Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
66 Hanya Ingin Bersamamu


__ADS_3

Kenapa aku melakukan hal seperti ini? Kamu bodoh, Audrey. Kamu akan lebih sulit melupakan Reiner sekarang.


pikir Audrey menyesali apa yang baru saja terjadi.


Ia memandang langit-langit kamar besar itu dengan tatapan kosong.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reiner memeluk Audrey di dadanya.


Audrey melepaskan diri dari pelukan Reiner dan bangun dari tempat tidurnya.


"Rein, apa yang kamu inginkan sebenarnya dariku? Kenapa kamu mempermainkan perasaanku lagi? Kamu tau aku selalu lemah jika berhadapan denganmu," kata Audrey seraya mengambil dressnya.


Reiner bangkit berdiri dan memeluk tubuh Audrey dari belakang. Ia menciumi rambut Audrey hingga membuat tubuh Audrey kembali merinding.


"Sayang, aku tidak mengerti apa maksudmu? Aku sangat mencintaimu. Mulai saat ini kita akan selalu bersama."


"Rein, kamu sudah menceraikan aku. Kenapa kamu bersikap seolah-olah masih mencintaiku sama seperti dulu? Apa kamu melakukannya karena kamu marah atau ingin balas dendam? Aku memang salah karena sudah meninggalkanmu. Tapi, aku terpaksa melakukannya. Kalau sikapmu terus seperti ini, aku akan makin sulit melupakanmu," kata Audrey menahan air matanya.


Reiner membalikkan tubuh Audrey agar menghadap padanya. Ia menempelkan jarinya di bibir istrinya itu.


"Ssssttt! Jangan berkata yang tidak-tidak, Sayang. Apa kamu terlalu banyak menonton serial drama saat aku tidak ada? Siapa yang menyuruhmu untuk melupakan aku? Aku tidak akan mengampuninya," kata Reiner membelai rambut Audrey yang terurai dengan penuh kelembutan.


"Aku tidak pernah menceraikanmu. Mana mungkin aku melakukannya. Aku bisa gila kalau aku berpisah denganmu, Sayang. Aku memang marah karena aku cemburu melihatmu dekat dengan Tristan. Tapi semarah apapun, aku tidak akan sanggup kehilanganmu. Sekarang dan untuk selamanya kita adalah suami istri."


"Lalu untuk apa kamu membuat surat gugatan cerai itu, Rein? Kamu juga memaksaku menandatanganinya. Bahkan kamu mengancam akan mengambil Shane dariku," tanya Audrey menyangsikan ucapan Reiner.


"Dengar, Sayang, aku tidak pernah mengirimkan pengacara apalagi membuat surat gugatan cerai. Pasti ada seseorang yang sengaja membohongimu dengan memakai namaku. Apa kamu ingat siapa nama pengacara itu?"


"Namanya Tuan Abram Darusman, dia pengacara keluargamu. Dia mengatakan kamu ingin bercerai dariku secepatnya dan tidak mau bertemu denganku lagi. Mungkin kamu akan segera menikahi wanita lain," jawab Audrey sedih.


Abram Darusman? Dia bukan pengacara keluargaku. Lalu siapa dia sebenarnya?


pikir Reiner curiga.


Reiner tersenyum gemas melihat wajah Audrey yang cemberut.


"Kamu semakin manis kalau sedang cemburu. Aku jadi ingin menciummu lagi," kata Reiner menggoda Audrey.


Wajah Audrey memerah karena malu. Entah mengapa setelah lama tidak bertemu dengan Reiner, jantungnya terasa berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan suaminya itu.


"Rein, hentikan. Kita sudah punya anak, bukan sepasang remaja lagi."


"Hmmm, aku selalu menjadi remaja kalau ada di dekatmu," kata Reiner merengkuh Audrey ke dalam pelukannya.


"Sayang, aku akan mencari tau siapa yang menyuruh pengacara itu datang padamu. Aku akan memberi pelajaran padanya," sambung Reiner meyakinkan Audrey.


"Rein...jadi aku masih istrimu? Apa kamu tetap mencintaiku?" tanya Audrey mencoba mengetahui isi hati Reiner.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Sayang? Tentu saja kamu masih Nyonya Reiner Bratawijaya yang selalu aku cintai."


Reiner berbisik di telinga Audrey.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi berbulan madu ke luar negri bersama Shane?"

__ADS_1


"Rein, Shane masih sangat kecil. Aku tidak mau kalau Shane sampai sakit karena bepergian terlalu jauh."


"Kalau begitu bagaimana jika besok malam aku mengajakmu pergi berkencan setelah Shane tidur. Apa Anda setuju, Nona?" tanya Reiner mencium tangan Audrey.


"Berkencan? Anda mau mengajak saya kemana Tuan? Saya bahkan baru bertemu dengan Anda," tanya Audrey berpura-pura tidak mengenal Reiner.


Senyuman nakal tersungging di bibir Reiner.


"Itu rahasia, Nona. Yang pasti saya akan menculik Anda. Kita hanya akan berdua disana."


Melihat suasana hati Reiner yang sedang bahagia, Audrey memberanikan diri untuk berbicara.


"Rein, bolehkah aku pulang sebentar untuk mengambil baju-bajuku dan Shane?"


"Nanti aku akan meminta Pak Beni dan Nicko untuk mengurusnya. Kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Aku mau kamu hanya menjadi milikku seorang tanpa gangguan dari siapapun. Tapi sebenarnya...kamu tidak memerlukan banyak baju saat bersamaku," kata Reiner kembali menggoda Audrey.


"Rein, sebagai gantinya tolong ijinkan aku menelpon Mama dan Papa. Aku takut mereka mengkhawatirkan Shane. Tadi aku pergi buru-buru dari pesta."


"Tentu boleh, Sayang. Tunggu dulu...sebenarnya kamu ingin mengabari orang tuamu atau mengabari Tristan? Aku tau dia juga sedang mencemaskanmu," tanya Reiner memicingkan matanya.


"Rein, jangan mulai lagi. Aku dan Tristan tidak ada hubungan apa-apa. Tristan justru banyak menolongku sebagai seorang teman selama ini."


"Jadi kamu memintaku berterima kasih padanya, karena dia sudah menjaga istri dan anakku begitu?" tanya Reiner tidak suka.


"Aku berkata jujur padamu, Rein. Tristan memang menolongku saat aku bingung dan tidak tau harus kemana. Dia tidak pernah berbuat macam-macam padaku. Tristan tau aku sangat sedih karena harus menjalani kehamilan tanpa dirimu," kata Audrey mencoba menghilangkan kesalahpahaman Reiner pada Tristan.


"Kamu membuatku semakin cemburu dengan terus memujinya. Jika benar dia sebaik itu, aku harus menemuinya untuk mengucapkan terima kasih."


Audrey memeluk Reiner dengan erat.


"Itu bukan salahmu, Rein. Kamu sudah berkorban terlalu banyak untuk menyelamatkan aku dan anak kita. Terima kasih, Sayang. Kamu adalah pahlawanku."


"Aku berjanji akan selalu ada disisimu dan memanjakanmu saat kamu mengandung lagi," ucap Reiner memandang mata Audrey dalam-dalam.


"Rein, jangan bicara sembarangan. Aku baru saja melahirkan, aku tidak mau hamil secepat itu. Aku ingin fokus merawat Shane."


Reiner mencubit hidung Audrey dengan gemas.


"Sayang, aku hanya bercanda. Aku pasti akan memberikan adik untuk Shane, tapi itu nanti. Kita harus menghabiskan banyak waktu berdua dulu karena kita sudah lama berpisah."


Wajah Audrey kembali memerah.


"Aku mau mandi dulu, Rein. Setelah itu aku akan menelpon Mama dan menyusui Shane. Jangan menggodaku terus," kata Audrey melepaskan dirinya dari Reiner.


Reiner tersenyum melihat Audrey yang bersikap malu-malu.


Audrey, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Kita akan selalu bersama, Sayang. Aku akan segera menyelidiki siapa yang sudah mengutus Abram Darusman untuk membohongimu.


Reiner keluar dari kamarnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Nicko.


"Malam, Tuan. Apa Anda sudah bertemu dengan Nona?" tanya Nicko penasaran.


"Sudah, Nicko, sekarang aku sudah bersama dengan istri dan anakku."

__ADS_1


"Selamat, Tuan. Akhirnya Anda bisa berkumpul lagi bersama keluarga Anda. Saya ikut senang," ucap Nicko tulus.


"Nicko, aku ingin memberimu tugas yang penting. Ketika aku masih di luar negri, ada seorang pengacara yang mendatangi Audrey. Namanya Abram Darusman. Dia mengaku sebagai pengacara keluargaku dan memaksa Audrey untuk menandatangani surat cerai. Tolong cari tau siapa dia. Kalau kamu sudah menemukan orang itu, segera laporkan padaku. Aku harus menghukumnya," kata Reiner kesal.


"Baik, Tuan, saya akan mencari tau secepatnya."


"Nicko, apa kamu menyimpan nomer ponsel Tristan Tirtawiguna?"


"Iya, Tuan."


"Berikan nomer ponselnya padaku. Aku ingin bertemu dengannya. Tapi jangan beritahu Audrey tentang hal ini."


"Baik, Tuan."


...****************...


Audrey melihat Shane yang masih tertidur dan memutuskan untuk menelpon mamanya.


"Halo, Ma. Apa mama sudah di rumah bersama Papa?"


Suara Ny. Olin terdengar khawatir.


"Audrey, dimana kamu, Sayang? Apa kamu baik-baik saja? Mama sangat cemas memikirkan keadaanmu. Tadi Tristan bilang kamu pergi sendirian untuk mencari Shane. Apa kamu berhasil menemukan keberadaan Shane?"


"Audrey sekarang ada di apartemen bersama Reiner, Ma. Reiner yang mengambil Shane, jadi Mama tidak usah cemas. Shane aman bersama papanya."


"Reiner? Untuk apa dia mengambil Shane? Apa dia ingin memisahkanmu dari anakmu sendiri? Audrey, sebaiknya kamu cepat pulang. Mama tidak mau Reiner menyakitimu. Dia sudah tega menceraikanmu, sekarang dia juga mau mengambil cucu Mama. Tunggu saja disana, Papa dan Mama akan segera menjemputmu," ucap Ny. Olin marah.


"Ma, Reiner tidak pernah menceraikan Audrey. Dia bahkan tidak tau tentang pengacara itu maupun surat gugatan cerai yang diberikan kepada Audrey. Mama tolong jangan berpikiran buruk tentang Reiner. Dia sangat mencintai Audrey. Kalau bukan karena pengorbanan Reiner, Audrey dan Shane mungkin sudah tidak ada sekarang," kata Audrey berusaha menenangkan mamanya.


Ny. Olin menghela nafasnya.


"Kalau bukan Reiner, lalu siapa yang menyuruh pengacara itu menemuimu? Apa mungkin mamanya Reiner? Bukankah dia pernah memaksamu untuk pergi meninggalkan Reiner?"


"Ma, kita tidak boleh berprasangka buruk. Audrey sangat menghormati mamanya Reiner. Dia sebenarnya wanita yang sangat baik."


"Audrey, mama cuma ingin kamu bahagia. Menjalani pernikahan tanpa restu dari mertua itu akan sulit, Sayang. Terus terang Mama pernah berpikir kamu akan lebih bahagia jika bersama Tristan. Dia sangat tulus dan perhatian padamu. Dia juga menyayangi Shane walaupun Shane bukan anaknya. Mama yakin dia mencintaimu apa adanya."


"Ma, Tristan memang pria yang baik. Tapi, Audrey hanya mencintai Reiner. Tristan pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Audrey. Audrey mohon Mama jangan salah paham pada Reiner."


"Baiklah, Sayang Mama menghormati keputusanmu. Sebentar, Papa ingin bicara denganmu," kata Ny. Olin menyerahkan telponnya kepada Tuan Jonathan.


"Audrey, jadi kamu bersama Reiner? Dia sudah pulang dari luar negri?"


"Iya, Pa. Audrey dan Shane baik-baik saja bersama Reiner."


"Papa lega sekarang. Besok kamu ajak Reiner datang ke rumah. Papa ingin bicara dengannya."


"Iya, Pak, Audrey akan coba membujuk Reiner."


Audrey menutup telponnya dengan perasaan gelisah. Ia tidak menyangka kedua orang tuanya akan salah paham kepada Reiner. Audrey memandangi wajah Shane yang tertidur pulas.


Shane, Mama janji tidak akan membiarkanmu berpisah dari papamu lagi. Kita akan hidup bahagia selamanya.

__ADS_1


__ADS_2