Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
48 Pernyataan Cinta


__ADS_3

Reiner melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menoleh maupun berbicara sedikitpun dengan Audrey sepanjang perjalanan. Sebenarnya, Audrey ingin sekali bertanya apa alasan Reiner pulang tanpa memberi kabar dan kini bersikap sangat aneh. Tapi rasa takut yang menyelimutinya, membuat Audrey mengurungkan niatnya itu.


Ini bukan jalan menuju apartemen. Dia mau membawaku kemana?


pikir Audrey cemas.


Reiner menepikan mobilnya di sebuah restoran cepat saji. Ia meninggalkan Audrey di dalam mobil dan memesan sejumlah makanan serta minuman di dalam restoran itu.


"Tunggu disini dan makanlah dulu. Kemarin kamu baru saja pingsan," ucap Reiner menyerahkan makanan yang dipesannya kepada Audrey.


Darimana dia tau aku pingsan? Apa Bi Mila yang memberitahunya?


Audrey tidak berani menolak perintah Reiner dan makan dalam diam. Ia melihat Reiner berjalan menjauh dari mobilnya sambil menerima telpon dari seseorang.


"Siang, Tuan Reiner. Saya tadi menghubungi Anda beberapa kali. Saya khawatir dengan keadaan Anda setelah mendengar cerita dari Bi Mila. Anda sekarang ada dimana, Tuan?" tanya Nicko terdengar cemas.


"Nicko, kamu tidak perlu ke apartemen. Aku tidak akan kembali kesana hari ini."


"Tapi Tuan, Anda mau membawa Nona Audrey kemana? Saya mohon Tuan jangan bertindak gegabah. Mungkin seseorang sengaja mengirimkan foto-foto itu untuk memfitnah Nona Audrey dan membuat Tuan marah. Saya akan menyelidiki dulu siapa pengirimnya dan apa tujuannya, Tuan."


"Kenapa sekarang kamu cerewet sekali, Nicko? Kamu sudah berani menasehatiku panjang lebar."


"Maaf, Tuan, saya hanya ingin mencegah Anda melakukan kesalahan yang nanti akan Anda sesali. Kemarin Nona Audrey pingsan dan menurut Bi Mila tubuhnya sangat lemah. Jadi mungkin pria yang bernama Tristan itu menggandeng Nona untuk membantunya agar tidak terjatuh."


"Nicko, aku tidak sebodoh perkiraanmu," jawab Reiner marah.


"Aku akan mengirimkan nomer ponsel yang mengirimkan foto-foto itu. Cepat kamu selidiki siapa pemiliknya. Dan yang terpenting, tolong cari tau siapa Tristan itu. Audrey mengatakan dia salah seorang staff finance. Tapi aku curiga melihat penampilan dan mobilnya. Dia berani mendekati istriku, pasti dia bukan orang biasa. Segera laporkan hasilnya padaku!"


"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya."


"Satu lagi, suruh Pak Martin dan para pelayan menyiapkan semua keperluanku dan Audrey di villa."


"Baik, Tuan. Saya lega ternyata Anda membawa Nona ke villa. Tuan tidak perlu marah lagi, saya akan melaporkan hasil penyelidikan saya secepatnya."


"Bagus, Nicko. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


Reiner menutup panggilannya dan kembali ke dalam mobil.


"Rein, kita mau kemana?" tanya Audrey memberanikan dirinya.

__ADS_1


"Kamu tidur saja kalau mengantuk. Aku akan membawamu ke luar kota," jawab Reiner menyalakan mesin mobilnya.


Apa lagi rencananya? Kenapa tiba-tiba mengajakku ke luar kota? Bagaimana ini, besok aku harus kembali bekerja.


pikir Audrey panik.


...****************...


Hampir tiga jam lebih berkendara di dalam mobil, membuat Audrey mengantuk. Dia baru terbangun ketika merasakan udara dingin yang menerpa tubuhnya. Audrey membuka matanya dan terkejut menyaksikan pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Dari dekat, ia bisa melihat pegunungan yang menjulang tinggi. Mobil Reiner melaju melalui sebuah jalan kecil di sebuah kawasan yang dipenuhi rumput dan berbagai tanaman hias. Di area masuk, terdapat sebuah kolam ikan dengan air terjun kecil yang menambah suasana asri. Dua orang security yang sedang berjaga, berdiri menyambut mobil Reiner dan membantunya untuk memasuki area parkir.


Di hadapan mereka, berdiri sebuah bangunan villa berlantai dua yang bernuansa etnik. Seorang pria berseragam tergopoh-gopoh keluar mendatangi Reiner dan Audrey.


Jadi dia membawaku ke villa? Apa villa ini miliknya?


batin Audrey bertanya-tanya.


"Sore, Tuan Reiner. Saya sudah siapkan semuanya sesuai instruksi Tuan Nicko."


"Sore, Pak Martin. Ini istriku, Audrey," ucap Reiner memperkenalkan Audrey kepada kepala pelayan villa itu.


"Sore Nyonya, saya Martin kepala pelayan di villa ini. Silahkan masuk, Nyonya," ucap Pak Martin dengan penuh hormat.


Pak Martin mengantarkan Reiner dan Audrey ke lantai dua.


"Tuan, Nyonya, silahkan beristirahat. Saya akan menyiapkan makan malam untuk Anda."


Setelah Pak Martin menutup pintu, Reiner menghampiri Audrey dan menatap mata istrinya itu dengan tajam. Karena ketakutan, Audrey berusaha menghindari Reiner. Namun Reiner mengunci gerakan Audrey dengan kedua tangannya, hingga tubuh gadis itu merapat ke dinding.


"A..ada apa Rein? Kenapa membawaku kesini? Be...sok aku harus...masuk kerja," ucap Audrey ketakutan.


"Masuk kerja??? Kenapa di pikiranmu selalu hanya ada pekerjaan? Atau kamu rindu bertemu dengan seseorang di tempat kerjamu itu?"


"Ti..tidak, aku hanya mengajukan cuti satu hari. Ada banyak tugas yang harus aku kerjakan besok."


"Jangan coba berbohong padaku, Audrey! Bukankah kamu ingin bertemu dengan pria yang bernama Tristan itu?" tanya Reiner dengan nada suara tinggi.


Audrey terkejut mendengar perkataan Reiner.


"Tristan? Aku sudah bilang dia itu staffku, Rein."

__ADS_1


"Staff?" ucap Reiner penuh kegetiran.


Reiner mengambil ponselnya dan menunjukkan foto-foto Audrey bersama Tristan.


"Kenapa kamu selalu pergi bersamanya? Kamu makan malam dengan pria itu saat aku tidak ada. Dan kenapa dia yang kebetulan menolongmu saat kamu pingsan? Kamu pikir aku tidak tau kalau dia menggendongmu dan menggandeng tanganmu dengan mesra. Bahkan kamu tersenyum bahagia ketika makan berdua dengannya."


Seolah tidak percaya, Audrey menatap foto-foto itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tidak menyangka ada orang lain yang sengaja mematai-matai dirinya dan mengirimkan foto itu kepada Reiner.


"Rein itu tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Audrey berusaha menjelaskan.


"Lalu apa yang terjadi antara kamu dan dia? Apa kamu bahagia jika bersamanya dan merasa menderita saat bersamaku? Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita."


Mata Audrey berkaca-kaca mendengar tuduhan Reiner.


"Rein, kenapa..kamu selalu salah paham dan menuduhku yang bukan-bukan?"


"Katakan Audrey, apa kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan untukku? Apa kamu tidak bisa merasakan kalau aku mencintaimu? Aku tidak akan pernah merelakanmu bersama pria lain. Kalau perlu aku akan memaksamu tetap berada disisiku," ucap Reiner putus asa.


Reiner mencium bibir Audrey dengan paksa. Air mata Audrey mulai mengalir dan dadanya terasa sesak. Ia tidak dapat menahan lagi perasaan sakit di hatinya. Dengan sekuat tenaga, Audrey berusaha mendorong tubuh Reiner dan melepaskan ciumannya.


"Lepaskan, aku, Rein! Kamu tidak pernah mencintaiku. Yang kamu lakukan selama ini cuma menyakitiku."


"Jadi seperti itu pendapatmu tentang diriku? Kamu mencintai Tristan karena dia bisa membuatmu bahagia?" tanya Reiner merasa sakit hati.


"Apa pedulimu tentang perasaanku? Apa kamu pernah peduli kalau aku sedih, aku cemas, aku sedang punya masalah atau aku merasa lelah? Kamu cuma suka memerintah dan menindasku, menganggapku sebagai pembantu. Membuatku menderita sudah menjadi kebiasaanmu. Kamu sengaja mempermainkan perasaanku supaya aku terjebak oleh cintamu. Kamu juga tidak pernah percaya dengan semua ucapanku. Apa itu yang disebut dengan cinta, Tuan Reiner?" ucap Audrey sambil terisak.


Perkataan Audrey bagaikan tamparan keras bagi Reiner. Ia baru sadar bahwa selama ini memang dirinya-lah yang telah membuat hidup Audrey tertekan dan menderita. Pantas saja ia menjadi pria yang sangat buruk di mata Audrey. Mungkin ia harus rela menerima kenyataan bahwa Audrey sangat membenci dirinya dan memilih untuk mencintai pria lain. Itulah karma cinta yang harus ditanggungnya saat ini akibat kesalahannya sendiri.


"Audrey, maafkan aku...Aku sudah membuatmu menderita selama ini," ucap Reiner sambil memeluk Audrey yang masih berlinang air mata.


"Aku seharusnya membencimu, Tuan Reiner. Kamu pria pemarah, suka mengancam, dan menuduh orang sembarangan. Tapi...aku terlalu bodoh sampai jatuh dalam perangkap cintamu," ucap Audrey memukul-mukul dada Reiner untuk meluapkan kemarahan yang sudah terlalu lama dipendamnya.


Reiner seakan tidak percaya mendengar apa yang baru diucapkan oleh istrinya itu.


"Sayang, apa yang kamu katakan tadi? Apa itu artinya kamu juga mencintaiku?"


"Iya, aku Audrey wanita yang bodoh dan kamu benci ini sudah mencintaimu. Apa Anda puas, Tuan Reiner? Anda berhasil menjalankan rencana balas dendam Anda sekarang," jawab Audrey menatap mata Reiner sambil menangis.


Kemarahan dan rasa sakit yang memenuhi hati Reiner mendadak lenyap begitu saja. Reiner berharap waktu berhenti saat ini juga. Ia tidak mengira bahwa cintanya kepada Audrey tidak bertepuk sebelah tangan. Audrey ternyata juga mencintainya sama seperti ia mencintai Audrey.

__ADS_1


__ADS_2