
Audrey memasang lilin di cake ulang tahun Opanya.
"Opa, Audrey doakan Opa sehat dan panjang umur. Opa bisa tiup lilinnya sekarang," ucap Audrey memegang kedua tangan opanya.
"Terima kasih, Sayang. Opa juga doakan kamu bahagia selalu bersama suamimu."
Opa mencoba meniup lilin ulang tahunnya beberapa kali. Namun tenaganya yang melemah karena usia, membuat opa kesulitan memadamkan nyala lilin itu. Akhirnya, Audrey membantu opanya meniupkan lilin hingga padam.
Bu Olin, Reiner, dan Tuan Jonathan ikut bertepuk tangan merayakan ulang tahun opa. Acara hari itu dilanjutkan dengan makan siang bersama. Kehangatan keluarga yang begitu terasa membuat Audrey bahagia. Reiner tampak berbincang banyak hal dengan Tuan Jonathan. Ia terlihat mengkhawatirkan kondisi pria yang dulu akan menjadi ayah mertuanya itu.
"Ma, sejak kapan bodyguard Reiner meninggalkan rumah kita?" tanya Audrey penasaran.
"Dua hari yang lalu, Audrey. Asistennya Reiner datang kesini dan mengatakan kalau ibu dan opa sudah aman. Selanjutnya tidak perlu ada bodyguard lagi yang menjaga rumah kita. Apa musuh bisnis Reiner itu sangat berbahaya, sampai-sampai rumah kita harus dijaga?"
"Ti..tidak, Ma. Mungkin Reiner terlalu berlebihan mencemaskan Mama dan Opa," jawab Audrey berbohong.
"Iya, Mama lihat Reiner memang pria yang sangat baik. Dia juga perhatian kepada Opa sejak tadi."
Dia hanya sedang berakting, Ma.
batin Audrey menolak perkataan mamanya.
"Audrey apakah kamu mau menginap malam ini? Mama perhatikan kamu dan Reiner membawa koper."
"Iya, Ma. Audrey akan menginap disini. Besok Audrey akan pulang karena Reiner harus pergi ke luar negri selama beberapa hari."
"Reiner akan pergi lagi? Kalau begitu hari ini hari terakhir kalian bersama. Sebaiknya kamu lebih memperhatikan suamimu, Audrey."
"Iya, Ma."
"Mama cuma khawatir Reiner tidak akan betah menginap di rumah kita yang kecil. Dia khan orang kaya yang biasa tinggal di rumah yang sangat besar."
"Kalau soal itu, Reiner sendiri yang minta menginap di rumah kita. Jadi Mama tidak perlu khawatir."
"Bagus, kalau begitu. Mama selalu membersihkan kamarmu setiap hari. Mama harap kalian akan nyaman nanti."
"Terima kasih, Ma."
Setelah asyik berbincang cukup lama, Tuan Jonathan berpamitan kepada Audrey, Bu Olin, dan Opa.
"Audrey, Ny. Olin, Tuan Hendri, saya pamit dulu. Terima kasih atas undangannya. Saya senang sekali hari ini," ucap Tuan Jonathan dengan raut wajah bahagia.
"Terima kasih juga sudah datang, Om."
Reiner mendekati Audrey dan berbicara dengan suara lembut.
__ADS_1
"Sayang, aku akan mengantarkan Om Jonathan pulang dulu."
Sayang? Dia memanggilku, Sayang. Ternyata dia sangat berbakat untuk menjadi seorang aktor.
batin Audrey keheranan.
"Iya, Audrey. Rein bersikeras mengantarkan Om. Tapi Om akan segera menyuruhnya pulang. Om tidak ingin mengganggu kalian berdua," ucap Tuan Jonathan sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Om. Hati-hati di jalan dan jangan lupa jaga kesehatan," jawab Audrey mengantarkan Tuan Jonathan hingga ke halaman depan.
Kenapa Mama dan Om Jonathan gampang sekali percaya dengan akting Reiner. Mungkin karena dia terlalu berlebihan melakukannya.
...****************...
Reiner pulang dengan taksi setelah mengantarkan Tuan Jonathan pulang ke rumahnya. Ia mendapati ibu mertuanya sedang menyuapi opa. Tapi, Reiner tidak mendapati tanda-tanda keberadaan Audrey.
"Reiner, Audrey sedang mandi. Duduk saja dulu disini. Sebentar lagi kita akan makan malam."
"Iya, Ma."
Reiner memandang ke sekeliling rumah yang sederhana itu dan melihat beberapa foto lama yang terpasang di dinding. Ada foto seorang gadis kecil yang manis sedang dipeluk oleh papanya.
"Ma, apa itu foto Audrey waktu kecil bersama dengan papanya?" tanya Reiner penasaran.
Reiner berpikir mungkin ini saat yang tepat baginya untuk mencari tau lebih banyak tentang Audrey.
"Ma, apa Audrey pernah punya pacar?"
"Audrey itu hanya fokus pada pelajarannya karena dia mendapat beasiswa. Saat Audrey kuliah, dia pernah berpacaran dengan seorang pemuda. Namanya, Dave. Tapi hubungan mereka justru membuat Audrey menderita."
"Menderita? Memangnya apa yang terjadi dengan Audrey, Ma?"
"Dave itu memacari Audrey hanya untuk memenangkan taruhan dengan teman-temannya. Audrey mencoba memaafkannya, tapi ternyata Dave kembali membuat kesalahan. Mama tidak tau persis kesalahan apa yang dilakukan Dave. Audrey tidak mau jujur mengatakannya kepada Mama. Tapi sepertinya kesalahan itu sangat fatal sampai Audrey tidak keluar kamar selama berhari-hari."
Apa mungkin karena Dave benar mau melecehkannya?
pikir Reiner mengingat perkataan Audrey.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Ma?"
"Audrey minta putus dari Dave. Tapi Dave malah meninggal karena kecelakaan di arena balap motor. Audrey yang disalahkan oleh mamanya Dave. Kami juga sering diteror sampai harus pindah rumah beberapa kali. Untung saja, Audrey bisa bangkit dari masa lalunya yang pahit," ucap Bu Olin dengan mata yang berkaca-kaca.
Tidak mungkin mamanya Audrey mengarang cerita sampai sedetail ini. Jadi yang sebenarnya terjadi bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Tante Diana. Tante Diana sudah berbohong padaku. Ternyata justru Audrey yang menderita disini.
pikir Reiner penuh penyesalan.
__ADS_1
Pembicaraan Reiner dan Bu Olin terhenti ketika Audrey keluar dari kamarnya.
"Audrey, Reiner sudah pulang. Antar dia ke kamarmu."
"Iya, Ma."
Audrey mengantarkan Reiner ke kamarnya dan menyiapkan baju untuk suaminya itu.
"Kamarmu ini kecil sekali," kata Reiner melihat kamar Audrey.
"Kamar saya memang kecil, Tuan. Kalau Tuan tidak betah disini, lebih baik kita pulang ke apartemen," jawab Audrey merasa tersinggung.
"Mulai sekarang panggil aku, Rein. Aku tidak ingin kamu selalu memanggilku Tuan dan Tuan. Dan satu lagi aku tidak keberatan tinggal di kamar yang kecil asalkan bisa bersamamu. Aku mandi dulu," jawab Reiner sambil berjalan meninggalkan Audrey.
Apa aku tidak salah dengar? Dia minta dipanggil Rein dan mengatakan ingin bersamaku? Apa dia sedang demam?
gumam Audrey tidak habis pikir dengan perubahan sikap Reiner.
"Audrey, ajak Reiner makan malam dulu," panggil Bu Olin dari ruang makan.
"Iya, Ma."
"Ayo, kita makan malam sekarang. Dan setelah itu kamu harus memenuhi janjimu padaku," ucap Reiner sambil tersenyum tipis.
...****************...
Audrey merasa ragu-ragu memperhatikan penampilannya sendiri. Baju tidur hitam yang dipakainya memang sangat pas melekat di tubuhnya. Tapi baju itu membuat dirinya tidak nyaman. Apalagi belahan dadanya sangat rendah sehingga hampir terlihat secara keseluruhan. Dengan penampilan seperti itu, Audrey merasa sudah sama seperti seorang wanita penggoda. Sifat yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang pemalu dan pendiam. Tapi apa dayanya saat ini, ia terlanjur berjanji pada Reiner dan tidak bisa mengelak. Dengan jantung berdebar, Audrey keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Reiner sedang berbaring santai sambil membaca buku miliknya.
"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Reiner menatap Audrey. Mata Reiner tidak terlepas memperhatikan seluruh penampilan Audrey dengan baju tidurnya.
"Pas sekali," ucap Reiner lirih.
Reiner bangun dari tempat tidur dan bergerak dengan cepat merengkuh tubuh Audrey dari belakang.
Ia mencium rambut Audrey dan membelai rambut gadis itu dengan lembut. Sentuhan jari Reiner membuat tubuh Audrey merinding.
"Tenanglah, Sayang. Aku akan memperlakukanmu dengan lembut. Kamu akan jadi milikku sepenuhnya malam ini," bisik Reiner di telinga Audrey.
Reiner menyibak rambut Audrey yang tergerai di bahunya dan mulai menelusuri leher gadis itu.
"Tuan, jangan membuat tanda apa-apa. Nanti mama dan opa melihatnya," jawab Audrey memohon pada Reiner.
"Baik, Sayang. Aku akan membuatnya di tempat lain kalau kamu menginginkannya."
Audrey menyesali perkataannya yang membuat Reiner berpindah ke bagian lain dari tubuhnya. Setelah membuat beberapa tanda di tempat favoritnya, Reiner menggendong tubuh Audrey dan meletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Audrey hanya bisa pasrah menuruti semua keinginan Reiner. Ia membiarkan Reiner melepaskan apa yang dipakainya satu per satu, sambil mencium setiap lekuk tubuhnya. Perlakuan Reiner yang lembut membuat Audrey merasa disayang oleh suaminya itu. Dengan irama yang lembut, Reiner membuat Audrey menjadi istri yang seutuhnya. Sejenak, Audrey ingin melupakan segalanya dan tenggelam dalam cinta yang diberikan Reiner.
__ADS_1