
"Ma, sekarang aku ada dimana?" tanya Reiner saat membuka matanya.
"Sayang, kita ada di rumah sakit di luar negri. Disini kamu akan lebih cepat sembuh," kata Ny. Valeria menenangkan putranya.
"Aku harus pulang sekarang. Kenapa Mama membawaku kesini? Aku akan mencari Audrey," kata Reiner bersikeras.
"Rein, kamu tidak bisa pulang. Kamu masih lemah. Kedua kakimu juga harus disembuhkan dulu. Mama ingin kamu mendapat perawatan yang terbaik. Kalau tidak, Mama khawatir kamu akan mengalami kelumpuhan," ucap Ny. Valeria cemas.
Perkataan Mamanya membuat Reiner tersadar. Perasaannya benar-benar hancur melihat keadaannya sendiri saat ini. Apalagi ia harus berpisah dengan istri dan calon bayinya. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin untuk melawan rasa putus asa yang kini menyerangnya.
"Pa, tolong telpon Nicko. Aku ingin bicara dengannya."
"Iya, Rein, tenanglah. Papa kemarin sudah bicara dengan Nicko untuk mencari Audrey setelah urusan Diana selesai. Papa akan menelpon Nicko sekarang."
Tuan Alexander mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nicko.
"Halo, Tuan Alexander," sapa Nicko di telpon.
"Nicko, Reiner ingin bicara denganmu."
Tuan Alexander membantu mendekatkan ponselnya kepada Reiner.
"Nicko, apa kamu sudah menemukan Audrey?"
"Belum, Tuan. Ponselnya tidak aktif. Tapi saya mendapat laporan dari Bi Mila kalau Nona kemarin menyuruhnya menyiapkan semua barang dan bajunya di koper. Lalu seorang pria bernama Ryan mengambilnya ke rumah Tuan."
"Ryan? Siapa dia?" tanya Reiner terkejut.
Nicko terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Reiner.
"Siapa dia, Nicko?" desak Reiner.
"Menurut informasi yang saya dapat, Ryan itu...adalah asistennya Tristan Tirtawiguna."
Kata-kata Nicko bagaikan pedang tajam yang menusuk ke dalam hati Reiner. Ia tidak percaya bahwa istri yang dicintainya itu kembali menjalin hubungan dengan Tristan.
Audrey, kenapa ketika ada masalah kamu selalu kembali pada Tristan? Aku kira kamu tidak akan menyerah semudah itu untuk tetap bersamaku. Ternyata kamu memilih untuk menuruti permintaan Mama dan pergi bersama Tristan. Apa karena sekarang aku cacat, kamu berubah tidak setia.
batin Reiner penuh kepedihan.
Rasa sakit di hatinya kini jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit di tubuhnya. Reiner kembali berteriak dengan frustasi untuk melampiaskan amarahnya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ny. Valeria cemas.
"Nyonya, saya sarankan untuk meminta bantuan psikiater agar bisa mengatasi depresi yang sedang dialami Tuan Reiner. Kalau tidak, proses pemulihan kesehatannya akan membutuhkan waktu lebih lama," ucap dokter yang menangani Reiner.
"Baik, Dokter, kami setuju untuk memanggil psikiater. Yang penting anak kami segera sembuh," jawab Tuan Alexander menyetujui saran dari dokter.
"Valeria, lihat apa yang sudah kamu lakukan pada anak kita? Kamu memisahkan dia dari Audrey sampai dia depresi," kata Tuan Alexander merasa kesal terhadap istrinya.
"Alex, aku tau ini salahku. Tapi Reiner jadi semakin depresi karena Audrey pergi dengan pria lain. Aku rasa Reiner memang lebih baik berpisah dari Audrey. Soal cucu kita, nanti kita yang akan mengasuhnya," jawab Ny. Valeria membela dirinya.
"Aku tidak menyangka kamu akan berpikiran seburuk itu. Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Aku hanya ingin fokus pada kesehatan Reiner."
...****************...
Delapan Bulan Kemudian
__ADS_1
Audrey mengetahui dari Tuan Jonathan, kalau Reiner dibawa berobat oleh orang tuanya ke luar negri. Selama itu juga, ia selalu mendoakan Reiner dan berharap suatu hari bisa bertemu dengan suaminya lagi. Audrey menjalani kehidupan sehari-harinya bersama Mama dan Opanya. Ia mengembangkan hobinya membuat kue untuk mendapatkan penghasilan, dengan menerima pesanan secara online. Tuan Jonathan sesekali datang untuk membantu Audrey memeriksakan kehamilannya ke dokter.
Dengan didampingi mamanya, proses persalinan Audrey bisa berjalan dengan lancar.
"Audrey, cucu Mama ini sangat tampan. Matanya mirip dengan papanya, Reiner. Kalau hidungnya mirip denganmu," puji Ny. Olin memandang cucunya yang tertidur di samping Audrey.
Audrey tersenyum melihat wajah putra kecilnya.
"Iya, Ma. Kalau Reiner ada disini, dia pasti akan sangat bahagia," ucap Audrey merindukan Reiner.
Perawat masuk ke dalam ruangan untuk memindahkan bayi Audrey ke ruang perawatan.
"Nyonya, saya bawa dulu bayinya. Nanti malam akan kami bawa kesini agar Anda bisa menyusuinya," ucap perawat itu.
"Iya, Suster."
"Sayang, apa kamu sudah memberikan nama untuk anakmu?" tanya Ny. Olin memandang Audrey.
"Iya, Ma. Audrey akan memberinya nama Shane Reindra Bratawijaya. Dia akan menjadi seorang pangeran kecil," kata Audrey merasa bahagia.
"Namanya bagus sekali, Sayang. Semoga Shane bisa segera bertemu dengan papanya."
Sementara di luar, Tristan tampak datang tergesa-gesa menemui Tuan Jonathan.
"Tuan Jonathan, apakah Audrey sudah melahirkan?"
"Sudah, Tristan. Bayinya laki-laki. Ayo kita melihatnya di ruang bayi."
Tuan Jonathan mengajak Tristan melihat bayi Audrey dari balik kaca ruang perawatan bayi.
"Itu bayinya Audrey dan Reiner," tunjuk Tuan Jonathan.
Bayinya Audrey lucu sekali. Seandainya dia putraku, aku pasti akan sangat bahagia. Kenapa Reiner belum kembali juga? Apa dia sudah tidak peduli dengan istri dan anaknya?
pikir Tristan.
Tristan dan Tuan Jonathan lalu menuju ke kamar Audrey untuk menjenguknya. Mereka masuk bersamaan dengan seorang perawat.
"Nyonya, apakah sudah memberi nama untuk bayi Anda? Suami Anda sudah bisa mengurus surat keterangan lahirnya di bagian administrasi."
"Sudah Suster, tapi suami saya..." jawab Audrey ragu-ragu.
"Siapa namanya, Audrey?" tanya Tristan tiba-tiba.
"Namanya Shane Reindra Bratawijaya."
"Saya akan ke bagian administrasi untuk mengurusnya, Suster," kata Tristan kepada perawat itu.
"Oh Anda suami Ny. Audrey. Baik, Tuan, silahkan ikut saya."
Audrey ingin mencegah Tristan, tapi Tristan sudah pergi dari ruangan itu.
Tuan Jonathan memandang Audrey yang terlihat sedih karena Reiner tidak ada di sisinya.
"Audrey, lebih baik setelah ini kamu jangan tinggal di villa lagi. Kita akan kembali ke kota. Om akan menyewakan rumah baru untuk kalian atau kalian bisa tinggal di rumah Om. Di pusat kota, fasilitas rumah sakitnya lebih lengkap dan dokternya bagus. Om ingin bayimu mendapat imunisasi dan perawatan yang baik."
"Benar, Audrey setelah kamu diperbolehkan pulang, kita kembali saja. Reiner juga belum pulang dari luar negri. Kamu tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Tapi, Om, saya tidak bisa tinggal di rumah Om. Nanti akan menimbulkan kesan yang tidak baik kepada orang-orang."
"Audrey, Om sudah memikirkan hal ini. Jika kamu mengijinkan, Om bermaksud untuk menikah dengan Mamamu. Om ingin bisa melindungi kalian semua."
Ny. Olin terkejut mendengar perkataan Tuan Jonathan. Ia tidak pernah menduga bahwa Tuan Jonathan akan melamarnya di depan Audrey. Memang selama ini Tuan Jonathan telah banyak menolong mereka. Tuan Jonathan juga menjadi lebih dekat dengan Ny. Olin selama masa kehamilan Audrey. Namun, Ny. Olin belum yakin apakah dia akan menerima lamaran Tuan Jonathan di usianya saat ini.
"Om, kalau soal itu biar Mama yang memutuskan. Audrey akan mendukung semua keputusan Mama," kata Audrey sambil tersenyum.
"Olin, apa kamu bersedia menikah denganku? Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa menjawabnya sekarang. Kamu bisa memikirkan dulu baik-baik," kata Tuan Jonathan menatap Ny. Olin.
Ny. Olin berpikir sejenak sebelum menjawab. Mungkin ia memang harus menikahi Tuan Jonathan demi Audrey dan cucunya. Tuan Jonathan adalah sosok yang paling tepat untuk menjadi ayah bagi Audrey dan kakek bagi cucunya.
"Iya, Tuan Jonathan, saya bersedia," jawab Ny. Olin malu-malu.
Audrey tersenyum mendengar jawaban Mamanya. Setidaknya ada satu lagi kebahagiaan yang datang padanya hari ini. Akhirnya, ia akan merasakan mempunyai orang tua yang lengkap di dalam hidupnya.
"Audrey, boleh aku menggendong bayimu sebentar?" tanya Tristan melihat Shane yang sudah dibawa perawat kembali ke kamar Audrey.
Audrey keheranan mendengar permintaan Tristan.
"Apa Tuan bisa menggendong bayi?"
"Aku sudah pernah menggendong keponakanku dulu. Aku tau caranya, jangan khawatir. Mulai sekarang panggil saja Tristan, jangan Tuan," ucap Tristan mengarahkan pandangannya kepada Audrey.
"Boleh, Tristan. Ini hati-hati ya," kata Ny. Olin menyerahkan cucunya.
Ny. Olin dan Audrey tidak menyangka jika Tristan ternyata terlihat luwes menggendong Shane.
"Kamu lucu sekali," ucap Tristan memandangi wajah Shane.
Perasaan sedih mendadak memenuhi hati Audrey.
Seharusnya Reiner yang menggendong Shane. Kapan aku bisa bertemu dengan Reiner lagi? Rein, kenapa kamu belum kembali, aku sangat merindukanmu.
...****************...
"Nicko, apa kamu menemukan Audrey? Menurut perkiraan dokter di awal kehamilan Audrey, anakku seharusnya lahir di bulan ini," kata Reiner menghubungi Nicko.
"Tuan, tiga hari lalu informan kita melihat mobil Tuan Tristan. Ada Nona Audrey bersama mamanya, Tuan Jonathan dan seorang bayi. Kemungkinan itu anak Anda, Tuan. Saya akan kirimkan fotonya kepada Tuan."
Jadi anakku sudah lahir.
batin Reiner merasa bahagia.
Namun kebahagiaan Reiner mendadak lenyap, ketika ia melihat foto yang dikirimkan Nicko.
Audrey, kenapa kamu menggantikan posisiku dengan Tristan? Bahkan kamu membawa bayi kita bersamanya. Keluargamu pun sepertinya mendukung hubungan kalian. Kamu masih menjadi istriku, tapi kamu berpindah hati ke pria lain. Kamu tidak tau betapa menderitanya aku disini.
batin Reiner menahan kemarahan.
Reiner teringat kembali perjuangannya melewati masa sulit selama ini. Ia sangat tertekan karena memikirkan kemungkinan Audrey telah memilih hidup bersama Tristan. Ia juga cemas memikirkan bayi di dalam kandungan Audrey. Namun, ia putus asa karena tidak mampu berbuat apa-apa. Kedua kakinya yang mengalami patah tulang parah, membuatnya harus menjalani terapi selama berbulan-bulan. Bahkan, ia harus mendapat bantuan psikiater untuk memulihkan kondisi psikisnya yang terguncang. Untungnya saat ini dia mulai bisa berjalan walaupun belum sempurna.
"Tuan, apa Anda ingin saya menemui Nona? Atau Anda akan kembali?" tanya Nicko ingin tau.
"Jangan lakukan apa-apa. Aku akan kembali bulan depan."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Aku harus menyelesaikan terapiku sampai aku berjalan dengan sempurna. Aku harus tampil sebagai pria yang kuat untuk mengambil posisiku lagi dari tangan Tristan.
.