
Audrey menuju ke meja Karin. Ia mencoba menanyakan perihal data dan flash disk yang hilang kepada gadis itu.
"Karin, apa kamu tau tentang file data laporan rapat di laptopku? Dan juga flash disk putih untuk Pak Rizal? Flash disk dan dataku hilang bersamaan. Apa kamu sempat melihatnya kemarin?"
"Waktu Mbak pulang, saya langsung matikan laptopnya. Saya gak berani melihat file-file yang lain, Mbak. Kalau soal flash disk saya lihat masih ada di laci. Kenapa bisa tiba-tiba hilang?"
"Justru itu, Karin. Aku juga bingung. Padahal Pak Rizal sebentar lagi harus rapat dan butuh data itu."
"Maaf, Mbak, saya gak bisa bantu apa-apa," jawab Karin dengan polos.
"Ya sudah Karin, aku akan coba mencarinya lagi. Atau mungkin aku akan membuat ulang slidenya."
Dengan wajah panik, Audrey melangkah meninggalkan meja Karin. Pikirannya yang sedang kacau, membuatnya hampir menabrak Tristan yang baru saja datang.
"Ada apa Ibu Audrey? Maaf, saya datang terlambat hari ini."
"Tristan, aku sedang mencari flash disk untuk Pak Rizal. Jumat kemarin, kamu dan Karin yang pulang paling akhir di kantor. Aku sudah tanya Karin, tapi dia tidak tau. Flash disk itu sangat penting untuk presentasi rapat hari ini. Apa kamu melihatnya?"
"Tenang dulu, Ibu. Ambil nafas...Saya tau dimana flash disk yang Ibu cari."
"Tristan, apa benar kamu tahu?" ucap Audrey terkejut.
Tristan meletakkan tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya itu.
"Ibu, ini flash disknya. Tenang saja semua data untuk rapat hari ini aman," kata Tristan menenangkan Audrey.
"Tristan, kenapa flash disk ini ada padamu?"
"Nanti akan saya ceritakan Ibu. Sekarang Ibu serahkan dulu ke Pak Rizal."
"Terima kasih, Tristan. Kamu sudah membantuku."
Audrey bergegas menuju ke ruangan Pak Rizal untuk menyerahkan flash disk itu.
"Pak, ini flash disknya," kata Audrey menyerahkannya kepada Pak Rizal.
"Dimana kamu menemukannya, Audrey? Untung saja flash disk ini berhasil ditemukan. Jika tidak kita semua akan kena masalah besar."
"Maafkan saya, Pak. Tristan yang menemukan flash disknya. Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya," jawab Audrey penuh penyesalan.
"Oke, Audrey. Lain kali kamu harus lebih teliti dan hati-hati menjaga data-data penting milik divisi finance. Saya akan bersiap untuk rapat."
Kaki Audrey masih terasa lemas ketika berjalan kembali ke mejanya. Kejadian yang baru saja dialaminya benar-benar tidak pernah ia bayangkan. Selama ini ia selalu bekerja dengan hati-hati dan tak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Tapi entah mengapa, kali ini dia begitu ceroboh sehingga hampir menghilangkan data finance yang sangat penting. Seharusnya ia tidak buru-buru pulang di hari Jumat dan memastikan semua data tersimpan dengan aman.
Audrey menghempaskan dirinya di kursi dan menghela nafas panjang.
"Ibu, apa Anda baik-baik saja?" tanya Tristan mendekati Audrey.
"Iya, Tristan. Terima kasih kamu sudah menolongku keluar dari masalah."
"Tidak perlu dipikirkan lagi, Ibu. Lihat, Pak Rizal sudah pergi ke ruang rapat dengan tenang."
__ADS_1
"Tristan, aku benar-benar tidak habis pikir kenapa flash disk sekaligus data rapat di laptopku bisa hilang. Padahal sebelum aku pulang, semuanya masih ada."
"Sebenarnya flash disk itu ada di tempat sampah di lobby. Kebetulan saya lewat dan melihatnya sepulang kantor Jumat kemarin. Lalu saya mengambilnya."
"Apa, tempat sampah?" tanya Audrey terkejut.
"Iya, saya rasa ada seseorang yang sengaja membuangnya. Kalau soal data Ibu di laptop, mungkin orang yang sama sudah menghapusnya."
"Tapi siapa orangnya? Dan kenapa kamu bisa tau kalau flash disk itu milik finance?"
"Soal pelakunya saya belum tau, Ibu. Untuk flash disk, saya kebetulan melihatnya saat Ibu menunjukkan kepada Karin kemarin," jawab Tristan meyakinkan Audrey.
"Saya rasa Ibu harus lebih hati-hati mulai saat ini. Jangan biarkan siapapun meminjam atau menyentuh benda-benda di meja Ibu, kecuali Ibu sendiri," ucap Tristan melanjutkan kata-katanya.
"Iya, Tristan, terima kasih sudah mengingatkanku."
Apa yang dimaksud Tristan sebenarnya? Apa dia sedang menuduh Karin? Tapi tidak mungkin Karin yang polos dan pendiam sampai melakukan hal seperti itu.
...****************...
"Audrey, rapat hari ini berlangsung dengan lancar. CEO kita, Tuan Mario, dan para pemegang saham sangat puas dengan kinerja divisi finance."
"Saya turut senang, Pak. Maaf, tadi saya sudah membuat Bapak khawatir," ucap Audrey masih merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi.
"Sudahlah, Audrey. Saya sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Saya harap kamu bisa lebih hati-hati untuk proses audit besok."
"Iya, Pak."
"Tapi Pak, bukankah Tuan Kevin, putra Tuan Mario, sudah punya perusahaan sendiri?"
"Iya, saya dengar putra keduanya yang akan diangkat menjadi CEO. Putranya itu baru pulang dari luar negri. Oh, ya Audrey, apa persiapan untuk audit besok sudah beres?"
"Iya, Pak, saya sudah memeriksa semua laporan, invoice serta dokumen pendukung untuk keperluan audit besok. Saya akan pulang lebih malam hari ini untuk memastikan semuanya siap."
"Oke, Audrey. Saya percayakan tugas ini kepadamu. Semoga besok audit berjalan lancar."
Ruangan divisi finance mulai sepi karena jam kantor sudah berakhir.
"Audrey, saya pulang dulu. Kamu jangan pulang terlalu malam. Ini sudah jam tujuh lewat lima belas menit," kata Pak Rizal mengingatkan Audrey yang masih asyik dengan pekerjaannya.
"Iya, Pak, sebentar lagi saya akan pulang. Terima kasih, Pak."
"Sampai jumpa besok, Audrey," ucap Pak Rizal berpamitan pulang.
Audrey mengambil ponselnya dan mencoba memesan taksi online. Sejak tadi, tiga orang driver telah menolak pesanannya dengan alasan hujan yang sangat deras di luar. Audrey melihat hanya tinggal dirinya dan Tristan yang berada di ruangan finance. Tristan tampak bersiap untuk pulang dan sudah mematikan laptopnya.
"Ibu, Anda sudah memesan taksi? Saya sebentar lagi akan pulang. Kalau tidak, Anda akan sendirian disini."
"Iya, aku sudah pesan taksi dari tadi. Tapi drivernya menolak. Mungkin di luar sedang hujan deras," jawab Audrey cemas.
"Kalau begitu saya akan mengantarkan Ibu pulang. Kebetulan hari ini saya bawa mobil, jadi Ibu tidak akan kehujanan," kata Tristan menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Tidak usah, Tristan. Aku akan menunggu taksi saja."
"Ibu, hujan deras seperti ini mungkin akan berlangsung lama. Apa Anda mau tinggal sendirian disini sampai malam?"
Audrey berpikir sejenak untuk mempertimbangkan tawaran dari Tristan. Perkataan Tristan memang ada benarnya. Sebagai seorang wanita akan berbahaya baginya tinggal seorang diri di kantor sampai malam.
"Baiklah, Tristan, aku akan ikut denganmu."
"Bagus, Ibu. Mari kita pulang sekarang."
Audrey berjalan di belakang Tristan menuju ke lobby.
"Ibu, Anda tunggu saja di lobby supaya tidak kehujanan. Saya akan mengambil mobil saya di parkiran."
"Iya, Tristan, terima kasih."
Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil sedan sport berwarna merah menghampiri Audrey yang masih menunggu di lobby.
"Ibu, ayo masuk! Kenapa bengong disitu?" kata Tristan membuka jendela mobilnya.
"Tristan, ini mobilmu?" tanya Audrey keheranan.
"Iya, Ibu. Cepat masuk, hujannya makin deras."
Audrey menuruti ajakan Tristan dan segera masuk ke dalam mobil mewah itu.
Tristan punya mobil semewah ini?
batin Audrey penuh tanda tanya.
"Ibu di mana rumah Anda?"
"Di apartemen Amarila, Tristan."
"Jadi ibu tinggal di apartemen mewah itu. Apa Ibu tinngal sendirian disana atau bersama keluarga? Ibu khan belum menikah," tanya Tristan penasaran.
Audrey bingung harus menjawab apa. Ia teringat perkataan Nicko untuk tidak membocorkan pernikahannya dengan Reiner. Meskipun Reiner sudah bersikap mesra padanya, tapi belum tentu dia akan membatalkan isi pasal kontrak pernikahan mereka.
"Aku tinggal sendiri," jawab Audrey berbohong.
"Bagus, Ibu, kalau begitu Ibu temani saya makan malam dulu sebelum pulang."
"Tristan, aku harus pulang secepatnya. Aku biasa membuat makan malam sendiri di apartemen."
"Ibu, ingat janji Ibu untuk mengabulkan tiga permintaan saya. Ini permintaan saya yang pertama untuk menemani saya makan malam."
Audrey teringat pada janji yang pernah diucapkannya dulu pada Tristan. Kini, ia dengan terpaksa harus memenuhi janjinya itu.
Kenapa dulu aku berjanji pada Tristan?
Bagaimana kalau Reiner sampai mengetahuinya dan marah?
__ADS_1
pikir Audrey cemas.