Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
38 Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

Malam yang semakin larut, tidak membuat Reiner berhenti melepaskan gairah cintanya. Reiner tetap mencumbu istrinya, hingga membuat Audrey melayang ke alam mimpi yang indah. Tubuh keduanya yang basah oleh keringat, tidak menghalangi Reiner untuk menyatukan diri beberapa kali dengan Audrey. Setelah merengkuh kenikmatan yang paling dalam, Reiner merebahkan dirinya di samping Audrey. Reiner memeluk tubuh polos istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan.


Mulai sekarang aku akan selalu mencintaimu, Audrey. Kamu adalah wanita milikku dan satu-satunya yang akan mendampingiku selamanya. Aku yakin kamu tidak bersalah. Aku yang sudah bersalah padamu.


batin Reiner menyesali perbuatannya selama ini.


Maafkan aku, Sayang.


Reiner mempererat pelukannya, hingga akhirnya dia terlelap bersama Audrey.


Audrey terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui tirai kamarnya. Ia terkejut mendapati Reiner yang sedang memeluknya sambil masih tertidur pulas. Perlahan-lahan, Audrey berusaha memindahkan tangan Reiner dan menggeser badannya agar tidak membangunkan suaminya.


Rein, kenapa kamu memberikan cinta yang begitu indah padaku semalam? Apa mungkin kamu mulai mencintaiku atau kamu hanya mempermainkan perasaanku? Apakah aku akan sanggup kehilangan dirimu nanti?


pikir Audrey pahit.


Audrey beringsut dari tempat tidur dan mengambil bajunya. Ia buru-buru membersihkan dirinya di kamar mandi. Melihat banyaknya tanda kepemilikan yang diberikan Reiner di tubuhnya, Audrey merasa kenangannya semalam tidak akan hilang begitu saja. Mungkin Reiner memang sengaja melakukannya agar dirinya tersiksa seumur hidup. Audrey sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menjalani hari-harinya kelak di kamar itu. Ketika kontrak pernikahan mereka sudah berakhir, cintanya hanya akan tinggal kenangan.


Audrey merapikan diri dan keluar dari kamarnya.


"Drey, ayo sarapan. Mama sudah siapkan sarapan kesukaanmu. Mana Reiner?" tanya Bu Olin melihat putrinya keluar dari kamar seorang diri.


"Reiner masih tidur, Ma."


"Lebih baik kamu bangunkan Reiner. Ini sudah hampir jam sembilan, Drey. Reiner khan sebentar lagi berangkat ke luar negri. Kalian harus siap-siap dulu supaya tidak terlambat."


Dengan ragu-ragu, Audrey kembali ke kamarnya untuk membangunkan Reiner.


"Tuan, maksud saya Rein...ini sudah hampir jam sembilan," panggil Audrey menyentuh lengan Reiner.


"Jam sembilan?" tanya Reiner mengusap matanya.


Perlahan, Reiner bangun dari tidurnya dan menatap Audrey yang duduk di tepi tempat tidur. Ia menarik tangan Audrey dan menjatuhkan gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kenapa tidak membangunkanku lebih awal? Aku ingin punya waktu yang lebih banyak bersamamu sebelum aku pergi."


"Anda masih tidur nyenyak tadi, Tuan."


"Mulai sekarang jangan bicara formal seperti itu padaku, Sayang. Berbicaralah seperti istri kepada suaminya. Panggil aku, Rein," ucap Reiner membelai rambut Audrey.


Bukankah dulu dia yang menyuruhku menjadi pembantu dan dia sebagai Tuannya? Kenapa sekarang dia berubah pikiran dan bersikap mesra seperti seorang suami.


"Iya, Rein," jawab Audrey patuh.


"Sayang, aku akan mandi dan kita akan segera kembali ke apartemen. Aku akan berangkat jam satu siang."


"Saya maksudnya...aku akan menyiapkan bajumu, Rein," ucap Audrey melepaskan diri dari pelukan Reiner.

__ADS_1


Reiner hanya tersenyum melihat istrinya yang masih terlihat malu-malu di hadapannya.


Setelah sarapan pagi, Audrey dan Reiner berpamitan kepada Bu Olin dan Opa.


"Ma, Audrey pulang dulu. Opa, Audrey pamit, jangan lupa makan dan jaga kesehatan, Opa."


Audrey merasa sedih harus berpisah lagi dengan keluarga yang sangat dicintainya.


"Ma, Opa, Reiner pamit," ucap Reiner dengan sopan kepada ibu mertuanya dan opa.


"Hati-hati, Audrey, Rein. Mama harap kalian bisa menginap lagi disini lain kali."


Reiner menggandeng tangan Audrey dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kamu boleh menemui keluargamu kapan saja. Aku tidak akan melarangmu," ucap Reiner menenangkan Audrey.


"Benarkah, Rein? Aku boleh ke rumah Mama?"


"Tentu saja, mereka adalah keluargamu dan keluargaku juga."


"Terima kasih, Rein," kata Audrey seakan tidak percaya dengan perubahan sikap Reiner.


"Sayang, selama aku pergi aku akan menyuruh Pak Beni untuk mengantar dan menjemputmu ke kantor. Aku tidak mau kamu naik taksi online seperti biasanya."


"Tidak usah, Rein. Aku tidak tau akan pulang jam berapa di hari Senin dan Selasa. Karena akan ada rapat pemegang saham dan audit tahunan di divisi finance. Lebih baik aku pulang sendiri."


Reiner tidak ingin memberikan tekanan apapun lagi kepada Audrey. Ia hanya ingin menebus kesalahannya, dengan membuat Audrey bahagia dan merasa bebas melakukan apa yang dia mau.


...****************...


Saat tiba di apartemen, Audrey terkejut melihat Bi Mila dan dua orang pelayan lain sudah ada disana. Bi Mila sedang menyiapkan makan siang, sedangkan pelayan yang lain sibuk mengurus satu koper besar yang berisi baju-baju Reiner. Sementara itu, Nicko sang asisten pribadi, sedang duduk di sofa ruang tamu sambil berbicara dengan seseorang di telpon.


"Rein, kenapa mereka ada disini?" tanya Audrey keheranan.


"Mereka disini untuk membantu menyiapkan semua keperluanku. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Kamu cukup menemaniku," kata Reiner membawa Audrey ke kamarnya.


Reiner mengunci pintu kamarnya dan menautkan bibirnya ke bibir Audrey.


"Rein, hentikan, nanti mereka dengar."


"Biarkan saja," jawab Reiner mengabaikan permintaan Audrey.


"Rein, tapi kamu harus berangkat sebentar lagi," ucap Audrey coba menghentikan Reiner yang menyentuh bagian atas tubuhnya yang sensitif.


"Sayang, aku masih punya waktu satu jam sebelum berangkat. Dan aku akan menghabiskannya bersamamu."


Antara perasaan pasrah dan malu, Audrey akhirnya membiarkan Reiner melakukan apa yang dia inginkan. Walaupun hanya berlangsung singkat, tapi mereka berdua saling menikmati kehangatan masing-masing.

__ADS_1


"Sayang, jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera pulang," ucap Reiner mengecup dahi Audrey.


"Hati-hati, Rein," jawab Audrey mengantarkan suaminya ke depan lobby.


Tuan Reiner sudah berubah menjadi budak cinta. Sikapnya berlebihan sekali pada Nona Audrey.


batin Nicko menggeleng-gelengkan kepala melihat bosnya itu.


...****************...


Audrey tiba di kantor pukul tujuh pagi. Ia lebih suka berangkat lebih awal daripada menghabiskan waktu sendirian di apartemen. Pak Rizal dan para staff finance juga berangkat lebih pagi karena akan mempersiapkan diri untuk rapat pemegang saham hari ini.


"Pagi, Audrey," sapa Pak Rizal yang melihat Audrey sudah duduk di mejanya.


"Pagi, Pak Rizal."


"Audrey, tolong bawa flash disk yang saya titipkan kemarin ke ruangan saya. Saya akan memindahkannya ke laptop untuk presentasi hari ini."


"Baik, Pak."


Audrey membuka laci mejanya yang masih terkunci. Ia mencari flash disk berwarna putih yang berisi data untuk rapat hari ini, tapi ia tidak dapat menemukannya. Audrey mencoba mencari flash disk itu di seluruh mejanya, namun hasilnya tetap nihil.


Kenapa flash disk itu bisa hilang? Terakhir aku meletakkannya di dalam laci bersama dengan flash disk hitam yang dipinjam Karin. Lebih baik aku menyalin ulang datanya dari laptopku.


pikir Audrey menemukan solusi atas masalahnya.


Audrey membuka file data di laptopnya. Dengan cepat, ia mencari folder data yang dibuatnya beberapa hari lalu. Folder itu khusus menyimpan seluruh laporan dan slide presentasi untuk rapat hari ini.


Dimana filenya? Kenapa aku tidak bisa menemukannya? Kemarin jelas-jelas masih ada.


pikir Audrey panik.


"Audrey, mana flash disk yang saya minta?" tanya Pak Rizal mengagetkan Audrey yang sedang kebingungan.


"Ma..af, Pak, flash disknya tidak ada di laci saya. Saya sudah mencarinya tapi belum ketemu. Mungkin terselip," jawab Audrey gugup.


"Aduh, kenapa bisa hilang? Ya sudah, tolong kamu copy lagi datanya dari laptopmu."


"Tapi, Pak...Filenya juga hilang dari laptop saya. Saya sedang berusaha mencarinya."


"Kenapa kamu bisa seceroboh itu, Audrey? Waktu saya tinggal dua jam lagi untuk mengikuti rapat. Saya sudah tidak sempat membuat slide presentasi yang baru. Saya tidak mau tau, kamu harus menemukan data itu secepatnya," ucap Pak Rizal marah.


Dalam keadaan panik, Audrey mencoba mengingat-ingat kegiatan terakhir yang dilakukannya. Pada Jumat sore, semua data dan flash disk masih ada sebelum Karin meminjam laptopnya. Tapi mana mungkin Karin yang menyebabkan hilangnya flash disk dan semua data laporan untuk rapat?


Aku harus bagaimana?


batin Audrey putus asa.

__ADS_1


__ADS_2