Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
60 Bantuan yang Tulus


__ADS_3

"Ma, ijinkan Audrey untuk tetap disini sampai operasi Reiner selesai. Audrey mau memastikan Reiner baik-baik saja," ucap Audrey sambil berlinang air mata.


Hati Ny. Valeria tergerak melihat menantunya itu menangis.


"Iya, Audrey, Mama mengijinkan kamu menunggu disini. Tapi Mama mohon jangan menemui Reiner saat dia sudah sadar. Maafkan, Mama, Audrey. Mama terpaksa melakukan ini untuk kebaikan Reiner," ucap Ny. Valeria kembali memeluk Audrey.


Audrey kembali ke ruangan operasi bersama Ny. Valeria. Tuan Alexander tampak masih berbicara serius dengan Nicko.


"Nicko, besok aku akan menemui kepala kepolisian. Aku ingin Diana dijebloskan ke penjara. Dia harus dihukum atas perbuatannya yang berani membahayakan nyawa putraku," ucap Tuan Alexander penuh kemarahan.


"Iya, Tuan. Saya sudah mengirimkan anak buah saya untuk mencegah Ny. Diana kabur dari kota ini. Ketika Tuan Reiner sadar nanti, saya akan memastikan Ny. Diana sudah ditangkap."


Nicko memperhatikan wajah Audrey yang terlihat pucat.


"Nona, Anda tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, Nicko," jawab Audrey singkat.


Tuhan, tolong sembuhkan Reiner. Aku bersedia melakukan apa saja asalkan Reiner selamat.


batin Audrey memanjatkan doanya.


Sementara itu, Tristan dan Ryan sudah sampai di Rumah Sakit Victory. Ryan menuju ke bagian resepsionis untuk menanyakan tentang Reiner.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya resepsionis.


"Mbak, apa disini ada pasien atas nama Reiner Bratawijaya. Dia korban kecelakaan tadi sore."


"Sebentar, Tuan akan saya cek datanya."


Ryan menunggu resepsionis itu mengecek data di komputernya.


"Tuan, pasien atas nama Reiner Bratawijaya sedang berada di ruang operasi. Apa Anda keluarganya?"


"Bukan, saya ingin menjenguknya."


"Maaf, Tuan, selain keluarga pasien dilarang menunggu di ruang operasi. Jika Anda ingin menjenguk, silahkan kembali besok saat jam besuk pukul sepuluh pagi, Tuan."


"Baik, Mbak."


"Bagaimana, Ryan?" tanya Tristan penasaran.


"Tuan Reiner memang dirawat disini, Tuan. Tapi kata resepsionis dia sedang dioperasi. Kita disuruh kembali besok, Tuan. Apa sebaiknya kita pulang sekarang?"


"Jangan, aku ingin mengetahui hasil operasinya. Sebaiknya kita tunggu dulu di lobby."


...****************...


Waktu terasa berlalu begitu lama bagi Audrey. Ia hanya bisa menunggu hasil operasi suaminya dengan perasaan yang campur aduk.


"Deg..." jantung Audrey berdebar kencang ketika lampu indikator ruang operasi akhirnya padam.


Dokter yang mengoperasi Reiner keluar diikuti oleh para perawat.


"Nyonya, silahkan ikut saya."


Audrey dan Ny. Valeria mengikuti dokter ke ruangannya.


"Nyonya, operasi berjalan dengan baik. Kami juga sudah memasangkan pen di kaki Tuan Reiner. Kita tinggal menunggu perkembangannya sampai pasien sadar."


"Terimakasih, Dokter," ucap Ny. Valeria.


"Nyonya, pasien akan kami pindahkan ke ruang transisi. Mari ikut saya," kata perawat mengajak Audrey dan Ny. Valeria mengikuti mereka.


Di ruang transisi, Audrey melihat Reiner yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Banyaknya alat bantu di tubuh Reiner, membuat Audrey semakin sedih.

__ADS_1


Audrey duduk di samping tempat tidur Reiner dan memegang tangannya.


"Rein, cepatlah sadar, Sayang. Aku ada disini untuk menemanimu."


Ny. Valeria memegang bahu Audrey untuk menenangkannya.


"Audrey, tenanglah. Setelah Reiner sadar kami akan membawanya ke luar negri untuk menjalani pengobatan yang intensif. Sekarang sudah malam, lebih baik kamu pulang. Mama dan Papa yang akan menjaga Reiner."


"Ma, tapi Audrey masih ingin menemani Reiner."


"Audrey, kalau Reiner sadar dan melihatmu, dia tidak akan membiarkanmu pergi. Kamu juga akan lebih sulit berpisah dari Reiner. Kamu tidak perlu khawatir, Mama akan memberikan perawatan yang terbaik untuk Reiner."


Hati Audrey terasa sangat berat untuk pergi dari sisi Reiner. Tapi, ia tidak bisa menghindar dari kenyataan pahit yang harus dia terima saat ini.


Rein, maafkan aku. Sekarang aku harus pergi meninggalkanmu sendirian. Aku janji akan menjaga anak kita. Berjuanglah untuk cepat sembuh, Sayang. *Aku yakin s*uatu hari kita bisa bersama lagi.


batin Audrey sambil mencium tangan Reiner.


"Baik, Ma, Audrey akan pulang. Tolong jaga Reiner. Audrey pamit," ucap Audrey melepaskan tangan Reiner.


"Hati-hati, Audrey."


Sambil menghapus air matanya, Audrey keluar dari ruang transisi. Ia bertemu dengan Nicko dan Tuan Alexander yang duduk menunggu di depan ruangan.


"Audrey, apakah Reiner sudah sadar?" tanya Tuan Alexander cemas.


"Belum, Pa. Mama masih menunggu di dalam. Papa bisa masuk untuk melihat keadaan Reiner."


"Iya, Papa akan melihat Reiner," jawab Tuan Alexander bergegas menuju ke ruang transisi.


Nicko mengamati Audrey yang berjalan dengan tatapan kosong.


"Nona, sebaiknya Anda pulang. Saya akan mengantarkan Anda ke rumah. Anda harus banyak istirahat, Nona."


"Tidak usah, Nicko. Aku akan pulang naik taksi. Kamu disini saja menjaga Reiner."


Audrey berlalu tanpa menghiraukan perkataan Nicko. Ia masuk ke dalam lift dan turun menuju lobby.


"Tuan, itu Nona Audrey," ucap Ryan memberitahu Tristan.


Audrey? Kenapa dia berjalan sendirian? Apa dia mau pulang?


pikir Tristan keheranan.


Tristan berdiri dan menghampiri Audrey.


"Tuan Tristan? Kenapa Anda ada disini?" tanya Audrey terkejut.


"Aku dengar Reiner mengalami kecelakaan tadi sore. Bagaimana keadaannya? Apa operasinya sudah selesai?"


"Operasinya sudah selesai, tapi Reiner belum sadar. Maaf, saya harus pulang sekarang..." jawab Audrey berjalan menuju pintu lobby.


Kenapa wajah Audrey begitu pucat? Tatapan matanya juga kosong.


"Audrey, tunggu..."


Audrey berusaha memanggil taksi yang ada di depan rumah sakit, tanpa menghiraukan panggilan Tristan. Namun, mendadak ia merasa kepalanya pusing dan pandangannya bergoyang. Audrey hampir saja terjatuh jika Tristan tidak menahan tubuhnya tepat waktu.


"Audrey, kamu sakit? Ayo kita periksa ke dokter," ucap Tristan membantu Audrey yang masih lemah untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit.


"Ryan, tolong daftarkan Audrey ke dokter jaga yang bertugas malam ini."


"Iya, Tuan," jawab Ryan sigap.


Tristan membawa Audrey ke dalam ruang pemeriksaan.

__ADS_1


"Nyonya, apa Anda belum makan? Tekanan darah Anda sangat rendah," tanya dokter setelah memeriksa Audrey.


"Iya, Dokter."


Aidrey baru teringat bahwa dia melewatkan makan malam karena terlalu sedih memikirkan Reiner.


Dokter itu memeriksa Audrey dengan lebih teliti, lalu mengalihkan pandangannya kepada Tristan.


"Tuan, istri Anda tampaknya sedang mengalami tekanan berat. Anda harus menjaga istri Anda supaya tidak stress dan kelelahan. Istri Anda sedang berada di trimester awal kehamilan, jadi harus cukup gizi dan cukup istirahat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, sebaiknya besok Anda membawa istri Anda ke dokter Obgyin. Sementara saya berikan dulu resep vitamin untuk ibu hamil."


Tristan terkejut mendengar informasi yang disampaikan oleh dokter itu.


Jadi Audrey sedang hamil.


"Baik, dokter. Terima kasih," jawab Tristan.


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Tristan menyerahkan resep itu kepada Ryan.


"Tuan tidak usah membeli resepnya. Saya masih punya vitamin di rumah. Terima kasih Tuan sudah membantu saya. Saya akan pulang sekarang," ucap Audrey bersikeras.


Namun tangan Tristan menahan Audrey.


"Audrey, kondisimu sedang lemah. Apa kamu mau membahayakan bayimu sendiri? Aku akan mengantarmu pulang."


"Ryan, ayo kita pulang sekarang," perintah Tristan kepada asistennya.


"Tuan kita akan mengantarkan Nona Audrey kemana?" tanya Ryan mengemudikan mobilnya.


"Kita mampir sebentar ke restoran cepat saji. Setelah itu kita ke apartemen Amarilla," jawab Tristan.


"Tuan, saya tidak tinggal di apartemen Amarilla lagi."


"Lalu, dimana kamu sekarang tinggal bersama Reiner?" tanya Tristan terkejut.


Audrey bingung harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Tristan. Ia tidak mungkin pulang ke rumahnya karena Reiner pasti akan mudah menemukannya disana. Sebenarnya ia sangat ingin pulang ke rumah Mamanya, tapi ia tidak ingin mengejutkan Mama dan Opanya di malam hari seperti ini.


"Audrey, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku? Apa kamu takut kalau aku tau alamat rumahmu, aku akan berbuat macam-macam atau mengganggumu? Aku cuma ingin mengantarkanmu pulang," tanya Tristan merasa kesal.


"Ti..dak, Tuan. Saya...tidak tau harus pulang kemana," jawab Audrey dengan suara lirih.


"Kenapa? Kamu seharusnya pulang ke rumah suamimu."


"Tidak, Tuan, saya tidak bisa..." jawab Audrey mulai meneteskan air mata.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dia kelihatan sangat lemah dan sedih, aku tidak boleh terlalu menekannya sekarang.


pikir Tristan merasa kasihan.


Setelah tiba di restoran cepat saji, Tristan memesankan beberapa makanan untuk Audrey.


"Ini kamu harus makan dulu," ucap Tristan menyerahkan makanan kepada Audrey.


Audrey menerima makanan itu dengan ragu-ragu. Namun ia sadar bahwa bayinya membutuhkan makanan. Ia juga sudah berjanji pada Reiner untuk menjaga anak di dalam kandungannya.


"Tuan, terima kasih."


Tristan tidak menjawab ucapan terima kasih Audrey. Ia hanya menatap Audrey yang masih terlihat lemah.


"Tuan, lalu kita harus mengantarkan Nona Audrey kemana?" tanya Ryan bingung.


"Kita ke hotel di sekitar sini. Biarkan Audrey menginap semalam disana."


"Baik, Tuan."


Ryan melajukan mobilnya ke hotel Maison yang paling dekat dengan lokasi mereka. Setelah memesankan satu kamar hotel untuk Audrey, Tristan mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar.

__ADS_1


"Istirahatlah semalam disini. Besok aku akan mengantarmu pulang," ucap Tristan melangkah pergi meninggalkan Audrey.


Jauh di dalam hatinya, Tristan ingin sekali menemani Audrey yang terlihat sangat rapuh. Namun ia sadar bahwa Audrey adalah istri orang lain. Ia tidak boleh terlalu dekat dengan Audrey, apalagi saat suaminya sedang terkena musibah.


__ADS_2