
Reiner membelai rambut Audrey yang terisak di pelukannya.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku sudah membuat banyak kesalahan. Kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu."
"Sebenarnya aku pergi ke luar negri untuk menemui Ethan. Dia sudah mengatakan segalanya. Aku yang terlalu bodoh karena tidak mempercayaimu. Ternyata justru kamu yang telah jadi korban selama ini," ucap Reiner menjelaskan tujuan kepergiannya.
Audrey terkejut mendengar pengakuan jujur dari Reiner.
"Jadi kamu pergi hanya untuk mendengar kesaksian Ethan tentang diriku? Seandainya Ethan tidak menceritakan yang sebenarnya, kamu pasti masih membenciku, khan? Kamu lebih mendengarkan perkataan orang lain daripada perkataanku. Kamu selalu menganggapku sebagai wanita yang suka menipu dan berbohong."
Reiner mengusap air mata yang membasahi pipi Audrey. Melihat istrinya menangis, membuat hatinya sendiri terasa perih.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Aku hanya ingin mengetahui kebenaran."
Entah dari mana keberaniannya berasal, tapi Audrey merasa ia harus mengungkapkan rasa sakitnya di hadapan Reiner.
"Rein, apa kamu juga akan pergi untuk mencari saksi apakah aku berselingkuh dengan Tristan atau tidak? Dan nasibku hanya tergantung dari kesaksian orang lain. Jika mereka mengatakan Audrey berselingkuh, maka kamu akan segera meninggalkan aku. Tapi kalau mereka mengatakan Audrey tidak berselingkuh, kamu akan kembali dan mengatakan padaku kalau kamu mencintaiku."
Reiner tidak tau harus memberi jawaban apa atas pertanyaan Audrey. Semua yang dikatakan Audrey memang benar. Ia lebih memilih untuk percaya pada perkataan orang lain daripada percaya pada istrinya. Bahkan sekarang pun, ia hampir saja mengulangi kesalahan yang sama karena terbakar oleh rasa cemburu. Seharusnya ia menanyakan lebih dulu kepada Audrey apa yang sesungguhnya terjadi.
"Sayang, kamu boleh memarahiku sepuasmu. Atau kalau perlu kamu boleh menampar dan memukulku. Aku akan menerimanya. Kumohon jangan menangis..," ucap Reiner seraya merengkuh Audrey kembali ke dalam pelukannya.
"Aku akan menghapus foto-foto ini dan tidak akan bertanya lagi. Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Itu sebagai bukti kalau aku sangat mencintaimu."
Sakit hati bercampur kesedihan yang tengah dirasakannya, membuat suara Audrey terdengar melemah.
"Rein, sudah cukup. Aku lelah..."
"Beristirahatlah, Sayang. Aku tidak akan mengganggumu," ucap Reiner melepaskan Audrey.
Meskipun dipenuhi rasa kecewa, Reiner memutuskan untuk memberi waktu kepada Audrey. Ia harus belajar bersabar dan menunggu hingga istrinya itu mau memaafkan kesalahannya.
Audrey menatap kepergian Reiner dengan perasaan yang tak menentu. Di satu sisi, ia sangat bahagia mengetahui bahwa Reiner mencintainya. Namun di sisi lain, ia belum bisa begitu saja melupakan perbuatan Reiner yang selalu berprasangka buruk terhadapnya. Entah mengapa tuduhan yang diberikan oleh pria yang dicintainya, ternyata menorehkan luka yang lebih dalam daripada ketika dia dituduh sebagai seorang pencuri.
Apa yang harus aku lakukan?
pikir Audrey bimbang.
Audrey mencoba memejamkan matanya dan beristirahat sejenak. Namun pikirannya yang masih kacau membuatnya tidak bisa tertidur. Audrey memutuskan untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Ia membuka lemari baju berukuran besar yang ada di kamar itu. Terdapat sejumlah baju, gaun, piyama tidur dan segala perlengkapan wanita yang tersusun rapi di dalam lemari itu.
Dia sudah menyuruh pelayan mempersiapkan semuanya. Tuan Reiner memang selalu tau apa saja dan bisa melakukan segalanya.
gumam Audrey terkagum-kagum.
Setelah selesai mandi, Audrey mengambil salah satu sweater tebal berwarna merah dan celana jeans untuk melindungi dirinya dari terpaan hawa dingin.
...****************...
"Malam, Nyonya, makan malamnya sudah siap," ucap Pak Martin melihat Audrey yang sudah turun ke area ruang tengah.
__ADS_1
Audrey melihat ke sekeliling ruangan yang tampak sepi. Hanya terlihat dua orang pelayan yang lalu lalang menyiapkan makan malam.
Dimana Reiner?
batin Audrey bertanya-tanya.
Pak Martin yang melihat Audrey sedang melamun, seolah-olah mengetahui isi pikiran dari istri tuannya itu.
"Nyonya, apa Anda mencari Tuan?"
"Eh... iya, Pak," ucap Audrey ragu-ragu.
"Tuan, tadi mandi lalu pergi ke luar. Sampai sekarang Tuan belum kembali."
"Apa Bapak tau Reiner pergi kemana? Apa dia membawa mobilnya?" tanya Audrey cemas.
"Mobil Tuan masih ada di halaman, Nyonya. Saya tidak tau Tuan pergi kemana karena Tuan tidak mengatakan apapun kepada saya."
"Sudah berapa lama dia pergi, Pak?"
"Kurang lebih dua jam yang lalu, Nyonya."
Rasa cemas tiba-tiba menyelimuti pikiran Audrey. Ia sangat takut kalau Reiner pergi meninggalkannya seorang diri.
Rein, maafkan aku. Sikapku tadi sudah berlebihan. Kamu pergi kemana? Aku sangat takut kehilanganmu.
Pak Martin menyusul Audrey yang lebih dulu berjalan ke luar dari villa.
Audrey mencoba mencari Reiner ke area kebun dan kolam renang yang ada di belakang villa, namun Reiner tidak ada disana.
"Pak, Reiner tidak ada di area villa. Lalu kemana dia?"
"Nyonya, mungkin Tuan berjalan-jalan ke daerah pegunungan. Lebih baik Anda menunggu saja di dalam. Ini sudah malam, Nyonya."
"Pak, tolong temani saya mencari Reiner," ucap Audrey memohon.
Security yang melihat Audrey dan Pak Martin tampak kebingungan, segera datang menghampiri mereka.
"Ada apa, Nyonya?"
"Apa Bapak tau kemana Tuan Reiner pergi?"
"Tuan tadi hanya mengatakan ingin mencari udara segar. Tapi kemungkinan Tuan pergi ke danau. Di dekat villa ada sebuah danau yang indah. Orang-orang disini menyebutnya Danau Biru, karena airnya bisa berubah warna jadi biru," jawab security itu.
"Saya akan mengantarkan Nyonya kesana," ucap Pak Martin mengambil inisiatif.
"Terima kasih, Pak."
Audrey dengan ditemani Pak Martin berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju ke danau.
__ADS_1
"Itu, Nyonya, danaunya sudah kelihatan."
"Iya, Pak, tolong tunggu disini," ucap Audrey berjalan cepat menuju ke arah danau.
Dari dekat, Audrey bisa melihat sebuah danau dengan air jernih terhampar di hadapannya. Akan tetapi danau itu terlihat sangat sepi.
Rein, kamu ada dimana?
pikir Audrey putus asa.
Audrey mencoba mencari ke sekeliling danau. Ia berhenti ketika melihat ada seorang pria tengah berdiri di ujung danau. Audrey mengenali tubuh tinggi dan tegap yang sedang berdiri membelakangi dirinya itu.
Reiner...
Tanpa pikir panjang, Audrey berlari dan memeluk Reiner dari belakang.
"Rein, kenapa kamu tidak mengatakan kalau pergi ke danau? Aku takut kamu meninggalkan aku sendiri."
Reiner terkejut menyadari Audrey datang untuk mencarinya dan sedang memeluknya dengan erat.
"Audrey..."
"Rein, lain kali jangan pergi tanpa memberitahuku. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Aku mencintaimu..."
Reiner tersenyum bahagia mendengar perkataan Audrey. Ia membalikkan badannya dan mendekap Audrey dengan penuh kasih.
"Siapa bilang aku akan meninggalkanmu? Aku sudah berjanji akan selalu membahagiakanmu. Aku kesini untuk memberimu sebuah hadiah."
"Hadiah apa?" tanya Audrey penasaran.
Reiner menyerahkan sebuah buku sketsa yang dibawanya.
"Lihat, aku membuat gambar sketsamu sedang berdiri tepi danau."
Audrey memandang gambar yang dibuat Reiner penuh kekaguman. Wanita yang ada di gambar itu benar-benar mirip dengan dirinya.
"Jadi apa yang dikatakan Bianca itu benar? Kamu suka menggambar sketsa?"
"Iya benar. Dari kecil aku suka menggambar."
"Lalu apa lukisan yang ada di kamarmu itu memang lukisanku? Dulu kamu tidak mau mengakuinya," ucap Audrey menggoda Reiner.
"Sayang, kamu sudah berani menggodaku sekarang. Sebenarnya itu lukisan gadis impianku. Aku tidak menyangka akan menemukanmu, wanita yang sangat mirip dengan lukisanku. Kamu istri impianku," ucap Reiner mengecup kening Audrey.
Audrey tersipu malu mendengar kata-kata romantis dari Reiner.
"Ayo, kita pulang. Ini sudah waktunya makan malam," kata Audrey melepaskan diri dari pelukan Reiner.
Pak Martin yang menyaksikan pasangan itu dari kejauhan, merasa turut berbahagia.
__ADS_1
Tuan Reiner sangat mencintai istrinya. Mereka pasangan muda yang serasi.
gumam Pak Martin sembari tersenyum.