
Reiner membanting pintu ruangannya dan berjalan keluar menghampiri Nicko.
"Ada apa, Tuan? Apa Abram Darusman sudah mengakui perbuatannya?" tanya Nicko mencari tau.
"Nicko, bawa orang itu pergi dari sini! Aku harus ke rumah orang tuaku sekarang untuk menemui Mama," kata Reiner seraya melangkah pergi.
Kenapa Tuan Reiner terlihat sangat marah? Apa yang dikatakan Abram Darusman sebenarnya?
batin Nicko bertanya-tanya.
Reiner melajukan mobilnya dengan kencang. Hatinya benar-benar terasa sakit setelah mengetahui perbuatan mamanya. Selama ini, Reiner menganggap mamanya sebagai seorang wanita yang sangat baik dan berhati lembut. Bahkan mamanya telah berlapang hati untuk memaafkan segala kesalahan papanya di masa lalu. Mamanya-lah sosok yang siap mendampinginya di saat sulit dan selalu mendukung semua keputusannya. Namun entah mengapa mamanya kini telah berubah. Ia justru ingin menghancurkan hubungan Reiner dengan wanita yang dicintainya.
Reiner memasuki gerbang rumah orang tuanya dengan perasaan campur aduk. Rumah megah yang dulu menjadi tempatnya dibesarkan, kini malah terasa asing baginya. Security yang berjaga di rumah keluarga Bratawijaya, langsung membukakan gerbang ketika melihat mobil Reiner akan masuk.
"Tuan Muda apa kabar?" sapa Pak Irwan menyambut kedatangan Reiner di depan pintu.
"Pak, apa Mama ada di rumah?"
"Nyonya ada di kamarnya, Tuan. Kalau Papa Anda, Tuan Alexander, sedang pergi bersama rekan bisnisnya."
"Tuan ingin makan atau minum apa, biar saya ambilkan," sambung Pak Irwan.
"Tidak usah, Pak. Aku ke dalam dulu."
Tuan Muda Reiner sepertinya sedang marah. Apa yang terjadi?
batin Pak Irwan penasaran melihat ekspresi wajah Reiner.
Reiner menaiki tangga ke lantai dua dan membuka pintu kamar mamanya. Ia mendengar mamanya sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Iya, Ros, Rein sudah sembuh. Nanti datang saja ke rumah bersama Bianca, aku tunggu. Kita belanja bersama ke butik," kata Ny. Valeria.
Ny. Valeria tampak terkejut melihat kedatangan Reiner. Ia buru-buru menutup telponnya.
"Nanti aku telpon lagi, Ros."
"Rein, ada apa, Sayang? Kenapa tidak memberitahu Mama kalau kamu mau datang kesini?" tanya Ny. Valeria memperhatikan ekspresi wajah Reiner yang tidak biasa.
"Ma, kenapa Mama melakukan semua perbuatan buruk ini? Apa Mama tau perbuatan Mama telah melukaiku?" ucap Reiner penuh kegetiran.
"Mama tidak mengerti apa yang kamu maksud, Rein? Perbuatan apa?" jawab Ny. Valeria pura-pura tidak mengerti makna dari pertanyaan Reiner.
Suara Reiner terdengar bergetar saat mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Ma, aku tidak percaya sampai sekarang Mama masih juga berbohong. Kenapa Mama menyuruh Tuan Abram untuk membuat surat gugatan cerai atas namaku? Apa kebencian Mama sebegitu besarnya pada Audrey sampai Mama mengorbankan kebahagiaanku?"
Mata Ny. Valeria nampak berkaca-kaca mendengar tuduhan yang diberikan Reiner kepadanya.
"Iya, Rein, Mama memang yang merencanakan semua nya. Mama memerintahkan Tuan Abram untuk memakai namamu agar bisa memaksa Audrey menandatangani surat cerai. Mama ingin dia pergi dari hidupmu selamanya. Kamu akan lebih bahagia jika menikah dengan Bianca," kata Ny. Valeria mengakui perbuatannya.
"Kenapa Mama tidak memikirkan perasaanku? Aku sangat mencintai Audrey, aku tidak ingin wanita yang lain. Aku tidak bisa hidup tanpa Audrey di sampingku. Kami sudah punya anak. Kalau Mama tidak peduli lagi denganku, paling tidak pikirkan nasib Shane. Apa Mama juga setega itu dengan cucu Mama sendiri?" tanya Reiner menahan amarah sekaligus kepedihan di hatinya.
Ny. Valeria mulai meneteskan air matanya.
"Mama justru ingin bertanya padamu kenapa kamu sengaja merahasiakan masa lalu Audrey? Mama kecewa kepadamu Rein. Ternyata kamu mengabaikan perasaan Mama dengan menikahi mantan kekasih adik tirimu. Apa kamu tidak membayangkan bagaimana Mama nanti menghadapi ini? Mama akan teringat pengkhianatan papamu tiap kali melihat Audrey. Cuma kamu alasan Mama bertahan selama ini. Mama sangat sayang padamu, tapi kamu sudah berubah. Kamu tidak menyayangi Mama seperti dulu. Kamu lebih memilih istrimu daripada Mama. Bahkan kamu berani membentak Mama sekarang."
"Ma, Audrey tidak ada hubungannya dengan perselingkuhan yang dilakukan Papa. Kenapa Mama malah menyalahkannya? Audrey justru menjadi korban. Dia juga trauma dan tersakiti karena masa lalunya bersama Dave."
Reiner memegang tangan Mamanya yang masih menangis.
"Perasaanku tidak pernah berubah, aku selalu menyayangi Mama. Maafkan aku kalau Mama menganggapku sudah menyakiti hati Mama. Mama adalah satu-satunya yang bisa memahamiku sejak aku kecil. Apa sekarang Mama tidak bisa merasakan besarnya cintaku pada Audrey? Aku sudah pernah kehilangan Sofia. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya."
Ny. Valeria memandang mata putranya dengan tatapan sendu. Sejak Reiner beranjak dewasa, ia telah melihat putranya itu meneteskan air mata karena kesedihan yang mendalam. Yaitu pada saat mendengar berita kematian Dave dan ketika Sofia, calon istrinya, meninggal dunia. Dan saat ini, Ny. Valeria kembali melihat air mata kepedihan Reiner akibat kesalahan yang sudah dilakukannya secara sengaja.
Hati Ny.Valeria tergerak untuk menyembuhkan luka hati putra kesayangannya itu.
"Rein, maafkan Mama..."
"Ma, aku mohon tolong jangan ganggu kehidupan rumah tanggaku lagi. Terimalah Audrey sebagai istriku dan menantu Mama. Maaf, Ma, aku harus pulang sekarang," kata Reiner melepaskan tangan mamanya.
Namun Reiner tidak menghiraukan panggilan mamanya. Ia tidak ingin berada lebih lama di tempat itu.
Reiner menutup pintu kamar mamanya sambil menyesali keadaannya sendiri.
Tuhan, kenapa nasibku seperti ini? Dulu papaku yang melakukan pengkhianatan. Sekarang mamaku yang paling aku sayang dan percaya juga telah mengkhianatiku.
batin Reiner merasa tersakiti.
...****************...
Meskipun perasaannya sedang kacau balau, Reiner memutuskan untuk tetap menemui Tristan. Ia bertekad untuk menyelesaikan semua rintangan yang ada dalam hubungannya dengan Audrey.
Reiner masuk ke dalam cafe dan melihat Tristan sudah duduk menunggunya di meja paling ujung.
"Apa kabar, Tuan Reiner. Kelihatannya Anda sudah sehat sekarang," kata Tristan memperhatikan Reiner.
"Kabar saya baik. Saya tidak ingin berbasa-basi dengan Anda, Tuan Tristan. Saya mengajak Anda bertemu untuk menegaskan bahwa saya sudah kembali. Sekarang saya akan selalu bersama dengan Audrey dan Shane. Saya harap Anda memahami hal ini dan bisa menjauh dari istri dan anak saya."
__ADS_1
"Jadi cuma itu yang ingin Anda katakan?" tanya Tristan menanggapi ucapan Reiner.
"Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Anda karena sudah menolong istri saya. Tapi sebagai sesama pria, kita mengerti kalau pria dan wanita tidak akan bisa menjadi teman biasa. Saya yakin Anda paham benar tentang hal ini. Anda adalah orang yang berpendidikan dan cerdas. Saya rasa Anda tau bahwa tidak pantas jika seorang pria lajang berteman dengan wanita yang sudah bersuami," ucap Reiner menegaskan kata-katanya.
Tristan tersenyum mendengar ucapan Reiner.
"Tuan Reiner saya sangat paham dengan perasaan Anda. Tanpa saya mengatakannya sekalipun, Anda pasti tau kalau saya mencintai Audrey. Tapi perlu Anda ingat semua ini terjadi karena kesalahan Anda sendiri. Anda yang dulu memaksa Audrey untuk menyembunyikan statusnya sebagai istri Anda. Karena itu, saya terlanjur mencintainya."
Beraninya dia mengatakan cinta pada Audrey di hadapanku.
pikir Reiner marah.
Reiner menarik kerah kemeja Tristan dan mendekatkan wajahnya.
"Tristan, jangan mulai memancing emosiku atau aku akan melupakan sopan santun denganmu."
Tristan menatap mata Reiner dengan tajam.
"Saya hanya ingin bicara jujur, karena saya tidak suka menyimpan kebohongan seperti Anda. Tapi Anda tidak perlu khawatir Tuan Reiner, saya tidak akan menemui Audrey lagi. Saya ingin melihat dia hidup bahagia. Dan sayangnya dia hanya bisa bahagia jika bersama Anda. Jadi saya memutuskan untuk menyerah dan merelakannya bersama Anda."
Tristan melepaskan kerah kemejanya dari genggaman Reiner dan berdiri dari kursinya.
"Sebelum saya pergi, saya cuma minta satu hal Tuan Reiner. Jangan pernah meninggalkan Audrey sendirian lagi. Cintailah dia sepenuh hati apapun yang terjadi. Saya permisi," kata Tristan beranjak pergi meninggalkan Reiner.
Apa sebesar itu cintanya pada Audrey?
gumam Reiner merasa cemburu.
Tristan, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu mencintai Audrey. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kami.
janji Reiner pada dirinya sendiri.
.
.
.
Hi, Readers kesayanganku. Cerita Audrey dan Reiner sudah memasuki episode-episode terakhir. Terima kasih atas atensi dan kesetiaan kalian selama ini. Simak terus kisahnya sampai tamat ya.
Nantikan novel baru dari author yang akan rilis akhir Juli. Judulnya nanti author umumkan di bab terakhir novel "Membayar Karma Cinta"
Jangan lupa tambahin like, komen, dan votenya.
__ADS_1
Thanks and love you all
Icha Lauren