Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
61 Tak Sanggup Kehilanganmu


__ADS_3

"Tante, kita mau kemana? Apa kita tidak pulang ke rumah?" tanya Karin cemas.


"Jangan, Karin. Kalau kita pulang, polisi atau anak buah Reiner bisa menangkap kita. Tante sudah menyiapkan mobil pengganti di tempat yang sepi. Kita harus meninggalkan mobil ini lalu kabur ke luar kota menggunakan mobil yang baru."


"Tante, bagaimana dengan baju dan barang-barang kita di rumah? Karin khan sudah bilang Tante jangan nekad melakukan hal yang berbau kriminal. Tapi Tante tidak mau mendengarkan Karin," ucap Karin panik.


"Karin, sekarang kamu berani menyalahkan Tante! Mana Tante tau kalau Reiner tiba-tiba datang dan menyelamatkan Audrey. Tante sudah merencanakan waktu yang tepat untuk melenyapkan wanita itu, tapi sekarang semuanya berantakan! Keluarga Bratawijaya pasti akan memburu dan menghabisi Tante. Apalagi kalau Reiner sampai meninggal," kata Ny. Diana putus asa.


Karin mulai menangis mendengar perkataan Diana.


"Tante lalu kita harus bagaimana? Karin takut kalau kita akan dihabisi. Karin juga tidak mau dipenjara, Tante."


"Sudah, Karin jangan menambah pusing Tante. Kita tukar mobil dulu lalu segera pergi ke tempat yang aman."


Ny. Diana menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju jalanan di luar kota. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah bengkel tua yang ada di dekat jalan tersebut.


"Nyonya, apakah Anda ingin mengambil mobil Anda?"


"Iya, Pak. Apa mobil saya sudah siap?"


"Sudah, Nyonya. Anda bisa mencobanya."


Ny. Diana mencoba menyalakan mesin mobil itu dan tersenyum puas. Ia memberikan sejumlah uang yang cukup besar kepada pemilik bengkel itu.


"Terima kasih, Nyonya. Lalu bagaimana dengan mobil hitam ini?" tanya pemilik bengkel.


"Mobil ini saya titipkan kepada Bapak. Kalau bisa Bapak hancurkan saja mobil ini menjadi barang rongsokan. Ini saya beri tambahan uang untuk Bapak mengurusnya," kata Diana menyerahkan uang tambahan.


Pemilik bengkel itu agak curiga mendengar permintaan Ny. Diana.


"Tapi Nyonya kenapa mobil sebagus ini harus dihancurkan? Apa terjadi sesuatu dengan mobil ini?"


"Bapak tidak perlu banyak bertanya. Lakukan saja apa yang saya katakan. Kalau ada yang menanyakan siapa pemilik mobil ini, katakan kalau pemiliknya seorang pria dan Bapak tidak mengenalnya. Saya pergi dulu," ucap Ny. Diana tergesa-gesa meninggalkan pemilik bengkel.


"Karin, ayo kita berangkat sekarang."


"Tante, apa kita benar-benar sudah aman?"


"Tentu saja. Tante juga sudah mengganti nomer ponsel Tante dengan nomer baru, supaya Nicko tidak bisa melacak keberadaan kita. Malam ini kita akan tinggal dulu di hotel kecil di luar kota. Besok kita akan langsung berangkat ke luar negri. Karin, kamu juga jangan lupa matikan ponselmu."


"Oh iya, Tante, Karin lupa masih menghidupkan ponsel."


"Cepat matikan, Karin! Kenapa kamu seceroboh itu."


"Maaf, Tante, Karin matikan sekarang," jawab Karin ketakutan.


...****************...


Nicko menunggu kabar dari anak buahnya yang sedang melacak keberadaan Diana. Ia sudah mengutus para bodyguard ke rumah wanita itu, namun Diana tidak berada di rumahnya. Kini, Nicko masih menunggu laporan dari staff IT dan informan dari pihak bank.


"Bagaimana, Tom, apa kamu berhasil melacak lokasinya?" tanya Nicko kepada staff IT andalannya.


"Tuan, nomer ponselnya tidak aktif sejak kemarin. Jadi saya tidak bisa mengetahui lokasinya. Tapi nomer ponsel yang satu lagi bisa terlacak. Terakhir dia ada di sekitar Jalan Bumi Indah."


Pasti itu ponsel milik keponakannya. Jadi mereka akan kabur ke luar kota, aku harus menghentikannya.


"Tuan, barusan juga ada kabar dari pihak bank kalau ada transaksi pendebetan atas nama Ny. Diana di Hotel Anyelir, Tuan," sambung Tom.


"Kerja yang bagus, Tom. Terima kasih," kata Nicko tersenyum puas.


"Nicko, apa sudah ada perkembangan tentang Diana?" tanya Tuan Alexander melihat ekspresi senang di wajah Nicko.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Saya akan segera menangkapnya. Dia sedang bersembunyi di Hotel Anyelir di luar kota."


"Nicko, kamu harus berangkat sekarang juga sebelum dia kabur lagi. Bawa semua anak buah kita," ucap Tuan Alexander.


"Baik, Tuan."


Nicko bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengejar Diana. Sementara Tuan Alexander dan Ny. Valeria masih menunggu Reiner yang sudah dipindahkan ke ruang rawat.


...****************...


Menjelang pagi, Tuan Alexander mengajak istrinya untuk pulang sebentar ke rumah.


"Valeria, kenapa Audrey belum datang? Kalau dia sudah datang, kita bisa bergantian menjaga Reiner. Aku harus pergi sebentar untuk menandatangani beberapa dokumen penting di kantor."


"Kamu saja yang pulang. Aku akan tetap disini menemani Reiner. Lagipula Audrey tidak akan datang," jawab Ny. Valeria sambil memandang putranya yang belum sadarkan diri.


Tuan Alexander terkejut mendengar jawaban istrinya.


"Apa maksudmu? Kenapa Audrey tidak akan datang? Dia khan istrinya Reiner, seharusnya dia selalu berada disisi suaminya."


"Alex, aku sudah menyuruh Audrey pergi meninggalkan Reiner. Aku memaksanya untuk tidak menemui Reiner lagi. Aku tidak ingin punya menantu yang punya hubungan masa lalu dengan Diana dan anaknya. Dia hanya akan membuat Reiner susah."


"Valeria, sejak kapan kamu jadi berpikiran sempit seperti itu? Kamu harusnya tanya dulu pendapatku, kenapa mengambil keputusan sepihak? Bagaimana jika nanti Reiner bangun dan mencari Audrey. Apa yang harus kita katakan padanya?" ucap Tuan Alexander marah.


"Berpikiran sempit? Apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan Rein sekarang? Dia seperti ini gara-gara menolong Audrey. Kalau aku tau dari awal Audrey itu mantan pacar anak harammu, aku tidak akan menyetujui pernikahan mereka," ucap Ny. Valeria ketus.


"Valeria, kamu bisa memaafkan kesalahanku di masa lalu, kenapa sekarang kamu mengungkitnya lagi? Lagipula Dave sudah meninggal. Kamu tau aku juga merasa bersalah pada Dave. Aku tidak mengakuinya sebagai anakku hingga dia menderita penyakit mental dan meninggal. Harusnya kamu juga bisa menerima masa lalu Audrey. Jangan membuat pernikahan anak kita hancur."


"Kamu mudah bicara seperti itu, Alex. Karena tragedi yang terjadi hari ini akibat dosamu sendiri. Aku tidak akan berkompromi denganmu soal kebahagiaan putraku. Reiner bisa mendapatkan istri yang lebih baik dari Audrey," jawab Ny. Valeria bersikeras.


"Valeria!"


Pertengkaran antara suami istri itu baru terhenti, ketika melihat tangan dan mata Reiner bergerak.


Ny. Valeria terharu melihat Reiner mulai membuka matanya.


"Rein, ini Mama, kamu sudah sadar."


"Aku akan memanggil dokter," kata Tuan Alexander buru-buru keluar dari ruang rawat.


"Ma, kepalaku...pusing sekali," ucap Reiner lirih.


"Iya, Sayang. Itu efek dari obat biusnya. Jangan terlalu banyak bicara dulu."


Dokter dan perawat pun datang untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Reiner.


"Tuan, Nyonya, pasien menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. Tekanan darah dan denyut jantungnya mulai stabil. Semoga keadaannya tetap seperti ini. Usahakan pasien jangan bergerak dulu. Nanti siang saya akan memeriksa Tuan Reiner lagi," kata dokter berpamitan kepada kedua orang tua Reiner.


"Nanti kalau pasien butuh sesuatu, tinggal pencet tombol ini, Nyonya. Perawat yang bertugas akan segera datang," ucap perawat yang mendampingi dokter.


Ny. Valeria menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih kepada dokter dan perawat yang memeriksa Reiner.


"Ma, dimana Audrey? Aku...ingin bertemu dengannya?" tanya Reiner dengan suara lemah.


"Audrey, dia...belum datang, Sayang," jawab Ny. Valeria ragu-ragu.


"Tolong telpon dia, Ma."


"Sayang, lebih baik kamu istirahat saja dulu. Istrimu pasti baik-baik saja."


"Ma, Audrey sedang hamil. Aku ingin melihat keadaannya."

__ADS_1


Ucapan Reiner mengejutkan Tuan Alexander dan Ny. Valeria.


"Rein, apa benar Audrey sedang hamil?"


"Iya, Pa. Audrey sedang mengandung anakku. Tolong telpon Audrey, minta dia datang kesini."


Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Reiner. Aku telah menyuruh Audrey yang sedang hamil untuk pergi meninggalkannya.


pikir Ny. Valeria menyesal.


"Rein, Audrey tidak akan datang. Kemarin Mama baru tau dari Nicko kalau Audrey pernah berpacaran dengan Dave. Diana juga sangat benci kepada Audrey sampai berniat mencelakakannya. Mama...meminta Audrey pergi. Mama tidak ingin dia membahayakan hidupmu lagi," ucap Ny. Valeria ragu-ragu.


Reiner tidak percaya mendengar pengakuan dari mamanya. Ia tidak menyangka mamanya sendiri tega berbuat hal sekejam itu.


"Ma? Kenapa Mama tega mengusir Audrey? Dia sedang mengandung cucu Mama. Dimana Audrey sekarang? Dimana???:


"Rein, tenanglah, jangan bergerak, Sayang. Maafkan Mama. Mama tidak tau dia sedang hamil," ucap Ny. Valeria berusaha menenangkan Reiner.


"Pa, dimana Nicko? Aku harus menyuruh Nicko mencari Audrey."


"Rein, Nicko sedang keluar kota untuk mengejar Diana. Tenang dulu, Rein, nanti Papa akan mencari Audrey," kata Tuan Alexander prihatin.


"Pa, aku mau pergi sekarang."


Reiner berusaha menggerakkan kakinya, tapi kedua kakinya terasa sangat sakit. Ia baru menyadari bahwa kedua kakinya sedang diberi gips dan penyangga.


"Pa, kenapa kakiku? Aku tidak bisa bergerak sama sekali."


"Rein, kedua kakimu mengalami patah tulang. Kamu harus sabar."


"Aku jadi orang cacat, Pa? Aku tidak bisa berjalan, bagaimana aku bisa menemukan Audrey dan anakku? Aku tidak sanggup hidup sebagai orang cacat," kata Reiner putus asa.


Reiner tiba-tiba merasa sangat terguncang. Ia berteriak dengan frustasi hingga nafasnya mulai tersengal-sengal. Tuan Alexander dan Ny. Valeria yang panik, segera memanggil dokter untuk menangani Reiner.


"Tuan, Nyonya, saya terpaksa menyuntikkan obat penenang kepada Tuan Reiner supaya tertidur. Jika terus seperti ini, kesehatannya bisa memburuk. Pasien tidak boleh mengalami tekanan," ucap dokter memberikan saran.


"Baik, Dokter. Kira-kira berapa lama kakinya bisa pulih?" tanya Tuan Alexander.


"Saya tidak bisa memastikannya, Tuan. Berdasarkan kondisi patah tulang di kedua kaki Tuan Reiner, mungkin butuh waktu paling cepat satu tahun masa pemulihan, sampai pasien bisa berjalan dengan normal. Tuan Reiner harus rajin melakukan fisioterapi."


"Terima kasih, Dokter. Hari ini kami akan memindahkan putra kami ke rumah sakit di luar negri supaya mendapat perawatan lebih intensif."


"Valeria, coba kamu hubungi ponsel Audrey. Suruh dia datang kesini."


Ny. Valeria mengangguk dan mencoba menelpon Audrey, namun nomer ponselnya tidak aktif.


"Alex, sebaiknya kita suruh Nicko saja nanti yang mencari Audrey. Sekarang kita harus mengurus kepindahan Reiner secepatnya ke luar negri."


"Iya, aku akan segera meminta asistenku mengurusnya. Lebih baik kita bersiap-siap sekarang untuk pergi."


.


.


.


*Para Readers kesayanganku. Terima kasih atas dukungannya. Author sangat senang membaca komen-komen kalian yang menghibur dan menginspirasi. Ada yang menebak Reiner akan lupa ingatan. Author sendiri gak suka kalau baca cerita atau nonton film yang peran utamanya hilang ingatan, karena pasti akan bikin kesel dan jadi halu hehe.


Dan ada yang menebak kalau anak Audrey akan dibesarkan oleh pria lain atau nganggap pria lain sebagai bapaknya. Atau malah nikah sama pria lain?So, apa benar begitu? Tunggu aj kelanjutannya ya...


Jangan lupa dukung Author supaya tidak kehilangan semangat.

__ADS_1


Tambahin Vote, like, dan komennya.


Thank you so much My lovely Readers*


__ADS_2