Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
58 Firasat Buruk


__ADS_3

"Tuan, apa Anda belum mau pulang?" tanya Ryan melihat Tristan yang masih menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Kamu bisa pulang duluan, Ryan. Sebentar lagi aku akan pergi ke kafe bersama temanku," ucap Tristan menjawab asistennya itu.


Ryan sepertinya paham isi hati bosnya yang tampak sedang patah hati. Ryan melihat sendiri kejadian di acara makan malam itu, sebab ia hadir disana. Ia mengetahui kalau Tristan menyukai Audrey. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan karena Audrey adalah istri Reiner Bratawijaya.


"Tuan, saya mendengar berita dari Manager HRD kalau Nona Audrey mengajukan resign."


"Biarkan saja, mungkin suaminya yang menyuruh dia resign," jawab Tristan acuh tak acuh.


Tuan apa benar Anda tidak peduli? Tapi jika Nona Audrey pergi dari kantor ini, mungkin akan lebih baik untuk Anda.


pikir Ryan.


"Ryan, kamu boleh pulang. Aku akan menyetir mobil sendiri."


"Baik, Tuan."


Tristan melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke kafe. Ia sudah membuat janji dengan Steve untuk nongkrong bersama supaya bisa melupakan semua rasa sakitnya.


"Bro, apa kamu yakin mau minum? Dari dulu kamu paling gak tahan minum minuman beralkohol," kata Steve keheranan.


"Tenang, aku bisa mengatasinya. Aku cuma ingin bersenang-senang hari ini," jawab Tristan meyakinkan Steve.


"Bro, apa kamu seperti ini karena cewek yang kamu ajak makan malam tempo hari? Apa kamu putus dengan dia?" tanya Steve mencari tau.


"Steve, jangan membicarakan dia lagi. Dia itu sudah punya suami," ucap Tristan sambil meminum minumannya.


Steve terkejut mendengar pengakuan Tristan.


"What??? Tristan are you crazy? Jangan sampai jatuh cinta dengan istri orang, Bro. Di luar sana masih banyak cewek cantik yang bisa kamu pilih. You are handsome, rich, and CEO Oragon Group. Cewek-cewek pasti akan mengantri untuk menjadi pacarmu. Untuk apa melow hanya karena satu cewek, apalagi dia sudah jadi istri orang. Aku punya banyak kenalan cewek cantik dari kalangan artis dan sosialita. Aku bisa memperkenalkan mereka kepadamu. Di kafe ini juga banyak cewek cantik, Bro."


Steve menunjukkan beberapa orang gadis di kafe yang sedang mengobrol, sambil sesekali melirik ke arah Tristan.


"Kamu benar, Steve. Tapi hatiku masih terasa sakit. Aku tidak mungkin berganti wanita segampang itu. Aku belum pernah mencintai wanita lain seperti aku mencintai dia. Tapi dia malah menolakku dan memilih orang lain di depan mataku," jawab Tristan mulai meracau.


"Oh, Bro... dulu kamu selalu cepat bosan dengan pacar-pacarmu. Sekarang kenapa malah jadi budak cinta? Sudah, Bro, lupakan saja wanita itu. Move on.. Masih banyak wanita yang tergila-gila denganmu di luar sana," kata Steve memberikan nasehat kepada sahabatnya itu.


Tristan menganggukkan kepalanya. Namun entah mengapa di dalam hati ia merasa tidak yakin akan melupakan cintanya pada Audrey semudah itu. Walaupun Audrey sudah sangat melukai hatinya, ia tetap saja tidak mampu membencinya. Berpura-pura tidak peduli adalah salah satu caranya untuk coba melupakan Audrey. Namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahkan ia tersiksa setiap kali membayangkan Audrey bermesraan dengan Reiner. Kadang ia berharap waktu bisa diputar kembali, sehingga takdir akan mempertemukannya lebih awal dengan Audrey.


...****************...


Tak terasa hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari Rabu, hari terakhir bagi Audrey untuk bekerja di Oragon Group. Meskipun masih sedikit mual di pagi hari, namun Audrey merasa jauh lebih sehat menjalani kehamilannya. Itu semua karena Reiner yang selalu siap menjaga dan memanjakannya setiap hari. Reiner juga tidak segan memijat kaki Audrey, agar istrinya itu merasa lebih baik.


"Sayang, kamu ingin makan apa lagi?" tanya Reiner menyodorkan banyak makanan untuk sarapan Audrey.


"Rein, jangan memaksaku makan terus. Nanti aku bisa kelebihan berat badan. Apalagi kemarin kamu membelikan aku ice cream dan camilan. Pagi ini aku tidak ingin makan terlalu banyak. Aku masih harus berangkat ke kantor, Sayang."


Reiner memegang tangan Audrey.

__ADS_1


"Sayang, aku lega karena hari ini hari terakhirmu bekerja. Mulai besok kamu akan setia menungguku di rumah."


"Iya, Sayang. Apa hari ini kamu pulang malam, Rein? Kalau tidak, aku akan membuat makan malam yang spesial untukmu," tanya Audrey berharap Reiner akan pulang lebih cepat.


"Sayang, maaf hari ini aku ada pertemuan dengan Blue Union, aku tidak bisa pulang cepat. Kamu tidak perlu memasak. Aku mau kamu istirahat setelah pulang kantor. Jangan lupa nanti pulang tepat waktu dan jangan buat Pak Beni menunggumu terlalu lama," ucap Reiner mengingatkan istrinya.


Reiner mengelus perut Audrey untuk menyapa bayi mereka.


"Sayang, ingatkan mama supaya jangan bandel."


Para pelayan wanita yang ada di rumah itu ikut tersenyum senang melihat kemesraan antara Tuan dan Nyonya mereka.


...****************...


Audrey menyerahkan semua berkas penting dan kunci brankas yang dipegangnya selama ini kepada Pak Rizal. Ia juga sudah menyelesaikan laporan serah terima dengan para staff.


Tasya dan Susan menunjukkan wajah sedih mereka, ketika melihat Audrey membereskan barang-barangnya yang masih tertinggal di meja.


"Mbak, aku kepengen nangis," ucap Tasya memeluk Audrey.


"Iya, Mbak, kapan kita bisa ketemu lagi?" tanya Susan sedih.


Mata Audrey berkaca-kaca karena terharu.


"Kalian jangan membuatku menangis. Besok weekend aku akan mengajak kalian untuk makan siang bersama di rumahku. Apa kalian mau?" tanya Audrey.


"Tentu, Mbak. Akhirnya...aku bisa bertemu Reiner Bratawijaya," kata Tasya senang.


"Rindu Mbak Audrey donk. Tapi juga pengen ketemu suaminya," jawab Tasya sambil nyengir.


Audrey tertawa mendengar jawaban Tasya yang jujur. Pak Rizal yang mendengar perbincangan anak buahnya, ikut bergabung untuk meramaikan suasana.


"Ayo jangan sedih-sedih terus. Sekarang kita foto bersama saja untuk kenang-kenangan," ucap Pak Rizal memberikan ide.


Para staff finance menyetujui ide Pak Rizal. Dengan penuh semangat, mereka mengajak Audrey untuk foto bersama sambil menunjukkan berbagai pose yang seru. Setelah puas mengambil foto bersama, mereka mengucapkan salam perpisahan kepada Audrey.


"Mbak, nanti aku kirimkan foto-foto kita hari ini ke ponselnya Mbak."


"Iya, Susan, terima kasih."


"Mbak ditunggu undangannya untuk makan siang besok Sabtu ya," sambung Tasya mengingatkan Audrey.


"Audrey, semoga kamu dan bayimu sehat selalu. Jangan lupa memberitahu kami kalau kamu nanti melahirkan," ucap Pak Rizal tulus.


"Terima kasih, Pak Rizal. Terima kasih semua," ucap Audrey terharu.


Ia berpamitan kepada Pak Rizal dan semua staffnya sebelum pergi meninggalkan kantor. Bagi Audrey semua kenangan indahnya bersama mereka, tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.


Reiner tampak gelisah melihat jam di tangannya. Entah kenapa sejak siang ia mengkhawatirkan Audrey. Ada sebuah firasat buruk yang dia rasakan tentang istrinya itu.

__ADS_1


"Tuan, saya baru menerima telpon dari Blue Union. Mereka tidak jadi datang hari ini. Katanya mereka akan mereschedule jadwal meeting untuk besok sore," ucap Nicko memberikan info.


"Bagus, Nicko, kalau begitu aku akan menjemput Audrey."


"Tuan, bukankah Pak Beni sudah menjemput Nona?"


"Iya, tapi aku akan tetap menjemput Audrey. Hatiku tidak tenang," ucap Reiner berdiri dari mejanya.


Kenapa Tuan Reiner bersikap aneh? Tidak biasanya Tuan Reiner seperti ini.


pikir Nicko keheranan.


...****************...


Setelah berpamitan, Audrey meninggalkan ruangan finance dan menuju ke lobby. Ia buru-buru ke area parkir untuk mencari Pak Beni.


"Pak, sudah menunggu lama?" tanya Audrey melihat Pak Beni berdiri di depan mobil.


"Belum Nyonya. Tapi Tuan tadi berpesan kepada saya supaya langsung mengantarkan Nyonya pulang."


"Iya, Pak, ayo."


Pak Beni membantu Audrey memasukkan barang-barang yang dibawanya ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobil. Namun, Audrey tiba-tiba merasakan perutnya lapar. Ia tidak bisa menahan keinginannya untuk makan sesuatu yang manis.


"Pak, jangan pulang dulu. Kita mampir sebentar ke toko kue. Ada toko kue yang enak di dekat sini."


"Tapi, Nyonya, kata Tuan..."


"Pak, toko kuenya tidak jauh dari kantor. Reiner tidak akan melarang kalau kita pergi kesana. Setelah itu kita langsung pulang ke rumah," jawab Audrey memaksa Pak Beni.


"Baik, Nyonya."


Pak Beni tidak punya pilihan selain menuruti perintah istri tuannya itu.


"Pak, tunggu saja disini ya," pinta Audrey meninggalkan Pak Beni di area parkir.


Audrey berjalan meninggalkan Pak Beni menuju ke dalam toko. Ia sama sekali tidak tahu kalau ada sebuah mobil yang mengawasinya sejak tadi.


Pak Beni terkejut ketika mendengar suara ponselnya berdering.


"Pak, Audrey ada dimana? Apa sedang dalam perjalanan pulang? Aku sedang ada di kantor Audrey untuk menjemputnya," suara Reiner terdengar cemas.


"Tuan, saya sedang mengantarkan Nyonya ke toko kue."


"Dimana toko kuenya?"


"Kira-kira tiga blok dari kantor Nyonya, Tuan. Namanya Toko Danish Cake," jawab Pak Beni memberikan penjelasan.


"Baik, Pak, aku akan segera kesana. Jangan kemana-mana," ucap Reiner menutup panggilannya.

__ADS_1


Reiner melajukan mobilnya untuk mencari toko kue yang dimaksud Pak Beni. Karena lokasinya tidak jauh, ia bisa segera sampai di toko itu. Reiner memarkirkan mobilnya dan melihat Audrey baru saja keluar dari dalam toko. Namun, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah Audrey.


"Audrey...," teriak Reiner berlari keluar dari mobil untuk menyelamatkan istrinya.


__ADS_2