Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
46 Aku Terluka


__ADS_3

"Nyonya, Anda sudah bangun? Apa Anda sudah sehat, Nyonya?" tanya Bi Mila memperhatikan wajah Audrey.


"Aku merasa segar setelah tidur nyenyak semalam, Bi," jawab Audrey sambil tersenyum.


"Nyonya semalam Tuan Nicko menelpon untuk mencari Anda."


Nicko...kenapa Nicko yang menelponku? Kenapa bukan Reiner? Apa dia tidak mau berbicara langsung denganku? Mungkin baginya menelponku bukan urusan yang penting.


batin Audrey kesal.


"Bibi kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Audrey seraya meminum tehnya.


"Saya tidak berani mengganggu Anda, Nyonya. Tuan Nicko hanya menanyakan apa Anda sudah pulang dan apa Anda baik-baik saja. Nyonya, saya buatkan bubur ayam dan sandwich untuk Anda. Atau Anda ingin makanan yang lain lagi untuk sarapan?"


"Ini sudah cukup Bi, terima kasih ya."


Jadi dia menyuruh Nicko untuk mengawasiku lagi? Aku pikir dia sudah berubah. Ternyata dia masih menganggapku sebagai tawanan.


"Nyonya, sekitar setengah jam yang lalu ada yang datang ke lobby mengantarkan tas Nyonya," ucap Bi Mila.


"Dimana tasku sekarang, Bi?"


"Saya simpan di kamar Tuan, Nyonya."


Audrey buru-buru menghabiskan sarapannya dan masuk ke kamar Reiner. Ia melihat tasnya sudah ada di atas meja. Entah kenapa, Audrey sangat ingin mengecek ponselnya. Tujuan utamanya adalah untuk memeriksa apakah Reiner menelpon atau meninggalkan pesan. Namun, Audrey merasa kecewa saat mengetahui ponselnya mati.


Pasti baterainya habis. Aku harus mencharge ponselku dulu supaya bisa dinyalakan.


Setelah mencharge baterai ponselnya, Audrey keluar dari kamar Reiner. Bagi Audrey, kamar itu terasa kosong tanpa kehadiran Reiner. Padahal saat ini, ia sedang membutuhkan seseorang untuk mencurahkan isi hatinya.


Lebih baik aku ke rumah Mama hari ini.


"Bi, aku mau pergi sebentar ke rumah Mama. Nanti aku kembali setelah jam makan siang."


"Nyonya, tolong Anda jangan kemana-mana dulu. Saya takut Nyonya sakit lagi."


"Bibi tenang saja. Aku sudah minum vitamin. Aku akan naik taksi dan tidak akan mampir kemana-mana. Aku bosan diam saja di apartemen, Bi."


"Tapi, Nyonya. Tuan akan memarahi saya.."


"Bi Mila tidak usah takut. Aku yang akan bertanggung-jawab kalau Reiner marah. Aku pergi dulu, Bi."


Nyonya kenapa Anda tidak menurut pada saya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu nanti.


...****************...


Nicko menjemput Reiner dari bandara dan mengantarkannya pulang ke apartemen. Perjalanan mereka sedikit terhambat, karena kemacetan yang biasa terjadi menjelang jam berangkat ke kantor.


"Nicko, jam berapa sekarang?"


"Hampir jam sembilan pagi Tuan."


"Harusnya aku bisa pulang lebih awal. Apa Audrey tidak masuk kantor hari ini?"


"Iya, Tuan, Bi Mila mengatakan Nona cuti hari ini."

__ADS_1


"Nicko, kamu tidak memberitahu Bi Mila kalau aku pulang hari ini, khan?"


"Tidak, Tuan, seperti perintah Anda."


Bagus aku bisa memberikan kejutan untuk Audrey.


batin Reiner tersenyum sendiri.


"Tuan, apa Anda ingin mampir ke kantor dulu? Ada beberapa berkas yang harus Anda tandatangani."


"Tidak, aku akan langsung pulang. Nanti bawakan berkas-berkas yang harus aku tandatangani ke apartemen. Jangan lupa bawakan juga surat kontrak pernikahanku dengan Audrey."


"Baik, Tuan."


Aku selalu bisa menebak isi pikiran Tuan Reiner. Aku yakin kalau Tuan sudah jatuh cinta, dia akan membatalkan kontrak pernikahan itu.


batin Nicko memuji ketepatan prediksinya sendiri.


"Tapi, Nicko, jangan menggangguku terlalu lama. Datang saja waktu makan siang."


"Iya, Tuan."


Apa orang yang sedang jatuh cinta hanya ingin berdua saja di dunia? Aku bahkan dianggap sebagai pengganggu.


pikir Nicko keheranan.


"Nicko, menurutmu tempat mana yang paling bagus untuk bulan madu?"


Pertanyaan apa lagi ini, Tuan? Anda pikir saya punya waktu untuk memikirkan masalah semacam itu.


"Sebenarnya ada banyak Tuan. Tapi menurut saya lebih baik Tuan ajak Nona ke villa milik Tuan yang ada di dekat pegunungan. Tempat itu sejuk dan pemandangannya indah. Nona Audrey pasti suka."


"Tuan, saya rasa Nona Sofia akan bahagia jika melihat Anda bersama dengan Nona Audrey," kata Nicko mencoba meyakinkan Reiner.


Mendengar ucapan asistennya itu, Reiner kembali menyesali perbuatannya pada Audrey selama ini.


"Iya kamu benar. Sofia memang ingin aku membahagiakan Audrey. Aku saja yang terlalu bodoh dan lebih percaya kepada Tante Diana."


Reiner merasa senang ketika akhirnya ia tiba di apartemen.


"Nicko, kamu kembali saja ke kantor. Aku akan naik ke atas sendiri."


"Baik, Tuan, saya akan datang jam dua belas siang."


"Oke, terima kasih, Nicko."


Dengan langkah cepat, Reiner memasuki lift menuju ke lantai atas. Namun, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang. Entah mengapa dia merasa gugup untuk bertemu dengan Audrey. Kata-kata yang semula sudah dirancangnya, seolah lenyap begitu saja dari ingatannya.


Aku harus mulai dari mana? Apa lebih baik aku mengatakan bahwa aku rindu padanya dan langsung pulang. Ah...jangan terlalu kekanak-kanakan. Atau aku minta maaf dulu padanya atas kesalahanku. Tapi bagaimana kalau dia tidak mau memaafkanku?


pikir Reiner merasa bimbang.


Meskipun jantungnya masih berdebar-debar, Reiner memaksakan dirinya untuk tetap terlihat tenang. Setelah menekan password, Reiner membuka pintu apartemennya. Ia melihat Bi Mila sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Audrey disitu.


"Tu..an Reiner. Anda sudah pulang?" tanya Bi Mila terkejut dengan kedatangan Reiner.

__ADS_1


"Bi, dimana Audrey? Bukankah hari ini dia tidak masuk kerja?" tanya Reiner kepada Bi Mila.


Ekspresi takut tampak jelas di raut wajah Bi Mila.


"Maafkan saya, Tuan. Nyonya baru saja pergi. Nyonya mengatakan ingin ke rumah keluarganya."


"Apa dia pergi sendirian??? Kenapa Bibi tidak mencegahnya? Kemarin dia baru saja pingsan, bagaimana kalau dia tiba-tiba pingsan lagi di jalan? Aku menugaskan Bi Mila disini untuk menjaga dan menemani Audrey," ucap Reiner marah.


"Ma...afkan saya, Tu..an. Saya tidak bisa mencegah Nyonya,"


"Sudahlah, aku akan menyusulnya."


Reiner masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan koper yang dibawanya di lantai. Ia menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat ada ponsel Audrey di atas mejanya.


Dia bahkan meninggalkan ponselnya disini dalam keadaan mati. Kenapa kamu begitu ceroboh dan keras kepala, Audrey? Kamu tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri. Membuatku khawatir saja.


Reiner buru-buru membuka laci mejanya untuk mengambil kunci mobil. Akan tetapi, ia berhenti saat melihat penampilannya sendiri di depan cermin. Ia baru sadar bahwa ia belum mengganti bajunya sejak berada di dalam pesawat. Wajah dan rambutnya juga terlihat berantakan. Ia merasa tidak percaya diri jika harus bertemu istrinya dengan penampilan yang jelek seperti itu.


Aku akan mandi sebentar sebelum menjemput Audrey.


Setelah mandi dan menyegarkan dirinya, Reiner keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi nyaring beberapa kali. Reiner memeriksa ponselnya dan melihat sejumlah notifikasi pesan masuk dari sebuah nomer yang tidak dikenal.


Nomer ponsel siapa ini?


gumam Reiner merasa curiga.


Karena rasa penasaran, Reiner membuka pesan itu dan membaca isinya.


Tuan Reiner yang terhormat, saya hanya ingin memberitahukan bahwa istri Anda telah berselingkuh di belakang Anda. Kalau Tuan tidak percaya, silahkan lihat foto-foto berikut ini.


Mata Reiner terbelalak ketika mulai membuka isi pesan itu satu per satu. Ia melihat foto seorang pria muda yang sedang menggendong Audrey ke dalam mobilnya. Berikutnya, ada foto pria itu merangkul bahu Audrey dan menggandeng tangannya dengan mesra. Dan yang paling menyakitkan bagi Reiner, ia melihat Audrey sedang tersenyum bersama pria itu sambil memakan sepotong pizza. Audrey bahkan belum pernah menunjukan senyuman yang semanis itu ketika sedang berdua bersama dirinya.


"Aaargh...," teriak Reiner penuh kemarahan.


Bi Mila yang mendengar suara teriakan Reiner dari dapur, bergegas menghampiri tuannya itu.


"Tuan, ada apa...," tanya Bi Mila ketakutan melihat sorot mata Reiner.


Reiner berusaha menguasai dirinya dan menunjukkan sebuah foto kepada Bi Mila.


"Bi Mila, apa pria ini yang mengantarkan Audrey ke apartemen?"


"I...iya Tuan. Di..a yang bernama...Tuan Tristan," jawab Bi Mila gemetar.


"Tristan!!!"


"Audrey kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku???" erang Reiner menahan rasa sakit di hatinya.


Reiner mengepalkan tangannya dan menghantamkannya dengan keras ke dinding. Bi Mila semakin ketakutan menyaksikan tangan Reiner yang terluka dan mengeluarkan darah.


"Tu..an, Anda tidak apa-apa? Saya akan mengobati tangan Anda."


"Aku harus pergi sekarang," ucap Reiner tanpa menghiraukan Bi Mila.


Tatapan mata Reiner yang menakutkan membuat Bi Mila hanya bisa terpaku dalam diam. Ia tidak punya keberanian untuk mencegah kepergian Reiner yang sedang dikuasai oleh kemarahan itu.

__ADS_1


Aku harus menghubungi Tuan Nicko. Jangan sampai Tuan Reiner berbuat nekad dan melukai Nyonya.


pikir Bi Mila khawatir.


__ADS_2