Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
56 Berita Gembira


__ADS_3

Audrey berdiri dari kursinya dan melepaskan genggaman tangan Tristan.


"Maaf, Tuan Tristan, saya tidak bisa berdansa. Jadi saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda. Saya harap Tuan memilih yang lain untuk menemani Tuan berdansa," jawab Audrey di hadapan para tamu.


Audrey, kamu menolakku di depan semua orang? Bahkan kamu tidak mau berdansa denganku. Sekarang sudah jelas kamu memilih Reiner Bratawijaya.


pikir Tristan merasa tersakiti.


MC yang memandu acara buru-buru berbicara untuk mencairkan suasana.


"Tuan Tristan, ternyata Nyonya Audrey tidak bisa berdansa. Jadi silahkan memilih tamu yang lain untuk menjadi pasangan Anda."


"Saya tidak jadi ikut dansa malam ini. Silahkan lanjutkan acaranya," jawab Tristan meninggalkan Audrey dan kembali duduk di kursinya.


Reiner yang melihat kejadian itu, tidak mempedulikan lagi kata-kata Bianca. Ia melepaskan tangan Bianca dan segera menghampiri istrinya.


"Sayang, aku kira kamu akan mau berdansa dengannya. Kalau itu sampai terjadi, aku pasti akan menghajar Tristan Tirtawiguna. Aku tidak peduli lagi dengan sopan santun di acara ini," ucap Reiner penuh kemarahan.


"Sayang, aku tidak mungkin berbuat hal yang akan mempermalukanmu atau membuatmu terluka. Aku sangat mencintaimu," jawab Audrey memegang erat tangan Reiner.


"Aku harus bicara dengan Tristan supaya dia tidak berani mengganggu istriku lagi," kata Reiner hendak melampiaskan amarahnya.


Namun, Audrey menggandeng tangan Reiner untuk menahannya.


"Sayang, kumohon jangan memperpanjang masalah ini. Ayo kita pulang sekarang. Aku berjanji padamu besok Senin aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Aku tidak akan bekerja lagi di Oragon Group," ucap Audrey dengan sorot mata memohon.


"Benar, kamu akan mengundurkan diri?"


Audrey menatap mata Reiner dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Rein, aku lebih memilihmu daripada pekerjaanku. Kamu yang terpenting untukku."


Jawaban Audrey membuat hati Reiner luluh. Ia memeluk Audrey dan mengajaknya pergi meninggalkan acara makan malam itu.


...****************...


Setibanya di apartemen, Audrey melihat wajah Reiner yang terlihat masih kesal.


Aku harus melakukan sesuatu supaya dia tidak marah lagi.


pikir Audrey mencari ide.


Audrey menarik tangan Reiner masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kamu khan tau aku tidak bisa berdansa. Apa kamu mau mengajariku sekarang?" tanya Audrey memegang tangan Reiner.


"Bukankah aku pernah mengajakmu berdansa dulu di hari pernikahan kita?"


"Kamu hanya mengajariku sebentar, dan aku hampir menginjak kakimu beberapa kali. Kamu juga sangat galak padaku waktu itu. Jadi tolong ajari aku sekarang, tapi dengan cinta," jawab Audrey manja.


Reiner tersenyum melihat usaha Audrey untuk merayunya.


"Hmmm...baiklah. Aku akan mengajarimu, Sayang. Tapi ingat jangan gunakan kemampuan barumu nanti untuk berdansa dengan pria lain. Atau aku akan marah besar padamu," ucap Reiner memperingatkan istrinya.


"Iya, Tuan Reiner. Saya adalah milik Anda. Saya tidak berani melanggar perintah Anda."


Reiner mengambil ponselnya dan memutarkan sebuah lagu dengan musik yang romantis. Ia memeluk pinggang Audrey dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam lembut tangan Audrey.


"Sayang, sekarang ikuti gerakanku pelan-pelan. Kita coba bergerak maju lalu mundur. Kalau kamu sudah bisa kita coba gerakan selanjutnya."


Audrey mematuhi instruksi Reiner. Ia tidak menyangka bisa mengikuti gerakan suaminya itu dengan baik.


"Sayang, kamu sudah mulai bisa berdansa. Kamu memang murid yang berbakat," puji Reiner melihat gerakan Audrey.

__ADS_1


"Tentu. Saya punya guru Tuan Reiner yang sangat tampan. Makanya saya jadi bersemangat."


Reiner mencubit hidung Audrey dengan gemas.


"Sekarang kamu lebih pintar merayu daripada aku. Sayang, bagaimana kalau kita berhenti berdansa dan melakukan kegiatan lain?" tanya Reiner berbisik di telinga Audrey.


"Kegiatan apa, Rein? Ini sudah malam," tanya Audrey pura-pura tidak mengerti.


Reiner menggendong Audrey ke atas tempat tidur.


"Nanti kamu juga akan tau."


Audrey tersenyum melihat Reiner yang tampak sudah melupakan amarahnya. Saat ini, Audrey bersedia melakukan apa saja asalkan cinta sejatinya itu tetap berada di sisinya selamanya.


...****************...


Pagi hari, Reiner terbangun lebih dulu dari Audrey. Ia melihat Audrey masih tertidur nyenyak dan tidak tega untuk membangunkannya.


Reiner mengambil ponselnya untuk menghubungi Nicko.


"Nicko, apa persiapan rumah baru sudah selesai? Aku akan mengajak Audrey pindah dari apartemen siang ini," tanya Reiner kepada Nicko.


"Hampir selesai, Tuan. Saya pastikan sebelum makan siang rumah sudah siap ditempati."


"Nicko, beritahukan kepada Pak Beni untuk datang ke apartemen. Pak Beni akan membantu Bi Mila mengemasi dan memindahkan barang-barangku dan Audrey."


"Baik, Tuan."


Audrey terbangun karena mendengar suara Reiner yang berbicara di telpon. Tapi entah mengapa kepalanya terasa sangat pusing. Ia berusaha bangun perlahan-lahan dan menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.


"Sayang, kamu sudah bangun? Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu pusing lagi?" tanya Reiner cemas melihat Audrey.


"Kepalaku tiba-tiba pusing, Rein."


Reiner menghampiri Audrey dan memegang dahinya.


Audrey kembali membaringkan tubuhnya, namun perutnya mendadak bergejolak. Ia merasakan mual yang sudah tidak dapat ditahan dan lari menuju ke kamar mandi.


Reiner buru-buru menyusul Audrey.


Ia menjadi panik melihat Audrey sedang muntah-muntah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reiner sembari memijat tengkuk istrinya.


"Aku mual sekali, Rein. Tapi aku merasa lebih baik setelah muntah."


"Sayang, kamu berbaring dulu di kamar. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu."


Reiner memberikan minum untuk Audrey dan membantunya berbaring di tempat tidur. Ia keluar dari kamarnya untuk mencari Bi Mila.


"Bi, tolong antarkan sarapan Audrey ke kamar. Audrey sedang sakit. Aku akan menelpon dokter dulu."


"Tuan, Nyonya sakit apa?" kata Bi Mila khawatir.


"Audrey tiba-tiba pusing dan muntah-muntah saat bangun tidur," jawab Reiner.


Bi Mila tersenyum mendengar penjelasan Reiner.


"Maaf, Tuan, menurut saya Nyonya tidak sakit. Tapi, kemungkinan Nyonya sedang mengalami gejala awal kehamilan. Sejak Nyonya pingsan dulu, saya sudah menebak Nyonya sepertinya sedang hamil muda."


Rasa terkejut bercampur bahagia memenuhi hati Reiner. Perkataan Bi Mila terdengar seperti sebuah alunan musik terindah yang pernah didengarnya.


Apa benar Audrey hamil? Jika benar itu terjadi, artinya impianku membangun keluarga yang bahagia akan menjadi kenyataan. Aku akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


pikir Reiner merasa bahagia.


"Bi Mila, kalau begitu cepat antarkan sarapannya. Aku akan meminta dokter segera datang kesini."


Reiner menghubungi dokter Wilson yang merupakan dokter pribadi keluarga Bratawijaya, sekaligus teman orang tuanya.


"Pagi, Dokter Wilson. Ini Reiner. Apa dokter sekarang bisa ke apartemen saya untuk memeriksa istri saya? Istri saya sedang sakit," ucap Reiner meminta dokter Wilson datang.


"Pagi, Reiner. Tentu saya akan segera datang. Dimana alamat apartemenmu?" tanya dokter Wilson.


Reiner memberikan alamat lengkap apartemennya kepada dokter Wilson. Ia berharap agar apa yang dikatakan Bi Mila benar-benar menjadi kenyataan.


...****************...


Dengan harap-harap cemas, Reiner menunggu dokter Wilson memeriksa Audrey. Dokter Wilson tampak memeriksa Audrey dengan sangat teliti. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Audrey sebelum memastikan hasil diagnosanya. Setelah merasa yakin, Dokter Wilson berdiri sambil menepuk bahu Reiner.


"Selamat, Reiner, kamu akan menjadi seorang ayah. Istrimu sedang hamil. Usia kandungannya sekitar empat minggu. Untuk lebih memastikan usia kehamilannya, kamu bisa memeriksakan istrimu ke dokter spesialis kandungan," ucap Dokter Wilson memberikan penjelasan.


Rona bahagia memenuhi wajah Reiner.


"Terima kasih, Dokter."


Reiner menghampiri Audrey dan memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu sedang hamil anak kita. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."


"Iya, Rein. Aku sangat bahagia," ucap Audrey merasa terharu."


Dokter Wilson menyerahkan resep yang ditulisnya kepada Reiner.


"Ini resep vitamin untuk ibu hamil. Istrimu harus rutin minum vitamin, cukup istirahat, dan makan makanan yang bergizi. Saya akan memberikan beberapa referensi dokter kandungan yang bisa kamu pilih."


"Baik, Dokter. Sekali lagi terima kasih."


"Oh ya, Dokter tolong jangan beritahukan apa-apa dulu kepada orang tua saya. Saya dan Audrey yang akan menyampaikan kabar bahagia ini," sambung Reiner sembari mengantarkan Dokter Wilson ke pintu depan.


"Tentu, Reiner, jangan khawatir. Jaga istrimu baik-baik."


Setelah Dokter Wilson pulang, Reiner kembali ke kamarnya. Ia melihat Audrey sedang memainkan sendoknya dan enggan untuk menghabiskan sarapannya. Ia mengecup dahi istrinya itu dengan lembut.


"Sayang, kenapa kamu tidak makan? Sekarang kamu harus makan untuk dua orang."


"Aku masih sedikit mual, Sayang."


"Kalau begitu kamu ingin makan apa? Aku akan menyuruh Bi Mila membuat makanan yang kamu mau. Atau kamu ingin aku membelikan makanan untukmu?"


Audrey berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Reiner.


"Hmmm, aku ingin makan cake coklat yang manis."


"Baiklah, tunggu disini aku akan membelikan cake coklat yang paling enak untukmu."


"Sayang, jangan pergi kemana-kemana. Aku ingin kamu tetap disini menemaniku," ucap Audrey memegang tangan Reiner.


Reiner tersenyum melihat perubahan sikap Audrey yang menjadi manja terhadapnya.


"Aku akan menemanimu disini."


"Rein, bukankah hari ini kita akan pindah ke rumah baru?"


"Iya, Sayang. Tapi kita akan menundanya dulu sampai kamu benar-benar sehat."


"Aku mau pindah rumah hari ini, Sayang. Aku sangat ingin melihat rumah kita dan menghirup udara segar. Aku bosan tinggal di dalam apartemen," ucap Audrey memohon kepada Reiner.

__ADS_1


"Baiklah, Nyonya Bratawijaya, kita akan pindah hari ini sesuai permintaan Anda," jawab Reiner membelai rambut Audrey.


Di dalam hatinya, Reiner berjanji akan memenuhi semua permintaan Audrey, asalkan istrinya itu bahagia.


__ADS_2