
"Sayang, ayo mandi. Kamu harus mengantarku pulang ke apartemen lalu siap-siap berangkat ke kantor," ucap Audrey memaksa Reiner bangun dari tempat tidurnya.
"Aku malas sekali harus melakukannya. Aku ingin tetap bersamamu," jawab Reiner meraih Audrey agar terjatuh kembali dipelukannya.
"Sayang, nanti Shane rewel kalau kita meninggalkannya terlalu lama. Kamu juga harus memikirkan nasib Nicko. Pasti dia sudah bekerja terlalu keras selama kamu ada di luar negri," kata Audrey meyakinkan Reiner.
Dengan enggan, Reiner berdiri dari tempat tidurnya.
"Siap, istriku sayang. Aku akan mandi."
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Reiner dan Audrey meninggalkan hotel tempat mereka berkencan semalam.
"Sayang, kita tidak akan kembali ke apartemen. Kita langsung menuju ke rumah kita sekarang," ucap Reiner memberitahu Audrey.
"Bagaimana dengan Shane dan Bi Mila?"
"Aku sudah menyuruh Nicko mengantar Shane dan Bi Mila ke rumah. Aku rasa Shane lebih senang tinggal di rumah, daripada terkurung di dalam apartemen."
"Rein, kamu selalu penuh persiapan dan kejutan. Aku tidak bisa menandingi kelebihanmu yang satu ini," puji Audrey mengagumi suaminya.
"Pasti itu yang membuatmu jatuh cinta kepadaku. Kamu tidak akan menemukan pria lain yang sama sepertiku," jawab Reiner penuh percaya diri.
Audrey tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekarang kamu jadi over percaya diri, Sayang."
"Tapi kamu suka khan?" goda Reiner.
Reiner melajukan mobilnya masuk ke gerbang perumahan mereka.
"Aku kangen sekali pada Shane. Semoga Bi Mila sudah memandikan Shane dan memberinya susu," ucap Audrey merindukan bayi kecilnya.
"Tenang saja, Sayang. Bi Mila pasti menjaga Shane dengan baik. Itu dia Shane," kata Reiner menunjukkan Shane yang sedang berjemur di taman rumah mereka bersama Bi Mila.
Audrey buru-buru turun dari mobil untuk melihat putra kesayangannya.
"Sini, Mama gendong, Sayang."
Shane langsung tersenyum dan melonjak-lonjak ketika melihat wajah mamanya.
Reiner menghampiri istri dan anaknya, lalu mencium mereka penuh kasih sayang.
"Shane, apa kamu kangen Papa juga?" tanya Reiner memandang mata bulat Shane yang bersinar terang.
"Aiiii...ee..hhhe..eh...eiii....aiii..ee.." celoteh Shane sambil menggerakkan kedua tangan mungilnya.
"Lihat, Rein, Shane bicara padamu. Dia pasti ingin bilang kalau dia rindu papanya," jawab Audrey sembari menyerahkan Shane kepada Reiner
Reiner menggendong Shane dan mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Halo anak Papa yang tampan, Papa sayang sekali pada Shane. Hmmm, Sayang, sepertinya Shane lebih mirip aku daripada kamu," ucap Reiner memperhatikan wajah putranya.
"Iya, mungkin genku tidak terlalu kuat jadi kalah denganmu."
Reiner tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Sayang, aku yakin kalau Shane sudah besar nanti dia akan digilai oleh para wanita karena ketampanannya. Dia akan mirip seperti aku."
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengajari Shane yang tidak-tidak, Rein. Walaupun dia tumbuh menjadi pria yang tampan dan pintar, aku akan mengajarinya supaya menghormati wanita. Dia tidak boleh mempermainkan perasaan seorang gadis," jawab Audrey membelalakkan matanya untuk memperingatkan Reiner.
"Apa kamu sedang menyindirku? Aku justru akan mengajari Shane supaya mencintai wanita yang mirip dengan mamanya. Aku tidak menyangka, ternyata kamu bisa galak juga, Sayang."
"Dan aku akan semakin galak kalau kamu tidak segera berangkat ke kantor," ucap Audrey mengambil Shane dari gendongan Reiner.
"Papa, kerja yang benar ya. Bye bye Papa," sambung Audrey menggerakkan tangan Shane.
"Iya, iya, aku berangkat. Aku akan pulang jam lima sore supaya kita bisa segera menemui kedua orangtuamu," kata Reiner sembari mengecup dahi Audrey.
Sebelum mengendarai mobilnya, Reiner kembali melambaikan tangannya ke arah Audrey dan Shane.
Terima kasih Tuhan, kamu sudah mengembalikan Reiner padaku.
batin Audrey merasa bahagia.
...****************...
Audrey menahan tawanya melihat wajah Reiner yang terlihat gelisah.
"Sayang, jangan meledekku. Aku benar-benar gugup. Aku takut kedua orangtuamu tidak akan menerimaku lagi sebagai menantu mereka. Apalagi kalau mereka mengetahui perbuatan Mama. Bisa jadi mereka akan memintamu meninggalkan aku dan menjodohkanmu dengan pria lain," ucap Reiner khawatir.
"Kamu menggemaskan sekali, Sayang. Darimana kamu mendapat pikiran seperti itu? Apa kamu mulai tertarik nonton serial drama seperti aku?" goda Audrey untuk menghilangkan kecemasan Reiner.
Audrey menggenggam tangan Reiner.
"Mama dan Papa itu orang yang berpikiran luas dan berhati lembut. Mereka tidak akan menyuruhku untuk meninggalkan suamiku sendiri. Percayalah, semua akan baik-baik saja, Rein."
Audrey mengecup bibir Reiner untuk memberinya semangat.
"Ayo, kita masuk, Sayang."
Reiner dan Audrey masuk ke dalam rumah Tuan Jonathan, diikuti Bi Mila yang menggendong Shane.
Wajah Ny. Olin tampak senang ketika melihat cucu kesayangannya datang.
"Shane, Oma rindu sekali ingin melihatmu. Sini, Oma gendong," kata Ny. Olin menghampiri cucunya.
"Audrey, Reiner, ayo duduk," sapa Tuan Jonathan.
"Apa kabar, Pa, Ma. Maaf setelah pulang dari luar negri, saya baru sempat datang kesini," ucap Reiner merasa sungkan.
__ADS_1
"Kabar kami baik, Reiner. Papa senang kamu sudah kembali sehat dan baik-baik saja. Berapa lama kamu menjalani pengobatan?"
"Kurang lebih setahun, Pa. Terapi kaki saya memang memakan waktu cukup lama. Semula dokter sempat khawatir kalau saya tidak bisa berjalan normal lagi."
"Syukurlah, Rein, pengobatanmu berhasil. Kamu tidak perlu bersikap formal seperti ini. Kita sudah lama kenal dan sekarang kita menjadi satu keluarga," ucap Tuan Jonathan mengamati sikap Reiner yang tidak biasa.
Ny. Olin menyerahkan Shane kepada Audrey dan mulai angkat bicara.
"Rein, Mama ingin menanyakan sesuatu padamu. Mengenai surat gugatan cerai yang kamu berikan kepada Audrey melalui pengacara. Apa benar surat itu kamu yang membuatnya? Apa kamu sempat berpikir untuk menceraikan Audrey?"
"Maaf, Ma, surat itu bukan saya yang membuatnya. Waktu Audrey mengatakannya saya justru terkejut. Saya bahkan tidak mengenal siapa Tuan Abram Darusman. Saya tidak akan pernah menceraikan Audrey karena saya sangat mencintainya," jawab Reiner berusaha meyakinkan ibu mertuanya.
"Lalu siapa yang membuat surat itu?" tanya Ny. Olin penasaran.
Reiner terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Ny. Olin.
Suara Reiner terdengar bergetar ketika mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya terjadi.
"Saya minta maaf, Ma, Pa. Sebenarnya Mama saya yang mengutus Tuan Abram untuk menyerahkan surat cerai itu kepada Audrey. Mama yang merencanakan semuanya dari awal dengan memakai nama saya, agar Audrey mau menandatangani surat itu. Sekali lagi saya minta maaf atas nama Mama saya."
"Valeria yang melakukannya? Aku tidak percaya Valeria bisa berubah seperti ini. Aku mengenal Valeria cukup lama. Dia wanita yang sangat baik hati. Kenapa dia ingin memisahkan kamu dan Audrey, bahkan sampai memalsukan surat cerai," tanya Tuan Jonathan tidak percaya.
"Mama tidak habis pikir, kenapa Mamamu sangat membenci Audrey. Dia dulu memaksa Audrey pergi meninggalkanmu di rumah sakit. Sekarang dia malah melakukan hal yang lebih buruk lagi. Mama khawatir dia akan mengusik kehidupan pernikahan kalian ke depannya," ucap Ny. Olin khawatir.
"Saya pastikan kecemasan Mama tidak akan terjadi. Saya tidak akan membiarkan Mama saya mengganggu Audrey dan Shane. Dulu saya juga pernah salah paham kepada Audrey, mungkin Mama saya saat ini memiliki pikiran yang sama. Tapi saya yakin, lambat laun Mama saya akan menyadari kesalahannya. Saya janji akan selalu melindungi dan menjaga istri dan anak saya, Ma."
"Bagus, Reiner. Mama percayakan Audrey padamu. Kamu tau Audrey banyak menderita selama dia hamil, karena kamu tidak ada disampingnya. Mama harap kamu selalu membahagiakan Audrey."
"Iya, Ma. Terima kasih sudah memaafkan kesalahan saya dan Mama saya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan yang pernah saya lakukan kepada Audrey," ucap Reiner penuh penyesalan.
"Rein, Papa memahami sulitnya posisimu saat ini. Di dalam pernikahan memang sering timbul banyak masalah dan rintangan. Tapi, kalau kalian saling mencintai dan tetap percaya satu sama lain, masalah apapun pasti bisa diselesaikan bersama. Sudahlah, kita jangan membicarakan hal-hal yang menyedihkan lagi. Lebih baik kita makan malam," ajak Tuan Jonathan mencairkan suasana.
Audrey merasa terharu melihat pengakuan jujur Reiner di hadapan kedua orang tuanya. Ia menggenggam tangan suaminya itu dengan erat.
"Sayang, apa kamu lega sekarang?" tanya Audrey menatap mata Reiner.
"Hatiku terasa lebih ringan, Sayang. Aku senang karena Mama dan Papamu mau memaafkanku."
"Kamu masih perlu melakukan satu hal lagi, Rein."
"Apa itu, Sayang?"
"Maafkanlah Mama dan Papamu, Rein. Bagaimanapun mereka adalah kedua orangtuamu yang sudah membesarkan dan menyayangimu dengan tulus. Mereka juga manusia biasa yang kadang melakukan kesalahan. Sebagai anak, tugas kita adalah membahagiakan orangtua kita. Sebesar apapun kesalahan yang pernah mereka perbuat, kita harus siap memaafkan mereka dan menerima mereka apa adanya."
"Tapi, aku masih butuh waktu untuk melakukan hal itu," jawab Reiner ragu-ragu.
"Sayang, memaafkan lebih cepat itu lebih baik. Jangan membiarkan luka tertinggal di hatimu terlalu lama. Kita sekarang sudah jadi orangtua. Bukankah jika nanti kita melakukan kesalahan, kita juga ingin Shane segera memaafkan kita? Kalau kamu mau, aku akan menemanimu menemui Mama dan Papamu besok."
Reiner memandang wajah istrinya yang cantik dan begitu baik hati itu.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat beruntung memiliki istri sebaik dirimu. Baiklah, besok kita akan ke rumahku. Tapi jika Mama bersikap tidak baik padamu, aku akan langsung mengajakmu pulang."
"Iya, Sayang," ucap Audrey merasa bahagia karena berhasil melunakkan hati Reiner.