Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
57 Waktu Perpisahan


__ADS_3

Pak Beni mengarahkan mobilnya memasuki sebuah gerbang perumahan berwarna putih yang berdiri dengan megah. Di sekitar gerbang, terlihat banyak hiasan patung yang menambah keindahan pada kawasan perumahan itu. Beberapa orang security yang bertugas di depan, langsung mempersilahkan Pak Beni masuk saat melihat Reiner membuka kaca jendela mobilnya.


Di sepanjang jalan, berjejer rumah-rumah besar dengan deretan mobil mewah yang terpampang di garasi. Audrey menebak jika perumahan itu adalah kawasan tempat tinggal para pengusaha dan eksekutif ternama.


"Pak, ke blok tujuh," ucap Reiner memberikan petunjuk kepada Pak Beni.


"Baik, Tuan."


Reiner menggandeng tangan Audrey dan mengajaknya turun dari mobil.


"Sayang, ini rumah baru kita."


Audrey menatap rumah berlantai tiga dengan balkon yang luas dan pintu-pintu kaca yang ada di hadapannya. Di depan rumah ada sebuah taman minimalis yang dihiasi bunga lily, krisan, dan lavender.


"Rein, rumah ini cantik sekali. Dari mana kamu tau aku suka bunga-bunga ini?" tanya Audrey terkejut.


"Aku bertanya pada Mamamu. Aku sengaja menyuruh para pelayan menanamnya untuk memberimu kejutan."


Audrey mencium Reiner dengan penuh rasa bahagia.


"Sayang, terima kasih. Kamu sangat perhatian padaku."


"Mulai sekarang, aku ingin selalu membuatmu bahagia," ucap Reiner memeluk Audrey.


Reiner mengajak Audrey masuk ke dalam rumah dan memperlihatkan semua ruangan di rumah itu.


"Sayang, ini nanti kamar untuk anak kita. Kamu bisa menghiasnya dengan warna apa saja yang kamu suka."


"Ini masih terlalu cepat, Sayang. Nanti kalau kita sudah tau jenis kelamin anak kita, baru kita bisa menghiasnya. Oh ya, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Audrey penasaran.


"Sama saja. Tapi dari artikel yang pernah aku baca, anak laki-laki biasanya mirip dengan ibunya. Karena itu aku ingin anak laki-laki supaya dia mirip dengan istriku yang cantik ini," jawab Reiner menatap mata Audrey.


"Rein, kamu mulai lagi merayu. Apa nanti kamu akan merayuku seperti ini kalau aku berubah menjadi semakin gemuk?"


"Aku tidak peduli, bagiku kamu tetap cantik."


"Sayang, sekarang sebaiknya kamu istirahat di kamar. Kamu tidak boleh terlalu capek," ucap Reiner membantu Audrey naik ke lantai dua.


Setibanya di kamar, Reiner menyelimuti Audrey dan menyuruhnya untuk beristirahat.


"Rein..." kata Audrey ragu-ragu.


"Ada apa, Sayang? Apa kamu ingin makan sesuatu?"


"Besok Senin bolehkan aku masuk ke kantor? Aku mau menyerahkan surat pengunduran diri secara langsung kepada Pak Rizal. Selama ini Pak Rizal sangat baik padaku. Aku juga mau berpamitan kepada semua staff finance. Selain itu, aku punya tanggung-jawab memegang kunci brankas dan banyak data-data penting. Aku harus melakukan serah terima dengan Pak Rizal sebelum aku pergi."


Reiner berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Audrey.


"Baik, Sayang. Aku mengijinkanmu untuk pergi besok. Tapi jangan biarkan Tristan mendekatimu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk serah terima pekerjaanmu?"


"Sayang, peraturan resign harusnya satu bulan sebelumnya. Tapi aku minta waktu tiga hari untuk menyelesaikan semuanya."


Reiner memahami isi hati Audrey yang tidak ingin meninggalkan tanggung-jawabnya begitu saja.


"Baik, Sayang. Aku memberikan waktu tiga hari untukmu. Ingat untuk tetap menjaga kesehatanmu dan bayi kita."

__ADS_1


"Iya, Sayang, terima kasih."


Audrey benar-benar bahagia karena Reiner sekarang sangat memahami perasaannya dan percaya sepenuhnya kepadanya.


...****************...


Reiner mencium perut Audrey sebelum istrinya itu keluar dari mobil.


"Anakku Sayang, kamu baik-baik ya. Mama mau kerja dulu."


Audrey tersenyum dan mencium pipi Reiner.


"Sayang, jangan khawatir. Aku akan menjaga bayi kita. Aku janji akan pulang tepat waktu."


Audrey memasuki lobby kantor dan masuk ke dalam lift yang masih kosong. Namun, ia terkejut ketika pintu lift kembali terbuka. Audrey melihat Tristan dan asistennya, Ryan, masuk ke dalam lift. Tristan tampak mengabaikan keberadaan Audrey dan mengarahkan pandangannya ke depan.


Audrey menganggukkan kepala ke arah Ryan, tapi ia tidak berani menyapa Tristan.


Pasti Tristan membenciku setelah acara dansa itu. Tapi memang lebih baik kalau dia membenciku daripada mencintaiku. Aku berharap dia bisa menemukan wanita yang tulus mencintainya.


pikir Audrey merasa bersalah.


Audrey meninggalkan lift dan menuju ke ruangan finance. Sapaan hangat dari para staffnya tiba-tiba membuat Audrey sedih. Sebentar lagi, ia akan meninggalkan mereka dan kantor yang selama bertahun-tahun telah menjadi bagian hidupnya. Pekerjaan di Oragon-lah yang bisa menghiburnya dan membuatnya keluar dari kenangan buruk masa lalu. Namun, Audrey menguatkan hatinya. Ia sudah bertekad mengambil keputusan ini demi Reiner dan bayi yang sedang dikandungnya.


Selesai mengikuti briefing pagi, Audrey menemui Pak Rizal di ruangannya.


"Pak, maaf saya ingin membicarakan hal yang penting dengan Bapak."


"Iya, Audrey, ada apa?"


"Maaf, Pak, saya mengajukan pengunduran diri sebagai supervisor finance. Saya akan menyelesaikan serah terima pekerjaan saya ke Bapak selama tiga hari kedepan. Jadi hari Rabu adalah hari terakhir saya bekerja."


"Audrey, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu mengajukan resign secara mendadak? Dan kenapa kamu tidak menunggu dulu selama sebulan?" tanya Pak Rizal terkejut.


Audrey merasa sudah saatnya dia berkata jujur kepada Pak Rizal.


"Pak, sebenarnya saya sudah menikah. Maafkan saya karena saya tidak mengatakannya kepada Bapak selama ini."


"Kamu sudah menikah? Kapan kamu menikah, Audrey?"


"Saya menikah beberapa bulan yang lalu, Pak. Sekarang saya sedang mengandung dan saya harus lebih banyak istirahat. Karena itu saya mengundurkan diri dari kantor."


"Kalau memang itu alasannya, saya tidak bisa menghalangi kamu, Audrey. Keluarga memang lebih penting."


"Iya, Pak. Saya mau mengucapkan terima kasih kepada Bapak karena telah membimbing saya selama ini."


"Sama-sama, Audrey. Saya harap kamu dan bayimu selalu sehat."


"Terima kasih, Pak."


"Audrey, menurut kamu apakah ada staff kita yang cocok menjadi supervisor?"


"Saya rasa Yudha atau Susan punya potensi untuk menjadi supervisor, Pak. Nanti kalau Bapak membutuhkan saya untuk mentraining mereka, saya pasti siap membantu."


"Baik, Audrey, terima kasih. Kita mulai saja serah terimanya per hari ini. Saya akan menyerahkan surat pengunduran dirimu kepada Manager HRD."

__ADS_1


Audrey merasa lega karena Pak Rizal menerima keputusan pengunduran dirinya.


Ketika tiba waktunya makan siang, Audrey mengajak staffnya untuk makan siang bersama. Ia harus mengatakan kepada mereka kalau sebentar lagi dirinya akan mengundurkan diri dari kantor.


"Mbak Audrey, benar Mbak akan resign?" tanya Tasya sedih.


"Iya, Tasya. Aku terakhir kerja besok Rabu."


"Kenapa Mbak buru-buru resign? Mbak itu atasan kita yang paling baik dan manis. Apa CEO kita yang menyuruh Mbak resign? Dia mau melamar Mbak?" tanya Susan penasaran.


"Bukan, Susan. Aku sudah menikah. Tidak mungkin aku menikah lagi," ucap Audrey sambil tersenyum.


Para staff Audrey tampak terkejut mendengar pengakuan atasannya itu.


"Ha? Mbak sudah menikah? Dengan siapa Mbak menikah? Kenapa gak mengundang kita?" tanya Tasya terkejut.


"Lalu gimana nasib CEO kita, dia pasti patah hati," sambung Renita memikirkan Tristan.


Audrey menggelengkan kepalanya. Tapi anak buahnya terus mendesak padanya untuk menyebutkan siapa nama suaminya.


"Mbak, siapa suami Mbak? Jangan buat kami penasaran," ucap Susan memohon.


"Mungkin suami Mbak Audrey lebih keren dari CEO kita," celetuk Jessy menebak-nebak.


Audrey berusaha menenangkan anak buahnya yang sedang heboh sendiri.


"Kalian ini jangan suka bergosip."


"Mbak, ayolah anggap ini sebagai hadiah perpisahan untuk kami semua," kata Tasya merayu Audrey.


Audrey akhirnya menyerah. Ia menunjukkan sebuah foto dari ponselnya ketika ia bersama dengan Reiner di kebun strawberry.


"Ya ampun, ini khan Reiner Bratawijaya, CEO muda yang super ganteng dan sukses itu. Dia sering muncul di majalah dan berita bisnis di internet. Aduh keren banget Mbak Audrey punya suami Reiner Bratawijaya," puji Susan berdecak kagum.


"Makanya Mbak Audrey langsung resign. Harta suaminya buat tujuh turunan gak akan habis," sambung Renita.


"Mbak, tolong undang kita kapan-kapan ke rumah donk. Pasti rumah Mbak mewah banget seperti di film. Terus kita semua ingin foto bareng suaminya Mbak. Nanti aku upload fotonya di medsos biar pada kaget," ucap Tasya senang membayangkan khayalannya.


Audrey tersenyum mendengar kehebohan dan keceriaan staffnya yang kadang suka berlebihan itu. Namun, ia yakin pasti akan merindukan mereka nanti saat ia sudah tidak bekerja.


...****************...


Karin duduk di samping Ny. Diana yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Tante, apa yang sedang Tante pikirkan?"


"Tante sedang memikirkan cara menyingkirkan Audrey."


"Tante, sudahlah. Reiner Bratawijaya khan sudah memperingatkan Tante. Lebih baik Tante lupakan saja dendam Tante pada Audrey. Audrey itu dilindungi dua orang pria yang berkuasa, Reiner dan Tristan. Kita tidak akan menang melawan mereka," ucap Karin meyakinkan Ny. Diana.


"Karin, kamu pikir Tante bisa melupakan kematian Dave begitu saja? Tante tidak akan hidup tenang sebelum membalas Audrey."


"Lalu apalagi yang Tante rencanakan? Jangan membahayakan diri Tante sendiri," kata Karin cemas.


Senyuman tersungging di bibir Ny. Diana.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Karin. Kamu bilang Audrey dilindungi dua orang pria. Tante akan mencari celah ketika dia sedang sendirian. Saat tidak ada yang melindunginya, Tante akan menyingkirkannya dengan mudah."


__ADS_2