Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
53 Undangan Tak Terduga


__ADS_3

Nicko tergesa-gesa memasuki ruangan Reiner.


"Ada apa, Nicko?" tanya Reiner melihat Nicko membawa sebuah amplop di tangannya.


"Tuan, ini ada undangan makan malam untuk Tuan Alexander besok Sabtu. Tapi, Tuan Alexander meminta Anda yang datang untuk mewakilinya."


"Katakan pada papaku aku tidak bisa hadir. Besok aku akan pergi bersama Audrey," jawab Reiner enggan menerima undangan itu.


"Tuan, sebaiknya Anda baca dulu isi undangannya."


Reiner menerima undangan itu dan mulai membukanya.


"Undangan dari Mario Tirtawiguna pemilik Oragon Group?" tanya Reiner mengernyitkan dahinya.


"Iya, Tuan. Tuan Mario mengundang para kolega bisnisnya untuk menghadiri acara makan malam sekaligus perkenalan CEO baru Oragon Group."


Reiner kembali membaca isi undangan itu hingga selesai.


Perkenalan baru CEO Oragon Group


Tristan Manuel Tirtawiguna.


Nama yang baru saja dibacanya itu, membuat Reiner terkejut.


"Nicko, apa ini Tristan yang sama yang selalu berada di dekat Audrey?"


"Benar, Tuan. Saya sudah menyelidikinya. Tristan adalah putra kedua Tuan Mario. Selama ini dia menyamar menjadi staff sebelum pengangkatannya sebagai CEO. Kemungkinan dia ingin belajar untuk mengetahui keadaan perusahaannya."


"Jadi dia menyamar sebagai staffnya Audrey. Pantas saja dia sangat percaya diri."


Reiner berpikir sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Nicko, kapan Tristan mulai menduduki jabatannya secara resmi di Oragon?"


"Menurut informasi yang saya terima, dia menjadi CEO sejak kemarin, Tuan."


Aku seharusnya tidak mengijinkan Audrey bekerja hari ini. Bagaimana kalau dia semakin gencar mendekati Audrey?


pikir Reiner menyesali keputusannya.


"Nicko, aku akan menghadiri acara itu bersama Audrey. Sudah waktunya aku memperkenalkan Audrey sebagai istriku di hadapan semua orang. Terutama, aku akan menunjukkan kepada Tristan Tirtawiguna kalau aku adalah suaminya Audrey dan Audrey adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan dia mengganggu hubungan kami."


"Saya rasa itu keputusan yang tepat, Tuan," ucap Nicko menyetujui ide Reiner.


"Tuan, ada satu hal lagi yang ingin saya laporkan. Tentang nomer ponsel yang mengirimkan foto-foto Nona, saya sudah memeriksanya."


"Siapa orangnya, Nicko?" tanya Reiner penasaran.


"Dia sengaja memakai nama samaran untuk mendaftarkan nomer ponselnya, Tuan. Tapi saya berhasil melacak lokasinya dengan aplikasi yang kita buat. Lokasi pengirimnya ada di perumahan Delagio, Tuan."


"Perumahan Delagio, bukankah itu kawasan tempat tinggal Tante Diana?"

__ADS_1


"Benar, Tuan. Sejak awal memang saya sudah mencurigai Ny. Diana. Dia sengaja membohongi Tuan mengenai kematian Tuan Dave. Sepertinya dia sangat membenci Nona Audrey."


Wajah Reiner berubah penuh kemarahan.


"Tante Diana...Rupanya dia belum puas menciptakan salah paham antara aku dan Audrey. Aku harus memberi pelajaran kepadanya supaya dia berhenti memfitnah dan menyakiti istriku."


"Tuan, serahkan saja masalah Ny. Diana kepada saya. Saya akan memperingatkan Ny. Diana supaya tidak mengganggu Anda dan Nona lagi,"


"Iya, Nicko. Aku serahkan tugas ini kepadamu. Aku tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu."


"Baik, Tuan, saya akan segera menanganinya."


"Nicko, tolong ingatkan pada Pak Beni untuk menjemput Audrey tepat waktu. Aku tidak ingin memberi kesempatan kepada Tristan untuk mendekati istriku."


"Baik, Tuan."


Rasa khawatir tiba-tiba menyerang Reiner.


Semoga Audrey baik-baik saja.


Aku tidak akan membiarkan Tristan maupun Tante Diana mengganggunya.


Tristan, besok saatnya aku menunjukkan padamu siapa yang berhak atas Audrey. Kalau kamu berbuat macam-macam, kamu akan berhadapan denganku, Reiner Bratawijaya.


...****************...


Seperti biasa, Ny. Diana menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama para wanita sosialita. Uang tutup mulut dan tunjangan per bulan yang diberikan Alexander Bratawijaya, lebih dari cukup untuk menunjang gaya hidup mewahnya.


Sejak kepergian Dave, Ny. Diana hanya memiliki dua tujuan hidup. Yang pertama adalah bersenang-senang dengan semua uang yang dimilikinya, dan yang kedua adalah membalas dendam kepada Audrey. Bagi Ny. Diana, Dave adalah hartanya yang paling berharga untuk meraih kekuasaan dan kekayaan keluarga Bratawijaya. Namun, semua impiannya telah hancur karena putranya itu nekad bunuh diri. Audrey-lah yang menjadi alasan Dave memutuskan untuk mengakhiri nyawanya. Karena itu, sampai kapan pun ia akan selalu membenci Audrey. Ny. Diana berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Audrey hidup dalam penderitaan.


Selama ini, Ny. Diana sengaja membayar salah satu pelayan di rumah keluarga Bratawijaya, agar bisa mendapatkan informasi tentang keluarga itu. Tapi belum ada kabar yang diterimanya mengenai perceraian Reiner dan Audrey.


Kenapa si Santi belum memberikan kabar? Apa jangan-jangan rencanaku gagal lagi? Tapi aku tidak boleh langsung menyerah. Aku harus bersabar untuk menunggu beberapa hari ke depan.


pikir Ny. Diana menenangkan dirinya sendiri.


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ny. Diana.


"Nur, tolong bukakan pintunya," perintah Ny. Diana kepada pembantunya.


"Baik, Nyonya," ucap pembantunya buru-buru menuju ke pintu depan.


"Apa Nyonya Diana ada di dalam?" tanya Nicko tanpa ekspresi.


Pembantu Ny. Diana tampak ketakutan melihat Nicko yang didampingi dua orang pria bertubuh tinggi besar.


"Maaf, Tuan siapa?"


"Aku Nickolas, asisten Tuan Reiner. Cepat beritahu Nyonyamu kalau aku ingin menemuinya."


"Ba..ik, Tuan."

__ADS_1


Ny. Diana keheranan melihat pembantunya itu datang dengan wajah yang pucat.


"Siapa yang datang, Nur?"


"Nyonya di depan ada seorang pria berjas hitam. Katanya namanya Nickolas, dia mencari Nyonya. Lalu ada dua orang pria lagi. Badannya besar-besar dan wajahnya seram. Saya jadi takut, Nyonya."


Nickolas, bukankah dia asisten Reiner? Untuk apa dia datang mencariku?


batin Ny. Diana bertanya-tanya.


"Nyonya, apa saya bilang saja Nyonya tidak ada?"


"Jangan, Nur. Aku akan menemui Nicko."


Ny. Diana keluar dari kamar dan bergegas menemui tamunya. Ia melihat Nicko dan dua orang bodyguardnya sedang berdiri menunggu di depan pintu.


"Nicko, aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Silahkan masuk. Bagaimana kabar Reiner?" tanya Ny. Diana berbasa-basi.


"Selamat sore, Nyonya Diana. Tuan Reiner baik-baik saja. Begitu juga dengan istrinya, Nona Audrey," ucap Nicko menyindir Ny. Diana.


Wajah Ny. Diana berubah tidak senang.


"Nicko, ada keperluan apa kamu mencariku?"


"Maaf, Nyonya, Tuan Reiner menyuruh saya untuk mengingatkan kepada Nyonya agar tidak mengganggu rumah tangga Tuan Reiner dan Nona Audrey. Dan Anda sebaiknya berhenti untuk mencoba menyakiti Nona Audrey."


"Mengganggu? Aku tidak mengerti apa maksudmu, Nicko?"


"Nyonya, Anda tidak perlu berpura-pura. Tuan Reiner sudah mengetahui semua perbuatan Anda. Tuan Ethan, sahabat Tuan Dave, sudah mengatakan bahwa Nona Audrey tidak bersalah. Anda juga sudah berusaha menghasut Tuan Reiner dengan mengirimkan foto-foto Nona Audrey ke ponselnya."


"Nicko, kamu sudah bersikap kurang ajar! Kamu berani menuduhku sembarangan!"


Nicko menjawab dengan suara datar.


"Nyonya Diana, Anda pikir saya bicara omong kosong?Saya punya bukti-buktinya. Tuan Reiner adalah pemilik perusahaan yang berbasis teknologi. Kami punya aplikasi dan software yang bisa melacak lokasi pengirim dari sebuah nomer ponsel. Tentu saja termasuk nomer yang Anda gunakan."


"Lalu kalau aku pengirimnya, memang apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Ny. Diana menantang Nicko.


"Nyonya, saya masih bersikap lunak pada Anda sekarang. Tapi ini terakhir kali saya memberikan peringatan. Tuan Reiner akan menghukum Anda dengan sangat berat jika Anda masih menyusahkan Nona Audrey. Jangan sampai Anda menyesal nanti."


Dua orang bodyguard bertubuh besar yang ada di samping Nicko, bergerak mendekati Ny. Diana hingga wanita itu ketakutan.


"Nyonya, lebih baik Anda menjalani hidup Anda dengan tenang sekarang. Ikhlaskan kepergian Tuan Dave. Dan jangan melakukan sesuatu yang membuat Tuan Reiner marah."


"Ba..ik Nicko. Aku...tidak akan mengganggu Audrey lagi."


"Bagus, Nyonya. Saya senang Anda sudah mengerti. Saya mohon pamit," ucap Nicko dengan tatapan dingin.


Nicko berlalu dengan dua orang bodyguardnya dan meninggalkan rumah Ny. Diana.


Ny. Diana terduduk lemas di sofa ruang tamunya. Ia tidak menduga kalau Reiner telah mengetahui semua kebohongan yang dibuatnya.

__ADS_1


Reiner, kamu pikir aku akan menyerah semudah itu?


Kalau cara halus yang kulakukan tidak berhasil, maka sudah saatnya aku memakai cara yang kasar.


__ADS_2