Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
62 Perpisahan Sementara


__ADS_3

Hampir semalaman Audrey tidak dapat memejamkan matanya. Ia hanya tidur sebentar dan terbangun pagi-pagi sekali. Audrey selalu memikirkan apa yang terjadi dengan Reiner. Ada dorongan yang begitu kuat dari dirinya untuk menemani Reiner di rumah sakit. Hatinya seperti memiliki sebuah koneksi dengan hati Reiner. Entah mengapa ia merasa kalau Reiner sedang sangat membutuhkannya saat ini.


Apa sebaiknya aku pergi diam-diam ke rumah sakit?


Tapi bagaimana kalau Mama melihatku? Aku sudah berjanji padanya.


pikir Audrey bimbang.


Suara ketukan di pintu membuat Audrey tersadar dari lamunannya.


"Audrey, ini aku," terdengar suara Tristan yang sudah tidak asing lagi baginya.


Kenapa Tristan sudah datang sepagi ini?


pikir Audrey melihat jam yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Audrey, aku akan mengantarmu pulang sekarang. Atau kamu ingin ke rumah sakit menemani Reiner? Setelah ini aku harus berangkat ke kantor, jadi lebih baik kita berangkat secepatnya," ucap Tristan menatap mata Audrey yang masih sembab.


"Tuan, saya bisa pulang sendiri. Tuan tidak perlu mengantarkan saya."


"Kenapa kamu selalu keras kepala? Aku tetap akan mengantarmu pulang. Apa kamu sudah sarapan pagi?"


Audrey menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu tidak memikirkan kesehatanmu, paling tidak pikirkan bayimu," kata Tristan menarik tangan Audrey.


Tristan membawa Audrey ke restoran yang ada di lantai dasar.


"Makanlah sarapan yang disediakan untuk tamu hotel. Aku akan menunggumu di lobby."


Audrey hanya makan sebentar karena tidak mau membuat Tristan menunggunya lebih lama.


Aku harus pergi kemana? Kalau aku pulang ke rumah Mama, Nicko akan mudah menemukan aku. Apa lebih baik aku minta tolong pada Om Jonathan?


Aku tidak boleh terlalu banyak berhutang budi kepada Tristan.


"Tuan, tolong antarkan saya ke rumah Om saya," kata Audrey ragu-ragu.


Tristan memandang Audrey dengan rasa curiga.


"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah Reiner atau pergi ke rumah sakit? Bukankah kamu sangat mencintai Reiner, harusnya kamu menemaninya sekarang. Ada apa sebenarnya antara kamu dan Reiner?"


Audrey diam tidak menjawab. Ia tidak ingin menceritakan masalah rumah tangganya kepada pria lain.


"Audrey, kamu selalu diam saat aku menanyakan sesuatu padamu. Sampai kapan kamu bersikap seperti ini? Aku tulus membantumu sebagai teman. Apa kamu masih curiga dengan niatku? Aku bukan pria rendah yang suka memanfaatkan keadaan, apalagi dari seorang wanita yang sedang hamil," ucap Tristan merasa tersinggung.


"Tuan, maafkan saya. Saya tau Tuan sangat baik pada saya. Saya...tidak bisa menemui Reiner, karena saya yang menjadi penyebab kecelakaannya. Seharusnya saya yang ditabrak, tapi Rein menyelamatkan saya."


Tristan mengernyitkan dahinya.


"Bukankah semua suami memang harus melindungi istrinya? Itu hal yang wajar. Aku tidak percaya kalau cuma itu alasanmu. Pasti ada masalah lain yang membuatmu menjauh dari Reiner. Apa ada kaitannya dengan masa lalumu?"


"Tuan, tidak perlu membicarakan masalah ini lagi. Saya hanya ingin suami saya dan keluarganya bahagia. Mereka akan lebih baik tanpa kehadiran saya," ucap Audrey sedih.


Apa mungkin keluarga Reiner yang menekan Audrey?


pikir Tristan coba menebak.


Melihat kondisi Audrey yang memprihatinkan, Tristan memutuskan untuk berhenti bertanya dan mengantarkan Audrey ke tempat yang dia inginkan.


Sepanjang perjalanan, Audrey dan Tristan tidak saling bicara. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah Tuan Jonathan.


Tuan Jonathan yang sedang berada di garasi rumahnya, tampak terkejut melihat Audrey dan Tristan.


"Audrey? Ada apa? Om baru saja akan pergi ke rumah Bratawijaya untuk menanyakan keadaan Reiner. Om melihat berita di situs online kalau Reiner mengalami kecelakaan tabrak lari. Apa benar itu?"

__ADS_1


"Iya, Om Reiner mengalami kecelakaan kemarin. Reiner sekarang dirawat di rumah sakit Victory."


"Lalu kenapa kamu tidak di rumah sakit menemani Reiner, Audrey?" tanya Tuan Jonathan keheranan.


"Maaf, Tuan, kondisi Audrey sedang lemah. Dia sedang hamil. Lebih baik Tuan menyuruhnya masuk ke dalam dulu," ucap Tristan menjelaskan.


Siapa pria muda yang bersama Audrey ini? Kelihatannya dia sangat perhatian pada Audrey.


batin Tuan Jonathan memperhatikan Tristan.


"Perkenalkan saya Tristan, teman kantornya Audrey."


"Oh, iya silahkan masuk," ucap Tuan Jonathan.


Setelah mempersilahkan Audrey dan Tristan masuk, Tuan Jonathan menanyakan kepada Audrey tentang kecelakaan yang dialami Reiner. Sambil menahan tangis, Audrey menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Reiner.


"Om, boleh Audrey minta tolong agar Om memantau perkembangan kesehatan Reiner?"


"Tentu, Audrey. Tapi Om tidak mengerti kenapa kamu memutuskan untuk menjauh dari Reiner. Padahal kamu sedang hamil dan Reiner sedang sakit. Dalam keadaan seperti ini, kamu dan Reiner saling membutuhkan. Kalian harusnya tetap bersama."


"Maaf, Om, Audrey melakukan ini semua demi Reiner. Audrey tidak mau membahayakan hidup Reiner lagi."


"Audrey, apa Alexander atau Valeria yang menyuruhmu meninggalkan Reiner? Om tau mereka sangat melindungi putranya. Kalau benar begitu, Om yang akan bicara dengan mereka."


"Jangan, Om. Papa dan Mama sedang sedih, jangan menambah beban mereka. Audrey ingin minta bantuan satu lagi untuk memberitahu Mama kalau Audrey akan pergi ke luar kota sementara waktu. Nanti Audrey akan mengabari Mama secara langsung."


Tuan Jonathan terkejut mendengar perkataan Audrey.


"Audrey, kamu mau pergi kemana? Pergi sendirian sangat berbahaya untuk wanita yang sedang hamil. Kalau kamu ingin menenangkan diri, kamu bisa tinggal di villa Om. Kamu akan aman tinggal di villa. Tapi perjalanannya cukup jauh, sekitar lima jam dari sini. Om akan minta supir untuk mengantarmu kesana. Om belum berani menyetir sendiri ke luar kota."


"Saya akan mengantarkan Audrey kesana, Tuan. Berikan saja alamatnya kepada saya," ucap Tristan menawarkan bantuan.


"Baik, saya akan memberikan alamat lengkapnya, Tristan."


"Tuan, tapi Anda harus berangkat ke kantor. Tidak perlu mengantar saya," kata Audrey berusaha menolak tawaran Tristan.


Apa Tristan ini suka pada Audrey? Dia menatap Audrey sama seperti Reiner. Aku tidak boleh membiarkan mereka pergi berdua saja.


batin Tuan Jonathan was-was.


"Audrey, sebaiknya kita mengajak Mamamu dan Tuan Hendri untuk menemanimu di villa. Om akan menjemput mereka supaya berangkat bersamamu. Kamu bisa mengambil barang-barangmu dulu ke rumah Reiner."


Tristan menyerahkan ponselnya kepada Audrey.


"Pakai ponselku untuk menelpon ke rumah Reiner. Minta pembantumu menyiapkan semua barang-barangmu. Nanti Ryan yang akan mengambilnya."


"Iya, Tuan."


Audrey menelpon ke rumahnya dan memberitahu Bi Mila untuk menyiapkan semua bajunya di dalam koper.


Suara Bi Mila terdengar khawatir.


"Nyonya, apa Anda akan pergi ke luar negri untuk menemani Tuan Reiner berobat? Saya khawatir karena Anda tidak pulang semalam."


"Bibi tidak perlu khawatir. Tolong siapkan bajuku, Bi. Nanti ada seorang pria bernama Ryan yang akan mengambilnya. Aku harus pergi sementara waktu."


"Baik, Nyonya."


...****************...


Audrey menangis dalam pelukan mamanya.


"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini?Menjalani kehamilan sendiri tanpa suami itu berat. Lalu bagaimana nanti kalau kamu melahirkan?"


"Iya, Ma. Audrey sudah yakin. Audrey sudah berjanji pada Reiner akan melahirkan bayi kami dengan selamat. Audrey pasti kuat."

__ADS_1


Ny. Olin membelai rambut Audrey.


"Audrey, Mama akan selalu ada disampingmu. Mama akan membantumu melewati semua ini."


Tristan melajukan mobilnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan Audrey dan Opa yang sedang tertidur di mobil. Sekilas Ny. Olin memperhatikan tindakan Tristan yang tampaknya memiliki perasaan khusus pada putrinya itu.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka akhirnya sampai di villa milik Tuan Jonathan.


"Apa Anda Nona Audrey? Silahkan masuk. Tuan Jonathan tadi sudah memberitahu saya untuk menyiapkan kamar Anda. Saya Usman, penjaga villa ini," kata seorang pria berumur empat puluh tahunan yang menyambut kedatangan Audrey.


"Iya, Pak, terima kasih."


Pak Usman membawa masuk koper Audrey dan Ny. Olin ke dalam villa.


"Tante, Opa, saya pamit pulang," ucap Tristan berpamitan kepada Ny. Olin dan Opa.


"Terima kasih, Tristan sudah mengantarkan kami. Apa kamu tidak ingin mampir sebentar untuk istirahat?" tanya Ny. Olin.


"Tidak Tante, saya harus kembali ke kantor. Ini nomer ponsel saya, kalau butuh bantuan jangan segan menelpon saya," ucap Tristan menyerahkan kartu namanya.


"Terima kasih ya. Hati-hati di jalan."


Tristan mengalihkan pandangannya kepada Audrey.


"Audrey, jaga kesehatanmu. Aku pergi dulu," kata Tristan berpamitan.


"Terima kasih, Tuan."


Ny. Olin memandang Tristan yang berjalan meninggalkan Audrey dari kejauhan.


"Olin, kenapa suaminya Audrey pergi? Apa dia tidak menginap bersama kita?" tanya Opa kebingungan.


"Pa, itu Tristan, atasannya Audrey, bukan suaminya. Suaminya Audrey itu Reiner. Papa khan sudah pernah bertemu dengan Reiner."


"Oh, kenapa bisa begitu? Papa lupa wajah suaminya Audrey. Papa hanya ingat dia tinggi dan tampan seperti pria tadi."


"Sudah, Pa, ayo kita masuk. Papa harus istirahat dulu setelah perjalanan ke luar kota," ucap Ny. Olin membawa Opa ke dalam villa.


...****************...


Ny. Diana dan Karin bersiap-siap untuk meninggalkan hotel.


"Karin, kita berangkat sekarang ke bandara."


"Iya, Tante."


Karin membawa tasnya dan bersiap membuka pintu, saat mendengar suara ketukan yang sangat keras di kamar mereka.


"Iya, tunggu," kata Karin membukakan pintu.


"Selamat pagi, Nona."


Karin dan Ny. Diana terkejut melihat Nicko yang berdiri di depan pintu dengan wajah dingin. Di samping Nicko ada beberapa orang petugas kepolisian yang datang bersamanya.


Ny. Diana gemetaran ketika salah satu polisi mendatanginya.


"Nyonya Diana, kami dari kepolisian membawa surat tugas untuk penangkapan Anda. Anda menjadi tersangka kasus tabrak lari dan upaya pembunuhan berencana kepada Tuan Reiner Bratawijaya. Nanti Anda bisa menghubungi kuasa hukum untuk membantu Anda."


"Pak, saya hanya difitnah. Saya tidak tahu apa-apa. Nicko, tolong katakan kepada polisi kalau aku tidak bersalah. Sejak kemarin aku berlibur disini bersama Karin, keponakanku. Aku tidak mungkin melakukan tabrak lari, apalagi ingin membunuh Reiner."


Nicko menjawab dengan suara datar.


"Maaf, Nyonya, kebohongan Anda sudah diketahui polisi. Mobil yang Anda gunakan untuk menabrak Tuan Reiner juga sudah ditemukan sebagai barang bukti. Sekarang Anda harus menghabiskan sisa hidup Anda di penjara."


"Jangan, lepaskan aku. Aku tidak bersalah, aku hanya difitnah," jerit Ny. Diana histeris.

__ADS_1


"Nona, silahkan ikut dengan kami sebagai saksi," ucap polisi kepada Karin.


Karin hanya pasrah menerima nasibnya. Mungkin ini sudah saatnya, dia dan Ny. Diana menanggung akibat atas semua dosa-dosa mereka.


__ADS_2