
Setibanya di hotel, Reiner langsung menghubungi nomor ponsel Ethan yang diberikan oleh Nicko.
"Pagi, Ethan. Ini Reiner, kakaknya Dave. Saya sudah sampai di Hotel Royal. Apakah kita bisa bertemu hari ini?"
"Pagi, Tuan Reiner. Kemarin Tuan Nicko sudah mengabarkan kepada saya kalau Anda akan datang hari ini. Sekarang saya masih di kantor. Kita bisa bertemu jam lima sore setelah saya pulang kantor."
"Oke, Ethan, terima kasih. Dimana kita akan bertemu?"
"Saya akan ke hotel Royal untuk menemui Anda."
"Baik, Ethan, saya tunggu di restoran roof top di hotel Royal. Sekali lagi terima kasih."
"Sampai jumpa nanti, Tuan Reiner."
Reiner mengambil laptop dan duduk di sofa kamar hotelnya. Ia mencoba sebisa mungkin untuk mengalihkan fokus pada pekerjaan. Sepanjang malam, pikirannya hanya tertuju pada Audrey. Cuaca yang buruk sepanjang hari kemarin, membuat Reiner kesulitan menghubungi siapapun. Bahkan perjalanannya sempat tertunda karena pesawatnya harus mendarat sementara waktu di sebuah kota kecil.
Kenapa Audrey belum sampai di apartemen semalam?Apa terjadi sesuatu padanya? Dan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?
pikir Reiner cemas.
Sebenarnya Reiner ingin sekali menghubungi Audrey sekarang juga. Ia ingin menanyakan apa saja yang dikerjakan Audrey di kantor hingga harus pulang malam. Namun Reiner menahan diri untuk melakukannya. Ia harus sabar menunggu sampai jam kantor selesai. Saat ini, Audrey pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi, Reiner sadar ia baru saja bersikap baik pada istrinya itu. Bila dia mencerca Audrey dengan banyak pertanyaan, maka kemungkinan Audrey akan kembali takut dan menjauh darinya.
Lebih baik aku menelpon Nicko.
Reiner bangkit berdiri dan mengambil ponselnya.
"Iya, Tuan Reiner," jawab Nicko menerima panggilan telpon dari bosnya.
"Nicko, apa kamu sudah menanyakan kepada Bi Mila jam berapa Audrey pulang semalam?"
"Nona Audrey pulang jam sepuluh malam, Tuan. Menurut Bi Mila, Nona langsung mandi dan tidur. Nona tidak makan malam karena sudah makan malam di luar."
"Sudah makan malam? Dengan siapa?"
"Kalau soal itu Bi Mila tidak berani menanyakan kepada Nona Audrey, Tuan. Apa hari ini saya atau Pak Beni perlu menjemput Nona Audrey di kantor?"
__ADS_1
"Tidak usah, Nicko. Katakan kepada Bi Mila untuk tetap melaporkan kegiatan Audrey. Kalau perlu suruh dia menunggu Audrey di lobby apartemen saat jam pulang kantor."
"Baik, Tuan. Saya akan memberitahu Bi Mila segera."
Reiner mematikan ponselnya dengan kesal.
Dengan siapa dia makan malam? Jangan-jangan dia pergi bersama staff prianya itu. Tapi aku tidak boleh menuduh Audrey sembarangan sebelum ada buktinya.
batin Reiner berusaha menepis prasangkanya.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Reiner memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan. Reiner mengingatkan dirinya sendiri bahwa hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan olehnya. Hari dimana kebenaran atas kematian adiknya akan menemui titik terang.
...****************...
Reiner meminum secangkir kopi hangat yang dipesannya sambil menunggu kedatangan Ethan. Sesekali, ia melirik jam tangannya dengan tidak sabar. Hampir tiga puluh menit berlalu sejak ia menunggu sendirian di restoran. Penantiannya baru berakhir ketika seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu datang menghampiri mejanya.
"Maaf, apa Anda Tuan Reiner Bratawijaya, kakaknya Dave?" tanya pria itu memperhatikan Reiner dengan seksama.
"Iya, apakah Anda Ethan Haris?" jawab Reiner balas bertanya.
"Tidak apa-apa, Ethan. Silahkan duduk."
"Tuan Reiner sebenarnya ada masalah apa sampai Anda mencari saya kesini?" tanya Ethan penuh selidik.
"Ethan, saya ingin menanyakan beberapa hal terkait kematian adik saya beberapa tahun lalu. Apa benar saat itu Dave berpacaran dengan seorang gadis bernama Audrey?"
"Iya, Tuan. Dave memang waktu itu berpacaran dengan Audrey, tapi mereka putus sebelum terjadinya kecelakaan yang dialami Dave."
"Apa kamu tau kenapa mereka putus?"
"Sebenarnya mereka putus karena salah saya juga, Tuan. Saya tidak sengaja memberitahu kepada Audrey kalau Dave memacarinya karena ingin memenangkan taruhan."
"Jadi Dave hanya berpura-pura mencintai Audrey?"
"Awalnya memang begitu, Tuan. Audrey itu gadis pendiam dan kutu buku. Tidak pernah berpacaran dan bersikap dingin seperti gunung es terhadap para lelaki. Makanya Dave tertantang untuk menaklukkannya. Tapi setelah berpacaran, Dave sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta pada Audrey. Dave mengatakan kepada saya kalau dia akan berusaha membuat Audrey kembali padanya."
__ADS_1
"Lalu apa yang dilakukan Dave selanjutnya?"
"Seingat saya beberapa hari sebelum kecelakaan, Dave mengatakan akan makan malam dengan Audrey. Dia sangat senang karena Audrey bersedia memberikan kesempatan kedua padanya. Tapi entah kenapa makan malam itu tidak berjalan lancar. Justru setelah itu, Audrey tidak mau bertemu maupun membalas pesan yang dikirimkan Dave. Dave jadi putus asa."
"Ethan, apa Dave memberitahumu apa penyebab Audrey bersikap seperti itu?"
"Tidak, Tuan. Dave mulai mengurung diri dan menyakiti dirinya sendiri sejak kejadian itu," ucap Ethan tampak prihatin.
"Menurutmu apa Audrey ada hubungannya dengan kecelakaan Dave? Dan siapa yang mengabari Audrey tentang kecelakaan yang dialami Dave?"
"Menurut saya, perasan patah hati sudah mendorong Dave untuk sengaja bunuh diri di area balap, Tuan. Tapi, saya rasa Audrey tidak bisa disalahkan begitu saja. Audrey tidak tau kalau Dave menderita bipolar. Setelah Dave masuk rumah sakit, saya dan Justin yang langsung datang ke rumah Audrey dan mengajaknya menjenguk Dave. Audrey sangat menyesal dan terpukul. Apalagi Tante Diana menyalahkan Audrey sebagai penyebab kematian Dave. Saya dan Justin bahkan harus melerai mereka berdua. Tante Diana menampar dan menjambak Audrey sampai terjatuh di rumah sakit."
Reiner terkejut mendengar cerita Ethan yang begitu dramatis. Ia tidak menyangka apa yang dibayangkannya selama ini berbeda dengan fakta yang terjadi. Ternyata Audrey sudah menanggung banyak penderitaan karena masa lalunya bersama Dave. Dan justru ia menambah penderitaan Audrey selama ini dengan bersikap kasar. Ia juga memperlakukan Audrey sebagai pembantu.
"Saya ikut menyesal atas kematian Dave, Tuan. Dave itu sahabat baik saya. Tapi saya juga kasihan melihat Audrey. Saya rasa Tante Diana sudah berlebihan menyalahkan Audrey."
"Terima kasih, Ethan. Kamu sudah menceritakan semua dengan jelas."
"Sama-sama, Tuan Reiner. Kalau boleh saya tau, kenapa Tuan ingin mencari tau lagi tentang peristiwa kecelakaan itu?"
"Karena aku sudah menuduh orang yang salah," jawab Reiner penuh penyesalan.
"Maksud Anda, Audrey?" tanya Ethan terkejut.
"Iya.."
"Tuan Reiner, kematian Dave sudah takdir dari atas. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun untuk itu," ucap Ethan bijaksana.
"Kamu benar, Ethan. Sekali lagi terima kasih karena kamu sudah mengatakan yang sejujurnya."
"Sama-sama, Tuan. Anda juga bisa menanyakannya kepada Justin. Justin yang lebih banyak menemani Audrey waktu itu. Mungkin saja Justin tau lebih banyak dari saya."
Setelah berbicara cukup lama, Ethan berpamitan kepada Reiner. Di dalam hatinya, Reiner merasa sungguh bersalah pada Audrey. Selama ini dia dibutakan oleh dendam hingga tidak bisa melihat penderitaan yang sudah dialami istrinya. Ia juga menyesali kebodohannya sendiri, yang telah percaya begitu saja dengan perkataan Tante Diana.
Audrey, maafkan aku. Mulai sekarang aku akan percaya sepenuhnya padamu dan membuat hidupmu bahagia.
__ADS_1