
Audrey menunggu kepulangan Reiner di kamarnya dengan gelisah.
Ini sudah hampir jam sembilan malam, kenapa Rein belum pulang juga? Dia menyuruhku pulang tepat waktu, tapi dia sendiri pulang malam.
Entah kenapa Audrey merasa cepat sekali kesal ketika Reiner tidak ada di sampingnya. Dia tidak bisa menyangkal, jika akhir-akhir ini dia ingin selalu berada di dekat suaminya itu.
Audrey merasa lega ketika ia mendengar suara Bi Mila yang menyambut kedatangan Reiner.
"Bi, dimana Audrey?" tanya Reiner mencari istrinya.
"Nyonya, ada di kamar, Tuan. Apa Tuan mau makan malam?"
"Tidak, Bi. Aku sudah makan dengan klien tadi. Aku akan langsung mandi dan istirahat," jawab Reiner buru-buru ke kamarnya.
Audrey memalingkan tubuhnya dan sengaja memejamkan mata saat mendengar langkah kaki Reiner.
Reiner memandang sekilas ke arah Audrey. Ia tersenyum melihat Audrey yang sedang pura-pura tidur dan mengabaikan kedatangannya.
Apa dia merasa kesal karena aku pulang malam?
pikir Reiner tersenyum sendiri.
Setelah mandi dan memakai piyama tidurnya, Reiner naik ke atas tempat tidur dan memeluk Audrey dari belakang.
"Sayang, kamu sedang marah padaku?" bisik Reiner dengan lembut.
"Maaf, aku pulang malam karena harus meeting dan makan malam dengan Tuan Jason dan Nona Irene dari perusahaan Emerald Cosmetics. Mereka ingin bergabung sebagai penjual eksklusif di platformku. Nona Irene itu sangat cerewet menanyakan berbagai hal," sambung Reiner menjelaskan alasannya.
Audrey membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Reiner.
"Aku menunggumu untuk makan malam. Tapi kamu tidak memberikan kabar. Apa kamu terlalu asyik berbicara dengan Nona Irene itu? Pasti dia sangat cantik karena berasal dari perusahaan kosmetik," ucap Audrey dengan wajah cemberut.
Reiner mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Kamu kelihatan manis sekali kalau sedang cemburu. Aku tidak mungkin melirik wanita lain, karena aku hanya mencintaimu. Kamu adalah wanita tercantik bagiku."
"Aku tidak mau mendengar rayuan gombalmu lagi, Rein," kata Audrey menyandarkan kepalanya di dada Reiner.
"Sayang, apa tadi ada pria yang mengganggumu di kantor? Atau jangan-jangan si Tristan itu berusaha dekat-dekat denganmu lagi?" tanya Reiner tiba-tiba.
Lebih baik aku tidak mengatakan kepada Reiner kalau Tristan memanggilku. Dia pasti akan marah besar.
"Rein, tenanglah, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula aku sudah tidak sekantor dengan Tristan. Tristan itu ternyata putranya Tuan Mario. Dia sudah resmi menjabat sebagai CEO menggantikan Tuan Mario."
"Sayang, bagaimana jika kamu mengundurkan diri saja dari Oragon Group? Kamu tidak usah khawatir tentang Mama dan Opa. Aku yang akan menjamin semua kebutuhan mereka. Mereka juga bisa tinggal di rumah yang dulu ditempati Sofia. Disana ada banyak pelayan yang bisa merawat Opa. Apa kamu setuju, Sayang?" tanya Reiner mencoba meyakinkan Audrey.
Audrey berpikir sejenak untuk mempertimbangkan permintaan Reiner. Mungkin keputusan untuk resign memang harus diambilnya, demi menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Reiner.
"Hmmm....aku setuju untuk mengundurkan diri, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Reiner penasaran.
"Tapi kalau aku sudah punya anak. Jadi, nanti aku tidak akan kesepian sendiri di rumah karena aku akan mengasuh dan merawat anak kita."
Senyuman tersungging di bibir Reiner.
"Apa kamu sedang menantangku, Sayang? Kamu ingin aku segera memberikan anak untukmu?"
Aduh...kenapa aku sampai kelepasan bicara seperti itu.
batin Audrey menyesali perkataannya.
__ADS_1
"Bukan, maksudku..." ucap Audrey berusaha menghindar.
Namun Reiner sudah terlanjur mencium bibirnya, hingga Audrey tidak mampu meneruskan ucapannya lagi. Dan Audrey sangat tau kemana ciuman Reiner itu akan membawanya malam ini.
...****************...
Bi Mila membantu Audrey menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pie strawberry. Audrey merasa sangat bersemangat karena Reiner berjanji akan membantunya. Namun, sampai saat ini suaminya itu belum keluar juga dari kamarnya.
Pasti dia masih tidur. Aku akan membangunkannya.
Audrey terkejut melihat Reiner yang sudah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Reiner tampak sedang mengamati kegiatan yang dilakukan oleh Audrey. Entah mengapa pagi ini baterai pesona Reiner seakan terisi seratus persen, sehingga membuat Audrey salah tingkah.
"Rein, kenapa kamu mengagetkanku? Sejak kapan kamu berdiri disitu?" tanya Audrey dengan wajah memerah.
"Aku senang mengamatimu dari sini. Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang membuat kue."
Audrey menarik tangan Reiner.
"Sayang, dari mana kamu mendapat kumpulan kata-kata rayuan itu? Apa sekarang kamu punya keahlian baru menjadi seorang penyair atau penulis novel?" tanya Audrey merasa malu.
"Tapi kamu senang khan dengan kemampuan baruku ini?"
"Sudah, ayo bantu aku membuat pie."
"Siap, Nyonya," jawab Reiner menganggukkan kepalanya.
Audrey tidak menyangka kalau Reiner terlihat luwes membantunya di dapur. Di dalam hatinya, ia benar-benar mengagumi semua kemampuan Reiner. Bahkan, ia merasa sebagai Cinderella dalam cerita dongeng yang beruntung karena menikahi pangeran tampan yang sangat sempurna.
"Nah, sudah selesai. Bagaimana Nyonya, apa Anda puas dengan pekerjaan saya?" tanya Reiner menyerahkan sebuah pie strawberry untuk dicicipi Audrey.
"Terimakasih Tuan CEO sudah membantu saya. Anda sangat berbakat membuat pie," puji Audrey sambil tersenyum.
"Tidak, Sayang. Bi Mila dan Pak Beni yang akan mengantarkannya. Kita akan pergi ke tempat lain."
"Kamu mau mengajakku kemana?"
"Nanti malam kita akan menghadiri acara makan malam yang penting. Aku akan memperkenalkanmu sebagai Nyonya Reiner Bratawijaya di depan semua kolega bisnis ayahku. Jadi, kamu harus tampil spesial malam ini, Sayang."
Audrey tiba-tiba merasa gugup mendengar perkataan Reiner.
"Acara makan malam? Tapi kamu selalu mengatakan kalau selera berpakaianku buruk. Bagaimana jika nanti aku membuatmu malu?" tanya Audrey cemas.
Reiner tersenyum melihat wajah Audrey yang cemberut.
"Kamu menganggap ucapanku itu serius? Selama ini aku hanya berpura-pura mengatakannya di depanmu untuk menutupi perasaanku. Sebenarnya aku selalu mengagumi penampilanmu. Tapi waktu itu aku masih malu untuk mengakuinya," jawab Reiner berterus-terang.
"Lalu baju apa yang harus kupakai?"
"Sayang, percayakan saja padaku. Aku akan membuatmu menjadi seorang ratu malam ini. Ayo kita pergi sekarang," ajak Reiner menggandeng tangan Audrey.
Reiner membawa Audrey ke sebuah spa yang mewah.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Bratawijaya. Silahkan masuk," sapa petugas spa dengan ramah.
"Sayang, aku sudah memesan paket perawatan lengkap untukmu. Nanti aku akan menjemputmu tiga jam lagi," ucap Reiner mengecup dahi Audrey.
"Tiga jam? Itu terlalu lama, Rein."
"Nikmati saja waktumu disini, Sayang. Aku akan menjemputmu kalau sudah selesai."
Audrey memandang Reiner dengan keheranan. Ia memang tidak bisa selalu menebak apa isi pikiran Reiner. Namun ia bisa merasakan besarnya cinta yang diberikan Reiner kepadanya.
__ADS_1
...****************...
"Sayang, kamu terlihat sangat segar. Apa kamu menyukai perawatan di spa tadi?" tanya Reiner memandang wajah Audrey. Kulit putih yang dimiliki Audrey pun terlihat lebih berkilau.
"Iya, Sayang, terima kasih sudah memanjakan aku hari ini. Sekarang kita mau kemana?"
"Kita akan ke salon dan butik milik teman Mamaku."
Reiner memarkirkan mobilnya di depan sebuah salon yang terlihat sangat eksklusif. Ia menggandeng tangan Audrey dan mengajaknya masuk. Di depan pintu, beberapa pegawai salon menyambut mereka. Seorang wanita berpenampilan elegan datang menyapa Reiner. Ia nampak seusia dengan Ny. Valeria.
"Halo, Reiner, apa kabarmu?"
"Baik, Tante Chloe. Perkenalkan ini istriku, Audrey."
Ny. Chloe memperhatikan Audrey dengan seksama.
"Wah, Rein, istrimu ini cantik sekali. Tante akan lebih mudah memilihkan make up untuknya. Halo, Audrey, aku Chloe, temannya Valeria, Mamanya Reiner."
"Salam kenal, Tante."
"Rein, kenapa dulu tidak mengundang Tante saat kamu menikah? Tante khan bisa mendandani istrimu menjadi pengantin wanita yang cantik."
"Maaf, Tante, saat itu kami tidak mengundang siapapun karena waktunya mendadak. Hanya keluarga yang hadir."
"Oke, Rein. Tapi besok kamu harus memberitahu Tante kalau istrimu melahirkan."
"Pasti, Tante."
Ny. Chloe menggandeng tangan Audrey.
"Rein, aku pinjam istrimu dulu. Aku akan membuatnya sangat cantik sampai kamu akan terpesona. Kamu tunggu saja disini."
"Terima kasih, Tante," ucap Reiner sambil duduk di sofa.
Audrey mengikuti Ny. Chloe masuk ke dalam ruang rias. Di dalam, ia melihat sebuah gaun panjang berwarna merah sudah disiapkan untuknya. Bagian bawah gaun itu memiliki belahan samping yang tinggi. Bagian belakang punggung sengaja dibuat terbuka dengan dihiasi manik-manik cantik. Sedangkan bagian depannya sedikit rendah dan dihiasi payet-payet berbentuk bunga mawar. Audrey terkagum-kagum melihat keindahan gaun itu.
"Audrey, gaun ini Reiner yang memilihkannya. Pilihan Reiner benar-benar bagus. Tante yakin kamu akan cocok memakainya. Sekarang kita bersiap untuk make up dulu."
Reiner menunggu dengan tidak sabar di ruang tamu salon. Ia sendiri telah siap memakai jas hitam yang dipilihnya di butik. Pegawai salon juga sudah selesai membuat penampilannya terlihat lebih elegan.
Kenapa Tante Chloe lama sekali mendandani Audrey? Ini sudah jam enam lewat dua puluh menit.
pikir Reiner gelisah.
Reiner memandang ke arah dalam dan melihat Ny. Chloe keluar bersama asistennya.
"Sorry, Rein. Kamu menunggu lama ya? Tapi hasilnya sangat luar biasa."
Reiner menatap Audrey yang berjalan anggun di belakang Ny. Chloe.
Pandangan Reiner tidak bisa lepas melihat kecantikan istrinya itu. Reiner teringat hari pernikahannya dengan Audrey, dimana Audrey juga terlihat sangat cantik sebagai pengantin wanita. Namun kali ini, kecantikannya lebih memancar karena ada aura kebahagiaan di wajahnya. Gaun yang dipilihkannya juga terlihat sangat pas membalut lekuk tubuh Audrey yang indah. Rambut Audrey yang sebagian disanggul ke atas, semakin memperlihatkan kulitnya yang putih dan halus.
Audrey memperhatikan Reiner yang terpaku menatapnya.
"Rein, kenapa kamu memilihkan gaun yang terbuka seperti ini? Aku tidak nyaman memakainya."
"Sayang, gaun ini sangat pas untukmu. Kamu sangat cantik sampai aku tidak bisa berhenti memandangmu."
"Sudahlah, Rein, kamu mulai lagi merayuku. Lebih baik kita berangkat sekarang."
Reiner dan Audrey berpamitan kepada Ny. Chloe. Reiner sangat yakin bahwa semua tamu di acara makan malam Oragon Group akan terpesona melihat kecantikan istrinya itu.
__ADS_1