
"Tristan, turunkan saja aku di lobby," kata Audrey melihat mobil Tristan akan memasuki kawasan apartemen Amarilla.
"Saya akan mengantarkan Ibu masuk. Saya tidak mau Ibu pingsan lagi di tengah jalan. Wajah Ibu masih pucat," jawab Tristan mengarahkan mobilnya ke area parkir apartemen.
"Jangan, Tristan. Aku sudah kuat. Aku bisa jalan sendiri."
Tristan tidak menghiraukan permintaan Audrey. Setelah memarkirkan mobilnya, Tristan membukakan pintu dan menggandeng tangan Audrey untuk membantunya berjalan.
Di lobby, Bi Mila sedang gelisah menunggu kedatangan Audrey. Sejak pukul lima sore, ia sudah bersiap menyambut istri tuannya itu. Namun yang ditunggunya tidak kunjung muncul juga.
Nyonya kenapa Anda belum pulang? Tuan mungkin sudah menelpon Anda beberapa kali.
Bi Mila langsung bangkit berdiri, ketika melihat Audrey memasuki lobby dengan dibantu oleh seorang pria.
Siapa pria yang bersama Nyonya Audrey? Kalau Tuan melihatnya menggandeng tangan Nyonya, Tuan pasti akan marah besar.
"Nyonya, ada apa? Apa Anda sakit?" ucap Bi Mila cemas.
"Aku baik-baik saja, Bi Mila," ucap Audrey dengan suara lemah.
"Oh, jadi ini pembantu Ibu? Bibi, tolong bawa Nona Audrey ke atas. Tadi dia pingsan di kantor," sambung Tristan berbicara kepada Bi Mila.
"Nyonya pingsan? Tuan, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya akan membantu Nyonya ke lantai atas," ucap Bi Mila mengambil alih tangan Audrey.
"Bibi yakin tidak perlu bantuan saya?" tanya Tristan meragukan kemampuan Bi Mila yang bertubuh pendek.
"Tidak perlu, Tuan..."
"Tuan Tristan," sambung Tristan memperkenalkan namanya.
"Maaf, Tuan Tristan. Tuan saya tidak mengijinkan orang lain masuk ke apartemennya."
"Tuan..? Tuan siapa yang Bibi maksud?" tanya Tristan penasaran.
"Permisi Tuan, saya harus segera mengantarkan Nyonya ke atas."
"Tristan, terima kasih sudah mengantarku," ucap Audrey berpamitan.
Bi Mila buru-buru mengajak Audrey masuk ke dalam lift, sebelum Tristan menanyakan lebih banyak hal yang akan menyulitkannya.
Bi Mila membuatkan segelas teh hangat untuk Audrey.
"Nyonya, silahkan diminum dulu tehnya. Saya akan siapkan air hangat untuk Anda mandi."
"Bi, apa Reiner sudah menelpon?" tanya Audrey sembari menyandarkan kepalanya di sofa.
"Saya tidak tau Nyonya, saya sudah di lobby sejak pukul lima. Apa Tuan tidak menghubungi ponsel Nyonya?"
"Ponsel dan tasku tertinggal di kantor waktu aku pingsan tadi, Bi."
"Tunggu saja Nyonya, mungkin sebentar lagi Tuan akan menelpon. Saya permisi dulu Nyonya."
"Iya, Bi."
Audrey masih merasakan sedikit pusing di kepalanya. Entah mengapa, ia ingin sekali mendengar suara Reiner malam ini. Ada sesuatu di hatinya yang membuatnya merindukan Reiner lebih dari biasanya.
__ADS_1
...****************...
Selesai berbicara dengan Ethan, Reiner langsung kembali ke kamarnya. Pikirannya sudah dipenuhi berbagai rencana indah untuk Audrey.
Aku akan memberi kejutan untuk Audrey. Aku akan membuang surat kontrak pernikahan yang aku buat. Kemudian aku akan minta maaf dan menyatakan cintaku padanya. Setelah itu, aku akan mengajaknya pergi berbulan madu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
pikir Reiner sembari tersenyum memikirkan ide romantisnya.
Reiner kini benar-benar sudah yakin dengan cintanya pada Audrey. Ia tidak dapat menahan diri untuk segera menghubungi wanita yang dicintainya itu.
Reiner melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh. Kemungkinan Audrey sudah pulang dan ada di apartemen. Dengan antusias, Reiner menekan nomor ponsel Audrey. Nada sambung menunjukkan bahwa panggilan telponnya masuk. Namun tidak ada yang mengangkatnya hingga panggilan itu mati secara otomatis. Reiner mencoba menelpon ulang beberapa kali, tapi hasilnya nihil. Akhirnya dia menyerah dan mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponsel Audrey.
Sayang, apa kamu sudah pulang?
Aku mengkhawatirkan keadaanmu.
Tolong kabari aku segera.
Reiner mengirimkan pesannya sambil menunggu balasan dari Audrey. Karena tidak ada jawaban yang diterimanya, Reiner memutuskan untuk menelpon ke apartemennya. Namun meskipun panggilan telponnya tersambung, lagi-lagi tidak ada yang menjawab panggilan itu.
Kemana Bi Mila? Kenapa dia juga tidak mengangkat telponku? Apa Bi Mila masih di lobby menunggu Audrey pulang? Audrey dimana kamu, kenapa kamu membuatku khawatir? Aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian.
batin Reiner merasa cemas.
Pikiran-pikiran buruk memenuhi kepala Reiner. Ia tidak tau harus berbuat apa saat ini. Satu-satunya orang yang masih bisa dihubunginya adalah Nicko, asisten pribadinya.
"Halo, Nicko, apa Bi Mila sudah menghubungimu?" tanya Reiner kepada Nicko.
"Belum Tuan, apakah Nona Audrey belum pulang dari kantor?"
"Aku tidak tau. Dia tidak menjawab telpon maupun membalas pesan dariku. Aku sudah menelpon ke apartemen, tapi tidak ada yang menerima panggilan dariku."
"Aku rasa ini sudah terlalu malam disana. Coba saja kamu telpon ke apartemenku, Nicko. Lalu tolong atur kepulanganku malam ini juga," kata Reiner tiba-tiba.
"Tapi Tuan, bukankah besok Anda harus menemui Tuan Justin?"
"Batalkan saja janji bertemu dengan Justin. Dan minta maaflah pada Justin atas namaku. Aku sudah tidak butuh saksi lain lagi. Audrey memang tidak bersalah. Aku hanya ingin pulang dan memastikan Audrey baik-baik saja."
"Baik, Tuan, saya akan segera mengabari Anda dan mempersiapkan semuanya," jawab Nicko menenangkan bosnya yang terdengar panik itu.
Reiner menunggu kabar dari Nicko dengan tidak sabar. Ini adalah kedua kalinya dia merasa putus asa dalam ketidakpastian. Sama seperti ketika dulu ia harus menunggu hasil operasi Sofia. Betapa dunia Reiner seolah runtuh berkeping-keping, setelah ia mengetahui bahwa operasi Sofia gagal. Reiner sungguh tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi pada wanita yang dicintainya. Jika hal itu sampai terjadi, mungkin dirinya tidak akan mampu bertahan.
"Malam, Tuan, ada yang ingin saya sampaikan," sapa Nicko berusaha agar suaranya terdengar tetap tenang.
"Bagaimana Nicko, apa Audrey atau Bi Mila menjawab telponmu?"
"Bi Mila yang mengangkat telpon saya, Tuan. Bi Mila mengatakan Nona Audrey sudah tidur. Tadi Nona Audrey sempat pingsan di kantor. Dan Nona diantar pulang ke apartemen oleh seorang pria."
Reiner terkejut mendengar ucapan Nicko.
"Apa Audrey pingsan? Kenapa dia sampai pingsan? Apa Bi Mila sudah mengantarnya ke dokter?"
"Belum, Tuan. Nona hanya ingin istirahat. Kata Bi Mila, Nona Audrey tadi sangat pucat dan harus dibantu untuk berjalan. Pria yang mengantarnya juga menggandeng tangan Nona, karena tubuh Nona Audrey masih lemah."
Ada pria yang menggandeng tangan istriku. Apa dia staff Audrey yang bernama Tristan itu?
__ADS_1
"Nicko, apa Bi Mila tau siapa nama pria yang mengantar istriku?" tanya Reiner mencari tau.
"Kalau tidak salah, namanya Tristan, Tuan."
Tristan, lagi-lagi dia. Kenapa selalu dia yang bersama Audrey?
pikir Reiner merasa kesal.
Reiner berusaha meredam rasa cemburunya. Kini dia harus lebih mementingkan kesehatan Audrey daripada urusan lainnya.
"Nicko aku harus berangkat sekarang juga. Kapan pesawatku siap?"
"Sekitar dua jam lagi, Tuan. Saya akan menghubungi Anda segera."
"Baik, aku tunggu kabar darimu," kata Reiner menutup panggilannya.
Audrey, tunggu aku. Semoga kamu baik-baik saja, Sayang.
batin Reiner masih mencemaskan istrinya.
...****************...
Suara ketukan di pintu, memaksa Ny. Diana keluar dari kamarnya. Ny. Diana baru hendak memejamkan matanya setelah seharian lelah menantikan kabar dari Karin.
Siapa yang malam-malam datang menggangguku? Apa itu Karin?
Ny. Diana mengintip melalui jendela rumahnya dan melihat Karin sedang berdiri di depan pintu.
"Karin, kenapa kamu baru pulang semalam ini? Apa kamu berhasil dengan rencanamu? Audrey sudah dipecat dari Oragon Group? Atau dia dilaporkan ke polisi?" tanya Ny. Diana bertubi-tubi kepada Karin.
Karin tertunduk sedih. Matanya masih terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.
"Maaf, Tante, Karin sudah gagal. Audrey benar-benar beruntung. Dia diselamatkan lagi oleh Tristan. Dan Tante tau, Tristan itu siapa? Dia ternyata CEO baru Oragon Group yang menyamar sebagai staff finance. Tristan sudah mengancam Karin agar mengaku di depan auditor. Kalau tidak, dia akan menjebloskan Karin ke penjara. Karin terpaksa menuruti perintahnya. Dia itu dari keluarga yang kaya dan berkuasa. Karin tidak berani melawannya."
Bagai disambar petir, ucapan Karin membuat Ny. Diana sangat terkejut. Amarah yang selama ini dipendamnya, rasanya ingin meledak seperti sebuah bom.
"Karin! Percuma saja Tante selama ini membiayai sekolahmu! Tante sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayar kuliahmu sampai kamu jadi sarjana. Tante berharap kamu bisa jadi gadis yang pintar dan cerdik. Ternyata kamu juga mengecewakan Tante! Sampai kapan wanita jahat itu akan menang, Karin? Apa kamu mau melihat Tante menyusul Dave?" tanya Ny. Diana membentak Karin.
Karin menghapus air matanya yang mulai mengalir.
"Karin minta maaf, Tante. Tapi Tante tidak usah khawatir. Kita masih punya kesempatan untuk menghancurkan Audrey."
"Apa maksudmu, Karin? Kamu mau membohongi, Tante?"
"Tidak, Tante. Coba Tante lihat dulu ini," ucap Karin mengeluarkan ponselnya.
Ny. Diana menerima ponsel dari tangan Karin dan melihat foto-foto yang ada di ponsel itu. Seringai puas tersungging di bibir Ny. Diana.
"Karin, dari mana kamu mendapatkan foto-foto Audrey dan pria ini?"
"Karin sengaja tidak langsung pergi dari kantor, Tante. Karin tau kalau Tristan itu jatuh cinta pada Audrey, jadi Karin memata-matai mereka. Audrey tadi pingsan dan Tristan menggendongnya. Karin mengikuti mereka diam-diam ke restoran sampai tiba di kawasan apartemen. Karin berhasil memotret kegiatan mereka walaupun dari kejauhan. Foto ini pasti akan berguna untuk Tante."
Ny. Diana membelai rambut keponakan perempuannya itu.
"Kamu benar-benar cerdas, Karin. Foto ini akan Tante kirimkan kepada Reiner. Tante yakin Reiner akan marah dan menceraikan Audrey. Reiner sangat membenci orang yang suka berselingkuh seperti papanya."
__ADS_1
Audrey kali ini aku akan berhasil membuatmu menderita.
pikir Ny. Diana penuh kemenangan.