Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
43 Audit Divisi Finance (Part 2)


__ADS_3

"Tuan, kita perlu menelusuri dulu kenapa amplop ini bisa ditemukan di dalam cabinet Audrey. Audrey adalah supervisor kami dan dia yang bertanggung-jawab atas penyimpanan uang dan surat berharga milik perusahaan. Tidak mungkin kalau dia mengambil uang setoran dan cek secara terang-terangan seperti ini. Apalagi di tengah-tengah proses audit," ucap Pak Rizal membela Audrey di hadapan para auditor.


"Benar, Tuan. Tapi buktinya memang kami temukan di cabinet milik Nona Audrey. Sebaiknya kita lakukan wawancara untuk investigasi lebih lanjut dengan Nona Audrey. Tuan Rizal dan Nona Karin bisa ikut bersama kami selama wawancara," jawab Tuan Adam.


Tristan yang melihat situasi semakin tidak kondusif, segera maju ke depan dan mencoba berbicara kepada para auditor.


"Tuan, kalau boleh saya memberi saran, lebih baik kita lihat dulu rekaman CCTV di ruangan finance. Mungkin ada petunjuk siapa pelakunya. Saya yakin Ibu Audrey sedang difitnah oleh seseorang."


"Benar, Tuan. Mari kita pergi ke ruang CCTV untuk melihat apa yang terjadi di ruangan finance pada jam makan siang," sambung Pak Rizal meyakinkan para auditor.


Pak Rizal, kedua orang auditor, dan Tristan menuju ke ruang CCTV yang ada di lantai dasar. Mereka bergegas menemui petugas security yang sedang bertugas hari itu.


"Pak Bimo, bisa tolong putarkan rekaman CCTV di ruangan finance hari ini. Terutama saat istirahat makan siang," ucap Pak Rizal meminta bantuan security.


"Baik, Pak Rizal. Tapi, maaf...saya lupa memberitahukan kalau CCTV di ruangan finance ada gangguan. Beberapa hari terakhir ini gambarnya sering buram dan goyang," jawab Pak Bimo merasa bersalah.


"Apa? CCTVnya rusak? Kenapa Bapak tidak melaporkan kepada saya atau ke bagian General Affair?"


"Maaf, Pak Rizal, saya benar-benar lupa. Kebetulan kemarin saya ijin tidak masuk. Pak Galih yang bertugas menggantikan saya."


"Pak Rizal, lebih baik kita coba periksa dulu rekamannya. Siapa tau ada petunjuk yang bisa kita temukan," ucap Tristan coba memberikan solusi.


Kedua auditor pun menyetujui ide Tristan itu.


"Benar, Tuan Rizal mari kita coba lihat rekamannya."


Pak Bimo mulai memutar rekaman CCTV di ruangan finance pada pukul dua belas siang. Namun gambar yang bergoyang dan buram membuat mereka semua tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya ada sekilas bayangan seorang wanita yang berada di ruangan itu.


"Kita tidak bisa memakai rekaman CCTV ini untuk mencari tau apa yang terjadi, Tuan Rizal. Jadi, satu-satunya cara kita harus melakukan wawancara investigasi seperti yang saya sebutkan tadi. Itu prosedur wajib yang harus dijalani oleh Nona Audrey dan juga Nona Karin sebagai saksi," ucap Tuan Adam kepada Pak Rizal.


Pak Rizal akhirnya menyetujui usulan Tuan Adam, karena ia tidak dapat menemukan solusi yang lain.


"Pak Rizal dan Tuan-Tuan, saya minta ijin kembali ke atas lebih dulu," ucap Tristan tiba-tiba.


"Iya, Tristan, silahkan."


Pak Rizal keheranan melihat perubahan ekspresi wajah Tristan yang tampak sedang menahan amarah.


Tristan menaiki lift menuju lantai atas dan langsung memasuki ruangan divisi finance. Ia melihat Audrey yang sedang duduk diam di mejanya dengan wajah pucat. Tasya, Susan, dan Renita sedang mencoba menenangkan Audrey dan memberikan air minum kepada atasannya itu.


"Mbak, tenanglah. Mereka pasti akan menemukan pelaku yang sebenarnya," ucap Tasya ikut sedih.


Tristan melewati Audrey dan berjalan cepat ke meja Karin. Gadis itu sedang duduk sambil mengelap air matanya dengan tissue.


"Karin, ayo ikut aku sebentar," ucap Tristan menarik tangan Karin.


"A...ada apa, Tristan? Kita mau kemana?" tanya Karin terkejut.


"Nanti kamu akan tau," jawab Tristan memaksa gadis itu mengikutinya.

__ADS_1


Tindakan Tristan yang mendadak itu, membuat para staff finance yang turut menyaksikannya menjadi heran.


Tristan membawa Karin masuk ke gudang arsip yang ada di ujung lantai tiga. Dengan gerakan cepat, Tristan mengunci pintu ruang arsip dan mendekati Karin.


"Tris..tan a..apa yang mau kamu lakukan?" tanya Karin ketakutan.


Sorot mata Tristan yang biasanya penuh keceriaan berubah menjadi dingin.


"Aku tau kamu yang sudah memfitnah Audrey. Lebih baik kamu mengaku sekarang!" bentak Tristan.


"Aku...tidak tau apa maksudmu?"


"Tidak tau??? Kamu pintar sekali berakting, Karin. Kamu tadi sengaja tidak ikut makan siang bersama kami, karena kamu berencana memasukkan amplop itu ke cabinet Audrey. Kamu pikir kamu gadis yang cerdik, tapi ternyata kamu sangat amatir."


"Tristan, kenapa kamu tega menuduhku? Mbak Audrey itu atasanku dan dia sangat baik padaku. Aku tidak mungkin melakukan hal yang jahat seperti itu. Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik," jawab Karin berusaha mengelak.


"Coba saja tuntut aku, kalau kamu berani. Aku punya bukti atas kejahatanmu."


"Bukti? Bukti apa maksudmu?"


"Kamu masih ingat kejadian dua hari lalu? Waktu itu tinggal kita berdua yang ada di ruangan finance. Aku merasa curiga dengan gelagatmu. Apalagi aku melihatmu mengambil sesuatu dari laci meja Audrey. Diam-diam aku mengikutimu dari belakang. Aku juga merekam perbuatanmu ketika kamu membuang flash disk itu ke tempat sampah."


Bibir Karin berubah pucat setelah mendengar ucapan Tristan.


"Ti..tidak mungkin kamu merekamnya. Kamu pasti bohong."


Tristan mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman video berdurasi pendek. Video itu memperlihatkan apa yang diperbuat Karin dengan sangat jelas.


"Bawa saja, aku tidak takut dengan ancamanmu! Lagipula bukti itu tidak ada hubungannya dengan kasus pencurian yang sedang dituduhkan kepada Audrey," jawab Karin menantang Tristan.


Sikap Karin yang tetap tidak mau mengakui kejahatannya, membuat emosi Tristan semakin memuncak. Ia mengunci Karin dengan kedua tangannya hingga gadis itu tidak bisa bergerak.


"Kamu berani menantangku? Kamu tau aku bisa menjebloskanmu ke penjara dengan sangat mudah. Dan aku juga bisa membuat hidupmu menderita."


"Memangnya siapa kamu? Kamu cuma seorang staff biasa yang sedang dibutakan oleh cinta kepada atasannya," ejek Karin.


Tristan tertawa menyeringai mendengar perkataan Karin.


"Sudah aku bilang khan kamu itu pembohong amatir. Kamu tidak cukup pintar untuk mengetahui siapa aku."


Tristan mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan mendekatkan kartu nama itu ke wajah Karin.


"Lihat dan dengar baik-baik! Aku adalah Tristan Manuel Tirtawiguna, CEO baru di perusahaan Oragon Group. Aku pewaris dari keluarga Tirtawiguna yang sangat disegani di kota ini," kata Tristan penuh amarah.


"Ka..kamu CEO baru Oragon Group?" tanya Karin seolah tidak percaya dengan ucapan Tristan.


"Kamu sudah tau siapa aku sekarang. Jadi, cepat akui perbuatanmu di depan Pak Rizal dan para auditor. Setelah itu cepat angkat kaki dari perusahaanku! Kalau kamu tidak melakukannya, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara," ucap Tristan seraya menarik tangan Karin keluar dari gudang arsip.


Karin berusaha memohon belas kasihan dari Tristan sambil menangis.

__ADS_1


"Tu..an Tristan, tunggu...Mohon dengarkan saya. Anda sudah salah mencintai Audrey. Dia itu wanita yang berhati kejam. Saya terpaksa melakukan semua ini, karena dia sudah menyebabkan kakak sepupu saya meninggal."


Tristan berhenti sejenak dan menoleh ke arah Karin.


"Kamu mencoba mengarang cerita lagi untuk menyelamatkan dirimu?"


"Tidak, Tuan. Ini benar. Audrey dulu pernah berpacaran dengan kakak sepupu saya. Tapi dia hanya mempermainkan perasaan kakak saya. Perbuatannya itu menyebabkan kakak saya sampai bunuh diri."


"Sstt...aku sudah muak mendengarkan kebohonganmu. Cepat sekarang juga kamu harus menemui para auditor!"


...****************...


Pak Rizal memandang Audrey dengan tatapan prihatin.


"Audrey, maafkan saya. Saya yakin kamu tidak bersalah. Tapi kita harus tetap menjalani prosedur investigasi untuk menyelesaikan masalah ini."


"Iya, Pak, saya mengerti. Terima kasih Bapak sudah percaya kepada saya. Bapak tidak perlu khawatir, saya akan menjawab semua pertanyaan dari auditor dengan sejujur-jujurnya," jawab Audrey berusaha untuk tegar.


"Baik, Audrey. Ayo kita sekarang ke ruang meeting untuk menemui para auditor."


Pak Rizal berjalan di depan Audrey dan membukakan pintu ruang meeting. Di meja berbentuk persegi panjang itu, Tuan Adam dan Tuan Leon sudah siap dengan laptop dan beberapa lembar kertas audit.


"Silahkan duduk Nona Audrey. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait hilangnya cek dan uang setoran dari pelanggan. Tolong Nona bisa bekerja sama dengan kami dan menjawab setiap pertanyaan sedetail dan sejujur mungkin."


"Baik, Tuan, saya pasti akan mengatakan semua yang saya tau."


Pembicaraan Audrey dan para auditor terhenti, ketika seseorang mengetuk pintu ruang meeting. Pak Rizal yang duduk di samping Audrey, buru-buru berdiri dan membukakan pintu.


"Tristan, Karin, ada apa ini?" tanya Pak Rizal terkejut.


"Sore, Pak, Karin ingin masuk dan mengatakan sesuatu tentang uang dan cek yang hilang," ucap Tristan mengantarkan Karin ke dalam ruang meeting.


"Oh, Nona Karin, silahkan duduk. Kami memang mencari Nona tadi. Keterangan Nona sangat kami perlukan," ucap Tuan Leon mempersilahkan Karin duduk.


"Keterangan apa yang ingin Anda sampaikan, Nona Karin?" sambung Tuan Adam mencari tau.


Dengan suara bergetar, Karin mulai berbicara.


"Tuan, sebenarnya saya sendiri yang meletakkan amplop itu di cabinet Audrey saat jam makan siang. Saya pura-pura tidak mengetahui hilangnya cek dan uang setoran dari pelanggan. Saya sengaja memasukkan uang dan cek itu ke dalam amplop dan diam-diam memasukkannya di cabinet milik Audrey. Saya ingin Audrey dituduh sebagai pencuri."


Mata Audrey terbelalak mendengar pengakuan Karin. Ia tidak menyangka gadis yang selama ini terlihat polos dan pendiam itu, tega melakukan perbuatan yang buruk terhadapnya.


"Astaga, Karin! Kenapa kamu sampai melakukan hal serendah itu?" tanya Pak Rizal seolah tidak percaya.


"Karena saya sangat membenci Audrey, Pak. Saya minta maaf, Pak Rizal. Mulai besok saya akan mengundurkan diri dari Oragon Group. Saya akan mengirimkan surat resign saya secepatnya. Saya permisi Tuan, Tuan."


Karin bangkit berdiri dan berlari meninggalkan ruang meeting. Audrey yang melihat Karin pergi sambil menangis berusaha mengejar gadis itu. Namun, tangan Tristan dengan cepat menahannya.


"Ibu tidak usah dikejar. Biarkan dia pergi."

__ADS_1


"Tapi, Tristan, aku ingin menanyakan kepada Karin, kenapa dia sangat membenciku?" ucap Audrey sedih.


"Kadang kita tidak perlu tau alasan mengapa seseorang membenci kita, Ibu. Saya yakin Karin akan menyesali perbuatannya."


__ADS_2