
"Tuan, saya akan mencicipinya dulu supaya Anda yakin," ucap Audrey mengambil sendok untuk mencicipi nasi goreng itu.
"Tidak usah, aku sudah lapar."
Kenapa dia tidak menyuruhku mencicipi makanannya seperti dulu? Apa dia sudah percaya padaku?
batin Audrey merasa heran.
Audrey duduk di samping Reiner dan memakan sarapannya dalam diam.
"Audrey, besok siang aku harus berangkat ke luar negri. Mungkin aku baru kembali setelah beberapa hari. Selama aku pergi, jangan berbuat macam-macam. Aku akan menyuruh Nicko untuk mengawasimu."
"Tuan akan pergi lagi?" ucap Audrey terkejut.
__ADS_1
"Iya, ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Kenapa..? Apa kamu tidak ingin aku meninggalkanmu?" tanya Reiner menatap mata Audrey.
"Bu..bukan begitu, Tuan. Urusan Anda pasti lebih penting dari saya," jawab Audrey merasa malu.
Apa aku sudah tidak waras sehingga mengatakan hal yang memalukan seperti itu kepada Reiner.
pikir Audrey tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Tuan, maaf ada telpon dari Om Jonathan," kata Audrey melihat ponselnya yang berdering. Audrey bersyukur karena Tuan Jonathan telah membantunya keluar dari situasi canggung itu.
"Halo, Audrey. Apakah kamu dan Reiner sudah berangkat? Om sedang dalam perjalanan ke rumahmu."
"Halo, Om. Audrey masih di apartemen. Sebentar lagi Audrey dan Reiner akan berangkat."
"Baik, Audrey, Om tunggu kalian. Terima Kasih."
"Ada apa?" tanya Reiner penasaran.
"Om Jonathan sudah dalam perjalanan, Tuan."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Ingat untuk bersikap sewajarnya dan jangan memanggilku Tuan. Panggil saja Rein selama berada di rumahmu."
...****************...
"Reiner, Audrey, ayo masuk," ucap Bu Olin mempersilahkan anak dan menantunya masuk.
"Mama..." peluk Audrey melepas rindunya yang teramat sangat kepada sang mama.
Bu Olin balas memeluk putrinya itu dan menenangkannya.
"Audrey, Sayang, kenapa kamu menangis seperti anak kecil? Kamu khan sudah menikah."
"Audrey...Benar ini cucu opa, Audrey?" tanya Opanya memperhatikan wajah Audrey dengan seksama.
"Iya Opa, ini Audrey. Audrey kangen Opa. Selamat ulang tahun, Opa," kata Audrey mencium pipi Opanya.
Rasanya sudah sekian lama, Audrey tidak memeluk dan mencium opanya. Usia yang semakin tua, membuat opanya terlihat lebih lemah dan rapuh.
"Audrey, sekarang bukan hanya pendengaran Opa yang terganggu, penglihatannya juga semakin kabur," kata Bu Olin prihatin.
"Iya, Ma, Audrey mengerti.
Lihat Opa, ini cake ulang tahun untuk Opa. Audrey yang buat, nanti kita akan makan bersama," ucap Audrey memperlihatkan isi kotak yang dibawanya.
"Cake? Iya Opa suka cake. Cucu opa, bukankah kamu sudah menikah? Mana suamimu, siapa itu namanya?" tanya Opa tampak bingung.
Reiner maju menghampiri Opa dan berlutut di depan kursi rodanya.
"Saya Reiner, Opa. Suaminya Audrey."
"Oh ya kamu yang namanya sulit diingat itu," kata Opa menatap wajah Reiner.
Reiner tersenyum dan mencium tangan Opa.
"Selamat ulang tahun, Opa," ucap Reiner lembut.
Audrey terkejut melihat sikap Reiner yang berubah hangat kepada opanya.
"Ma, Audrey mengundang Om Jonathan ke rumah kita. Tapi kenapa Om Jonathan belum sampai ya? Audrey jadi khawatir," kata Audrey kepada Bu Olin.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu telpon saja, Drey."
Audrey baru saja hendak mengambil ponselnya, ketika ia melihat sebuah mobil sedan hitam yang datang di halaman rumahnya.
Itu mobil Om Jonathan.
gumam Audrey merasa lega.
Audrey buru-buru keluar dari rumahnya untuk menyambut Tuan Jonathan.
"Om, ada apa?" tanya Audrey melihat luka yang ada di tangan Tuan Jonathan.
"Audrey, maaf Om terlambat. Tadi Om hampir menabrak gerobak penjual sayur. Untung saja, Om masih bisa putar stir mobilnya. Kepala Om mendadak pusing saat menyetir."
"Ayo masuk, Om. Biar Audrey obati lukanya."
"Audrey, kenapa dengan Tuan Jonathan?" tanya Bu Olin khawatir.
"Tangan Om Jonathan terluka, Ma. Tadi hampir menabrak penjual sayur."
"Audrey, biar Mama yang obatin Tuan Jonathan. Kamu temani Reiner dan Opa."
"Iya, Ma."
"Om, bagaimana kabarnya? Kenapa Om terluka?" tanya Reiner ketika melihat keadaan Tuan Jonathan.
"Om tidak apa-apa, Reiner. Tadi Om sedikit pusing makanya hampir menabrak orang."
"Om sebaiknya kita pergi ke dokter," ucap Reiner merasa cemas.
"Tidak usah Rein. Om cuma perlu istirahat sebentar, nanti juga akan membaik."
Audrey mengambil obat di kotak P3K dan menyerahkannya kepada mamanya.
"Tuan, maaf kalau sedikit sakit," ucap Bu Olin mulai mengobati luka di tangan Tuan Jonathan.
"Tidak apa-apa Nyonya, terima kasih sudah membantu saya."
Setelah selesai menutup luka Tuan Jonathan dengan plester, Bu Olin membawakan segelas teh hangat.
"Silahkan minum tehnya, Tuan. Teh hangat bisa membantu menghilangkan pusing."
Raut wajah Tuan Jonathan tampak senang menerima teh dari Bu Olin.
"Mungkin saya terlalu banyak berdiam di rumah, Nyonya. Di usia saya sekarang, saya seharusnya rajin berolah-raga."
"Iya, Tuan. Mungkin Tuan bisa mulai dengan sekedar jalan-jalan di pagi hari. Atau ikut senam pagi bersama. Kebetulan saya ikut komunitas senam di lingkungan saya. Kegiatannya setiap hari jam tujuh pagi."
"Ide yang bagus, Nyonya. Kalau begitu mulai besok saya akan ikut," jawab Tuan Jonathan sambil tersenyum.
Reiner yang duduk menemani Opa, memperhatikan kedekatan Tuan Jonathan dan ibu mertuanya itu.
"Audrey, coba perhatikan Om Jonathan dan mamamu. Mungkin mereka akan cocok menjadi pasangan. Mereka bisa saling menghibur," bisik Reiner kepada Audrey yang masih sibuk mempersiapkan makan siang.
"Tuan, mama saya sudah lama menjanda dan tidak ada keinginan untuk menikah lagi. Begitu pula Om Jonathan yang baru saja kehilangan Sofia. Lebih baik mereka berteman dulu."
"Tidak ada salahnya mereka bersama jika memang cocok satu sama lain. Dan ingat, panggil aku Rein selama berada disini."
"I..iya Tuan, maksud saya Rein," jawab Audrey gugup.
__ADS_1
Entah mengapa memanggil nama Rein menjadi sesuatu yang terdengar aneh bagi Audrey.