
Jantung Audrey berdegup kencang ketika sampai di depan ruangan CEO. Seorang pria bersetelan jas hitam yang baru saja keluar dari ruangan itu, mengamati kedatangan Audrey dengan seksama.
"Apa Anda, Nona Audrey?" tanya pria itu penuh selidik.
"Iya, Tuan."
"Saya Ryan, asisten Tuan Tristan. Silahkan masuk, Nona. Tuan Tristan ada di dalam," ucap pria itu membukakan pintu untuk Audrey.
"Terima kasih, Tuan Ryan."
Perasaan gugup tiba-tiba menyerang Audrey. Ia masih bertanya-tanya apa alasan Tristan memanggilnya. Terlebih lagi, Audrey bingung bagaimana harus menghadapi Tristan yang sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya.
Dengan ragu-ragu, Audrey melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Meskipun sudah bekerja cukup lama di Oragon Group, Audrey belum pernah masuk ke dalam ruangan CEO. Ruangan yang sangat besar itu membuatnya berdecak kagum. Seluruh interiornya sangat elegan dengan didominasi warna putih gading. Terdapat sebuah sofa putih panjang dan meja kayu berukiran klasik yang menambah kesan mewah.
Di tengah-tengah ruangan, ada sebuah meja kaca berukuran besar lengkap dengan laptop dan semua peralatan kantor. Audrey melihat Tristan sedang duduk di kursinya sambil berbicara dengan seseorang di telpon. Ia menatap tajam ke arah Audrey, dan memberikan isyarat dengan tangannya agar Audrey duduk di hadapannya.
Kenapa Tristan berubah seperti ini? Apa karena dia sudah menjadi CEO? Biasanya dia selalu ceria. Tapi tatapan matanya itu...membuatku takut.
pikir Audrey was-was.
Audrey jadi teringat pada tatapan mata Reiner yang membuatnya takut, saat Reiner sedang dibakar oleh api cemburu.
Audrey menunggu dalam diam sampai Tristan menutup panggilan telponnya. Dengan penampilan barunya sebagai CEO, Tristan memang terlihat lebih mempesona. Ia bisa membuat para wanita semakin mudah jatuh hati padanya. Namun entah mengapa Tristan yang sekarang sangat berbeda dengan Tristan yang dikenal Audrey sebelumnya. Biasanya Audrey merasa nyaman berada di dekat Tristan. Tapi kali ini, keberadaan Tristan justru membuat Audrey takut dan ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan itu.
"Selamat pagi, Tuan," ucap Audrey memberikan salam sambil menundukkan kepalanya.
Tristan berdiri dari kursinya dan menghampiri Audrey.
"Selamat pagi, Ibu Audrey. Atau saya lebih cocok memanggil Anda Nyonya Bratawijaya," jawab Tristan terdengar sinis.
"Maaf, Tuan, saya..." kata Audrey gugup.
Tristan menempelkan jarinya di bibir Audrey.
"Ssst...biarkan aku bicara dulu Nyonya Audrey Bratawijaya. Sebenarnya apa tujuanmu berbohong selama ini? Apa kamu sengaja berpura-pura belum menikah untuk menggodaku? Atau Reiner Bratawijaya sedang menyuruhmu memata-matai perusahaanku? Kamu tau, aku bisa saja menuntutmu karena sudah memalsukan identitas sebagai karyawan."
"Tristan, maaf..." ucap Audrey berusaha menjelaskan.
"Panggil aku Tuan Tristan. Aku bukan lagi Tristan seorang staff yang bisa kamu bodohi," ucap Tristan penuh kemarahan.
Entah kenapa Audrey merasa sedih melihat perubahan yang terjadi pada diri Tristan. Dulu Tristan adalah sosok pria yang selalu siap menolongnya, penuh perhatian, dan bisa menghiburnya di masa sulit. Namun saat ini Tristan bersikap kasar dan tampak membenci dirinya.
Tristan berdiri dari kursinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey. Ia memegang dagu Audrey dan memaksanya untuk bicara.
__ADS_1
"Audrey, kenapa kamu menipuku? Katakan apa tujuanmu?"
"Sa..ya tidak punya tujuan apa-apa, Tuan. Saya benar-benar minta maaf karena telah membohongi Anda. Saya...terpaksa melakukannya."
"Terpaksa??? Aku tidak menerima jawaban yang klise seperti itu. Aku ingat Karin pernah mengatakan kepadaku kalau kamu adalah wanita yang kejam. Kamu suka mempermainkan perasaan pria. Dan kamu sudah menyebabkan kakak sepupu Karin bunuh diri. Apa itu benar, Audrey?"
Audrey sangat terkejut mendengar pertanyaan Tristan. Ia tidak menyangka kalau Karin ternyata adalah sepupu Dave. Apalagi Karin sudah menceritakan tentang masa lalunya bersama Dave kepada Tristan.
"Aku menyesal sudah menganggap Karin sebagai pembohong. Ternyata kamu-lah wanita yang suka berbohong disini. Apa kamu juga berencana mempermainkan perasaanku?"
"Ti..tidak, Tuan. Itu tidak seperti yang Anda bayangkan. Saya tidak pernah ingin membuat perasaan Anda terluka."
Tristan tertawa mendengar jawaban Audrey.
"Audrey Bratawijaya, apa kamu belum puas membuat satu pria bunuh diri? Kamu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Lalu apa yang kamu inginkan sekarang? Membuatku menderita seperti mantan pacarmu itu?"
Tuduhan Tristan yang bertubi-tubi itu membuat dada Audrey terasa sesak.
"Cukup, Tuan Tristan. Anda tidak tau apa-apa tentang masa lalu saya," ucap Audrey mengumpulkan keberaniannya.
"Iya, aku memang tidak tau apa-apa sampai kamu membodohiku. Katakan! Sudah berapa lama kamu menikah dengan Reiner Bratawijaya?"
"Sa...saya baru menikah beberapa bulan yang lalu."
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa mengatakan alasannya kepada Tuan."
"Audrey, kalau kamu tidak mau mengatakannya maka aku juga akan membuat perhitungan dengan suamimu itu. Dan ingat, aku masih punya dua permintaan yang harus kamu penuhi. Permintaanku yang kedua adalah katakan yang sejujurnya apa alasanmu sudah berbohong? Atau...sekarang kamu juga berpikir untuk melanggar janjimu itu?" tanya Tristan tidak sabar.
Apa yang harus aku lakukan? Tristan terlihat sangat marah. Aku takut dia akan berbuat nekad. Apa lebih baik aku ceritakan yang sebenarnya?
pikir Audrey bimbang.
Tristan merasa frustasi melihat Audrey yang masih belum memberikan jawaban apa-apa. Ia memaksa Audrey agar berdiri berhadapan dengannya.
"Aku mengira kamu adalah wanita yang lembut dan baik hati. Ternyata aku salah menilaimu. Aku memang bodoh karena sudah mencintaimu, Audrey..." ucap Tristan menahan rasa sakit di hatinya.
Air mata Audrey mulai mengalir. Ia tidak menyangka akan melukai perasaan Tristan sedalam itu. Selama ini Tristan sangat baik padanya, namun ia malah membalas kebaikannya dengan kebohongan. Terlebih lagi, ia tidak akan bisa membalas cinta Tristan. Namun, ketika melihat Tristan terluka seperti itu, ia merasakan luka yang sama di hatinya.
"Tuan Tristan, maafkan saya..." ucap Audrey lirih.
Tanpa disangka oleh Audrey, Tristan maju dan merengkuh tubuh Audrey ke dalam pelukannya.
"Maaf...mudah sekali kamu mengatakannya. Apa dengan kata maafmu itu bisa menyembuhkan luka di hatiku?" tanya Tristan putus asa.
__ADS_1
"Tuan Tristan, tolong lepaskan saya," ucap Audrey memohon.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu mengatakan yang sebenarnya. Walaupun kamu berteriak, tidak ada yang akan mendengarnya," bisik Tristan di telinga Audrey.
Tenaga Tristan yang kuat membuat Audrey tidak dapat melepaskan diri.
"Tuan Tristan, saya akan mengatakan yang sebenarnya kepada Anda," kata Audrey tidak dapat menahan air matanya.
Tangis Audrey membuat hati Tristan tergerak. Meskipun ia sedang marah dan terluka, namun ia tidak tahan melihat Audrey meneteskan air mata.
"Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan."
Audrey merasa lega saat Tristan bersedia melepaskannya. Karena tidak ada pilihan lain, Audrey terpaksa menceritakan masa lalunya. Dari cinta pertamanya yang berakhir pahit sampai pernikahan kontraknya dengan Reiner. Kontrak itulah yang mengharuskan Audrey untuk merahasiakan statusnya sebagai istri Reiner.
Tristan tampak terkejut mendengar cerita masa lalu Audrey yang menyakitkan.
"Audrey, jadi kamu cuma istri kontrak Reiner Bratawijaya? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal? Aku bisa membantumu melepaskan diri darinya."
"Tuan, dulu memang Reiner membenci saya karena mengira saya penyebab kematian adiknya. Tapi sekarang saya dan suami saya saling mencintai. Tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kami."
Tristan mengusap air mata yang membasahi pipi Audrey dengan lembut. Semua kemarahannya seolah menguap seiring dengan pengakuan jujur dari wanita yang dicintainya itu.
"Audrey, apa kamu sangat mencintai Reiner? Apa sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk mendapatkan cintamu?" tanya Tristan menatap mata Audrey.
"Maafkan saya, Tuan Tristan..."
"Audrey, mulai sekarang panggil aku Tristan seperti biasanya. Aku cuma ingin tau, apa kamu pernah merasakan sedikit saja rasa cinta untukku?"
Pertanyaan Tristan membuat Audrey bingung harus menjawab apa. Ia memang hanya mencintai Reiner. Tapi Audrey tidak bisa menyangkal, kalau kehadiran Tristan selama ini sudah mengisi sebuah ruang kosong di hatinya.
"Tristan, selamanya kamu akan jadi sahabatku. Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," ucap Audrey dengan tulus.
Tristan menggenggam erat kedua tangan Audrey.
"Jadi aku sudah tidak punya kesempatan lagi... Aku akan merelakanmu bersama Reiner. Tapi kalau dia berani menyakitimu lagi, aku akan merebutmu darinya. Sekarang kamu boleh kembali ke ruanganmu," ucap Tristan melepaskan tangan Audrey.
"Terima kasih, Tristan."
Audrey meninggalkan ruangan Tristan dengan perasaan bersalah.
Tristan, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Maafkan aku...
batin Audrey sedih.
__ADS_1