Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
44 Jatuh Pingsan


__ADS_3

Insiden mengejutkan yang terjadi di akhir proses audit, masih menjadi bahan pembicaraan di antara para staff finance. Mereka menunggu dalam gelisah sembari menebak-nebak siapakah pelaku sesungguhnya dari pencurian itu. Para staff yang penasaran saling berbisik satu sama lain. Suara pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka, membuat mereka spontan kembali ke meja masing-masing. Mereka melihat Karin melangkah seorang diri ke mejanya tanpa mengatakan apapun. Gadis itu tergesa-gesa membersihkan dan mengemasi semua barang-barangnya.


Tasya mendekati Karin dan mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan.


"Karin, kenapa kamu mengemasi barang-barangmu? Apa kamu sudah selesai mengikuti wawancara dengan para auditor? Bagaimana hasilnya?" tanya Tasya ingin tau.


"Ini hari terakhirku bekerja di Oragon," jawab Karin singkat.


Tasya memperhatikan mata Karin yang tampak sembab.


"Kamu mau resign? Kenapa mendadak sekali? Apa yang terjadi, Karin?"


"Nanti juga kamu akan tau. Selamat tinggal, Tasya."


"Eh, Karin, tunggu..."


Karin membawa tas dan barang-barangnya tanpa menghiraukan Tasya, lalu bergegas keluar dari ruangan finance.


"Tasya, kenapa dengan Karin? Kenapa dia jadi seperti itu?" tanya Susan penasaran.


Tasya mengangkat bahunya.


"Entahlah, dia bilang mau resign dan hari ini adalah hari terakhir dia bekerja."


"Apa? Jangan-jangan para auditor menjadikan Karin sebagai tersangka pelaku pencurian uang? Atau dia yang sengaja memasukkan amplopnya ke cabinet Mbak Audrey?" sambung Renita mencoba membuat kesimpulan.


Para staff yang sedang asyik bergosip, dikejutkan oleh suara langkah kaki beberapa orang yang memasuki ruangan. Pak Rizal bersama dua orang auditor, berjalan cepat ke ruangan finance diikuti oleh Audrey dan Tristan.


"Selamat sore semuanya, ada yang ingin saya sampaikan hari ini," kata Pak Rizal mengumpulkan seluruh staff.


"Berkaitan dengan insiden hilangnya uang dan cek, saya dan para auditor sudah mengambil sebuah keputusan. Keputusan ini bersifat mutlak berdasarkan pengakuan dari Karin sendiri. Karin sengaja memasukkan amplop berisi uang dan cek ke cabinet Audrey, dengan tujuan untuk mencemarkan nama baik Audrey. Jadi, per hari ini Saudari Karin resmi mengundurkan diri dari Oragon Group. Kasus ini sudah selesai dan saya harap tidak ada lagi staff finance yang membicarakannya. Kejadian hari ini juga tidak perlu disebarluaskan ke divisi lain. Saya minta kerjasamanya untuk seluruh staff finance. Apa permintaan saya ini bisa dimengerti?" ucap Pak Rizal tegas.


"Baik, Pak, kami mengerti..." jawab para staff bersamaan.


Pak Rizal mengalihkan perhatiannya kepada kedua auditor yang berdiri di sampingnya.


"Tuan Adam, Tuan Leon, saya selaku pimpinan divisi finance benar-benar minta maaf atas kejadian hari ini. Saya tidak menyangka ada staff saya yang berani bertindak di luar batas. Saya harap Anda berdua bisa memakluminya."


"Tidak apa-apa, Tuan Rizal. Kami sudah sering mengalami kejadian tidak terduga sepanjang pengalaman kami melakukan tugas audit. Semoga Anda bisa mendapatkan staff pengganti yang jujur dan loyal," jawab Tuan Adam tulus.


"Terima kasih, Tuan. Silahkan jika ada yang ingin Anda sampaikan sebagai penutup dari rangkaian proses audit hari ini."


Tuan Adam menganggukkan kepalanya kepada Pak Rizal dan mulai berbicara di hadapan para staff.


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama Anda sekalian. Saya senang karena proses audit hari ini berjalan lancar hingga selesai. Meskipun tadi ada sedikit insiden yang membuat Anda semua cemas. Namun, kita patut bersyukur karena kasusnya sudah selesai dengan cepat. Sekali lagi saya dan Tuan Leon mengucapkan terima kasih. Kami mohon diri, semoga kita bisa berjumpa kembali. Selamat sore," ucap Tuan Adam mengakhiri kata-katanya.


Pak Rizal bersalaman dengan kedua auditor lalu mengantarkan mereka keluar dari ruangan finance. Sebelum pergi, Pak Rizal menyempatkan diri untuk berbicara sebentar dengan Audrey.


"Drey, kalau kamu sudah selesai menyimpan uang dan cek di brankas, kamu boleh pulang. Istirahat saja dulu supaya besok kamu bisa bekerja dengan tenang."


"Baik, Pak, terima kasih."


...****************...

__ADS_1


Audrey menghempaskan dirinya di kursi. Ia masih belum mengerti kenapa Karin sangat membencinya. Padahal ia selalu berusaha membimbing dan membantu Karin hampir di setiap pekerjaannya. Bahkan Audrey memberikan perhatian lebih kepada Karin sebagai seorang staff baru yang belum memiliki pengalaman kerja.


"Mbak, kenapa Karin sampai tega berbuat hal yang jahat untuk memfitnah Mbak? Susan jadi bingung. Selama ini Susan kira Karin itu baik," ucap Susan membuyarkan lamunan Audrey.


"Iya bener. Apa ya alasan Karin melakukan hal itu? Dan anehnya dia langsung ngaku di depan auditor," sambung Tasya keheranan.


"Aku juga tidak tau alasan Karin yang sebenarnya. Tapi sudahlah, Pak Rizal menyuruh kita untuk tidak membicarakannya lagi. Lagipula aku sudah memaafkan Karin."


"Wah, Mbak ini berhati malaikat. Kalau aku yang difitnah seperti itu sudah aku gampar si Karin," ucap Susan marah.


Staff yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Susan.


"Kalian beres-beres aja. Ini sudah jam pulang kantor. Aku juga mau membereskan pekerjaanku," ucap Audrey menenangkan anak buahnya.


Audrey mengambil dua buah box berisi uang dan cek lalu berjalan menuju ke ruang brankas. Setelah selesai menutup brankas dan mengunci pintu, Audrey kembali ke ruangannya. Namun, entah mengapa pandangannya mendadak kabur. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang tampak bergoyang di hadapannya. Selang beberapa detik berikutnya, Audrey tidak mampu lagi menguasai tubuhnya. Tristan yang melihat Audrey akan terjatuh, segera berlari menangkap tubuh Audrey.


"Ibu, ibu, bangun.." ucap Tristan khawatir melihat Audrey yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tristan, Audrey kenapa?" tanya Pak Rizal yang baru saja kembali ke ruangannya.


"Pak, Ibu Audrey pingsan. Saya akan membawanya ke rumah sakit."


"Iya, iya, Tristan. Saya akan membantu kamu."


"Biar saya saja yang membawanya, Pak. Nanti saya akan meminta bantuan security. Bapak tinggal saja disini untuk mengawasi para staff."


"Iya, Tristan, terima kasih. Hati-hati ya..."


Tristan menggendong Audrey yang masih pingsan dan membawanya ke dalam lift. Setibanya di lantai bawah, Tristan meminta bantuan para security untuk mengambilkan mobilnya di area parkir.


"Baik, Pak."


Dengan sigap, para security membantu Tristan hingga berhasil membawa Audrey masuk ke dalam mobil. Salah seorang security memberikan minyak angin kepada Tristan.


"Pak, coba oleskan minyak anginnya ke Ibu Audrey."


Tristan memasangkan safety belt lalu mengoleskan minyak angin itu ke dahi Audrey.


"Terima kasih, Pak. Saya akan langsung ke rumah sakit," ucap Tristan berpamitan kepada para security yang membantunya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Audrey mulai sadar dan perlahan-lahan membuka matanya.


"Ibu, Anda sudah sadar?" tanya Tristan khawatir.


Raut wajah Audrey tampak kebingungan dengan keadaan di sekitarnya.


"Tristan, kita ada dimana...?"


"Kita dalam perjalanan menuju rumah sakit."


"Rumah sakit? Memangnya apa yang terjadi?"


"Ibu tadi pingsan dan saya akan membawa Ibu ke rumah sakit agar segera diperiksa oleh dokter."

__ADS_1


"Tristan itu tidak perlu. Aku... hanya pusing tadi."


"Ibu harus menurut pada saya. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu."


"Tristan, kumohon tidak perlu ke rumah sakit. Aku sudah baikan. Mungkin aku hanya kelelahan karena peristiwa tadi," ucap Audrey dengan sorot mata memohon.


"Lalu apa yang Ibu inginkan sekarang?"


"Aku cuma ingin pulang, makan, dan istirahat," jawab Audrey spontan.


"Baik saya akan mengantarkan Ibu pulang. Tapi sebelumnya Ibu harus makan."


Tristan melajukan mobilnya ke arah restoran pizza yang berada tidak jauh dari lokasi mereka.


"Ibu, hari ini kita akan makan pizza. Sejak kecil saya suka sekali makan pizza, apalagi saat saya sedang sedih. Pizza bisa membuat suasana hati kita jadi lebih baik," ajak Tristan sembari memarkirkan mobilnya.


Tristan membukakan pintu mobil dan menawarkan bantuannya untuk Audrey.


"Tristan, aku bisa sendiri," jawab Audrey mencoba berdiri dan keluar dari mobil. Namun, tubuhnya yang masih lemah membuatnya hampir terjatuh.


"Ibu, apa saya bilang? Ibu seharusnya ke rumah sakit. Sekarang Ibu bisa pilih mau ke rumah sakit atau mau saya bantu berjalan?"


Tanpa menunggu jawaban dari Audrey, Tristan merangkul bahu Audrey dan menggandeng tangannya hingga mereka masuk ke dalam restoran.


Tristan memesan sebuah pizza berukuran besar dan segelas coklat hangat untuk Audrey.


"Ibu, saat saya kecil saya bisa menghabiskan satu kotak pizza ini sendirian. Karena itu saya dulu sangat gemuk sampai dijuluki si bola besar oleh teman-teman sekolah saya."


"Apa kamu segemuk itu?" tanya Audrey tidak percaya.


"Benar, Ibu. Pipi saya tembem dan perut saya buncit. Untungnya setelah remaja saya mulai berolah-raga dan jadi ganteng seperti sekarang," ucap Tristan nyengir.


"Jadi, sekarang Ibu harus habiskan pizzanya sebelum saya makan semuanya," sambung Tristan menyerahkan sepotong pizza kepada Audrey.


Audrey tersenyum mendengar gurauan Tristan. Walaupun pria itu kadang suka bicara semaunya, tapi Tristan mengerti bagaimana cara menghibur orang yang sedang sedih.


Audrey menatap jam di dinding restoran yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Audrey baru teringat bahwa sejak tadi ia tidak melihat tasnya di dalam mobil Tristan.


Bi Mila kemarin mengatakan kalau Reiner akan menelponku. Tapi dimana ponselku?


"Tristan, apa kamu tadi membawa tasku?" tanya Audrey cemas.


"Tidak, Ibu. Saya tadi buru-buru membawa Ibu ke rumah sakit. Tas Ibu pasti masih tertinggal di meja Ibu."


"Tristan, kita harus mengambilnya. Ponselku ada di dalam tas."


"Ibu ini sudah malam. Saya yakin Tasya, Susan atau Pak Rizal pasti menyimpankan tas Ibu dengan aman."


"Tapi..."


"Ibu tenang saja. Besok saya akan meminta bantuan security atau office boy untuk mengantarkan tas Ibu ke apartemen. Besok lebih baik Ibu cuti dulu sehari."


"Kalau begitu tolong antarkan aku pulang sekarang, Tristan."

__ADS_1


"Siap Ibu, saya akan mengantarkan Ibu dengan selamat."


Dengan terpaksa, Audrey menuruti saran dari Tristan. Akan tetapi di dalam hati, Audrey masih gelisah memikirkan ponsel miliknya yang tertinggal di kantor. Ia hanya berharap bisa sampai tepat waktu di apartemen sebelum Reiner menelponnya.


__ADS_2