Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
73 Mendapatkan Restu


__ADS_3

"Reiner, Audrey, Papa senang kalian mau datang," sambut Tuan Alexander melihat kedatangan anak dan menantunya.


"Sayang, kamu tunggu disini. Aku akan bicara dengan Mama," ucap Reiner meminta Audrey menunggu di ruang tengah.


Tuan Alexander menyetujui keputusan Reiner.


"Benar, Audrey, kamu disini dulu bersama Papa dan Shane. Valeria butuh waktu untuk bicara berdua dengan Reiner."


"Iya, Pa."


"Pa, apa Mama masih tidak mau makan?" tanya Reiner memastikan keadaan mamanya.


"Iya, Rein. Mamamu tidak mau mendengarkan Papa, jadi lebih baik kamu yang bicara dengannya."


Reiner mengangguk dan bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.


Ia mengetuk pintu kamar mamanya sebelum masuk ke dalam.


"Siapa itu?" tanya Ny. Valeria dengan suara lemah.


"Ini Reiner, Ma."


"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."


Perlahan-lahan Reiner membuka pintu kamar mamanya. Ia melihat mamanya sedang berbaring di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat dan matanya juga bengkak seperti orang yang habis menangis semalaman. Hati Reiner tergerak melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah mamanya.


"Ma, kenapa Mama menyiksa diri sendiri? Mama harus makan. Jangan sampai Mama jatuh sakit," kata Reiner seraya memegang tangan mamanya.


"Kenapa kamu kesini, Rein? Apa Papamu yang memaksamu untuk datang? Bukannya kamu membenci Mama? Kenapa kamu masih peduli dengan kondisi Mama sekarang?" tanya Ny. Valeria ketus.


"Ma, aku dan Papa mencemaskan keadaan Mama. Aku tidak pernah membenci Mama. Kemarin aku hanya sedang marah karena Mama membohongi aku. Tapi bagaimanapun aku tetap sayang pada Mama. Maafkan aku kalau sudah membuat Mama sedih dan kecewa."


"Aku mohon Mama makan ya. Aku akan mengambilkan makanan untuk Mama," sambung Reiner berdiri dari tempat tidur.


"Tunggu, Rein. Apa yang sebenarnya kamu mau dari Mama? Apa kamu ingin melunakkan hati Mama supaya mau menerima Audrey?"


Reiner kembali duduk di samping tempat tidur untuk menemani mamanya.


"Aku tidak akan memaksa Mama untuk menerima Audrey sebagai menantu Mama. Aku ingin Mama memikirkan baik-baik alasan kenapa Mama membenci Audrey. Audrey tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti keluarga kita. Dia juga sangat menghormati Mama dan Papa. Audrey itu wanita yang baik hati. Bahkan dia selalu menasehatiku agar memaafkan Papa dan memahami perasaan Mama. Tidak pernah sekalipun dia dendam atau sakit hati pada Mama. Karena itu, semakin hari aku semakin mencintainya. Aku hanya ingin Audrey yang mendampingiku selamanya."


Ny. Valeria terdiam mendengar penjelasan dari putranya.


"Aku akan turun sebentar untuk mengambil makanan. Audrey dan Shane juga ada di bawah bersama Papa," ucap Reiner beranjak meninggalkan mamanya.


Apa benar yang dikatakan Reiner? Apa aku yang sudah keterlaluan pada Audrey? Aku juga belum pernah melihat cucuku sendiri.


pikir Ny. Valeria tersentuh dengan kata-kata Reiner.


Reiner kembali ke kamar mamanya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Ma, ayo makan," ucap Reiner menyuapi mamanya.

__ADS_1


Reiner merasa lega ketika Ny. Valeria bersedia untuk membuka mulutnya dan mulai makan.


Ny. Valeria memperhatikan wajah Reiner yang tampak sedang berbahagia. Berbeda dengan keadaan Reiner ketika ia terpisah dari Audrey setahun yang lalu. Saat itu Reiner sangat menderita hingga mengalami depresi berat. Mungkin memang benar bahwa Audrey adalah sumber kebahagiaan putranya saat ini.


"Rein, setelah Mama selesai makan, tolong panggil Audrey untuk membawa Shane kesini. Mama ingin melihat Shane sekaligus bicara dengan Audrey."


"Iya, Ma, aku akan memberitahu Audrey."


Dengan penuh kesabaran, Reiner menyuapi Mamanya hingga selesai.


"Rein, turunlah dan panggil Audrey sekarang."


"Iya, Ma," ucap Reiner menutup pintu kamar mamanya.


Sementara itu, Audrey masih menunggu dengan gelisah sambil memikirkan apa yang terjadi antara Reiner dan Ny. Valeria.


"Rein, bagaimana? Apa Mamamu sudah mau makan?" tanya Tuan Alexander penasaran melihat Reiner sudah turun ke bawah.


"Mama sudah makan, Pa. Aku berhasil membujuknya," jawab Reiner tersenyum lega.


"Bagus, Rein. Papa yakin cuma kamu yang bisa meluluhkan hati Valeria."


Reiner menghampiri Audrey yang sedang menggendong Shane.


"Sayang, Mama ingin bertemu denganmu. Ayo ikut aku ke atas bersama Shane," ucap Reiner membimbing Audrey naik ke lantai dua.


"Aku mohon jangan dimasukkan ke hati kalau Mama nanti mengatakan hal-hal yang membuatmu sedih. Ingatlah, kita saling mencintai dan tidak boleh berpisah."


"Aku akan menemanimu bicara dengan Mama," kata Reiner seolah tidak rela meninggalkan Audrey sendirian.


"Tidak usah, Sayang. Doakan saja supaya aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Mama," jawab Audrey tersenyum untuk menenangkan suaminya.


Audrey mengetuk pintu kamar Ny. Valeria dengan hati-hati.


"Ma, boleh Audrey masuk?"


"Masuklah, Audrey," terdengar suara Ny. Valeria dari dalam kamar.


Ketika Audrey memasuki kamarnya, Ny. Valeria tidak berhenti memandangi Shane yang ada dalam gendongan Audrey.


"Audrey, Shane sangat mirip dengan Reiner. Mama jadi teringat Reiner saat dia masih bayi," ucap Ny. Valeria terlihat bahagia melihat cucunya.


"Boleh aku menggendongnya?"


"Tentu saja, Ma. Mama tidak perlu bangun. Audrey akan membantu Mama menggendong Shane," kata Audrey menghampiri Ny. Valeria yang duduk bersandar di tempat tidur.


Mata Ny. Valeria berkaca-kaca ketika menyentuh pipi lembut Shane.


"Shane, Maafkan Oma. Oma baru melihatmu sekarang. Kamu lucu dan tampan sekali, Sayang."


"Aahh...uh.....eiii...aa...," celoteh Shane menatap wajah Ny. Valeria.

__ADS_1


"Shane pintar, bisa merespon perkataan Oma," ucap Ny. Valeria mencium tangan mungil cucunya.


Ny. Valeria mengalihkan pandangannya kepada Audrey.


"Audrey, pasti kamu sudah tau dari Reiner kalau Mama yang mengutus pengacara untuk memaksamu menandatangani surat cerai."


Ny. Valeria melanjutkan pengakuannya dengan suara bergetar.


"Mama ingin minta maaf, karena selama ini Mama berusaha memisahkanmu dari Reiner. Sebenarnya, Mama sadar bahwa kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mama sendiri yang belum bisa melupakan sakit hati Mama kepada Diana dan Dave, tapi malah melampiaskannya padamu. Lagipula Diana sekarang ada di dalam penjara. Dia tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi."


"Mama tidak perlu minta maaf. Audrey sekarang sudah menjadi seorang ibu, jadi Audrey bisa memahami apa yang Mama rasakan. Seorang ibu pasti ingin melindungi anaknya."


"Audrey, apa kamu tidak membenci Mama atau menaruh dendam pada Mama?"


Audrey menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ma. Mama sudah Audrey anggap sebagai orangtua Audrey sendiri. Audrey cuma ingin mendapatkan restu dari Mama, karena Audrey tidak ingin berpisah dari Reiner. Audrey sangat mencintai Reiner."


Ny. Valeria terharu melihat ketulusan Audrey.


"Terima kasih, Audrey. Mama sekarang paham kenapa Reiner mencintaimu. Kamu memang wanita yang paling tepat untuk menjadi istrinya Rein. Mulai sekarang Mama akan merestui kalian. Mama ingin kalian bahagia."


"Iya, khan Shane, Cucu kesayangan Oma?" tanya Ny. Valeria sambil tersenyum kepada Shane.


Shane melonjak-lonjak kegirangan dalam dekapan omanya.


Audrey sangat bahagia menyaksikan kedekatan Ny. Valeria dan Shane. Ia benar-benar bersyukur karena kehadiran Shane telah membuat hati ibu mertuanya itu luluh, hingga bersedia menerimanya sebagai menantu.


...****************...


Setelah berpamitan, Audrey dan Reiner membawa Shane pulang ke rumah.


"Sayang, apa kamu sudah lega sekarang?" tanya Reiner melihat wajah istrinya.


"Iya, Sayang. Restu dari Mama sangat penting untukku. Tidak ada lagi yang mengganjal di hatiku sekarang," ucap Audrey menyandarkan kepalanya di dada Reiner.


Reiner mengecup dahi Audrey.


"Aku juga bahagia karena Mama menyadari kesalahannya. Kebahagiaan kita sudah lengkap sekarang."


"Sayang, bagaimana kalau besok sepulang kantor kamu menemaniku ke makam Sofia dan Dave? Kita sudah lama tidak mengunjungi makam mereka. Aku ingin mendoakan mereka. Karena mereka berdua, kita bisa dipertemukan dan menjadi suami istri," kata Audrey menatap mata Reiner.


"Iya, Sayang, aku setuju. Sofia dan Dave memang berjasa menyatukan cinta kita. Aku berharap mereka juga bahagia di atas sana. Sekarang istirahatlah, sebelum aku berubah pikiran dan membuatmu kurang tidur seperti semalam," jawab Reiner memeluk Audrey.


Reiner dan Audrey tidur sambil berpelukan dengan penuh rasa bahagia.


Hi My Lovely Readers, Jangan lewatkan episode 74 yang merupakan episode terakhir "Membayar Karma Cinta."


Terima kasih atas kesetiaan kalian mengikuti kisah cinta Audrey dan Reiner.


Ditunggu like, komen, dan votenya.

__ADS_1


__ADS_2